KESAH.ID – Salah satu ingatan yang paling kuat bertahan di memori adalah makanan. Setiap orang mempunyai kenangan akan makanan favorit semasa kecil atau makanan di tempat-tempat yang pernah dikunjungi. Banyak kota berhasil membuat seseorang datang kembali karena pengalaman kulinernya.

Yang namanya untung pasti datangnya tak disangka-sangka. Sayapun tak mengira kalau menjelang akhir tahun akan dapat ajakan plesiran, jalan-jalan ke Joglo, Jogya dan Solo.

Saya memang pingin ke Jogya untuk melihat suasana Malioboro yang termuktahir setelah para pedagangnya di pindahkan dari selasarnya.

Sedangkan Solo, tentu saja saya suka karena jarang-jarang pergi ke sana.

Kali ini rombongan yang pergi besar sekali, perlu tiga bus dan beberapa mobil untuk mengangkutnya. Untung saja dari antara yang pergi sebagian saya kenal, kenal akrab sehingga bisa ber-ha-ha-hi-hi sepanjang perjalanan.

Dua hari sebelum keberangkatan, saya mendapat itinerary, isinya lengkap mulai dari jam, kegiatan, penanggungjawab, detail waktu persiapan dan lain-lain. Jadwalnya terasa padat, berhimpitan satu sama lain dan tak banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk ‘menyimpang’.

Menyimpang artinya beraktivitas sendiri di luar jadwal untuk menambah pengalaman dan pengetahuan mumpung pergi ke tanah orang.

Tahu kan kalau pergi berombongan apalagi rombongan besar maka makannya pasti sudah diatur. Mulai makan pagi di hotel lalu berangkat naik bus dan diatas bus sudah disediakan snack kotakan. Beraktivitas di destinasi tujuan sampai siang dan kemudian makan di restoran.

Kembali beraktivitas setelah makan siang, sore kembali ke hotel dan diatas bus kembali sudah ada snack kotakan. Sampai di hotel mandi, ganti pakaian dan tak lama kemudian muncul pemberitahuan untuk pergi makan malam ke restoran.

Sarapan pagi di hotel apalagi hotel berbintang, pilihan makanannya beragam. Mulai dari makanan nusantara hingga eropa. Ada nasi, kentang, bubur, sereal, roti dan lainnya. Tapi buat saya makanan seperti itu cepat membosankan. Satu-satunya yang saya senangi setiap sarapan di hotel berbintang adalah kopinya, terutama jika disediakan mesin pembuat kopi.

Makan di restoran juga tak kalah kerennya. Biasa yang dipilih adalah restoran besar yang mempunyai tempat parkir luas. Namun apapun makanannya, makanan yang disajikan secara prasmanan membuat suasana terasa tengah menghadiri kondangan.

Dan tahu sendiri kalau rombongan yang hendak bersantap secara prasmanan sudah dihantui rasa lapar. Suasananya bisa bikin emosi terlebih ketika sampai giliran mengambil sayur atau lauk wadahnya telah kosong.

Tidak semua orang yang berada dalam barisan punya attitude yang baik. Selalu saja ada orang-orang yang doyan menumpuk segala sesuatu di piringnya dengan sedikit kepedulian pada orang lain. Syukurlah kalau dihabiskan, hanya saja kerap kali yang diambil banyak-banyak ternyata tidak disantap habis. Padahal disisi lainnya ada yang tidak kebagian.

Pada dasarnya pelajaran mengantri memang kurang kita dapatkan entah di sekolah, rumah atau lingkungan yang lain. Ada banyak orang yang saat ngantri bergerak slow, mengambil dan memilih-milih makanan dengan gaya teramat ayu layaknya putri keraton. Tidak sedikit pula yang mendiskusikan pilihan dengan teman di sebelahnya padahal antrian di belakang masih sangat panjang.

Dalam suasana seperti ini mereka yang mudah baperan jadi kurang menikmati makanan walau yang ada di piringnya adalah sajian yang enak. Makan saja yang penting kenyang.

BACA JUGA : Messi Otewe Juara Dunia 

Sebelum sampai di Solo saya sudah membayangkan pagi-pagi akan berjalan mencari sarapan. Yang ada dalam bayangan saya adalah nasi liwet, soto bening, timlo, selat, kupat tahu, gudeg ceker atau pecel, nasi tumpang, trancam dan gudangan.

Banyak pilihan sarapan yang akan memberikan pengalaman untuk ditanam dalam ingatan.

Pagi-pagi duduk di pinggir jalan menyantap nasi liwet adalah pilihan tepat, cukup berenergi tak tak terlalu berat di perut. Nasi yang diwadahi dalam pincuk daun pisang tak terlalu banyak porsinya, disiram dengan sayur labu siam nasinya lebih empuk untuk dikunyah dan lancar ditelan.

Lauknya bisa dipilih, ada ayam atau telur pindang serta kerupuk puli atau legendar. After taste sarapan nasi liwet adalah gurih karena areh santan yang menjadi salah satu ciri khasnya.

Kalau pingin yang lebih ringan namun terasa segar maka soto yang jadi pilihan. Soto di Solo umumnya soto bening, kaldunya bisa ayam atau sapi. Umumnya disajikan dalam mangkuk kecil sehingga tak mengenyangkan. Biar terasa cukup maka perlu ditambah lauk, ada sate-satean, gorengan, sosis solo, kentang dan kerupuk karak. Cukuplah untuk mengganjal perut di pagi hari.

Masih ada plihan sarapan yang berkuah bening dan segar yakni timlo solo. Semacam sup bening yang diberi isian sosis solo goreng, ampela iris dan telur pindang. Timlo disajikan dengan sepiring nasi dan masih disertai lauk lainnya.

Sebenarnya yang pingin saya rasakan adalah selat solo, kuliner khas yang merupakan paduan antara hidangan steak daging ala barat dengan tradisi masyarakat Jawa Solo.

Hidangan adaptasi ala-ala kolonial ini terdiri dari kentang goreng, sayur buncis,wortel, daging sapi dan telur. Lalu disiram kuah coklat manis gurih dan mayonese ala Jawa. Daging bestiknya bisa dipilih mulai dari daging sapi utuh, lidah sapi atau galantin yang terbuat dari daging giling.

Sebenarnya masih ada lagi yang saya mau karena berhubungan dengan memori di masa lalu. Sejenisnya memang lazim di Samarinda yakni tahu tek tek. Tapi ini sedikit berbeda, namanya kupat tahu.

Kalau tahu tek tek hanya berisi tahu goreng, taoge dan irisan ketimun serta telur goreng, kupat tahu tahu lebih lengkap lagi karena diberi sedikit mie kuning, potongan kol, kacang goreng, seledri dan potongan bakwan. Sausnya juga beda kalau tahu tek-tek disiram saus kacang dicampur petis, kupat tahu disiram dengan saus pekat yang terbuat dari kecap khusus.

Saya tak sempat menikmati semua sarapan itu karena kegiatan selalu dimulai pagi-pagi sekali.

Sebenarnya ada satu kesempatan namun sayang terlewatkan karena lagi-lagi saya sudah sarapan.

Biasanya ketika hendak pergi ke sebuah acara saya sudah mencari tahu sebelumnya. Sayang saya lupa kebiasaan itu sehingga tak mencari tahu apa yang ada di CFD Solo. Ternyata pada saat pelaksanaan CFD di sepanjang Jalan Slamet Riyadi Solo berjejer penjual makanan dan lainnya.

CFD selain untuk olahraga ternyata juga mirip dengan Street Food Festival.

Dengan waktu kurang lebih 3 jam, mestinya saya bisa berwisata kuliner disana, menikmati sebagian jenis makanan sarapan khas solo asalkan perut mampu menampung.

Sayangnya saya sudah lebih dulu sarapan, sehingga hanya bisa menatap kala lewat sampai menahan kemecer di mulut namun enggan mengikuti nafsu untuk bersantap karena perut sudah kenyang duluan.

Ada kesempatan di malam hari dan kebetulan saya kerap merasa lapar di tengah malam. Dan di dekat hotel ternyata ada warung tengkleng rica-rica Pak Manto yang nampaknya lagi hype. Sekitar jam 7 malam saya lewat di depannya, ingin mampir untuk mencicipi tapi urung karena ramainya kayak setan.

Dalam hati nanti saya akan kembali, malam sekali setelah duduk ngopi-ngopi di gerobak wedangan pojok perempatan. Dan ketika jalanan mulai sepi saya pergi ke warung Pak Manto, ternyata sudah gelap tak nampak lagi nyala api di jejeran angklo yang membuat badan pekerja warung mengkilap berkeringat.

Tukang becak yang parkir di teras dekat warung pun berujar “Jam 9 sudah tutup mas, habis,”

Untung di pojok perempatan lainnya ada penjual nasi liwet, entah Bu siapa. Paling tidak saya menikmati salah satu kuliner khas Solo, nasi liwet walau rasanya agak tak karu-karuan, karena bukan warung langganannya Pak Jokowi.

BACA JUGA : Berkendara Di Kalen Kaki Langit

Bagaimanapun juga Solo tetap menyenangkan walau saya tak sempat mengekplore lebih dalam kulinernya serta perihal-perihal underground lainnya.

Ya hal-hal bawah tanah yang tak terduga atau tak diceritakan oleh pemandu wisata yang mesti dicari dengan cara kelayapan seperti tak punya tujuan. Saya memang sering begitu kalau pergi ke kota lain, keluyuran sekenanya dan kadang menemukan hal-hal yang tak terduga.

Tapi begitu tak semua yang kita mau akan kita dapat, ada hal-hal yang berada di luar kuasa kita, terlebih jika perjalanan dibiayai oleh uang negara, semuanya sudah diatur.

Mungkin di Yogya nanti apa yang kurang di Solo masih bisa saya dapatkan walau tak terlalu berharap karena waktu di Yogya akan lebih sempit lagi.

Solo akhirnya mesti ditinggalkan, pagi-pagi sekali untuk menuju Bantul, tepatnya ke Kecamatan Dlingo, ke Hutan Pinus Mangunan.

Selepas Pleret jalanan mulai menanjak, kanan kiri mulai menghijau dengan aneka tegakan pohon besar. Tanjakannya tidak terlalu tinggi namun konstan sehingga bus terkadang terasa terengah-engah.

Memasuki Mangunan mulai banyak tulisan, papan petunjuk ke destinasi wisata dan Pasar Semi, Setu Minggu. Ada banyak warung termasuk yang menjual Nasi Tiwul.

Ah, nasi tiwul rasanya pingin mampir tapi tak mungkin. Dalam hari saya berharap semua nanti makan siangnya di warung itu.

Harapan terkabul meski tak sama persis.

Setelah menyusuri kalen dengan Jeep, melewati Track Jeep Bandungsari dari Desa Muntuk hingga Banjarharjo, sesampai di Hutan Pinus Mangunan langsung dipersilahkan makan siang.

Makan siang yang keren karena dinaungi oleh jajaran pohon pinus yang tegak rapi di kompleks Panggung Sekolah Hutan.

Dan diatas meja prasmanan ada tiga ceting nasi. Ada sego putih, sego abang dan sego tiwul.

Akhirnya saya makan sego tiwul lagi, makanan pokok jaman tak enak yang terbuat dari gaplek, ubi kayu yang dijemur sampai kering.

Sayang lauknya bukan iwak peyek atau peyek rese dan sayurnya bukan gudangan. Tapi tak apa, lauk ikan nilai goreng, tempe, tahu dan sayur lodeh sudah lebih dari cukup untuk kembali mengantar pada memori lama.

Usai makan, satu tampah camilan diantar. Dan ada satu kejutan lagi, gethuk tales. Hanya itu yang saya ambil, sebab pisang rebus, kacang rebus, tempe goreng dan cemplon banyak serta biasa di Samarinda.

Dan akhirnya sekitar jam 8 malam saya tiba di Kota Yogyakarta, menginap di depan stasiun tugu, jajaran hotel di jalan Pasar Kembang.

Menjelang tengah malam saya pingin ngopi. Di dekat pintu kereta ada tempat njagong, medang dan madang, Loko Coffee. Sayang ternyata sekarang tak buka 24 jam lagi, ketika hendak masuk terpasang tulisan tutup, sudah tak terima pesanan lagi.

“Kopi joss,” begitu ungkap batin saya.

Sayapun melangkah menyeberangi rel kereta api ke jalan Mangkubumi, tempat jajaran angkringan berderet. Tapi ramai sekali, tak cukup nyali untuk duduk sendiri.

Saya kembali dan masuk ke Selasar Malioboro, tempat banyak angkringan berjualan dalam satu gedung kalau tidak salah eks gudang ekpedisi kereta api.

Minum kopi joss sebenarnya hanya syarat, sebab tak bisa dibilang enak. Kopinya terasa gosong-song hingga bisa ditolerir oleh mulut karena diberi gula banyak.

Kamar saya ada di lantai 4, tidak boleh merokok. Dan itu jadi masalah kalau harus naik turun untuk merokok. Mau berdiam di depan hotel sambil melihat orang lewat untuk merokok rasanya nggak enak, nanti dikira sedang mencari yang enggak-enggak.

Untung ketika tiba di pelataran depan ada Pak Asril dan mahasiswanya. Mereka duduk-duduk sambil menikmati rokok, sayapun ikut bergabung.

Di depan hotel, di jalan pasar kembang kamipun asyik berdiskusi tentang budaya dan lingkungan Kota Samarinda hingga tak terasa sudah jam 2 pagi.

Kamipun bubar, kembali ke kamar untuk merebahkan badan sejenak sambil bersiap-siap untuk pulang kembali ke Balikpapan pagi-pagi sekali.