KESAH.ID –  Setelah asisten virtual kini muncul teknologi chat bot yang mampu menghasilkan karya dengan perintah berupa teks. Teknologi semacam itu bisa mengancam peradaban manusia dalam berpikir karena peran otak rasional bisa digantikan oleh mereka. Sayangnya manusia memang cenderung malas menggunakan otak rasional sehingga kehadiran AI generatif akan melenakan.

AS Laksana seorang penulis ternama kerap memberi tugas kepada peserta kelas penulisan yang diampunya untuk menyalin buku fiksi. Menurutnya menyalin buku dengan menulis kembali memakai tangan selain memaksa orang untuk membaca buku, juga membuat seseorang akan belajar bagaimana menuliskan sebuah buku.

Cara yang dipakai Sulak, demikian dia akrab dipanggil mengingatkan saya pada metode pembelajaran di masa sekolah dasar dulu. Guru sering memberi tugas untuk menyalin, entah buku, tulisan di papan tulis atau sesuatu yang didiktekan oleh guru.

Dengan mendengar, membaca dan kemudian menuliskan kembali sesungguhnya para murid telah belajar.

Cara seperti ini mungkin sekarang sudah dibilang kuno atau bahkan konyol.

Penyalin buku sebagai profesi memang sudah lama hilang. Waraqah atau copier, orang yang tugasnya menuliskan buku, menyalin atau menggadakan buku yang ditulis dengan tangan itu hilang semenjak Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak.

Temuan teknologi sejak semula memang membantu umat manusia untuk meningkatkan produktifitas namun disisi lain kerap merampas atau menghilangkan profesi yang sebelumnya dikerjakan oleh manusia.

Dalam perkembangannya peran teknologi untuk menggantikan tenaga manusia menjadi semakin massiv. Penemuan mesin yang melahirkan revolusi industri mengambil alih peran dan tenaga manusia dalam menghasilkan sebuah produk maupun layanan.

Seiring dengan perkembangan teknologi peran manusia dalam rantai produksi, jasa layanan dan berbagai jenis rekayasa lain juga semakin kecil. Mesin yang tadinya memerlukan operator kemudian bisa bekerja sendiri karena otomatisasi. Teknologi robotik memungkinkan mesin bekerja meniru gerak kinetik manusia.

Pada revolusi berikutnya mesin kemudian dilengkapi dengan kecerdasan buatan dan mesin pembelajaran sehingga bukan hanya meniru cara kerja manusia melainkan juga cara berpikir manusia. Mesin punya otak sebagaimana halnya manusia.

Entah disadari atau tidak, kecerdasan buatan sudah menjadi bagian dalam hidup kita. Contoh paling sederhana adalah smartphone dan semua perangkat lain yang dilabeli smart.

Google Mobile Service yang berisi sistem operasi dan berbagai macam aplikasi dilengkapi berbagai model kecerdasan buatan. Mesin pencari google pintar mencarikan informasi yang ada di web, media sosial dan lainnya. Mesin penterjemah google mampu menterjemahkan dalam banyak bahasa. Google map bisa menunjukkan jalan ke tempat yang hendak kita tuju. Google assistant bisa diminta tolong melalui perintah suara.

Media sosial seperti Facebook juga dilengkapi dengan kecerdasan buatan, salah satunya adalah pengenalan wajah. Ketika kita mengunggah foto bersama teman-teman, facebook otomatis mengenali wajah rekan yang terhubung dengan kita dan kemudian menyarankan untuk melakukan tagging.

Instagram melengkapi diri dengan fitur filter untuk selfie berupa editing beauty. Fitur ini memakai teknologi kecerdasan buatan untuk mengenali wajah, kualitas dan warna. Yang gemar selfie tak perlu mengedit foto namun hasilnya sudah kece.

Apapun layanan yang ada di internet selalu dilengkapi dengan kecerdasan buatan, terutama untuk mengenali pemakainya, melakukan profiling sehingga bisa memberikan rekomandasi-rekomandasi yang diperlukan oleh pemakaianya.

Youtube misalnya akan mempersonifikasi beranda pemakainya dengan video-video yang oleh algoritmanya akan disukai atau dianggap cocok untuk kita. Pun demikian dengan Tik Tok. Kecerdasan buatan yang disertakan akan mampu memlih video-video unggulan yang ditampilkan di For You Page.

Layanan video streaming seperti Netflix, HBO, Disney Hotstar dan lainnya juga memakai model kecerdasan buatan yang sama.

BACA JUGA : Membiasakan Diri Membaca Buku Untuk Bahagia

Berasal dari kata technologia, secara terminologi berarti keahlian dan pengetahuan. Teknologi selalu berasal dari pengetahuan ilmiah yang kemudian diterapkan untuk tujuan praktis dalam kehidupan manusia, melakukan perubahan atau manupulasi lingkungan serta ekstraksi sumber daya alam untuk menghasilkan kenyamanan.

Dengan teknologi manusia bisa melampaui hal-hal atau perilaku alamiahnya yang memungkinkan manusia terus berkembang kearah tanpa batas. Teknologi berhasil mewujudkan apa yang dulu hanya ada dalam imajinasi.

Penemuan komputer atau teknologi komputasi membawa babak baru dalam teknologi. Teori tentang kecerdasan buatan yang berkembang sejak tahun 1940-an mulai bisa diwujudkan. Yang pertama berkembang adalah Artificial Narrow Intelligence, sebuah sistem yang bekerja jika sudah diprogramkan lebih dahulu.

Seiring dengan perkembangan internet kemudian muncul Artificial General Intelligence, sistem yang bekerja secara aktif, bisa belajar sendiri dan meningkatkan kualitas kecerdasan seperti halnya manusia. Sumber pengetahuannya adalah apa yang ada di dunia internet.

Kehadiran kecerdasan buatan yang diprogram terlebih dahulu cenderung tidak mengancam eksistensi manusia. Meski banyak mengantikan peran atau fungsi manusia namun pada umumnya lebih banyakk orang merasa terbantu dengan kehadirannya.

Komputer yang dilengkapi dengan microsoft office membantu pekerjaan untuk mengolah teks, gambar dan lainnya menjadi lebih efektif serta cepat. Seperti excel yang membuat perhitungan otomatis, atau words yang menata teks, memindah paragraf, menyunting kata dan lain-lain lebih gampang ketimbang mesin ketik yang harus diketik ulang.

Demikian juga power point yang membantu presentasi menjadi semakin cantik, menarik dan efektif karena kemampuan menyuting gambar, menghilangkan background, menganimasi teks, diagram atau gambar dan lain-lain.

Kemampuan berbagai aplikasi pengolahan gambar, teks dan angka lebih dipandang sebagai alat bantu untuk pekerjaan manusia. Profesi atau jasa desain dan percetakan berkembang sangat pesat karena munculnya aplikasi pengolah gambar seperti adobe photoshop dan lain-lain.

Aplikasi-aplikasi semacam ini menjadi senjata bagi para profesional untuk menghasilkan karya atau produk yang lebih baik, presisi dan lebih cepat ketimbang bila dikerjakan secara manual.

Para perencana juga bisa membuat perencanaan semakin akurat, karena rencana bisa disimulasikan terlebih dahulu sebelum diputuskan dan dieksekusi di lapangan.

Namun model Artificial General Intelligence yang muncul kemudian dan sering disebut sebagai AI kuat karena mempunyai kecerdasan yang setara dengan manusia mulai dipandang sebagai ancaman.

Elon Musk seorang pengusaha teknologi bahkan pernah mengungkapkan kekhawatirannya bahwa AI akan lebih berbahaya daripada senjata nuklir. Menurutnya perlu peraturan bersama untuk memantau perkembangan teknologi ini.

Elon kemudian ikut mendukung upaya pengembangan dan pemanfaatan AI untuk kehidupan bersama lewat OpenAI, sebuah perusahaan nirlaba yang mengembangkan teknologi kecerdasan buatan dengan konsep terbuka.

22 November lalu OpenAI meluncurkan Chat Bot GPT, model kecerdasan generatif yang mempu diperintah atau dimintai tolong untuk mengerjakan berbagai tugas yang berbasis teks atau koding. Pemakai bisa membuat esai, puisi, pidato, kode untuk membuat web, script iklan, ide tulisan dan lain-lain.

Kehadiran Chat GPT membuat banyak orang khawatir karena diprediksi akan menghilangkan profesi tertentu.

Padahal kehadiran teknologi sejak awal memang menghilangkan peran atau fungsi tertentu dari manusia, namun sebaliknya juga membuka kemungkinan baru, munculnya profesi baru yang lebih beragam.

Bahwa secara teori mungkin saja kelak semua pekerjaan manusia diambil alih oleh kecerdasan buatan tetap dimungkinkan. Dalam beberapa tahun ke depan bisa jadi kecerdasan buatan yang super sudah akan muncul, kecerdasannya jauh diatas manusia. Dan mungkin sudah dilengkapi dengan kemampuan untuk mempunyai perasaan.

Tapi bagaimanapun kendali tetap ditangan manusia, kecerdasan buatan sehebat apapun tetap merupakan mesin yang akan mati ketika catudayanya dicabut. Kecerdasan buatan yang punya kesadaran diri hanya akan ditemui di film-fim.

Yang justru berbahaya adalah sikap dan sifat manusia sendiri. Meski ada banyak sessi pelatihan yang menawarkan untuk mengoptimalkan kerja otak manusia namun pada dasarnya manusia lebih suka berpikir secara emosional, tidak mau mikir yang berat-berat.

Kebiasaan inilah yang kemudian akan membuat kita lebih suka menggadaikan otak pada AI generatif. Pelajar dan mahasiswa bakal lebih santai serta lebih rajin main games serta nongki-nongki karena tugas yang diberikan oleh guru atau dosen dengan cepat dikerjakan oleh Chat GPT dan kecerdasan generatif lainnya yang akan segera menyusul.

BACA JUGA : Media Klik Klik Mulai Krik Krik 

note : sumber gambar – ACTCONSULTING.CO