KESAH.ID – Sampai dengan istirahat paruh musim, Moto GP didominasi oleh kemenangan Ducati dan pabrikan Eropa lainnya. Pembalap dengan motor dari Jepang tidak bisa bicara banyak. Motor Jepang tertinggal pengembangannya membuat pembalapnya kena mental. Membalap tanpa kepercayaan diri yang tinggi pada motornya membuat persaingan di Moto GP menjadi tidak seru dan tidak menarik untuk ditonton.

Week day selama bulan Juli ini tak ada balapan, tim dan pembalap Moto GP istirahat paruh musim.

Tidak persis separuh karena balapan baru berlangsung 8 kali dari 20-an yang dijadwalkan.

Balapan tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Penambahan satu race di hari Sabtu yakni Sprint Race membuat suasana dan kondisi Moto GP menjadi berbeda.

Balapan pada hari Sabtu membuat pembalap kehilangan latihan bebas keempat. Latihan yang biasanya dipakai untuk men-setting motor yang akan digunakan untuk balapan.

Kehilangan waktu untuk menentukan setting motor yang akan dipakai dalam balapan membuat banyak pembalap mengalami kecelakaan dalam balapan. Dan pabrikan yang tidak mempunyai modal setting awal yang mumpuni menjadi keteteran.

Hampir semua pembalap mengalami kecelakaan dan cidera. Satu-satunya pembalap yang konsisten selalu mengikuti balapan dan finish hanyalah Francesco Morbidelli, tandem Fabio Quartararo di Tim Yamaha.

Pol Espargaro, Enea Bastianini dan Marc Marquez berkali-kali melewatkan balapan karena cideranya mesti dipulihkan dengan operasi.

Dari semua pabrikan, Tim Honda yang paling kedodoran. Hampir semua cidera dan tidak bisa mengikuti balapan, kecuali Taka Nakagami.

Honda seperti tim putus asa. Hingga Marc Marquez yang jatuh berulang-ulang kerap memaksa diri untuk ikut balapan. Hasilnya cideranya makin parah. 

Honda menderita ganda, motornya hancur, pembalapnya remuk.

Bagaimana mungkin motor yang berjaya sejak 2013 hingga 2019 kemudian hancur lebur di lintasan?.

Ya motor Honda jaya di lintasan balap karena Marc Marquez. Pembalap lain yang cukup menguasai adalah Dani Pedrosa.

Namun setelah ditinggal Dani Pedrosa, pembalap berikutnya yang berusaha menaklukkan motor Honda gagal. Jorge Lorenzo, Alex Marquez, Pol Espargaro dan Johan Mir menyerah sebelum musim berakhir.

Berpaku pada data Marc Marquez, pengembangan motor Honda menjadi tidak ramah untuk pembalap lainnya. Dan istirahat panjang karena cidera, ketika kembali membalap Marc Marquez juga merasa asing dengan motor tunggangannya.

Bukti paling nyata adalah Marc Marquez tak bisa berbuat banyak di Sirkuit Sachering, padahal dia disebut sebagai Sachsenking karena kemenangan tanpa henti di sirkuit itu sejak membalap di Moto GP.

Dulu kelemahan Honda dalam berbelok dan traksi yang tidak seimbang bisa ditutupi oleh kepiawaian Marc Marquez dengan fisik yang prima.

Namun cidera baju yang parah membuat kekuatan tangan Marc Marquez untuk mengendalikan motor Honda yang tak stabil menjadi menurun. Maka motor yang dipacu melewati batas akan berakhir dengan kecelakaan, motor akan crash.

Dengan waktu latihan yang dikurangi, dan balapan ditambah menjadi dua kali berturutan maka Honda makin keteteran. Mekaniknya harus bekerja keras ohkarena harus menyiapkan motor yang remuk untuk siap dipakai balapan.

Perlu diketahui untuk menyiapkan kembali motor yang jatuh di lintasan agar bisa dipakai balapan butuh waktu kurang lebih 3 jam.

Dan Marquez hampir selalu jatuh dalam kualifikasi karena selalu berusaha agar bisa start dari garis depan. 

Jatuh saat kualifikasi berarti motornya tak bisa ditest lagi, begitu diperbaiki langsung dipakai untuk balapan. Tak heran jika kemudian Marquez kerap gagal finish dalam balapan.

BACA JUGA : Melawan Deintelektualisasi

Yang kedodoran bukan hanya Honda tetapi juga Yamaha. Fabio Quartaro yang digadang-gadang mampu menjadi penantang Francesco Bagnaia ternyata juga melempem. 

Karena kecewa dengan tunggangannya, Fabio sempat meminta setting motornya dikembalikan ke format tahun 2021, tapi hasilnya toh sama saja.

Dua pabrikan dari Jepang sama-sama zonk di balapan Moto GP 2023. Hingga akhirnya ada yang menyuarakan ECU menjadi biangnya.

Honda dan Yamaha dianggap gagal menguasai ECU Magneti Mirelli buatan Italia itu.

Padahal ECU tak bisa menjadi kambing hitam, karena sejak diseragamkan mulai tahun 2016, yang menguasai balapan adalah Honda, Suzuki dan Yamaha, sebelum diambil alih oleh Ducati di tahun 2022.

Pengembangan motor dari pabrikan Jepang nampaknya tidak integratif. Seluruh komponen motor tidak dikembangkan bersama sejak awal sebagai satu kesatuan. Motor kemudian menjadi tidak seimbang. Kuat disatu sisi tapi lemah sekali disisi lainnya.

Tambal sulam disana-sini berdasarkan masukan pembalap setelah race justru semakin mengacaukan perfoma motornya. 

Sementara Ducati yang mulai dikembangkan sejak jaman Dovisioso mencapai puncak perfomanya. Motor yang banyak dikeluhkan oleh Rossi ketika menjadi pembalapnya akhirnya sempurna setelah ditunggangi murid-muridnya.

Pabrikan Eropa bangkit, bukan hanya Ducati yang perfomanya baik tapi juga KTM dan Aprilia.

Dengan prinsip ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi), KTM menjiplak Ducati dan berhasil. Aprilia pun kemudian keluar dari status konsesi karena pembalapnya berhasil podium.

Namun tahun 2023 ini Aprilia mengalami kemunduran karena terlalu banyak berinovasi, tambahan pernak-pernik disana-sini tidak berhasil meningkatkan performa motornya. Aprilia tampil genit tapi tak menggigit.

Dorna sebagai pemilik dan penyelenggara balapan mulai khawatir. Jebloknya dua pabrikan Jepang dikhawatirkan membuat mereka mundur dari Moto GP menyusul Suzuki.

Marc Marquez yang mulai mengeluh juga membuat Dorna makin khawatir. Bagaimanapun juga Marquez adalah pembalap terhebat yang masih mengikuti kompetisi. Jika sampai Marquez hengkang, Moto GP akan kehilangan salah satu daya tariknya setelah ditinggal Rossi.

Muncul suara agar Honda dan Yamaha diberi status konsesi agar bisa mengembangkan motor lebih leluasa. Jatah mesin ditambah dan tes privatnya lebih banyak.

Selain itu ada usulan untuk merubah komposisi latihan bebas atau Free Practise. Jika selama ini penentuan untuk masuk langsung di kualifikasi 2 (Q2) adalah kombinasi waktu antara latihan 1 dan 2,  maka diusulkan berikutnya untuk masuk ke Q2 akan didasarkan dari capaian waktu pada latihan 2.

Latihan 1 dan latihan 3 tidak akan dicatat time laps-nya, melainkan menjadi kesempatan untuk menentukan settingan motor.

Atas usulan pemberian konsesi untuk pabrikan Jepang, pabrikan Eropa menolak. Sedangkan perubahan pola latihan bebas, ditolak oleh Ducati.

BACA JUGA : Desa Mengepung Kota Atau Desa Yang Mengkota 

Memasuki istirahat paruh musim, klasemen sementara dipimpin oleh Francesco Bagnaia, disusul oleh Jorge Martin dan Marco Bezzecchi ketiganya membalap dengan motor Ducati.

Dalam 10 besar klasemen pembalap pada Moto GP 2023, Ducati yang menurunkan 8 pembalap 6 diantaranya berada dalam klasemen tinggi. 

Dari pabrikan Jepang hanya ada satu pembalap yakni Fabio Quartararo. Pembalap Yamaha ini duduk di peringkat 9 dengan satu kali podium. Sampai 8 kali balapan, Quartararo belum sekalipun berhasil finish pertama.

3 pembalap lain penghuni papan atas sementara adalah duo KTM yakni Brad Binder dan Jack Miller serta Alex Espargaro dari Aprilia.

Sementara pembalap Honda dengan prestasi terbaik adalah Alex Rins yang duduk di klasemen 13 dengan satu kemenangan di Sirkuit Austin, Amerika Serikat. 

Tandemnya yakni Taka Nakagami berada di peringkat 16. Sedangkan dua pembalap utama Honda yakni Marc Marquez dan Johan Mir, berada di peringkat 19 dan 24.

Dengan demikian Moto GP 2023 bisa disebut sebagai balapannya Ducati atau Ducati Cup. Yang bersaing dalam balapan adalah para pembalap Ducati yang jumlahnya 8 orang.

Dari 8 seri balapan yang telah dilewati, nampaknya hanya KTM yang bisa bersaing dengan Ducati. Yang lainnya kedodoran.

Dominasi Ducati yang nggak ada obatnya ini membuat Moto GP menjadi kurang seru. Berbeda ketika Honda mendominasi, meski pernah terus menerus juara namun persaingan dengan motor dari pabrikan lainnya masih ketat. Posisi Runner Up masih diduduki oleh pembalap dengan motor dari pabrikan lainnya.

Moto GP sedang dalam krisis karena pembalap dari pabrikan Jepang kehilangan kepercayaan diri terhadap motornya. Pembalap yang kena mentalnya jelas tak akan bisa membalap dengan keyakinan 100 persen.

Sekuat apapun tak ada pembalap yang ingin jatuh. Bahkan seorang Marc Marquez yang kerap menjadikan jatuh sebagai cara untuk menguji kekuatan motor di balapan.

Bayangkan dengan hanya mengikuti 5 dari 8 balapan, Marc Marquez sudah jatuh 14 kali. Walau dikenal sebagai pembalap dengan rekor jatuh terbanyak namun 14 kali jatuh dalam 5 seri balapan tentu menghasilkan banyak cidera. 

Marquez pun akhirnya tidak bisa ikut membalap di seri terakhir sebelum istirahat paruh musim, jarinya, tulang rusuk patah dan otot ligamen kakinya robek.

Situasi semacam ini tentu membuat paddock menjadi panas. 

Jika Dorna dan pabrikan lainnya dari Eropa tidak membantu Honda dan Yamaha, maka masa depan Moto GP bisa berakhir dan hanya akan menjadi ajang balap motor-motor Eropa.

note : sumber gambar – ARIPITSTOP.COM