KESAH.IDBanyak kota ingin membangun pedestrian, kawasan untuk berjalan kaki. Para perencana berpikir kalau sebuah kota membangun infrastrukturnya, secara otomatis warga akan terdorong untuk berjalan kaki. Padahal hukum jalan kaki tidak demikian sehingga banyak trotoar yang dikeramik dan diberi tempat duduk untuk istirahat ternyata merana dan malah dijadikan tempat parkir kendaraan bermotor atau tempat melintas motor jika jalanan macet. Jalan kaki bukan soal sarana dan prasarana, melainkan perilaku yang diputuskan secara sadar berdasarkan isi kepala.

Semenjak menjadi anggota masyarakat Kota Samarinda, saya menjadi tak terbiasa jalan kaki. Ke warung kelontong yang jaraknya tak lebih dari 100 meteran, saya naik motor.

Satu hal yang menonjol di Samarinda dibandingkan tempat tinggal saya sebelumnya yakni Manado adalah motor per kapita. Di Manado tidak semua rumah punya motor, sedangkan di Samarinda setiap rumah ada lebih dari satu motor.

Mungkin perkembangan motor di Manado waktu itu kurang pesat karena orang Manado dimanjakan oleh mikro {angkot} yang bisa mengantar sampai ke dalam-dalam gang. Sementara di Samarinda tak semua jalan dilewati angkutan kota. Punya motor menjadi semacam keharusan bagi warga Samarinda terlebih yang tinggal di luar jalan utama dan penghubung.

Saking terbiasa orang kemana-mana selalu naik motor, jika suatu waktu berjalan kaki dan ketemu orang maka akan ditanya “Kok jalan, motornya rusak kah?”

Biar nggak ditanya seperti itu kalau mau jalan kaki outfit-nya harus pakaian olahraga. Jadi kalau ketemu orang mereka akan menyapa “Jogging mas!”

Sebenarnya bukan hanya orang Samarinda saja yang mulai malas jalan kaki. Di Indonesia kaki memang tidak diajarkan sebagai salah satu moda transportasi. Yang diperkenalkan sebagai moda transportasi adalah wahana yang bermesin.

Kaki lebih diperkenalkan sebagai wahana rekreasi. Makanya kota-kota yang dikenal masih banyak pejalan kakinya adalah kota wisata, seperti Yogyakarta. Kawasan yang ramai pejalan kakinya juga terbatas, yakni antara Tugu Yogya hingga Monumen Umum Serangan 1 Maret 1949.

Yogyakarta memang beruntung karena mempunyai boulevard. Jalan Malioboro yang berada dalam garis maya yang menghubungkan antara Gunung Merapi, Keraton Ngayogjakarta dan Laut Selatan lurus dan lebar, serta mempunyai jalan yang lebih kecil disampingnya yang dimaksudkan sebagai jalur lambat.

Kini jalan yang dulu dikenal sepanjang waktu penuh dengan pedagang bahkan diperbaharui dengan merelokasi para pedagangnya untuk ditata menjadi selasar atau arcade dengan pedestrian yang lebar di kanan-kiri.

BACA JUGA : Tebang Pohon

Kota Samarinda juga berupaya untuk ramah kepada pejalan kaki. Trotoar ditata dan dipercantik dengan keramik. Bahkan di beberapa titik dipasangi bangku untuk istirahat. Tapi trotoar-trotoar ini tetap merana, bangku yang dipasang menua karena jarang diduduki.

Trotoar yang rapi dan cukup lebar bahkan merangsang pemilik mobil untuk parkir disana. Hingga kemudian trotoar dipasang tiang-tiang, hingga menjadi agak aneh penampakannya.

Kawasan pedestrian sejatinya hanya sebuah infrastruktur. Walau dalam perencanaan dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah pejalan kaki, tak otomatis akan membuat orang menjadi terangsang berjalan kaki begitu diselesaikan.

Sama seperti tanda lalu lintas, walau dipasang dimana-mana tak otomatis membuat orang mematuhinya. Tanda lalu lintas akan dipatuhi jika pemakai kendaraan atau jalan raya disiplin dan tertib dalam dirinya sendiri.

Selain sarana dan prasarana, yang perlu untuk diperbaiki adalah isi kepala.

Dalam kepala kita kata ‘jalan’ tak berarti mengayunkan kaki untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya.

Pamit “Jalan dulu ya,”, yang terdengar kemudian adalah bunyi motor digas dan pergi.

Artinya ‘jalan’ pada saat ini bukan berarti jalan kaki, tetapi pergi dengan moda transportasi.

Orang ‘jalan’ dengan menaiki sepeda motor, mobil baik milik pribadi, minjam atau layanan transportasi umum.

Jalan kaki sebagai sarana mobilitas dari satu tempat ke tempat lainnya memang tak umum lagi.

Selama dua puluh tahun tinggal di Jalan Wiraguna yang statusnya adalah jalan penghubung, saya hanya melihat sepasang suami istri yang bisa dikatakan militan jalan kaki.

Setiap saya melihat mereka lewat atau bertemu di jalan, keduanya selalu berjalan kaki.

Yang terakhir saya melihat mereka berjalan bersama menaiki tanjakan dari arah Jalan Juanda 4 sambil membawa TV LCD yang cukup besar.

Sebelumnya ada pasangan yang selalu saya lihat jalan kaki. Namun ketika anaknya sudah cukup besar kemudian dibelikan motor. Lalu anak itu sering terlihat membonceng bapak atau ibunya. Bisa jadi mereka dulu menunda membeli motor karena trauma berkendara sendiri.

Dunia mungkin berputar semakin cepat. Yang meninggalinya umumnya juga ingin serba cepat. Jalan kaki tak cukup lagi merespon dinamika dalam masyarakat yang sudah serba cepat itu.

Tapi jalan kaki tetaplah penting. Kaki perlu digerakkan dalam jarak dan jumlah langkah tertentu agar tubuh tetap sehat.

Dengan demikian pendidikan jalan kaki masih diperlukan. Kita walau bisa berjalan mesti mendidik diri sendiri untuk tetap jalan-jalan menggunakan kaki secara rutin.

Dalam sejarah peradaban dunia, jalan kaki menjadi salah satu kunci utama.

Kisah tokoh-tokoh besar dalam sejarah dunia banyak yang diawali dengan jalan kaki yang artinya pergi meninggalkan rumah untuk berhadapan dengan realitas dunia yang tak pasti.

Para nabi, guru atau founder ajaran agama atau spiritual besar memulai pengajarannya dengan jalan kaki meninggalkan rumah. Perjalanan yang disebut peziarahan, hijrah dan dakwah dari satu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki.

Di Eropa, literasi juga disumbang oleh kebiasaan jalan kaki. Para calon pemimpin akan melakukan grand tour, melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain dengan disertai seorang mentor. Jalan kaki dianggap sebagai langkah untuk meninggalkan kemapanan dalam rumah atau istana, untuk kemudian menghadapi ketidakpastian.

Disitulah seseorang akan diuji, mengatasi ketidakpastian atau permasalahan dengan pengetahuan dan ketrampilan yang didapat dalam perjalanan.

BACA JUGA : Goblok Loe

Beberapa tahun terakhir ini saya dan sekelompok teman mulai melakukan pedagogi jalan kaki pada diri sendiri. Jalan kaki yang kami sebut on-on ini bukan dilakukan di stadion, taman atau fasilitas olahraga lainnya. Kami memilih untuk menyusuri gang-gang di Samarinda, terutama di wilayah Samarinda Ulu dan Samarinda Kota.

Tujuan utamanya tentu untuk olahraga agar badan menjadi sehat karena cukup gerak. Selain itu dengan berjalan menyusuri gang maka kami akan lebih mengenali lingkungan tempat tinggal kami secara lebih dalam.

Di setiap gang yang kami lewati selalu ada cerita atau pengetahuan baru yang menyenangkan. Dan kesenangan itu akan meningkatkan produksi hormon baik dalam tubuh. Yang syukur-syukur bisa mewujud dalam rasa bahagia tanpa perlu piknik ke luar kota atau makan-makan di restoran favorit.

Dengan bekal kamera smartphone kamipun kerap memotret apa-apa yang menurut kami menarik untuk didokumentasikan. Jalan-jalan menyusuri gang juga merupakan proses dokumentasi visual kawasan, baik sebagai lanskap maupun ekosistem sosiologis dan antropologinya.

Siapa tahu dokumentasi ini nanti akan berguna untuk merawat ingatan agar tak mudah lupa dan labih adil dalam menilai perubahan.

Sebab selama ini kita dengan sangat cepat memberi puja-puji pada perubahan yang dilabeli dengan kata pembangunan. Semua dalam jangka pendek selalu dianggap sebagai kemajuan, padahal kelak setelah bertahun-tahun ternyata ditemukan kenyataan apa yang kita puja-puji itu sesungguhnya merupakan sumber penghancuran.

Ayo jalan-jalan dalam gang agar kita adil menilai segala sesuatu sejak dari kepala.