KESAH.ID – Solo adalah branding karena secara administratif daerah itu bernama Surakarta. Sebelum kemerdekaan merupakan wilayah Kesunanan Surakarta yang secara historis mempunyai hubungan dengan Kesultanan Mataram Islam. Pernah berstatus sebagai Daerah Istimewa namun kemudian pengaruh politiknya  memudar hingga menjadi daerah setingkat Kota dan menjadi bagian dari provinsi Jawa Tengah.

Saya terbilang jarang pergi plesiran ke Solo. Kerabat, teman dan saudara yang tinggal atau berasal dari sana juga sedikit. Kisah tentang Solo menjadi lekat dalam ingatan karena dulu saya suka mendendangkan lagu Bengawan Solo karya almarhum Pak Gesang.

Syair lagu dan kuncinya saya hafalkan saat belajar bermain gitar.

Hanya sampai pada lagu karena saya sama sekali tak tahu bagaimana wujud Bengawan Solo yang airnya mengalir sampai jauh itu.

Ketika ada kesempatan pergi ke Solo, saya juga tak ingat untuk duduk-duduk di tepi Bengawan Solo untuk mengenali sungainya yang dalam berita sering kali meluap, membanjiri kawasan di sekitarnya.

“Mata airmu dari Solo, terkurung gunung seribu” syair syahdu yang barangkali telah beratus kali saya lantunkan ini baru saya mengerti setelah kunjungan terakhir belum lama ini.

Mata air Bengawan Solo ternyata berasal dari lereng Pegunungan Sewu, pegunungan yang ujung baratnya ada di Bantul menyambung ke Gunung Kidul, Wonogiri hingga Pacitan. Deret pegunungan ini oleh Unesco ditetapkan sebagai Geopark.

Yang masih menyukai perangko bisa mengkoleksi serial Gunung Sewu Global Geopark yang diluncurkan pada tahun 2021 lalu. Seri ini terdiri dari 3 desain perangko bergambar Gua Jombang Gunung Sewu, Conical Karst Hill Gunung Sewu dan Gua Song Gilap Gunung Sewu.

Perjalanan ke Solo kali ini dimulai dengan naik bus besar dari Bandara Internasional Yogyakarta yang ada di Temon, Kulonprogo. Rencananya ada jalur jalan TOL dari YIA ke Kota Yogyakarta dan Solo, panjangnya kurang lebih 96 kilometer yang terbagi dalam 3 ruas yakni Purworejo – Gamping, Gamping Purwomartani dan Purwomartani Kartasura, tapi sekarang belum jadi.

Menurut Google Map rute terdekatnya melalui jalan raya Solo-Yogyakarta, estimasi lama perjalanannya kurang lebih 2,5 jam kalau lancar. Rasanya akan lebih karena dari Kulonprogo ke Kota Yogyakarta sendiri butuh waktu sekitar satu jam kalau lancar.

Saya lupa persis lewat jalur mana, tahu-tahu sudah sampai di Kecamatan Prambanan untuk mampir makan siang.

Waktu istirahatnya cukup lama sehingga saya masih sempat menyeruput segelas kopi tubruk, cukup enak karena Klaten mempunyai kopi yang dibranding sebagai Volcano Coffee karena ditanam di lereng Gunung Merapi.

Solo sudah dekat, begitu melewati Klaten sudah akan masuk ke Solo Raya, tepatnya Kabupaten Sukoharjo. Dan di Sukoharjo ini ada satu kecamatan bernama Kartasura. Kecamatan ini kini menjadi titik temu lalulintas yang berasal dari Semarang, Yogyakarta dan Solo.

Saya kemudian ingat cerita geger Kartasura.

Dulu di Kartasura didirikan keraton oleh Amangkurat II karena Keraton yang ada di Plered {Kabupaten Bantul} diduduki oleh Pangeran Puger, adiknya saat terjadi pemberontakan Trunajaya. Namun nantinya Pangeran Puger berhasil dibujuk dan mengakui kepemimpinan Amangkurat II serta bergabung ke Kartasura.

Sewaktu kepemimpinan Pakubuwono II sebagai Raja Mataram, di Kartasura terjadi pemberontakan yang disebut Geger Pecinan atau dikenal sebagai Perang Sepanjang.

Perang itu dipicu oleh aksi VOC yang melakukan pembantaian besar-besaran pada etnis China di Batavia.

Sisa-sisa orang China itu lari ke Jawa Tengah dan kemudian bergabung dengan kekuatan Mataram untuk melawan VOC. Namun perlawanan ini berhasil dihentikan oleh VOC, Kartasura porak poranda, keraton hancur.

Setelah Pakubuwono II kembali berhasil menguasai Keraton Kartasura hanya saja merasa kesucian keraton telah ternodai. Maka diputuskan untuk memindahkannya.

Keraton dibongkar dan sisa bongkarannya akan dipakai untuk membangun kembali. Tempat yang dipilih untuk membangun keraton baru adalah sebuah desa terpencil bernama Sala yang berada di tepi Sungai Bengawan.

BACA JUGA : Menu Kondangan

Sala adalah sebuah desa perdikan yang didirikan oleh Ki Ageng Sala. Desa Perdikan sendiri adalah desa yang bebas dari kewajiban membayar pajak. Perdikan artinya kebebasan.

Desa Perdikan biasanya merupakan anegerah dari Raja untuk seseorang atau sekelompok masyarakat yang dianggap berjasa, oleh karenanya diberikan keistimewaan.

Model desa perdikan ini sudah ada sejak jaman hindu-budha berasal dari dari bahasa Sansekerta Maharddika. Dan berlangsung terus hingga jaman kerajaan Mataram. Tradisi ini juga diakui oleh pemerintah kolonial Belanda. Namun paska kemerdekaan praktek atau keberadaan Desa Perdikan ini dihapuskan.

Di desa Sala inilah Pakubuwono II mendirikan keraton. Namun Sala kemudian dikenal sebagai Solo karena orang Belanda susah menyebutkan a, sehingga Sala diucapkan sebagai Solo.

Nama kemudian dipilih oleh pihak keraton adalah Surakarta, nama yang masih membawa akar kata dari pendahulunya yakni Kartasura.

Seiring dengan perkembangan waktu nama Surakarta kemudian menjadi nama wilayah kota administratif dan Solo kemudian menjadi sebutan populernya. Surakarta menjadi nama kota sedangkan Kartasura menjadi nama kecamatan yang masuk dalam wilayah kabupaten Sukoharjo.

Solo dan Surakarta menjadi nama untuk wilayah yang sama, namun kemudian ada juga sebutan Solo Baru. Daerah Solo Baru ini tidak berada di Surakarta atau Solo melainkan ada di wilayah Kabupaten Sukoharjo.

Daerah ini dikenal sebagai kawasan bisnis dan permukiman modern di Sukoharjo, terdapat banyak ruko, pusat perbelanjaan dan tempat-tempat hiburan.

Selain itu Solo Baru menjadi perbatasan antara Kota Surakarta dan Kabupaten Sukoharjo, perbatasan yang ditandai oleh gapura di tepi Sungai Bengawan Solo yang merupakan batas alam antara Surakarta dan Sukoharjo.

Penanda lain di perbatasan antara kedua daerah itu adalah Patung Ir. Sukarno, yang terletak di daerah Tanjung Anom.

Jadi tak apa-apa menukar sebutan antara Solo dan Surakarta, keduanya sama saja. Dan jika ada yang menyebut Kartasura itu bukan salah sebut karena terbalik, daerah itu memang ada namun tidak di Surakarta melainkan ada di Sukoharjo, kabupaten tetangganya, begitu juga dengan Solo Baru.

Solo atau Surakarta kemudian menjadi lebih ternama ketika Walikotanya yakni Joko Widodo dicalonkan menjadi Gubernur DKI Jakarta dan terpilih. Belum selesai menjadi Gubernur Ibukota Negara kemudian dicalonkan menjadi presiden dan menang.

Namun diluar itu Solo lebih dikenal dengan batiknya, Kota ini identik dengan batik. Corak batik ada dimana-mana termasuk dalam berbagai arsitektur perkotaannya, bahkan angkutan umum perkotaannya dinamakan Trans Batik.

Sejarah batik di Surakarta diawetkan di kampung-kampung batik, yang tertua adalah Kauman dan Laweyan.

Di Laweyan, kampung tua yang padat masih bisa disaksikan rumah-rumah tua dan besar peninggalan para saudagar batik yang berjaya di masanya.

Sedangkan pusat perdagangan batik ada di Pasar Klewer dan PGS atau Pusat Grosir Solo.

Kotanya sendiri relatif tenang, jalan-jalan utamanya lebar dengan jalur utama di tengah dan di kanan kirinya ada jalan yang cukup lebar pula untuk dilewati sepeda, becak atau kendaraan tidak bermesin. Di Solo masih banyak becak yang digenjot tidak bermesin.

BACA JUGA : Messi Otewe Juara Dunia

Seperti halnya Kesultanan Kutai Kartanegara, Kesunanan Surakarta pernah menyandang status sebagai Daerah Istimewa pada masa awal-awal kemerdekaan. Namun minat dan pengaruh politik kerajaan kemudian kalah dengan kaum nasionalis sehingga status itu tidak langgeng sebagaimana yang diperoleh oleh Kesultanan Yogyakarta.

Wilayah yang menjadi bagian dari Kesunanan Surakarta kemudian menjadi daerah swapraja, daerah setingkat kabupaten dan kota yang kemudian masuk wilayah Provinsi Jawa Tengah, sedangkan Kesultanan Kutai Kartanegara wilayahnya menjadi Kabupaten dan Kota yang masuk dalam wilayah Provinsi Kalimantan Timur.

Kini Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Kutai Kartanegara masih mempunyai keraton atau kedaton namun tidak mempunyai kekuasaan politik. Berbeda dengan Kesultanan Yogyakarta yang memperoleh status sebagai Daerah Istimewa sejak tahun 1950. Sultan tetap menjadi pemimpin wilayah Provinsi DIY, menduduki jabatan gubernur tanpa melalui pemilihan umum. Sedangkan wakilnya akan dijabat secara otomatis oleh Adipati Paku Alam dari Kadipaten Pakualaman.

Tapi Solo atau Surakarta tetaplah istimewa secara kebudayaan. Kawasan ini mempunyai kebudayaannya tersendiri yang berbeda dengan wilayah Yogyakarta pun juga dengan wilayah Provinsi Jawa Tengah lainnya.

Tak mengherankan jika ada suara-suara untuk mendorong Surakarta atau Solo menjadi provinsi tersendiri terpisah dari Jawa Tengah, sebutannya Provinsi Solo Raya atau Daerah Istimewa Surakarta yang meliputi Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, Boyolali, Klaten, Sragen, Karanganyar dan Wonogiri.

Jawa Tengah bisa terpecah, andai Provinsi Solo Raya terbentuk kemungkinan besar arus Provinsi Banyumasan juga akan menguat dengan wilayah meliputi Banyumas, Purwokerto, Tegal, Cilacap, Kebumen, Purbalingga dan Banjarnegara.

Kalau sudah begitu, saya akan mengusulkan tempat saya dilahirkan yakni Kabupaten Purworejo untuk bergabung menjadi wilayah DIY saja, sebab wilayahnya tak jauh dari Bandara Internasional Yogyakarta. Asal tahu saja, tanah dan batuan urukan yang merubah sawah menjadi bandara sebagaian besar diambil dari bukit-bukit yang ada di wilayah selatan Kabupaten Purworejo.

note : sumber gambar – EDUKASI.OKEZONE.COM