KESAH.ID – Kebanyakan orang mengira fanatisme itu hanya berkaitan dengan kepercayaan atau sistem religus. Nyatanya tidak, sebab sepakbola ternyata juga menumbuhkan fanatisme dimana-mana. Menang atau kalah, klub atau tim yang disukai akan selalu didukung. Penyelenggaraan Piala Dunia selalu menunjukkan betapa fanatisme terhadap sepakbola subur dimana-mana.
Fanatisme memang unik datangnya kerap tak disangka-sangka dan tentu saja sulit luntur walau diterpa badai apapun.
Contohnya pengemar sepakbola yang memuja-muja tim nasional negeri lain yang berlaga di Piala Dunia.
Hari ini saya melihat sebuah video, seorang anak mewek-mewek karena tim nasional Belanda dikalahkan oleh Kroasia.
Yang lebih unik beberapa hari sebelumnya saya juga mendapat kiriman video, ada pendeta dalam sebuah ibadah melafalkan doa-doa panjang untuk timnas pujaannya, mendoakan satu persatu pemainnnya.
Penyerang didoakan agar menciptakan banyak gol, pengumpan didoakan mengumpankan umpan manis, pemain bertahan didoakannya mampu menjadi benteng kuat yang tak bisa dilewati pemain lawan. Dan terakhir kiper didoakannya agar mampu memblok dan menangkap bola yang siap menjebol gawang.
Melihat video itu teman yang lain membalas dengan mengirimkan gambar yang menunjukkan Paus tengah memberkati sekelompok orang yang membawa bendera Argentina.
Ah, Tuhan saja dibuat bingung oleh para pecinta sepakbola.
Tapi itu biasa bahkan belum seberapa dibandingkan yang dilakukan oleh warga di Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat sana.
Desa tempat Baharuddin Lopa, seorang jaksa yang dikenal anti korupsi itu setiap kali perhelatan piala dunia selalu merias wajahnya menjadi kampung bola.
Kebiasaan menghias wajah kampung bernuansa bola bermula ketika di Pambusuang hadir seorang antropolog dari Jerman untuk melakukan riset. Namanya Horst Liebner.
Liebner melihat warga Pambusuang yang kebanyakan nelayan punya semangat besar untuk berkompetisi, menyenangi perlombaan.
Melihat hal itu Liebner kemudian mengusulkan kepada warga untuk mengikuti lomba membuat gapura yang diselenggarakan oleh sebuah stasiun televisi saat piala dunia. Wargapun antusias, bahu membahu menghias bukan hanya muka jalan dengan gapura melainkan juga rumah dan lingkungan sekitarnya.
Lomba itu tidak ada lagi namun setiap penyelenggaraan piala dunia warga tanpa maksud untuk mengikuti lomba menyambut Piala Dunia warga Pambusuang terus menghiasi kampungnya dengan pernak pernik bola.
Sebenarnya menghiasi kampung atau sebagian kampung dengan pernak-pernik bola bukan hanya tradisi warga Pambusuang, banyak warga di daerah lain juga melakukan hal yang sama. Pernak-pernik bola saat Piala Dunia juga mudah disaksikan di daerah Manado. Warga kerap berlomba memasang bendera besar negeri yang didukungnya.
Namun kebiasaan warga Pambasuang ini kemudian menjadi unik karena sebagian besar warganya fanatik pada Tim Nasional Argentina. Bukan hanya Piala Dunia yang ramai, saat penyelenggaraan Copa America, mereka juga melakukan ritual yang sama, nonton bareng.
BACA JUGA : Berkendara Di Kalen Kaki Langit
Fenomena warga Indonesia menjadi pengemar fanatik tim sepakbola negeri lain bukanlah fenomena baru. Sebagian bisa diterangkan seperti ketika kebanyakan warga Maluku fanatik mendukung Tim Nasional Belanda.
Fanatisme warga Maluku pada Tim Nasional Belanda bisa dimengerti karena sejara historis dan emosional memang banyak warganya yang punya kedekatan dengan Negeri Kincir Angin tersebut. Negeri Belanda juga mempunyai pemain yang berdarah Maluku, salah satu yang terkenal misalnya Giovanni Van Bronckhorst.
Sebelumnya ada pula Demy De Zeeuw yang membela skuad Belanda pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, saat itu Belanda berhasil menjadi runner up. Ada nama Denny Landzaat yang membela skuad Oranje sebanyak 38 kali.
Nama lainnya adalah Nigel De Jong, yang memperkuat Tim Nasional Belanda dalam dua kali piala dunia, termasuk di Afrika Selatan yang membuatnya disorot karena ‘tendangan kungfu’ pada Xabi Alonso saat Belanda dikalahkan oleh Spanyol.
Terakhir ada nama Roy Makaay, penyerang haus gol yang namanya hingga kini dicatat sebagai pemegang rekor gol tercepat di Liga Champion.
Apakah ada warga Pambusuang yang punya hubungan darah dengan pemain Argentina?. Nampaknya tidak ada sama sekali. Pun juga satupun pemain Argentina belum pernah datang ke Pambusuang sehingga tertanam secara dalam dalam memori kolektif warganya.
Jadi apa yang menyebabkan warga Desa Pambusuang secara kolektif begitu fanatik pada Argentina, jawabannya ternyata televisi.
Rupanya siaran langsung piala dunia bisa disaksikan oleh warga Desa Pambusuang lewat TVRI pada tahun 1986, saat itu Piala Dunia di Meksiko.
Yang punya televisi belum banyak sehingga warga menonton dengan memadati rumah orang yang punya televisi, nobar ramai-ramai.
Kebetulan waktu itu yang tengah menjadi perhatian dunia adalah Argentina karena disana ada Maradona. Penampilan Maradona, pemain bertubuh gempal namun lincah meliuk-liuk saat membawa bola rupanya menyihir warga Pambusuang. Masih banyak yang mampu mengingat bagaimana Maradona melewati lima pemain Inggris dengan mudahnya.
Sihir si Tangan Tuhan itu makin menguat karena dalam final, Tim Nasional Argentina berhasil mengalahkan Jerman, Argentina Juara Dunia.
Sama seperti gapura dan hiasan pernik bola, ketakjubannya pada Tim Nasional Argentina diteruskan oleh warga Pambusuang ke era berikutnya, era Batistuta dan kemudian era Messi.
Adalah Yusuf yang berumur 50 an tahun sebagai salah satu yang menurunkan tradisi kesukaan pada Tim Nasional Argentina. Pengemar Argentina yang bukan kaleng-kaleng dan kerap disapa dengan sebutan Pua Raju itu mewarnai rumahnya dengan warna putih dan biru muda.
Kala menikahkan anaknya, pernak-pernik seserahannya bernuansa Argentina, pun seragam sanak saudara yang mengantarkannya. Saking Argentinanya, bahkan logo Argentina Football Federation turut diserahkan oleh calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai wanita.
Anak Yusuf yang bernama Sirajuddin itu ketika telah menikah dan istrinya melahirkan seorang putra, bayi itu kemudian dinamai Messi. Kekaguman dan kecintaan terhadap Argentina diteruskan turun temurun.
BACA JUGA : Semarak Pesona Kaltim Berhasil Menguncang CFD Solo
Saya sendiri setiap kali gelaran Piala Dunia selalu menjadikan Belanda dan Argentina sebagai tim favorit, tak peduli punya mareri pemain terbaik atau tidak.
Saya mulai menyukai Belanda karena penampilan trio legendarisnya, Ruud Gullit, Frank Rijkaard dan Marco Van Basten. Lalu Dennis Berkamp dan juga Robin Van Persie.
Untuk Belanda saya berharap mereka bisa menjadi juara Piala Dunia untuk menutup luka karena legenda sepakbola mereka Johan Cruijff yang terkenal dengan total football-nya tak berhasil mencicipinya.
Namun Belanda kemudian menjadi pilihan kedua, karena saya kemudian lebih suka Lionel Messi. Maradona tentu saja saya tahu tapi bukan karena dia saya mengagumi Argentina.
Nama Argentina mulai tertanam di memori ketika jaya-jayanya Gabriel Omar Batistuta, juga karena petenis bernama Gabriela Sabatini.
Dan kemudian lebih tertanam lagi karena Messi. Sosok yang tubuhnya mini tapi gerakannya mengejutkan, ada banyak gol yang sepertinya tak masuk akal.
Dan adalah normal jika kemudian saya menjadi lebih suka dengan sosok yang kelihatan lemah namun digdaya. Rasanya lebih hebat dibandingkan dengan Ronaldo yang badannya memang sempurna.
Pilihan membela yang lemah pun secara konsisten saya terapkan dalam pemilu. Banyak kali saya memberi suara kepada calon yang lemah, yang hampir tak punya kesempatan untuk menang. Dan saya tak menyesal untuk membuang suara.
Pada Piala Dunia 2022 di Qatar ini saya menjagokan Messi, bukan Argentina karena tidak banyak skuadnya yang saya kenal. Selain Messi hanya Angel De Maria yang saya cukup tahu yang lain hanya saya perhatikan sekilas saja.
Belanda tidak lagi masuk dalam pertimbangan, meski tim asuhan Louis Van Gaal tampil hebat. Hampir tak ada pemain Tim Nasional Belanda yang kenal dan kagumi lagi setelah Robin Van Persie.
Saya ingin Messi mengangkat trofi Piala Dunia karena perjalanannya dengan Tim Nasional Argentina di usianya yang tak lagi muda begitu mengesankan. Soal kehebatannya tak perlu diragukan, Messi telah melampaui pemain manapun, namun statusnya sebagai GOAT akan absolute jika mampu membawa Argentina menjadi juara Piala Dunia.
Jalan Messi memang sempat tersendat, pertandingan pertama hampir mengirimnya pulang. Namun pertandingan berikutnya meyakinkan. Messi menunjukkan tajinya, tampil menjadi man of the macth dalam pertandingan berikutnya hingga sampai masuk semifinal dengan mengalahkan Belanda.
Messi yang berhasil membuat seluruh anggota Tim Nasional Arab Saudi dihadiahi Roll Royce sudah otewe Juara Dunia, walau belum juara nampaknya bisa dipastikan gelar Golden Ball sudah ditangannya.
Apakah Messi akan membawa Argentina menjadi Juara Dunia, susah untuk diramalkan. Karena sepakbola selalu menghadirkan kejutan, seperti Jerman dan Brasil yang diramalkan akan jadi juara namun ternyata harus pulang.
Juara atau tidak Messi tetap menjadi yang terbaik di dunia, tapi andai bisa membawa Argentina juara dalam Piala Dunia 2022 di Qatar ini, Messi mungkin bisa menutup karir sepakbolanya dengan mencalonkan diri sebagai Presiden Argentina.
Mungkinkah Messi yang tanpa pengalaman politik atau bahkan tak suka politik bisa menjadi Presiden Argentina?. Mungkin saja.
Sebab kata Dahlan Iskan, gunung tak perlu tinggi yang penting ada dewanya dan sungai tak perlu dalam yang penting ada naganya.








