KESAH.ID – Masyarakat selalu merindukan pemimpin yang sederhana, tapi harapan itu tak selalu terpenuhi. Kalaupun ada, kesederhanaan acap kali hanya sebuah gimmick. Tak sungguh-sungguh sederhana melainkan hanya tampil dalam citra yang sederhana. Kekuasaan memang tak sederhana karena selalu merangsang pemegangnya untuk mengawetkan.
Kere munggah bale, cuplikan kalimat dalam runtunan nasehat dari salah seorang guru ketika menempuh pendidikan spiritual masih terus saya ingat.
Kalimat itu hendak mengingatkan agar ketika mencapai kedudukan tertentu jangan berlaku ibarat orang miskin yang kesenangan dan lupa diri karena berbaring di tempat tidur raja.
Naik kelas, entah kelas ekonomi, kelas sosial atau apapun memang kerap membuat seseorang lupa diri. Segala sesuatunya berubah hingga kemudian seseorang yang sebelumnya dikenal rendah hati kemudian berlaku congkak. Orang yang tadinya ramah kemudian jadi sengak.
Perubahan sikap dan perilaku itu kemudian menimbulkan bisik-bisik di belakang. Orang bergunjing.
Uang dan kedudukan memang bisa membuat orang berubah, sampai-sampai menjadi orang asing untuk lingkungan terdekatnya.
Masyarakat kita memang merindukan sosok orang kaya yang rendah hati dan pemimpin yang sederhana.
Kerinduan ini mungkin merupakan cermin dari kesekitaran kita dimana orang kaya cenderung pamer harta, mengaku diri sultan dan suka menunjukkan tumpukan cuan. Sementara pemimpin kita kerap tampil dalam balutan segala rupa yang tak sederhana.
Risma, saat memimpin Kota Surabaya menjadi sangat terkenal karena kesederhanaannya. Dia bisa muncul dimana saja tanpa membuat kegemparan karena rombongan pengawal yang panjang. Karena kesederhanaannya, Risma yang kadang tampil galak itu tak membuat orang sakit hati dengan cerocosan-nya.
Bagaimana orang mau sakit hati, kalau dia datang lebih pagi. Berani main hujan dan tak takut kepanasan. Orang tahu yang dilakukannya bukan gimmick untuk pencitraan.
Di negeri yang jauh sana, negeri bekas penjajah kita; Mark Rutte setelah 14 tahun menjadi Perdana Menteri Belanda dengan enteng meninggalkan kantornya. Tak ada pisah sambut meriah yang perlu waktu berhari-hari untuk menyiapkannya. Dia juga tak mau berpidato, menghambur puja-puji ini itu dan juga tak mau diberi kado.
Usai pisah sambut, dia pulang ke apartemennya menaiki sepeda. Sepeda memang kendaraan Mark Rutte setiap harinya. Menemui raja dan pemimpin negeri lainnya juga menaiki sepeda.
Perdana Menteri Belanda ini memang tinggal di apartemen. Sama seperti orang kebanyakan sehingga tak perlu pengawal atau body guard yang berlebihan. Mark Rute kerap terlihat pergi sendirian untuk minum kopi di kafe. Kehadirannya tak bikin heboh.
Jalanan tidak akan ditutup atau dialihkan menunggu dirinya lewat. Tak ada mobil ambulans yang membawa pasien dalam kondisi kritis bakal tertahan.
Jadi tak bakal ada drama minta maaf, dari sopir ambulans yang awalnya emosi lalu menyesal telah menyiarkan video secara live rombongan presiden yang menghalangi perjalanannya menolong orang sakit.
Kisah petinggi yang apa adanya juga tersiar dari Swedia. Di stasiun, masyarakat Swedia biasa melihat seorang perempuan duduk di bangku peron menunggu kereta sambil menikmati burger untuk makan malamnya. Perempuan itu bernama Elva Johanson, jabatannya Menteri Tenaga Kerja.
Kabarnya Elva tak punya mobil, tak ada pengawal. Di rumahnya juga tak ada pembantu. Padahal Swedia adalah negara kaya yang bisa memberikan menterinya segala fasilitas nomor satu. Tapi negeri yang kaya itu sangat hati-hati menggunakan uang rakyat.
BACA JUGA : Proyek Cita Cita
Oh, iya sebenarnya kita pernah punya menteri yang apa adanya walau punya apa-apa.
Susi Pujiastuti yang punya maskapai penerbangan dan armada kapal santai saja membawa mobil pick up, disetir sendiri. Kalau lelah, dia tak segan berbaring di bangku, entah bangku ruang tunggu atau bangku kereta api.
Ini yang lebih ajaib, terjadi di Uruguay sana. Pemimpinnya dikenal karena kesederhanaan hidupnya. Joce Mujica bahkan dijuluki sebagai presiden termiskin di dunia.
Presiden Uruguay ini tinggal di rumah sederhana, pekarangan rumahnya ditumbuhi ilalang. Walau disebut sebagai presiden termiskin, dia merasa tidak miskin. Menurutnya yang disebut orang miskin adalah mereka yang bekerja hanya untuk mempertahankan gaya hidup mahal dan selalu menginginkan lebih banyak.
Bisa jadi untuk ukuran kita, Presiden Uruguay ini sudah kelewatan.
Di Indonesia, Presiden jalan kaki tanpa pengawalan ketat saja sudah hebat.
Sementara di Eropa sana, adalah hal biasa seorang perdana menteri atau anggota parlemen pulang pergi kantornya dengan menaiki kendaraan umum. Mereka berlaku sebagaimana warganya, membawa mobil sendiri, tak perlu sopir juga mengawal untuk membuka jalan. Yang boleh seperti itu hanya ambulan atau mobil pemadam kebakaran.
Jabatan tidak diglorifikasi. Menjadi pemimpin negeri itu biasa saja, pun ketika harus lengser ya ditinggalkan begitu saja tanpa perlu cawe-cawe, mendudukkan si ini atau si itu di sana dan disini untuk mengamankan pengaruhnya hingga melampaui jaman.
Kita hampir-hampir tak pernah menemukan pemimpin di negeri ini yang rela habis masa jabatannya. Meski dibatasi oleh undang-undang, para pemimpin yang purna tetap berusaha meneruskan jabatannya lewat lingkaran terdekat.
Jabatan bisa diteruskan lewat istri, anak, menantu, kemenakan dan lainnya.
Bukan satu dua kali bapak dan anak, suami dan istri sama-sama ditangkap oleh KPK.
Uang dan kedudukan memang masih jadi jebakan. Nikmatnya melebihi apapun, walau dalam sumpah jabatan selalu ada janji untuk tak memperkaya diri sendiri. Dan jabatan selalu digambarkan sebagai pengabdian.
Tapi nyatanya di negeri ini pemimpin yang sederhana justru langka. Yang sering mereka berusaha tampil dalam citra sederhana. Memamerkan sepatu tanpa merek, memamerkan makan di warung sederhana. Tap rumahnya besar dan luas, garasinya penuh dengan mobil. Pengawalnya saja tampil mewah.
Di negeri kita jabatan itu privilege. Pejabat dimanjakan oleh fasilitas yang diatur oleh dirinya sendiri. Apapun diberikan oleh negara, termasuk pokok-pokok pikirannya yang berasal dari tenaga ahli.
BACA JUGA : Nangkring Medang
Dulu kita punya tokoh-tokoh besar yang hidup sederhana, apa adanya. Bung Hatta, wakil presiden pertama pernah mengalami kesulitan bahkan untuk membayar tagihan listrik.
Saat menyelenggarakan acara pernikahan anaknya, polisi ingin menutup jalan agar acaranya berlangsung lancar. Bung Hatta mencegahnya dan mengatakan acaranya adalah acara keluarga jadi tidak boleh mengorbankan kepentingan rakyat banyak.
Begitu pula ketika ibunya hendak datang menjengguk karena rindu. Bung Hatta melarang ibunya dijemput dengan mobil dinas ketika turun di Bandara Kemayoran. Bung Hatta mengatakan mobil dinas bukan mobil pribadi.
Kesederhanaan juga ditunjukkan oleh HOS Tjokroaminoto. Dia selalu bepergian naik kereta api kelas tiga. Dia selalu membawa bangku lipat, sehingga kalau tak dapat tempat duduk bisa duduk dibangku yang dibawanya. Tjokroaminoto tidak mau ada orang memberikan tempat duduknya untuk dia, karena orang tahu siapa dirinya.
Agus Salim juga selalu bepergian naik kereta api. Berjejal-jejalan dengan penumpang lainnya. Saat ada yang bertanya kenapa selalu naik kereta api kelas tiga, dia menjawab “Karena tidak ada kereta api kelas empat,”
Saking sederhananya seorang Agus Salim sampai-sampai Perdana Menteri Belanda yang memimpin delegasi Perundingan Linggarjati yakni Schermerhorn menulis catatan tentang Agus Salim. Schermerhorn memuji Agus Salin sebagai sosok dengan banyak kelebihan, sangat pandai. Hanya ada satu kekurangan dari Agus Salin yang ditulis oleh Schermerhorn yakni “Selamanya hidup menderita, hidupnya terlalu sederhana,”
Di masa orde baru, manusia langka juga masih ada. Seperti Hoegeng, Kapolri yang sederhana. Ada juga Baharuddin Lopa, seorang Jaksa yang juga sederhana. Jika tak punya uang Baharuddin Lopa akan minta ke salah satu media ternama, minta uang muka untuk artikel yang belum ditulisnya.
Dia tak akan mencari tambahan penghasilan dengan membuat acara, acara yang membuatnya dihonori jadi pembicara atau uang-uang tambahan lainnya.
Padahal itu modus yang biasa dipakai para pejabat saat ini. Memberi sambutan yang isinya dituliskan oleh orang lain akan dihonori. Makanya daftar acara bimteknya panjang, belum lagi perjalanan dinasnya, bisa-bisa kalau digabung lebih dari 365 hari setahunnya.
Mungkin impian atau harapan tentang pemimpin sederhana, pejabat yang apa adanya dan tak membebani anggaran negara agak kurang masuk akal.
Bagaimanapun juga kedudukan atau jabatan adalah pencapaian. Maka yang paling penting adalah kewenangan.
Kuasa menjadi utama. Dengan kuasa apa yang dulu tak mungkin atau sulit dilakukan kini menjadi terbuka. Dan mumpung masih punya kuasa, maka gunakan semaksimal mungkin kewenangannya, kalau perlu bahkan dengan sewenang-wenang.
Toh kesewenangan selama direstui oleh UU atau tak dinyatakan menabrak aturan maka itu bukan pelanggaran.
note : sumber gambar – MEDIARETORIKA








