Lahir dan besar di kampung, gambaran yang tersisa di kepala satu-satunya soal seduh kopi adalah ditubruk. Bubuk kopi dimasukkan dalam gelas, dikasih gula dan disiram dengan air panas mendidih. Kopi nasgitel, panas, legi dan kental (pekat).

Kemudian ketika di Manado yang saya tinggali selepas SMA, ada model seduh kopi model baru yang saya temui, kopi saring. Kopi dimasukkan dalam saringan kain ke dalam teko kuningan yang terus dijerang di atas bara arang. Hasilnya kopi tanpa ampas.

Setelah mulai beraktifitas dalam masyarakat dan kerap ikut pertemuan di hotel, ketemu lagi model seduh kopi yang lain. Di ruang makan biasanya kopi diseduh dengan coffee maker yang menghasilkan satu wadah untuk kurang lebih 6 – 10 orang. Lalu di coffee shop atau bar ada mesin kopi lain yang besar untuk menghasilkan kopi espresso.

Meminum kopi espresso untuk pertama kali jelas merupakan perjuangan tersendiri. Pertama seperti terhina karena hanya diantari pesanan dalam gelas kecil sekali teguk saja kandas. Kedua tidak disertai gula dan ketika minta gula yang dimintai tersenyum tidak enak. Ketiga ketika diteguk rasanya sulit untuk diceritakan. Keempat, ketika ditambah gula rasanya masih sama saja, malah tambah ambyar.

Seiring dengan waktu, saya mulai akrab dengan kopi espresso base karena mulai banyak coffee shop yang dibuka di area reklamasi teluk Manado. Sesekali saya pesan espresso tapi lebih banyak memilih americano atau long black.

Tahun 2000-an saya pindah ke Samarinda dan mulai sekitar tahun 2010 sesekali ngopi di kedai-kedai kopi yang mulai bertumbuh. Kedai kopi modern namun bukan starbuck, black canyon, excelso dan franchise lainnya. Masih mengandalkan mesin espresso namun mulai disertakan juga model seduh manual dengan French Presh atau Vietnam Drip.

Beberapa tahun kemudian kedai kopi mulai bertumbuh subur. Kali ini tidak lagi disertai dengan mesin pembuat espresso. Kedai kopi arus baru ini mengangkat tema ‘Manual Brewing’ atau seduh manual dengan menggunakan peralatan seperti aeropress,v60, vietnam drip, french press dan rockpresso untuk membuat espresso.

Selain itu kedai manual brewing juga mengedepankan biji kopi yang kerap disebut single origin, kopi berjenis arabica yang selama ini ternama di luar negeri. Dalam masa awal kedai kopi manual brewing kerap mengatakan yang disebut kopi adalah arabika.

Setelah beberapa waktu bergaul dengan kedai manual brewing mulai muncul keinginan untuk menyeduh sendiri di rumah. Awalnya saya membeli french press, namun kurang seninya sehingga saya memutuskan untuk mencari vietnam drip.

Dengan modal vietnam drip pemberian teman, saya mulai menyeduh kopi yang saya minum sehari-hari dengannya. Vietnam drip sendiri di negeri asalnya disebut dengan phin. Alat penyaring ini terdiri dari semacam cangkir dari metal yang menyediakan ruang saringan diantara dasar dan penekan bubuk kopi. Serta penutup di bagian atas. Air seduhan akan keluar tetes demi tetes ke wadah dibawahnya yang umumnya adalah gelas kaca.

Perlu waktu untuk menikmatinya karena menunggu sampai tetes penghabisan keluar dari vietnam drip. Konon katanya model vietnam drip ini adalah cara orang Vietnam menikmati kopi untuk melupakan pengalaman perang. Sebab memandang tetes demi tetes yang jatuh ke gelas kaca akan menarik perhatian dan membawa bayangan kopi masuk ke dalam pikiran menimpa bayang-bayang yang lain.

Tapi mereka yang sinis akan berpandangan lain, menurut mereka vietnam drip adalah akal-akalan orang Vietnam untuk mengatasi kelangkaan mesin pembuat kopi.

Entah mana yang paling benar namun yang pasti menyeduh dengan vietnam drip akan menghasilkan kopi yang tetap terasa aroma dan kesegarannya serta membuat kita bisa menikmati bagaimana tetes demi tetes kopi dihasilkan.

Sampai saat ini saya selalu senang menyaksikan kopi yang disajikan dengan vietnam drip meski amat jarang saya memesannya jika sedang ngopi di kedai-kedai kopi. Yang kerap saya lakukan justru memesan kopi tubruk dengan biji kopi robusta.

Dan setiap kali memesan segelas kopi dengan pilihan biji robusta tanpa susu, saya selalu melihat wajah heran dari yang menerima pesanan. Meski kopi robusta terutama yang berlabel premium sudah hadir di kedai-kedai kopi manual brewing, nampaknya jenis kopi ini dipercaya hanya cocok untuk kopi susu.

Dan sayangnya memang benar syahdu, membuat kopi susu dengan gelas yang diisi susu kemudian ditetesi kopi dari vietnam drip sungguh amat mengoda. Namun tetap saja saya hanya suka melihatnya bukan meminumnya.

kredit foto : ateachertraveling.com

 

プロザックジェネリック 通販