KESAH.IDInternet dan platform media sosial membuat pengumpulan donasi menjadi lebih mudah. Para selebgram, influencer dan kreator konten dengan mudah menginisiasi pengumpulan dana. Dalam hitungan jam saja bisa mengumpulkan jumlah yang besar dan mencenggangkan. Donasi dalam berbagai bentuk termasuk gift away membuat kemiskinan dan penderitaan dikomodifikasi. Kecenderungan yang membuat perbuatan baik menjadi tidak tepat sasaran dan memicu kekisruhan. Pemberi, penerima dan pengelolaan yang tidak amanah menjadi bulan-bulanan netizen dan menjadi panggung sandiwara untuk banyak pihak.

Berilah dengan tangan kananmu, tapi tangan kirimu tidak melihat. Itu dalil yang dulu sering saya dengar dari Guru Sekolah Minggu yang menekankan jika berbagi atau membantu itu harus dilandasi oleh rasa tulus atau ikhlas.

Kasih saja tak usah pakai embel-embel seperti syair lagu “Memberi tanpa berharap kembali”.

Manusia pada dasarnya memang punya kepedulian pada orang lain atau altruisme.

Peduli pada orang lain menjadi dasar dari mental manusia sebagai mahkluk sosial.

Altruisme murni bisa ditemukan dalam kisah-kisah tentang seseorang yang menolong orang lain bahkan tanpa memperdulikan nyawanya sendiri. Seperti kisah seseorang yang terjun ke sungai untuk menolong anak tenggelam padahal dirinya tak bisa berenang.

Saya pernah menyaksikan kisah ini ketika masih kecil dulu. Margono yang sering kami juluki sebagai ningratan karena sehari mondar-mandir di jalan, tiba-tiba terjun ke saluran air buatan Belanda yang menyodet Kali Bogowonto. Dia terjun karena melihat anak hanyut. Dan Margono yang ODGJ itu ternyata tak bisa berenang sehingga gelagapan begitu menggapai anak yang terhanyut itu.

Untungnya di beberapa titik saluran buatan yang sebesar anak sungai itu ada yang mendangkal, sehingga Margono tak ikut tenggelam dan berhasil menyelamatkan anak yang terhanyut itu.

Kisah-kisah kepahlawanan seperti ini adalah kisah altruisme murni. Sebagian memang hanya narasi rekaan.  Namun dalam sejarah memang ada sosok-sosok yang mengorbankan diri demi orang lain. Kisah yang dalam sejarah agama-agama ditunjukkan oleh mereka-mereka yang kemudian disebut sebagai Orang Suci.

Altruisme murni ini semakin langka. Salah satu yang merusak gen paling mulia ini adalah politik. Sebab politik terutama dalam regim pemilu menyuburkan altruisme transaksional. Para politisi akan berbaik hati, memberi apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan syarat. Yakni memberikan suara untuk para pemberi bantuan.

Untungnya agama masih mampu melawan dengan moralitasnya. Moralitas agama selalu mendorong kaum beragama untuk memberi perhatian dan kasih pada orang-orang menderita. Daftar orang menderita sangat panjang, sehingga altruisme terus terjaga walau kadang dengan iming-iming surga dan segala kenikmatannya.

Sedekah, donasi, derma, dan apapun istilahnya, kata-kata itu berjasa besar untuk menjaga naluri altruisme manusia agar terus memelihara simpati dan empati dalam dirinya.

Kegiatan membantu orang lain, sesama yang menderita atau berkekurangan bahkan kemudian terlembagakan. Ada banyak relawan, organisasi atau yayasan-yayasan sosial untuk mengimplementasikannya.

Kegiatan philantropis yang kerap disebut karikatif ini menjadi salah satu kegiatan sosial tersubur di Indonesia.

Media mainstreams bahkan pernah tercatat sebagai salah satu pengumpul dan penyalur bantuan sosial yang sangat terpercaya. Kompas sebagai salah satu surat kabar dengan oplah tertinggi di Indonesia pada waktu itu, pernah sangat dikenal lewat Dana Kemanusiaan Kompas.

Lalu Koran Republika yang sekarang sudah tutup cetak, juga dikenal lewat Dompet Dhuafa Republika.

Kedua inisiatif pengumpulan dan penyalur donasi publik ini sangat dipercaya karena transparansinya. Dana yang terkumpul dan tersalurkan kemudian dipublikasikan lewat koran sehingga bisa dibaca oleh para penyumbangnya.

BACA JUGA : Goblok Loe

Saya dan sekumpulan teman-teman pernah mengakses Dana Kemanusiaan Kompas. Waktu itu Sulawesi Utara kebanjiran Internal Displacement People’s atau Pengungsi Dalam Negeri akibat kerusuhan di Maluku Utara.

Salah satu yang menjadi perhatian kami adalah para pengungsi di Kota Bitung, terutama yang ditampung di bekas pabrik pengolahan rotan yang sudah bangkrut.

Mereka membangun barak sendiri dengan membuat sekat-sekat di sebuah bangsal besar. Berkeliling didalamnya serasa berada di los pasar yang semrawut.

Jelas sekali mereka tak bisa beristirahat dengan nyaman karena ketiadaan tempat tidur. Mereka hanya menghampar alas tidur di lantai tanah yang tidak rata. Namun ada juga yang membuat para-para dengan bahan seadanya.

Kami berpikir mereka butuh tempat tidur.

Dan permohonan bantuan tempat tidur itu yang kemudian saya dan teman-teman ajukan ke Dana Kemanusian Kompas.

Permohonan bantuan disetujui dengan syarat sebesar mungkin uang yang akan ditransfer masuk ke para pengungsi.

Dana Kemanusian Kompas juga mewanti-wanti bahwa kami tak bisa mengambil sepeserpun uang yang dikirimkan.

Memang harus begitu, toh niat kami membantu. Jadi juga harus mewujudkan niat itu dengan dukungan dari kami sendiri. Tak apa, bolak balik Manado ke Bitung bisa didukung oleh bantuan lainnya.

Kebetulan waktu itu saya juga tengah mengelola bantuan dari lembaga luar negeri untuk Program Dukungan Psikososial bagi Anak-Anak Pengungsi di Manado dan Bitung, hitung-hitung sambil menyelam minum air.

Kami memutar otak bagaimana agar sebagian uang yang dikirim bisa masuk sebagai rejeki sebagian pengungsi. Kami memutuskan bahwa tempat tidur tidak dibeli dalam bentuk jadi. Uang bantuan dipakai untuk membeli bahan dan kemudian sisanya dipakai untuk membayar jasa tukang yang berasal dari pengungsi sendiri.

Cara seperti ini mungkin sekarang disebut sebagai program pemberdayaan.

Tapi sungguh waktu itu kami tak berpikir seperti itu, toh diantara kami memang tak ada yang ingin melakukan pencitraan karena berniat mengikuti kontestasi untuk pemilihan wakil rakyat atau kepala daerah.

Karena saya dan teman-teman waktu itu termasuk dalam kategori jomblowan dan jomblowati maka lebih mudah untuk menerima dengan rela hati bahwa membantu itu artinya mencari susah.

Bahkan di lain waktu kami bukan hanya lelah melainkan juga kelaparan. Padahal waktu itu saya dan teman-teman tengah mendapat kiriman bantuan satu kontainer mie kering produksi PT. Tiga Pilar Sentosa.

Perusahaan itu pada mulanya adalah start up yang mendapat bantuan gandum dari Departemen Pangan atau Pertanian Amerika Serikat untuk dijual sebagai produk yang murah.

Kami kehabisan uang karena ternyata harus mengeluarkan biaya sewa truk untuk mengangkut dari keluar dari pelabuhan Bitung ke lokasi pengungsian. Pengirim ternyata hanya membayar biaya dari port to port.

Disitulah saya dan teman-teman kemudian melanggar etika, karena ikut menikmati mie bantuan yang dimasakkan oleh salah satu keluarga pengungsi.

BACA JUGA : Mlaku Mlaku

Sekarang pengumpulan donasi menjadi lebih gampang karena bisa dilakukan secara online seperti melalui platform media sosial.

Siapapun bisa menggalang dana dan kadang hasilnya mencenggangkan.

Selebgram, influencer, kreator konten ternama dengan mudah mengumpulkan uang bantuan. Dalam hitungan jam saja bisa mengumpulkan uang jutaan bahkan milyardan.

Tapi semakin besar jumlah para pengumpul dana, semakin besar juga berita tentang penyaluran bantuan yang tidak amanah.

Ada banyak kasus baik yang viral maupun bisik-bisik yang membicang berisiknya soal donasi yang tidak tepat sasaran.

Ada yang menyebut pemberian bantuan sekarang sudah dikomodifikasi. Salah satu bentuknya adalah dalam bentuk gift away. Yang memberi gift away bukan hanya selebritis atau mereka yang ingin disebut sebagai sultan, bunda, princess dan lainnya tetapi juga para penceramah.

Gus Miftah misalnya baru-baru ini terperosok dalam kasus seperti itu. Ternyata dalam ceramah-ceramahnya, beliau memang kerap memborong dagangan masyarakat yang berjualan di tengah acara ceramahnya yang audiensnya membludak.

Namun kasus donasi yang paling menyita perhatian akhir-akhir ini adalah yang diinisiasi oleh Denny Sumargo, seorang pebasket yang kemudian menjadi kreator konten di You Tube.

Denny menggalang donasi untuk korban penyiraman air keras yang dibawa oleh Novi, seorang kreator konten yang dikenal sebagai penolong ODGJ.

Donasi dengan angka besar itu ditenggarai digunakan oleh penerima bantuan secara tidak tepat. Dan itu kemudian dipersoalkan baik oleh Denny maupun Novi.

Dan kemudian terjadilah drama, karena campur tangan para pengacara yang ingin menunggang gelombang. Kasus menjadi melebar karena yang terlibat kemudian men-spill pihak-pihak lainnya.

Kita semua tahu, di ruang publik terutama di internet drama semacam ini adalah bahan bakar bagi netizen untuk menumpahkan keresahan. Komentar dan tanggapan atas dana yang tak amanah menjadi liar. Dan kita tak kekurangan para pembakar sumbu, sehingga suhu akan makin memanas hingga kemudian pihak-pihak yang semestinya tak ikut campur akan turut serta.

Kisah Agus yang sedih, penerima bantuan yang tak tahu terimakasih itu masih akan diikuti oleh ‘Agus-Agus’ lain.

Begitu polos dan tulusnya orang yang memberi bantuan tanpa assestment yang kuat karena trend gift away, akan dimanfaatkan orang-orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan untuk memonetisasi citra penderitaan.

Yakinlah diantara para penjual dalam acara ceramah publik itu pasti ada yang bukan penjual sebenarnya. Mereka seolah berjualan hanya untuk memancing simpati dan empati yang berujung dagangannya diborong.

Yang memborong bukan hanya penceramah, tetapi sosok-sosok lain di panggung yang mungkin titip rejeki melalui para penceramah.

Tapi begitulah kehidupan, apapun panggungnya selalu punya potensi untuk menjadi panggung sandiwara.

note : sumber gambar – LIPUTAN6