KESAH.ID – Yang rajin mengamati media online pasti paham kalau banyak konten berita mulai judul hingga isinya malah bikin pusing pembaca. Yakin saja banyak jurnalis juga pusing dan tidak nyaman dengan tulisannya. Tapi apa mau dikata, persaingan media online kian kejam. Mesti greget sejak judul, clickbait dihalalkan demi views.
Pemandangan pagi yang menampakkan seseorang dengan wajah segar sehabis mandi, duduk manis di kursi teras rumah membaca koran dengan ditemani segelas minuman hangat dan sepiring kudapan bukan hanya langka melainkan nyaris punah.
Padahal dulu gaya seperti itu merupakan impian dari sebagian besar generasi saya. Rasanya sungguh berkelas kalau bisa mengawali hari dengan membaca koran.
Generasi saya memang generasi koran, masih terngiang lantunan syair “Semua berita ada di dalamnya, lengkap dengan semua isinya…..isinya. Tua dan muda semua membaca, dan membaca. Koran ..koran…koran ..“ yang dinyanyikan oleh Franky Sahilatua.
Lagu yang ditulis oleh Bagoes AA itu kini sudah jadi arkaik, tak ada lagi yang ingat dan menyanyikannya, bahkan jauh sebelum Saykoji melantukan lagu bergenre hiphop “Siang malam kuselalu, Menatap layar terpaku, Untuk online online, Online online”
Pertengahan tahun 2009 ketika Saykoji merilis lagu Online, yang online-online memang sedang mendesak koran, surat kabar versi cetak.
Tentu saja para penerbit koran sadar dengan kondisi itu dan berusaha mempersiapkan diri, menyesuaikan dengan perkembangan, mengantisipasi dengan melakukan konvergensi dan lain sebagainya.
Jaringan koran raksasa Jawa Pos Group meluncurkan JPPN.Com, yang dikelola dibawah PT. Jawa Pos News Network – induk jaringan media massa Jawa Pos. JPPN membawahi 141 koran, 12 stasiun tv, 1 radio, 2 majalah dan 1 media online.
Jaringan ini berada dari Sabang sampai Merauke dan didalamnya banyak media besar serta ternama di berbagai daerah.
Berita, foto, feature, konten dari pihak ketiga semua berada dalam server JPPN. Server yang terhubung dengan komputer yang berada di media massa groupnya, semua anak media Jawa Pos bisa mengaksesnya.
Produk berita jaringan kemudian juga diolah kembali dan ditayangkan sebagai konten dalam versi online.
Nampaknya proses transisi tidak berjalan mulus hingga pada akhirnya imperium Jawa Pos pecah. Puncaknya Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos Holding mundur dari jabatannya, keluar dari Jawa Pos.
PT JPPN kemudian menjadi PT. Jawapos Jaringan Media Nusantara dan JPPN.Com kemudian berada di bawah PT. Jaringan Pemberitaan Nusantara Negeriku.
Bagaimana koran-koran yang dulu berada di bawah Jawa Pos Group/Holding?. Yang jelas sebagian tutup atau tak terbit lagi, sebagian kembang kempis dengan mode hibrid karena ada versi cetak dan versi onlinenya.
Namun yang jelas orang tak lagi antusias dan doyan membeli koran di perempatan, kios pinggir jalan atau membayar langganan. Kini bahkan penjaja koran sudah menghilang.
Orang tak mau lagi membayar lembaran koran karena sejak tahun 2010-an banyak bermunculan media online baik yang berbasis penerbit koran maupun media baru yang sejak kelahirannya memang dimaksudkan untuk versi online saja.
Dan media online atau berbasis klik ini isinya bisa diakses secara gratis.
BACA JUGA : Pengetahuan Berlimpah Dan Pengalaman Panjang Bukan Cermin Keahlian
Internet memicu munculnya layanan gratisan untuk mencari dan memikat banyak pemakai. Dikenal dengan istilah freemium, layanan dasar diberikan secara gratis kalau ingin lebih dan terpersonalifikasi baru membayar.
Yang paling terkenal adalah email. Setelah itu disusul berbagai layanan gratis lainnya seperti media sosial, blog, situs berbagai video/konten dan lain-lain termasuk didalamnya media yang isinya bisa diakses secara gratis.
Ketika akses internet mulai bisa dilakukan lewat gadget, pemakai internet melonjak tajam. Mencari atau berbagi informasi melalui internet menjadi kebiasaan baru. Sumber—sumber informasi yang sifatnya offline atau non digital mulai ditinggalkan.
Media massa yang menjamur setelah reformasi kemudian mulai bermetamorfosis, selain menerbitkan versi cetak juga mempublikasikannya dalam versi online. Sebagian lainnya hanya ada versi onlinenya.
Media online tumbuh pesat karena lebih mudah dan murah ketimbang versi cetak.
Investorpun mengarahkan dananya untuk berharap menangguk untung dengan menanam uang di bisnis media online.
Media dalam versi cetak menangguk uang dari oplah dan iklan, sementara media online hanya berharap dari iklan.
Hanya saja seiring dengan perkembangan internet, ekosistem iklan berubah dengan kemunculan iklan melalui google adsense, facebook ads dan lain-lain.
Menjadi penguasa di dunia maya, pemasang iklan lebih suka menempatkan iklannya melalui google dimana materi iklannya akan muncul pada banyak platform.
Media online kemudian dikenal sebagai media klik, pendapatannya tergantung dari jumlah klik yang diperoleh oleh masing-masing kontennya. Persaingan untuk meraup uang dari adsense menjadi sangat ketat.
Kue iklan bukan hanya diperebutkan oleh media. Muncul pesaing lain yang disebut sebagai konten kreator, ada youtuber, tik toker, instagramer dan lain-lain. Pesohor di media sosial yang punya pengaruh besar atau influencer.
Media maupun konten kreator saling bersaing untuk berebut perhatian agar memperoleh impresi yang besar entah klik atau view.
Di dunia maya rangking tinggi di mesin pencari yang dicari. Bertengger di papan atas akan menghasilkan traffic yang tinggi. Untuk bertahan, media online kemudian mesti berkompromi, berita dan artikel lainnya mesti ramah pada mesin pencari.
Judulnya mesti bombastis, click bait istilahnya.
Dalam persaingan yang ketat juga berlaku hukum siapa cepat dia dapat. Media online mesti segera memberitakan segala sesuatu agar tidak kedahuluan yang lainnya.
Dan apa yang sedang menarik perhatian diekploitasi habis-habisan, sampai orang bosan.
Jurnalistik mempunyai kaidah-kaidah yang sudah paten, seperti halnya dogma dalam agama. Jika dicermati banyak media online melabrak prinsip-prinsip jurnalistik dalam pemberitaannya.
BACA JUGA : Maju Mundur Pemilu Terbuka Tertutup
Saking banyaknya carut marut informasi pemberitaan sampai ada yang berpendapat jurnalisme telah mati di era internet. Adagium yang mirip dengan ungkapan Nietzsche yang mengatakan “Tuhan telah mati”.
Namun setelah Nietzsche lama mati ternyata masih banyak orang yang berani mati demi Tuhan, termasuk tega mematikan orang lain yang dianggap Tuhan-nya berbeda.
Benar bahwa sekilas jurnalisme memang kehilangan tempat di tengah banjir informasi akibat perkembangan teknologi. Setiap orang bisa menjadi pewarta, memproduksi dan menyebarkan kabar berita, informasi dan bahkan pengetahuan begitu saja.
Arus yang membuat media online ikut hanyut didalamnya, lebih suka menebar sensasi ketimbang mengaduk-aduk substansi. Mengejar klik dan impresi membuat wajah media online menjadi jorok, dipenuhi banyak iklan, satu tulisan ditampilkan dalam banyak halaman agar lebih banyak iklan bisa disertakan.
Pun banyak berita isinya kurang lebih sama, diulang-ulang sebagian isinya. Hanya paragraf pertama sampai kedua atau ketiga yang berbeda.
Jurnalis kemudian berpraktek seperti konten kreator, mengejar ad sense, mesti memasukkan kalimat-kalimat kunci yang bisa jadi dipaksakan. Coppy paste menjadi model umum dalam pemberitaan karena penulis beritanya tidak turun ke lapangan.
Walau ada deretan daftar kekecewaan terhadap praktek pemberitaan media online tapi kesimpulan bahwa jurnalisme telah mati sungguh dibesar-besarkan.
Masalah yang tengah merundung media online merupakan bagian dari proses bagaimana jurnalistik tengah bergelut untuk memaksimalkan teknologi guna mewartakan informasi dengan cara yang menarik walau informasi yang disampaikan mungkin saja tak mengenakkan.
Berita, informasi dan pengetahuan yang dalam tetap diperlukan oleh masyarakat. Produksi informasi yang bermutu juga merupakan pondasi peradaban. Menebarkan secara meluas adalah tugas dari jurnalistik agar apa yang berharga tidak hanya menjadi milik kalangan tertentu.
Kembali kepada pengalaman membeli koran, pembaca membayar untuk informasi yang diakses olehnya model konten berbayar nampaknya akan menjadi pilihan untuk mengembalikan jurnalisme media online ke jalan yang benar.
Youtube mulai menyediakan layanan youtube premium, layanan berbayar yang memungkinkan kita menonton tanpa gangguan iklan. Youtuber pun juga mulai mengembangkan layanan yang sama, konten berbayar sehingga videonya tidak di channelnya tidak di-monetisasi dengan adsense.
Beberapa media online telah menerapkan layanan freemium, ada konten yang bisa diakses gratis dan ada konten yang berbayar.
Masyarakat yang mulai terbiasa membayar untuk layanan streaming film macam Netflix, Disney Hotstar dan OTT lainnya diharapkan juga mulai akan terbiasa untuk mau membayar konten berita serta artikel-artikel lainnya.
Salah satu media online yang mengembangkan model layanan berbayar adalah kumparan lewat kumparan plus.
Ada berbagai cara bagi media online untuk membiayai produksi berita dan informasi yang bermutu. Seperti mengakses dana dari lembaga donor atau lembaga bantuan lewat proyek-proyek pemberitaan untuk isu-isu tertentu.
Hanya cara semacam ini sulit dipastikan keberlanjutannya. Maka menumbuhkan ekosistem akses informasi sebagaimana orang dulu mau membeli koran, menjadi pilihan yang paling masuk akal untuk menjamin keberlanjutan.
Jurnalisme belum mati melainkan ditantang untuk menghasilkan produk jurnalistik dengan pijakan beragam sumber, bukan hanya peristiwa atau kejadian melainkan juga jurnal, buku, laporan penelitian dan investigasi.
Dengan bantuan kecerdasan buatan, jurnalis bisa menggali dan memetakan isu-isu yang menarik, sumber berita yang aktual dan memperdalam liputan yang luput dari pandangan pihak-pihal lainnya.
Manusia menyukai kisah, apabila jurnalisme bisa menyajikan kisah yang menggugah pikiran, unik, menarik , ramah pembaca dan berdasar pada fakta, niscaya masyarakat akan mau mendukung dan tak keberatan untuk membayarnya.
note : sumber gambar – KOMPASIANA.COM








