Sebuah link video dikirimkan oleh seorang kawan pada tanggal 20 Oktober 2020 lalu. Bukan sembarang link karena berisi rekaman debat kandidat pasangan calon walikota dan wakil walikota Samarinda.  Dengan mengirim video itu kawan saya berharap nanti isi dari debat kandidat akan jadi bahan obrolan saat ngopi.

Sayapun segera membuka dan mulai menyaksikan rekaman video itu. Tapi mohon maaf, niat dan semangat saya ternyata tak cukup kuat untuk mempertahankan mata menatap layar HP saya. Dan kawan bertanya  “Sudah ditonton kah?” saya menjawab dengan singkat “Sudah, tapi sebentar saja. Nggak menarik,”. Dan kawan saya maklum adanya.

Dalam sejarah debat kandidat yang sempat saya saksikan memang tidak ada yang menarik. Yang lebih menarik justru perilaku para pendukungnya. Dan itu sulit untuk disaksikan di masa sekarang ini karena kehadiran pendukung di area debat sangat dibatasi karena protokol kesehatan.

Debat kandidat juga tidak menarik karena kita sudah tahu apa yang akan diungkapkan oleh para kandidat, hampir tidak ada yang baru dan perbedaan paradigma berpikir dalam persoalan rencana pembangunan. Yang berbeda hanyalah cara menarasikannya saja.

Oleh sebab itu tanpa menyaksikan debat kandidat pasangan calon walikota dan wakil walikota Samarinda yang hendak bertarung dalam pilkada 2020, saya bisa menduga apa yang direncanakan tidak jauh berbeda dengan walikota sebelumnya. Kenapa? Karena persoalan Samarinda dalam 20 tahun terakhir ini masihlah sama.

Lalu bagaimana saya akan menentukan pilihan jika tidak menyaksikan debat para kandidat itu?.

Saya belum tahu dan belum membanding-bandingkan pasangan calon untuk menentukan pilihan. Bahkan saya belum memutuskan untuk memilih atau tidak.

Beruntung pagi ini saya membaca sebuah tulisan dari Yusran Darmawan, seorang blogger yang tulisannya selalu mengagumkan. Di akhir tulisan tentang Nur Alam, Gubernur Sulteng yang menjadi terpidana kasus korupsi, dia menuliskan sebuah kutipan tentang kepemimpinan.

Nukilan yang diambil dari A Leader’s Legacy karya James Kouzes dan Barry Posner mengatakan “Kepemimpinan adalah bagaimana meninggalkan warisan yang bertahan”. Atau oleh Yusran dibahasakan kembali sebagai meninggalkan ‘warisan’ yang tak lekang ditelan jaman.

Arti kepemimpinan yang pendek ini membuat saya berpikir tentang para pemimpin. Pemimpin-pemimpin hebat yang dipunyai bukan hanya oleh Indonesia melainkan juga menjadi inspirasi dunia. Dan yang disebut warisan bukan semata fisik melainkan juga nilai atau dasar-dasar untuk berperilaku sebagai warga negara, warga bangsa dan warga kota.

Bicara soal warisan fisik, kita mempunyai dua pemimpin yang monumental yaitu Sukarno dan Suharto. Sukarno meninggalkan warisan bangunan dan monumen-monumen yang masih bernilai sampai sekarang dan menjadi penanda penting dari ibukota. Sementara warisan Suharto dalam bentuk infrastruktur tersebar ke seluruh penjuru Indonesia.

Namun dari sisi nilai dan semangat, Sukarno jauh lebih mewariskan warisan bukan benda yang terus bertahan sampai sekarang. Pemikirannya terus dipelihara dan dijaga oleh para sukarnois. Banyak yang merasa dan mengaku sebagai anak ideologi Sukarno. Kata-kata atau kutipan pernyataan Sukarno juga masih terus diucapkan sampai sekarang.

Lalu bagaimana dengan para pemimpin di Kota Samarinda?. Saya tak punya cukup catatan untuk memberi contoh. Namun lamat-lamat pernah saya dengar ungkapan dari beberapa orang tentang kiprah para pemimpinnya di masa lalu seperti Kadrie Oening dan Waris Husein. Ada cerita yang ditinggalkan oleh mereka tentang bagaimana menata kota di masa kepemimpinannya.

Namun di luar itu kisah kepemimpinan di Kalimantan Timur pada umumnya adalah kisah tentang tidak menjaga warisan terutama warisan alam dan tidak meninggalkan warisan yang bertahan dari hasil menjual ‘warisan’ alam tersebut.

Dilimpahi oleh kekayaan alam baik yang hidup maupun tak hidup ternyata tak cukup membuat para pemimpin di Kalimantan Timur, termasuk Samarinda tentunya mampu mendayagunakan sebagai modal untuk membangun warisan baru yang akan bertahan melewati jaman.

Ada banyak bangunan megah dan wah. Dilabeli ini itu seperti terbesar, termegah dan lain sebagainya. Namun kini merana seperti tak berguna atau kalaupun dimanfaatkan tidak sampai separuh dari yang menjadi tujuan ketika dibangun. Dan kenyataan seperti itu bisa dilihat di berbagai penjuru Kalimantan Timur.

Oleh karena itu jika kembali kepada patokan bahwa pemimpin adalah orang yang meninggalkan warisan yang tak lekang oleh jaman, maka pada akhirnya bukan hanya sulit bagi saya untuk menentukan pilihan karena menemukan alasan untuk memilih saja tak saya temukan.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

thirteen − six =