KESAH.ID – Obrolannya daging semua, begitu cara orang mengiklankan video siniar di akun YouTube atau media sosial lainnya. Tapi benarkah daging semua artinya bermutu, berilmu atau penuh pengetahuan?. Tidak, rerata yang disebut ilmu di media sosial tidak berbasis bukti yang terverifikasi, hanya berbasis pengalaman satu orang yang kemudian disimpulkan bisa berlaku untuk semua orang. Kita mengalami deintelektualisasi karena kelimpahan informasi dan pengetahuan di media sosial.
Presiden Suharto dulu suka memakai istilah WTS yang secara umum dikenali sebagai singkatan dari Wanita Tuna Susila untuk menyebut para pengkritiknya.
WTS dalam versi Suharto merupakan kependekan dari Waton Suloyo atau asal bicara.
Suharto memang tidak suka dikritik, sehingga menganggap mereka yang mengkritiknya sebagai orang yang suka bicara seenaknya, bicara tanpa dasar, selalu mendebat, berpikir asal berbeda dengan orang, bahkan dianggap kasar dan tidak sopan.
Warisan sikap Suharto itu sampai sekarang masih ditemukan antara lain dalam istilah kritik yang membangun atau himbauan agar menyampaikan kritik dengan halus dan sopan.
Bukan salah seorang pemimpin kalau tak doyan dikritik. Pemimpin sering bertelinga tipis karena evolusi pengetahuan memang bermula dari kekuasaan.
Di jaman lampau yang disebut berpengetahuan adalah kepala suku, raja dan lainnya (knowledge based authority).
Selain dianggap pintar, berpengetahuan, pemimpin juga dianggap bijaksana.
Sindrom knowledge based authority masih terbawa sampai sekarang. Pemimpin selalu merasa lebih tahu dari bawahan atau orang-orang yang dipimpinnya.
Mempertanyakan kebijakan pemimpin dianggap sebagai perlawanan terhadap kewenangan atau kekuasaannya.
Dalam konteks seperti ini maka menjadi wajar bila Rocky Gerung kemudian dijuluki WTS atau Waton Suloyo oleh ‘oknum’ pemerintah dan partai yang berkuasa.
Rocky yang gencar mengkritik ini dan itu dianggap bicara asal-asalan. Pendapat atau kritiknya tidak dianggap sebagai masukan melainkan keinginan asal berbeda, bacot saja.
DNA intelektual tradisional atau intelektual yang berbasis pada kekuasaan membuat intelektualitas organik dan intelektualitas publik menjadi beku.
Pertukaran gagasan dalam masyarakat menjadi tidak dinamis. Pengetahuan hanya dirumuskan dalam satu arah, tidak ada semangat untuk menguji kebenaran karena mempertanyakan kebenaran dianggap mempertanyakan kekuasaan.
Pengetahuan kemudian diabdikan untuk kekuasaan. Dimasa lalu pembekuan pengetahuan ini dilakukan oleh para ahli bahasa. Mereka menjadi penulis istana. Menuliskan puja-puji untuk para raja untuk memvalidasi sang raja sebagai sosok yang cerdas, pandai, kuat, luar biasa, bijak sama, adi luhung bahkan ilahiah.
Orang pintar dalam konsep intelektual tradisional kemudian bukan hanya berpengetahuan melainkan juga mempunyai kesaktian. Ada keyakinan tentang hal gaib, supranatural atau metafisik dalam sistem pengetahuannya.
Meski ilmu pengetahuan utamanya ilmu alam berkembang dengan saat pesat, berhasil menjelaskan hukum alam dan cara kerjanya, menghasilkan banyak teknologi yang membantu dan mempermudah hidup manusia namun penyakit knowledge based authority belum hilang. Perilaku deintelektualisasi terus ada dalam berbagai bentuknya.
BACA JUGA : Desa Mengepung Kota Atau Desa Yang Mengkota
Para filsuf mempunyai peran besar dalam melawan deintelektualisasi yang dilakukan oleh rezim pengetahuan yang berbasis kekuasaan.
Meski pada masa awal para filsuf masih memakai mitos atau legenda untuk menerangkan segala sesuatu namun mereka berhasil menjadi pondasi munculnya sistem pengetahuan yang didasarkan atas pengamatan, penelitian atau pendalaman.
Dulu yang disebut dengan filsuf adalah sosok intelektual yang mempelajari astronomi, fisika, matematika, kedokteran, kejiwaan dan lain-lain.
Ilmu pengetahuan ditangan filsuf kemudian menjadi pengetahuan yang inklusif, karena disebarluaskan.
Pemikiran para filsuf kemudian diperbincangkan, diperdebatkan. Dalam filsafat ‘pertengkaran gagasan’ justru menjadi salah satu cara untuk menemukan kebenaran yang kualitasnya lebih tinggi. Dialektika menjadi penting, murid tidak harus sependapat dengan gurunya.
Para filsuf bisa disebut sebagai intelektual organik karena tumbuh dari lingkungannya masing-masing. Dan kemudian mereka mulai menyebarluaskan gagasan atau pemikirannya kepada masyarakat.
Mereka mengajar atau mengedukasi masyarakat lewat mimbar-mimbar umum dengan melakukan orasi di tempat-tempat keramaian.
Lama kelamaan pengaruhnya meluas, para filsuf kemudian menjadi intelektual publik. Gagasannya diabdikan bukan hanya untuk ilmu pengetahuan melainkan juga kebaikan bersama, mengatasi berbagai macam persoalan dalam ruang publik.
Hampir semua pembaruan yang terjadi di masa lalu termasuk pembaharuan politik, ekonomi dan sosial didasarkan atas pemikiran-pemikiran para filsuf besar. Banyak isme lahir dari pemikiran para filsuf.
Temuan-temuan pengetahuan baru kemudian membuat ilmu pengetahuan menjadi terspesialisasi. Ilmu tak mungkin lagi diajarkan dengan kongkow-kongkow di teras (arcade).
Berdirilah sekolah yang mempunyai tujuan melahirkan orang-orang dengan kemampuan tertentu.
Plato misalnya mendirikan akademi, sebuah sekolah yang didirikan untuk anak-anak muda yang mau mengabdikan diri untuk masyarakat dan menjadi politisi.
Namun berbeda dengan universitas di jaman sekarang, Plato memaksudkan akademinya tidak hanya untuk intelektual akademik melainkan juga intelektual publik.
Di akademi Plato tidak hanya ada ruang kelas tapi juga taman tempat kaum sofis bisa berorasi dan cafe tempat para filsuf serta kaum intelektual bertukar pendapat. Kebebasan berpikir dan berbicara secara bersamaan diimplementasikan.
Dalam perkembangannya akademi yang sekarang ini bisa disetarakan dengan universitas tumbuh menjadi menara gading. Kaum intelektualnya asyik dengan pengetahuannya sendiri. Mengejar gelar, prestise pengetahuan, ilmu pengetahuan menjadi eklusif.
Kondisi ini membawa resiko sirkulasi pengetahuan hanya beredar dalam ruang tertentu. Dan menjadi lebih berbahaya jika kemudian intelektual akademis bersekongkol dengan penguasa. Penguasa politik dan/atau penguasa ekonomi.
Ilmu pengetahuan kemudian menjadi senjata bagi penguasa untuk menghegemononi atau memanipulasi masyarakat.
Keberpihakan intelektual akademis pada penguasa membuat rakyat kehilangan kemampuan untuk melawan marjinalisasi dengan pengetahuan.
Masyarakat kemudian akan menjadi lebih lemah secara pengetahuan karena yang tersedia untuk masyarakat adalah pengetahuan yang berbasis pada mitos, legenda atau pseudosains yang kerap dibalut oleh teori konspirasi dan kesimpulan-kesimpulan yang terlalu cepat (jumping conclussion).
Distribusi pengetahuan dari pusat-pusat ilmu pengetahuan yang tidak meluas membuat sesat pikir makin berkembang dalam masyarakat. Pengetahuan yang beredar dalam masyarakat adalah pengetahuan palsu. Masyarakat menyangka dirinya rasional padahal rasionalitasnya tunduk pada otak emosional.
BACA JUGA : Butet Buzzer Jilatin Jilatun
Media sosial membuat kebebasan berbicara dan berpendapat makin terekpresikan serta sulit untuk dibatas-batasi.
Ruang pengetahuan makin terbuka dan meluas. Namun pada dasarnya pengetahuan perlu diuji, diverifikasi dan divalidasi.
Sistem atau metodologi ini yang tidak dipunyai oleh media sosial. Memang ada pembatasan dalam media sosial namun pembatasan itu tidak mampu memfilter pengetahuan palsu, misinformasi, misleadong, disinformasi, framing dan pengetahuan-pengetahuan buruk lainnya.
Media sosial pada salah satu sisi menyuburkan sikap antiintelektual. Era media sosial kerap disebut sebagai era kematian pakar karena semua orang bisa menjadi pakar di media sosial.
Seseorang yang pendapat atau pemikirannya disukai oleh banyak orang kemudian dianggap sebagai ahli, pendapatnya diikuti. Bahkan sebagian pengikutnya menjadi fanatik. Yang dikagumi selalu dianggap sebagai yang benar.
Padahal pengetahuan atau informasi menjadi benar bukan karena siapa yang menyampaikan atau mengatakan. Jika kebenaran berdasar pada siapa yang mengatakan maka kita jatuh lagi dalam sistem pengetahuan yang berbasis kekuasaan atau pengaruh.
Siapapun yang mengatakan sebuah gagasan, pengetahuan atau teori mesti diuji. Basis kebenaran dari sebuah pengetahuan adalah bukti (evidence based) bukan katanya.
Sayangnya para pakar, kaum intelektual akademis jarang yang aktif di media sosial untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuannya.
Mungkin saja mereka tidak siap karena interaksi di media sosial memang kerap bikin emosi. Orang bisa memberi komentar sembarang, mendebat dengan membabi buta dan tak hormat satu sama lainnya. Suasana media sosial memang tidak akademik.
Selain itu menyebarkan gagasan di media sosial memang butuh trik tersendiri, cara berkomunikasi yang kekinian, pesan yang bagus jika tidak disampaikan dengan cara yang lagi ngehit bakal dianggap garing, seperti guyon bapak-bapak.
Maka ketimbang rumit-rumit para pakar lebih suka jadi narasumber berita atau talkshow. Tampil dengan cara begitu menjadi lebih mudah terkenal. Pendapat-pendapatnya bisa bombastis, diperbincangkan walau tak menambah ilmu bagi yang mendengarkan atau menyaksikan.
Ada banyak anak muda baik akademisi atau non akademisi yang pintar dan berilmu. Semoga mereka terpanggil untuk mendedikasikan diri sebagai intelektual organik dan intelektual publik, mengajar masyarakat dan mengajak berpikir dengan nalar yang benar.
Masyarakat kita sudah terlalu dalam diracuni oleh cara berpikir yang semu. Seolah-olah intelek padahal hanya mengaduk-aduk nalar emosional.
Banyaknya orang yang tertipu investasi dan trading bodong adalah salah satu buktinya. Mereka seolah fasih bicara ekonomi terkini tapi tak paham fundamentalnya. Sehingga tak sadar masuk dalam jebakan tipuan karena iming-iming keuntungan besar.
Tugas intelektual organik atau intelektual publik makin berat. Jika dulu mereka berhadapan dengan orang yang tak tahu, kini yang mesti dilawan adalah orang-orang sok tahu.
note : sumber gambar – M.INDUSTRY.CO.ID








