KESAH.ID – Memadukan antara jasa lingkungan hutan dan budaya masyarakat setempat, wana wisata dan desa wisata yang dibranding dengan nama Kaki Langit mampu menyedot pengunjung untuk menikmati layanan wisata tematik berbasis hutan dan budaya masyarakat setempat. Berada di kawasan pegunungan sewu perbatasan antara Bantul dengan Gunung Kidul telah berhasil membuat masyarakatnya sadar untuk menjaga hutan demi kelangsungan dan kehidupan yang lebih baik.
Bicara soal pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta seolah tiada habisnya. Destinasi baru bermunculan, bergantian viral satu demi satu.
Beberapa tahun terakhir ini dengan memanfaatkan dua kawasan pegunungan di bagian tengah dan selatan muncul banyak destinasi wisata alam yang instagramable.
Pegunungan Menoreh yang membentang yang membentang di bagian barat Kulon Progo, sebelah timur Purworejo dan sebagian wilayah Magelang mempunyai banyak puncak pandang, sungai dengan bebatuan, air terjun dan gua.
Kawasan yang menjadi perbatasan wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam sejarah dicatat sebagai daerah pertahanan Pangeran Diponegoro. Fiksi tentang perjuangan di kawasan ini ditulis oleh SH. Mintardja dalam novel berjudul Api Di Bukit Menoreh.
Pemandangan alam dari ketinggian menjadi unggulan di kawasan ini dengan munculnya banyak kawasan dan rumah pandang, trekking dengan sepeda dan jeep, kedai kopi atau kafe dengan kuliner perdesaan, sungai purba berlantai batuan dan gua dengan aliran sungai bawah tanah serta air terjun.
Selain wisata alam, kawasan pegunungan Menoreh juga dikenal sebagai kawasan wisata religius untuk umat Katolik untuk berziarah ke beberapa Gua Maria yang ada disana.
Setelah kawasan pegunungan Menoreh nge-hits, giliran jajaran pegunungan Sewu yang berada di bagian selatan menyusul. Pegunungan Sewu merupakan bentang alam karst yang dimulai dari Bantul, Gunung Kidul, Wonogiri hingga Pacitan di Jawa Timur.
Pada tahun 2004 kawasan ini ditetapkan oleh Unesco menjadi Geopark, warisan alam yang mempunyai unsur-unsur geologi terkemuka yakni geodiversity, biodiversity dan cultural diversity.
Gunung Kidul yang dahulu identik dengan kemiskinan dan kekeringan, makanan pokoknya tiwul kini menjadi daerah tujuan wisata baru, salah satu destinasi yang ternama adalah Gua Pindul.
Bantul kemudian menyusul. Kabupaten yang dulunya lebih dikenal sebagai Kota Geplak dan Kota Gerabah kemudian ikut berbenah.
Di kawasan yang dulu gundul lalu ditanami dengan pinus, mahoni, akasia, jati dan lainnya kemudian menjadi hutan. Wilayah perbukitan yang kemudian menghijau yang berada dalam penguasaan Kesatuan Pemangku Hutan Yogyakarta itu secara ekologis berfungsi sebagai kawasan lindung.
Lewat kerjasama kemitraan untuk pemanfaatan jasa lingkungan, kelompok masyarakat di Resort Pemangku Hutan Mangunan/Dlingo yang berada di bawah Daerah Bagian Hutan Kulonprogo-Bantul berhasil memanfaatkan kawasan hutan dengan tegakan pohon pinus yang padat menjadi wanawisata yang menarik.
Di-branding dengan sebutan Kaki Langit, pegunungan yang mempunyai ketinggian kurang lebih 300 mdpl telah menarik jutaan pengunjung. Barrack Obama, mantan presiden Amerika Serikat pernah mengunjungi salah satunya yakni Bukit Becici yang berada di kawasan wisata Pinus Sari.
Pengelolaan kawasan ini dilakukan oleh Koperasi Notowono dengan kurang lebih 9 operator dengan keunggulan masing-masing. Presiden Joko Widodo juga pernah berkunjung ke kawasan ini, yakni Panggung Sekolah Hutan yang merupakan destinasi wisata pendidikan. Lokasinya berada di seberang Hutan Pinus Mangunan.
BACA JUGA : Semarak Pesona Kaltim Berhasil Menguncang CFD Solo
Provinsi Kalimantan Timur menempatkan sektor pariwisata sebagai unggulan untuk melakukan transformasi ekonomi dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi berkelanjutan atau ekonomi hijau.
Pada masa kepemimpinan Gubernur Awang Faroek Ishak, Kaltim mendeklarasikan diri sebagai Provinsi Hijau. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur akan didasarkan oleh ekonomi yang rendah karbon.
Dalam hubungannya dengan pariwisata maka fokus pengembangan pariwisata Kalimantan Timur adalah wisata alam dan budaya. Sebuah kegiatan atau jasa wisata yang memperhatikan aspek ekologi, ekonomi dan sosial masyarakat setempat. Pendekatan ini dikenal sebagai pengembangan wisata berbasis masyarakat.
Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur menjadi salah satu garda terdepan dalam mencapai visi Kalimantan Timur sebagai Provinsi Hijau. Langkah itu ditempuh dengan pengembangan Kelompok Sadar Wisata untuk menjadi pondasi pengembangan dan pengelolaan Desa Wisata.
Untuk mendukung pencapaian prioritas pembangunan sebagaimana dicanangkan oleh Isran Noor, Gubernur Kalimantan Timur saat ini maka kawasan 3 danau menjadi sasaran utama untuk pengembangannya.
Sebagaimana diketahui kawasan 3 danau yakni Jempang, Semayang dan Melintang secara ekologis berada di kawasan Mahakam Bagian Tengah. Kawasan ini berfungsi sebagai penampung air hujan, lumbung air untuk Sungai Mahakam bagian tengah hingga hilir.
Dataran rendahnya yang hampir selalu berair mempunyai kekayaan ekosistem yang khas dalam bentuk hutan dataran rendah di kawasan rawa-rawa, termasuk diantaranya rawa gambut.
Ekosistem air pada dataran rendah dalam rupa danau kaskade, rawa dan anak-anak sungai menjadi kawasan Mahakam Bagian Tengah ini kaya dengan pemandangan indah. Selain pohon-pohon besar yang sebagian batangnya selalu terendam air, kawasan ini juga menjadi ruang hidup satwa yang sangat beragam dan mudah untuk dilihat.
Kawasan air yang penuh nutrisi yang berasal dari material organik hutan disekitarnya dan bagian hulunya ini juga menjadi gudang udang dan ikan air tawar. Kekayaan biota air ini membuat kawasan keairan Mahakam Bagian Tengah menjadi rumah bagi mamalia air khas Kalimantan Timur yakni Pesut Mahakam.
Upaya penguatan dan pendampingan terhadap masyarakat di kawasan ini oleh Dinas Pariwisata Kaltim telah menuai hasil, salah satunya adalah Desa Wisata Pela yang berhasil meraih penghargaan sebagai desa wisata terbaik di tingkat daerah maupun nasional.
Desa Wisata Pela tahun 2022 ini menjadi satu-satunya Desa Wisata dari Kalimantan Timur yang mendapat penghargaan dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Melihat besarnya potensi daya tarik kawasan Mahakam Bagian Tengah mestinya bukan hanya Desa Pela yang menonjol. Dengan pendekatan kawasan, wisata alam dan budaya Mahakam Bagian Tengah bisa diperluas dan semakin beragam.
Mengajak kepala desa dan pokdarwis dari beberapa desa di Kawasan Mahakam Tengah ke kawasan wisata Kaki Langit menjadi salah satu strategi dari Dinas Pariwisata Kalimantan Timur agar pariwisata di kawasan Mahakam Bagian Tengah semakin berkembang dan menjadi salah satu kawasan destinasi unggulan.
Secara konseptual wisata Kaki Langit memang kuat. Branding Kaki Langit mengacu pada kondisi lingkungan setempat yang memadukan kekuatan hutan dan kehidupan perdesaan. Jenis wisata yang dikembangkan bersifat tematik namun berada dalam payung besar yakni Dewi Sari atau Desa Wisata Sahabat Rimba.
Hutan atau wana yang dijadikan daya tariknya, daya tarik yang kemudian menjadi daya ungkit untuk mengembangkan Desa Wisata. Yang disebut sebagai desa wisata adalah desa dan warga desa yang mampu memberikan layanan wisata yang berbasis pada lingkungan setempat.
Layanannya berupa paket wisata, akomodasi, transportasi, edukasi, oleh-oleh atau souvenir dan lain-lain.
Dengan demikian investasi untuk pengembangan sumberdaya manusia menjadi salah satu aspek penting agar masyarakat setempat yakin bahwa sektor pariwisata bisa menjadi sumber penghidupan untuk masyarakatnya.
Meski mempunyai kondisi alam, sosial dan budaya yang berbeda namun para pemangku kepentingan pariwisata di Kalimantan Timur bisa mengambil pelajaran penting dari Desa Wisata Kaki Langit yang menjaga kawasan hutannya sehingga mampu menjadi destinasi wisata hutan tematik yang menarik untuk dikunjungi.
BACA JUGA : Geger Di Pendhapa Ageng ‘Mr. Djojo Kusumo’ ISI Surakarta
Belajar memang penting namun menikmati keindahan alam serta merasakan sensasinya juga tak kalah pentingnya.
“Mumpung sudah sampai sini, kita harus menikmati susur sungai dengan jeep,” ujar Ahmad Herwansyah, Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.
Benar, rasanya memang sayang sudah jauh-jauh datang namun ada sensasi yang terlewatkan, walau untuk sebagian orang Kaltim menyusuri sungai adalah hal yang biasa namun dengan perahu. Atau untuk masyarakat daerah tertentu menaiki mobil menyebrangi sungai juga bukan hal asing.
Dan terbukti menyaksikan pemandangan alam hutan dan perdesaan di Mangunan dengan jeep terbuka memang asyik. Namun akan lebih asyik lagi menikmati berkendara melewati jalur sungai.
Rencana awalnya memang hanya akan menyusuri hutan dan desa Mangunan takut waktunya tidak cukup. Namun karena desakan Pak Iwan, panggilan akrab Kadispar Kaltim akhirnya trekking sungai dengan jeep menjadi tambahan agenda baru yang menyenangkan.
Barisan jeep yang diisi 3 sampai 4 penumpang menderu, melewati tanjakan, tikungan dan turunan hutan pinus Mangunan, masuk ke Desa Muntuk, desa yang ditumbuhi bambu. Ada papringan atau hutan bambu di beberapa titik.
Sebelum masuk gerbang trekking yang dinamai Track Jeep Bandungsari tersaji pemandangan indah, sawah menghijau di perlembahan yang dikelilingi perbukitan yang tak kalah hijaunya.
Sebelum memasuki badan sungai, driver terlebih menyetel tuas untuk merubah mobil ke mode penggerak 4 ban. Ketika ditanyai “Ini sungai apa?” drivernya tak bisa memberikan nama.
“Kalen mas,” jawabnya.
Kalen adalah sebutan untuk sungai kecil yang sumber utama airnya adalah air hujan.
Begitu memasuki badan sungai jeep jimny katana yang telah dimodifikasi langsung gas poll, suaranya makin menderu terutama kala melewati air yang cukup dalam. Pengemudinya mesti pintar memilih jalur agar mobilnya tak terbenam dan macet karena terendam air.
Pada beberapa titik aliran sungainya seperti sengaja dibendung agar airnya tertahan.
Dengan kelokan yang cukup tajam badan terasa terguncang-guncang, sesekali kepala merunduk karena melewati bawah jembatan.
Perjalanan menyusuri sungai yang penuh guncangan dan cipratan air sungguh mengasyikkan, ada saatnya terasa dikepung oleh tebing sungai yang cukup tinggi, terasa sejuk ketika melewati naungan kanopi karena rimbun pohon di kanan kiri tajuknya bertemu diatas sungai dan berkali-kali adrenalin terpacu karena mobil mesti menerabas air cukup dalam dan kemudian menanjak untuk lepas dari jebakan.
Perjalanan penuh sensasi akhirnya mesti di akhir di pintu keluar yang berada di Desa Banjarharjo. Sebuah perjalanan yang mengesankan karena keramahan penduduknya yang tak henti menyapa dan menebar senyum setiap kali berpapasan atau dilewati oleh mobil jeep.
Karena banyak pohon bambu di depan rumah bisa disaksikan kesibukan masyarakat menganyam bambu menjadi bermacam bentuk wadah.
Setelah melewati Banjarharjo, mobil jeep memasuki Manggunan, kembali ke hutan pinus.
Di komplek Panggung Sekolah Hutan telah tersaji makan siang. Ada tiga jenis nasi yang disiapkan dalam cething. Ada sego putih, sego abang dan sego tiwul, ditemani lauk ikan, tempe dan tahu goreng serta sayur lodeh plus sambel.
Usai makan sembari mendengar talkshow yang menghadirkan narasumber Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, anggota DPRD Kaltim dan pengelola wisata kaki langit disajikan camilan dalam tampah. Isinya pisang rebus, kacang rebus, gethuk tales, cemplon dan tempe goreng tepung lengkap dengan lombok hijau.
Sayang hujan deras mendadak turun, acara pagelaran Semarak Pesona Kaltim di hutan pinus pun mesti dihentikan.
Sambil terkena siraman hujan, semua mesti bergegas untuk berkemas. Bersiap meninggalkan hutan pinus Mangunan untuk kembali ke Kota Yogyakarta. Masih cukup untuk menelusuri Maliboro yang konon telah berubah rupa dan suasana, sebelum esoknya kembali lagi ke bumi etam.
Memang benar kata penyair kalau hujan akan membuat senja menjadi lebih cepat datangnya.








