KESAH.ID – Rambut bukan sekadar helai yang tumbuh di kepala, ia adalah mahkota yang menyimpan cerita, mitos, dan perjalanan hidup. Dari cita-cita punya rambut lurus, eksperimen aneh dengan batang pisang, hingga alasan sengatan tawon untuk menutupi uban—semuanya adalah bagian dari kisah manusia yang selalu ingin tampil sempurna. Dan di balik setiap helai putih yang muncul, tersimpan ironi sekaligus kebijaksanaan: bahwa menerima diri apa adanya jauh lebih indah daripada sekadar mengejar mitos.
Rambut secara tradisional dianggap sebagai mahkota, simbol identitas yang kedudukannya penting. Karena itu, dalam urusan rambut sering muncul hirarki. Sejauh ingatan saya, rambut lurus dianggap sebagai standar terbaik, menjadi dambaan banyak orang.
Ketika kecil, saya cukup bermasalah dengan rambut. Rambut saya ikal, bahkan cenderung keriting, sehingga tampak awut-awutan, sulit disisir, dan mustahil dibelah tengah. Maka cita-cita saya waktu itu sederhana: punya rambut lurus. Sayangnya, teknologi pelurus rambut permanen belum ada. Yang populer justru “krol”—membuat rambut ikal. Teknik ini bisa dilakukan sendiri di rumah, tapi untuk hasil agak permanen harus ke salon.
Obrolan teman-teman kemudian melahirkan berbagai eksperimen. Ada yang menyarankan mengoleskan cairan dari pangkal pohon pisang yang dilubangi lalu ditutup semalam. Ada pula yang nekat menggunakan cairan batang keladi atau lompong, yang hasilnya malah kepala gatal-gatal. Perawatan rambut dengan bahan alami memang lazim. Pengetahuan tradisional menyimpan banyak resep tanaman untuk memperindah rambut, salah satunya lidah buaya yang paling populer.
Namun, nasib rambut setiap orang berbeda. Ada yang dikaruniai rambut indah sejak lahir, sementara sebagian besar lainnya berusaha keras mengejar rambut impian, sering kali dengan hasil mengecewakan. Menerima rambut apa adanya tetap menjadi tantangan.
Lalu muncul persoalan lain: uban. Rambut putih bagi anak muda adalah malapetaka. Ketahuan ubanan berarti dianggap tua. Uban dipahami sebagai tanda penuaan. Anak muda yang beruban diolok-olok, dipanggil opa-opa atau kakek-kakek. Saya punya teman yang dijuluki KPU—Kepala Penuh Uban. Usianya masih muda, tapi rambutnya hampir putih semua. Untuk sebagian orang KPU mungkin keren, tapi bagi kebanyakan lainnya itu bencana. Maka semir rambut jadi rutinitas.
BACA JUGA : Presiden Penghujat
Saya sendiri berurusan dengan uban sejak SMP. Ada uban di bagian belakang kepala, tepat di ubun-ubun. Siapapun yang duduk di belakang saya pasti melihatnya. Jawaban saya selalu konsisten: uban itu muncul karena sengatan Tawon Ndas.
Waktu kecil, permainan saya dan teman-teman memang acak. Kami suka mengganggu sarang tawon di bubungan rumah atau dahan pohon. Begitu kena ketapel, tawon murka dan mengejar. Beberapa kali saya sial, disengat di kepala. Rasanya panas, badan demam. Menjadikan sengatan tawon sebagai alasan uban ternyata ampuh—tak ada yang bisa membantah.
Zaman itu belum ada Google. Lagu masih didengar lewat pita kaset di tape recorder. Kini alasan itu jarang saya pakai. Uban tak lagi membuat saya takut dibully. Rambut putih di usia sekarang adalah hal biasa. Bahkan pertumbuhannya tergolong lambat.
Tentu saja sengatan tawon bukan argumen valid. Belum ada bukti ilmiah bahwa bisa tawon membuat rambut kehilangan pigmen. Tapi hidup bukan soal ilmiah atau tidak. Selama terdengar masuk akal, orang bisa percaya. Dari situlah mitos lahir. Dunia dipenuhi pseudoscience, penjelasan yang tampak ilmiah padahal hanya menghubungkan fakta-fakta terpilih.
Tentang sengatan tawon yang dipercaya memicu uban lebih mudah diterima ketimbang membaca jurnal penelitian. Dulu akses pengetahuan terbatas, sains hidup di menara gading. Kini sebaliknya, informasi melimpah ruah—ilmiah, setengah ilmiah, bahkan tidak ilmiah—hingga kita bingung menentukan mana yang benar.
BACA JUGA : Melawan Lupa
Kebenaran akhirnya jelas: uban memang tanda penuaan. Jika muncul di usia muda, bisa karena genetik. Namun penyebab uban tidak tunggal. Stres oksidatif, kekurangan nutrisi, hormon, bahkan obat-obatan tertentu bisa memicu uban.
Melewati umur lima puluh, orang sering heran karena uban saya belum banyak. “Rutin semir rambut kah?” tanya mereka. Jawaban saya tegas: tidak. Seumur hidup belum pernah ingin mewarnai rambut.
Namun pertahanan tubuh akhirnya jebol. Setelah usia 55, uban tumbuh subur. Rambut putih ada di mana-mana: kanan, kiri, atas, belakang. Dulu satu-dua uban saya cabut. Kini jumlahnya terlalu banyak. Niat mewarnai rambut pun tak muncul. Saya justru menyambut uban sebagai tanda siap meninggalkan dunia hitam.
Rambut, dengan segala mitos dan kenyataannya, adalah cerita tentang perjalanan hidup. Dari cita-cita punya rambut lurus, eksperimen aneh dengan batang pisang dan keladi, hingga alasan sengatan tawon untuk menutupi uban—semuanya adalah bagian dari narasi manusia yang selalu ingin tampil sempurna.
Namun uban mengajarkan hal berbeda: bahwa kesempurnaan bukan soal warna rambut, melainkan keberanian menerima diri. Rambut putih bukan sekadar tanda usia, melainkan tanda perjalanan. Ia adalah garis waktu yang tumbuh di kepala, bukti bahwa kita pernah hidup, pernah tertawa, pernah gagal, pernah bangkit.
Dan ketika uban akhirnya memenuhi kepala, kita bisa berkata dengan bangga: “Ini bukan sekadar rambut putih. Ini adalah mahkota pengalaman, cahaya yang lahir dari gelap, tanda bahwa saya telah melewati banyak musim dan tetap berdiri.”
note : sumber gambar – DETIK








