KESAH.ID – Jorge Martin menjadi salah satu pembalap yang paling bersinar di Moto GP tiga tahun terakhir ini. Dia menjadi penantang paling potensial dari Fransesco Bagnaia, juara dunia dua kali berturut-turut. Telah membuktikan dirinya sebagai salah satu yang terbaik, Jorge Martin telah memastikan untuk menjadi tandem Pecco Bagnaia di tim pabrikan Ducati untuk musim balap 2025 nanti. Namun peta jalannya sebagai pembalap berubah karena kehadiran Marc Marquez di Gresini Racing. Jorge mumet dan meninggalkan Ducati untuk musim depan.
Dalam dunia olahraga profesional pada kurun waktu tertentu selalu ada sosok yang bersaing ketat dengan sosok lainnya untuk menjadi jawara. Persaingan ini bisa saja bertahan cukup lama sehingga atmosfirnya melingkupi bidang itu.
Persaingan antara Ronaldo dan Messi sebagai pesepakbola berlangsung kurang lebih 15 tahun. Keduanya silih berganti meraih penghargaan internasional tertinggi dalam dunia sepakbola. Persaingan antar keduanya makin ketat ketika sama-sama memperkuat klub di Liga Spanyol.
Keberadaan Messi di Barcelona dan Ronaldo di Real Madrid semakin memanaskan aura persaingan itu karena kedua klub merupakan musuh bebuyutan. Rivalitas itu berakhir ketika Christiano Ronaldo dan Lionel Messi meninggalkan benua Eropa. Ronaldo bermain di Arab Saudi dan Messi bermain di Amerika Serikat.
Dalam kurun waktu yang hampir sama, ada persaingan serupa di dunia balap Moto GP. Valentino Rossi yang merajai kelas utama Moto GP kedatangan saingan baru di tahun 2013. Adalah Marc Marquez, rookie baru dari Spanyol bergabung di kelas utama dan langsung menjadi jawara.
Persaingan mengeras dan kemudian panas karena di tahun 2015, Valentino Rossi menganggap Marc Marquez menghambat dirinya kembali menjadi juara. Marc dianggap membantu Jorge Lorenzo, sesama pembalap dari Spanyol untuk mengalahkan Rossi.
Sejak saat itu Rossi tak bertegur sapa dengan Marc Marquez. Di mata Rossi, babby alien atau super marc adalah pembalap dengan kelakuan terburuk.
Dan sejak kedatangan Marc Marquez, Valentino Rossi tak pernah lagi meraih gelar juara dunia. Tahta berpindah kepada Marc Marquez hingga dirinya cidera parah di Sirkuit Jerez pada Juli 2020.
Selama Marc Marquez merajai sirkuit Moto GP ada beberapa pembalap muda yang dianggap sebagai penantangnya. Hanya saja tidak ada persaingan yang teramat keras sehingga menyebabkan gesekan sebagaimana Rossi dan Marquez.
Fabio Quartararo dan Fransesco Bagnaia salah satunya. Keduanya mampu meraih gelar juara dunia walau dianggap kurang valid karena mengalahkan Marc Marquez yang sedang menderita.
Kemudian muncul nama lain, Jorge Martin yang berasal dari Spanyol. Jorge terbilang cepat melejit. Bersinar saat membalap di Moto 2 dengan KTM, Jorge Martin kemudian digaet oleh Gressini Racing untuk berlaga di balapan Moto GP.
Gresini tidak salah, Jorge Martin bersinar hingga kemudian digaet oleh Pramac Racing yang mendapat jatah motor terbaru dari Ducati. Kursi sebagai pembalap utama di tim pabrikan Ducati sudah didepan mata.
Jorge Martin membuktikan dirinya sebagai pembalap yang cepat hingga mendapat julukan Martinator.
Tiga tahun Jorge Martin menunggu untuk mendapatkan kursi sebagai pembalap utama Ducati. Dan setelah membuktikan segalanya, membantu Ducati merajai sirkuit Moto GP kepastian dirinya akan menemani Pecco Bagnaia hanya tinggal menunggu pengumuman.
Jorge Martin memang pantas untuk dipilih oleh Ducati bahkan tanpa perlu membuktikan dirinya bisa menjadi juara dunia.
Berlaga di Pramac Racing, tim satelit partner terlama Ducati hingga dianggap sebagai ajang pembibitan pembalap pabrikan, Martin telah membuktikan diri sebagai yang terbaik untuk Ducati.
BACA JUGA : Nangkring Medang
Sayangnya ketika Jorge Martin mesti ke Ducati, keyakinan Ducati goyah. Ducati goyah karena penampilan Marc Marquez di Gresini Racing.
Marc Marquez yang menunggangi Ducati versi lama ternyata tampil meyakinkan. Dalam beberapa seri pembuka sudah terlihat bahwa Marc Marquez kembali garang. Super Mac telah bangkit kembali.
Jarang ada pembalap yang kembali ke lintasan setelah cidera panjang berhasil tampil gacor lagi.
Ducati kemudian punya harapan ke Marc Marquez.
Bagaimanapun juga Marc tetap merupakan pembalap terbesar yang masih mengaspal di Moto GP. Juara ataupun tidak, asal penampilannya masih memikat pengaruh Marc Marquez menjadi magnet untuk sisi komersial kejuaraan serta motor yang ditungganginya.
Walau banyak pembencinya karena masa buruk hubungannya dengan Rossi, Marc Marquez punya basis pengemar yang besar terutama di Asia. Ducati sebagai pabrikan yang berkepentingan menjual motor produksinya membutuhkan Marc Marquez untuk melakukan penetrasi pasar lebih besar di Asia.
Martin kemudian punya saingan baru bukan di lintasan tapi dimata pemilik tim balap.
Tetapi Ducati jelas masih menginginkan Jorge Martin sebagai tandem Pecco Bagnaia sekaligus tidak ingin kehilangan Marc Marquez.
Skenariopun disusun oleh Ducati agar Jorge Martin dan Marc Marquez tetap berada di Ducati. Selain itu Ducati juga ingin Pramac Racing tetap menjadi tim satelit utamanya.
Rencana itu tak mulus. Martin mencium gelagat Ducati tidak begitu membela kepentingan dirinya.
Buat Jorge Martin bukanlah sebuah keputusan yang sulit untuk memilih dirinya menjadi tandem Pecco Bagnaia.
Tapi nyatanya tak demikian. Ducati lebih kelihatan takut kehilangan Marc Marquez.
Jorge Martin pun bergerak cepat. Dan dalam waktu semalam kemudian diumumkan bahwa Jorge Martin akan membalap untuk Aprilia tahun depan.
Sebuah keputusan yang barangkali sangat tergesa-gesa, tapi apa mau dikata karena Jorge Martin pusing menghadapi gerak-gerik petinggi Ducati. Mungkin Martin merasa dirinya terus di -php selama 3 tahun ini. Diberi harapan bahwa satu kursi pabrikan memang disediakan untuknya, namun tak kunjung diserahkan untuk diduduki.
Dengan delapan pembalap di lintasan, Ducati memang menguasai barisan pembalap terbaik di Moto GP. Keputusan Ducati ditunggu oleh tim-tim lainnya, mereka menunggu langkah Ducati agar bisa mengakuisisi salah satu pembalap terbaiknya.
Bukan hanya pembalap yang diingini oleh pabrikan lain, tetapi juga tim satelitnya. VR 46 Pertamina Enduro dan Pramac Racing juga dilirik oleh pabrikan dari Jepang.
Seri Moto GP 2024 ini memang agak aneh. Balapan belum berjalan separuh musim tapi pergerakan pembalapnya sudah kencang.
Efek perpindahan Jorge Martin dari Ducati ke Aprilia untuk tahun depan kemudian diikuti oleh pergerakan pembalap-pembalap lainnya. Line up pembalap untuk tahun 2025 sudah hampir penuh.
BACA JUGA : Pemimpin Sederhana
Suasana balapan di Sirkuit Sachsenring jadi agak kikuk. Banyak pembalap di paddock yang akan menjalani balapan separuh musim ke depan dengan hati terbelah. Separuh kakinya sudah berada di tim lain karena kontrak sudah ditandatangani.
Martin mumet. Dia pasti kecewa dengan Ducati dan ingin membalas dendam. Tapi dia harus membalas dendam dengan senjata Ducati sendiri. Ibarat kata dia mesti memukul Ducati dengan palu Ducati.
Ajang itu ada di Sachsenring. Disini Jorge Martin memenangkan balapan tahun lalu. Dan disini Marc Marquez adalah the king. Menang disini membuktikan bahwa Jorge Martin layak dan pantas disandingkan dengan Marc Marguez karena merebut mahkota darinya.
Dan benar, sejak sesi latihan Jorge Martin tampil meyakinkan. Marquez sebaliknya, berkali-kali jatuh hingga kemudian mesti start dari baris kelima.
Sampai menjelang akhir balapan, kemenangan gemilang Jorge Martin sudah didepan mata.
Tapi malang tak bisa ditolak, dua lap menjelang balapan berakhir Jorge Martin jatuh. Dan Marc Marquez berhasil merangsek ke depan dan meraih podium. Walau meraih podium kedua namun hal itu menjadi istimewa karena marquez bersaudara bersanding bersama. Meraih podium kedua dan ketiga dengan tim balap yang sama.
Jorge lagi-lagi kalah tanpa dikalahkan oleh Marc Marquez. Dan Sachsenking walau tak meraih kemenangan namun tetap dibicarakan bahkan makin harum namanya karena mencatatkan rekor sebagai kakak beradik yang sama-sama podium.
Kecewa dengan kesalahannya yang berujung kudeta klasemen sementara oleh Pecco Bagnaia, Jorge Martin jadi hilang kendali. Martin ngamuk di paddock-nya karena frustasi.
Dia menyebut motornya aneh.
Pernyataan ini akan memancing spekulasi bahwa Ducati menghambat Martinator untuk jadi juara dunia.
Tentu saja ini hanya spekulasi. Jorge Martin adalah pembalap berbakat dan cepat. Ngotot sejak awal dan cenderung berusaha meninggalkan lawan sejauh mungkin sejak balapan dimulai.
Dengan karakter ini hampir dipastikan Jorge Martin selalu menang dalam sessi sprint race karena jumlah lap yang lebih sedikit. Namun dalam balapan utama yang jarak tempuhnya lebih panjang, karakter membalap Jorge Martin jadi berbahaya.
Data menunjukkan laps time Jorge Martin di Sachsenring selalu tercepat. Hanya saja makin mendekati balapan berakhir tingkat kecepatannya menjadi beresiko.
Motornya menjadi semakin sulit dikendalikan. Sementara pembalap di belakangnya yang sejak awal berusaha menghemat ban mulai berhasil menambah kecepatan. Dengan tekanan karena dikejar pembalap di belakangnya, Jorge Martin kemudian berusaha tetap menjaga kecepatan tinggi padahal daya cengkram ban sudah berkurang jauh.
Tergelincir adalah resiko terbesar. Dan kemudian memang terjadi. Kejadian ini bukan baru sekali dialami oleh Jorge Martin.
Jorge Martin makin mumet, berhasil mengalahkan Marc dan Pecco namun kemudian dibanting oleh ban hingga kemenangannya sirna.
note : sumber gambar – CNN INDONESIA








