KESAH.ID – Masyarakat yang bahagia adalah yang punya kebiasaan membaca buku. Fakta ini ditunjukkan oleh Finlandia yang selama lima tahun berturut-turut menduduki peringkat pertama sebagai negara yang paling bahagia di dunia. Karena masyarakatnya gemar membaca buku, Finlandia juga dijuluki sebagai negara dengan literasi terbaik di dunia.
“Anak-anak sekarang itu lebih suka melihat reel dan tik tok daripada baca buku,” keluh seorang kawan.
Saya tak mengiyakan dengan cepat meski dengan pengamatan cepat apa yang dikatakan kawan saya itu sesuai dengan kenyataan di sekeliling kita.
Biar obrolannya makin seru dan alasan keprihatinannya menjadi lebih dalam saya balik bertanya “Memangnya baca buku itu penting untuk semua orang?”
Dia kaget seperti disambar geledek, mungkin nggak menyangka kalau saya bakal sesinis itu untuk urusan baca buku.
“Ya pentinglah,” balasnya ngegas.
“Bagaimana mau sukses kalau nggak memupuk pengetahuan lewat buku, bagaimana bangsa ini maju kalau masyarakatnya malas baca buku,” lanjutnya.
Sambil menikmati kopi di gelas yang hampir tandas saya nyeletuk “Messi nggak baca buku, nyatanya sukses, sukses sekali,”
Untung kecerdasan emosional teman saya itu cukup tinggi sehingga tidak murka mendengar celetukan saya.
Sambil mengatur nafas dia berkata “Yang kita bicarakan ini bukan Messi, Ronaldo, Valentino Rossi, Mark Marquez, Michael Jordan dan lain-lain. Bukan manusia-manusia seperti mereka tapi kita kita ini, mahkluk golongan rata-rata, kaum kebanyakan,”
“Setuju, kita yang bakatnya nda jelas dan kemampuan otaknya rata-rata ini memang mesti rajin baca buku,” ujar saya sambil berharap perbincangan tentang membaca buku usai, sebab masih lebih banyak obrolan omong kosong lainnya yang lebih menarik untuk dibincang menghabiskan malam.
Tapi ternyata tak mudah membelokkan tema perbincangan, barangkali sejak dari rumah memang berniat untuk membincang perihal literasi.
“Kita harus membudayakan baca buku?” ujarnya.
Dan mulailah dia menerangkan rencananya, mulai dari membentuk kelompok pencinta buku, membuat rumah baca dan mengusulkan kepada pemerintah untuk memperbanyak perpustakaan.
Apa yang diungkapkan olehnya sebenarnya sudah lama dilakukan oleh pemerintah dan banyak pihak lainnya. Tapi nyatanya sampai hari ini masyarakat Indonesia belum bisa dikatakan sebagai masyarakat cinta buku, masyarakat pembaca buku.
Melihat saya diam, teman saya itu geram.
“Kok kamu diam saja, nggak pingin kah masyarakat kita berperadaban,”
Waduh, bahaya. Bisa-bisa kegeramannya berkembang menjadi tuduhan bahwa saya anti peradaban.
“Saya bukan tak antusias soal membaca buku. Tapi membudayakan baca buku buat saya terasa ketinggian. Yang terpenting itu membiasakan. Allah saja bisa karena biasa,”
Kawan saya mulai tenang namun dari raut wajahnya nampak ada yang mengganjal.
“Apa bedanya membudayakan dengan membiasakan?” tanyanya.
Saya lebih suka mengatakan membiasakan daripada membudayakan karena segala sesuatu memang mulai dari kebiasaan. Dilakukan terus menerus, dilatih dengan tekun. Dan membaca akan menjadi sesuatu yang menyenangkan jika seseorang dibiasakan.
Membudayakan buat saya terasa sloganistik, kata itu lebih kerap muncul dalam pidato yang penuh arahan dan juga nasehat.
BACA JUGA : Media Klik Klik Mulai Krik Krik
Maret 2022, World Happiness Report mengeluarkan laporan index kebahagiaan dunia. Finlandia dinobatkan sebagai negara yang penduduknya paling bahagia sedunia. Ini kali kelima Finlandia ditempatkan sebagai peringkat pertama dalam laporan index kebahagiaan dunia.
Dalam hubungannya dengan membaca buku, ternyata Finlandia oleh The World’s Most Literate Nations juga ditempatkan sebagai negara literasi terbaik di dunia.
Membandingkan daftar negara paling bahagia dan negara paling literer nampaknya ada korelasi antara kebahagiaan dengan kebiasaan membaca buku. Negara-negara yang masuk daftar teratas sebagai yang masyarakatnya bahagia ternyata juga menduduki peringkat atas dalam kegemaran membaca buku.
Apakah di Finlandia para pemimpinnya gemar berpidato tentang membudayakan baca buku, atau gemar me-launching berbagai macam gerakan untuk membaca buku?. Entahlah.
Yang pasti anak-anak di Finlandia akan mulai sekolah saat berumur 7 tahun. Orang tua tidak berlomba-lomba untuk memasukkan anaknya ke sekolah sedini mungkin.
Guru sekolah dasar adalah guru terbaik, master yang teruji dalam bidangnya. Kegiatan utama di sekolah adalah bermain, berimajinasi dan self discovery. Siswa lebih diajarkan untuk berkolaborasi ketimbang berkompetisi.
Di sekolah para siswa diwajibkan untuk belajar bahasa Inggris dan membaca satu buku setiap minggunya.
Finlandia juga mempunyai fasilitas perpustakaan dimana-mana. Namun yang paling penting perpustakaan dikelola dengan serius dengan fasilitas yang nyaman dan program-program yang inovatif sehingga menjadi tujuan favorit untuk masyarakat.
Setiap ibu yang melahirkan akan mendapat hak pemberian dari pemerintah. Hadiah dari pemerintah itu disebut maternity package. Isinya perlengkapan bayi mulai dari aneka pakaian, boneka dan mainan, serta yang paling penting paket buku untuk anak-anak.
Dengan paket buku untuk anak, sedari kecil anak-anak akan belajar dari orang tuanya yang rajin membacakan buku untuk anak-anaknya.
Kebiasaan di dalam rumah ini akan menumbuhkan minat baca pada anak-anak. Dan latihan di sekolah yakni kewajiban untuk membaca buku kelak membuat membaca buku menjadi sebuah kebiasaan.
Peraturan lain yang diterapkan oleh pemerintah Finlandia adalah larangan alih suara atau dubbing untuk semua program, siaran atau film asing yang ditayangkan disana. Siaran atau tayangan dalam bahasa asing hanya diberi teks terjemahan. Tujuannya agar yang menyaksikan terbiasa membaca setiap kali menonton siaran, program atau film asing.
Wah ternyata untuk bahagia itu tidak sederhana.
BACA JUGA : Pemgetahuan Berlimpah Dan Pengalaman Panjang Bukan Cermin Keahlian
Oleh Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan PBB, Indonesia ditempatkan dalam peringkat ke 80 dalam World Happiness Index 2022. Jauh dibawah Singapura yang menempati peringkat 32 dan menjadi satu-satunya negara ASEAN yang masuk dalam 40 besar.
Sedangkan urusan membaca, Central Connecticut State University menempatkan Indonesia pada peringkat ke 60 untuk kerajinan membaca. Artinya penduduk Indonesia dianggap malas membaca.
Peringkat itu tidak jauh berbeda dengan apa yang dilaporkan oleh UNESCO dimana Indonesia menempati urutan ke 69 dari 127 negara dalam kompetensi membaca. UNESCO menyebutkan hanya 1 dari 1000 orang di Indonesia yang gemar membaca. Jadi orang yang mencetak buku 3000 eksemplar dan kemudian laku habis bakal menempelkan label best seller di buku cetakan keduanya.
Membaca data diatas sungguh memprihatinkan, tapi tak sedikit juga yang membantah. Ada yang bilang orang Indonesia gemar membaca, yakni membaca nasib, membaca mimpi, membaca cuaca dan membaca perasaan orang lain.
Kembali ke Finlandia yang bahagia dan gemar membaca, Dokter Ryu Hasan dengan sederhana menerangkan bahwa rajin membaca memang bisa membuat orang bahagia.
Menurutnya umumnya manusia perilaku kesehariannya dikendalikan oleh emosi tepatnya otak emosional. Karena terus menerus bertindak dengan otak rasional bakal menghabiskan energi karena melelahkan.
Otak emosional bekerja secara otomatis, memakai memori internal sehingga tidak perlu di call out. Dokter Ryu mencontohkan saat makan. Keputusan untuk makan adalah keputusan rasional, namun setelah itu yang berjalan otak emosional.
Begitu memutuskan untuk makan seseorang akan otomatis jalan ke ruang makan, ambil piring, ambil nasi dan seterusnya. Seperti berjalan otomatis. Lalu ketika menyuapkan makanan ke mulut juga tak pakai mikir, jalan begitu saja. Makanan masuk di mulut lalu dikunyah, tak dipikirkan mau dikunyah berapa kali dan seterusnya.
Cara kerja otak memang begitu, cenderung mencari yang paling menyenangkan dan paling mudah, nggak mau mikir yang berat-berat.
Namun pada sisi lain kemampuan berbahasa manusia membuat kemampuan kognitifnya berkembang sangat pesat. Imajinasi, nalar dan kreativitasnya tinggi melampaui kecenderungan otak emosional.
Disinilah membaca diperlukan. Membaca akan mampu meningkatkan kecerdasan emosional yang oleh Dokter Ryu Hasan digambarkan sebagai kemampuan seseorang untuk tidak membiarkan nalar rasionalnya dibajak oleh nalar emosional.
Nalar emosional lebih bercorak kompetisi sementara nalar rasional lebih mengedepankan kolaborasi.
Menjadi cerdas secara emosional berarti berusaha bertindak sesadar mungkin dalam semua tindakan.
Kebiasaan membaca buku merupakan latihan untuk lebih menggunakan otak rasional ketimbang otak emosional. Dengan begitu, kecerdasan emosional akan terbangun. Dan orang-orang yang cerdas secara emosional akan cenderung menjadi lebih bahagia. Bahagia karena tidak memandang orang lain sebagai ancaman, melainkan sebagai kawan, sahabat atau rekan untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik.
Orang yang cerdas secara emosional mempuyai keyakinan bahwa tidak ada sesuatupun di dunia ini yang bisa dihasilkan tanpa kerjasama atau campur tangan orang lain, baik orang yang dikenal maupun tidak dikenal olehnya.
Masyarakat Indonesia bisa jadi kurang rajin membaca buku karena lebih mengejar kesenangan dibandingkan dengan kebahagiaan. Atau bahkan menyamakan antara kesenangan dengan kebahagiaan. Tak heran jika banyak yang kemudian posting foto makan pentol dengan caption “Bahagia itu sederhana”.
note : sumber gambar – ID.BERITA.YAHOO.COM








