KESAH.IDSeperti halnya aktivis, seniman kerap dianggap berpihak dan menjadi penyambung lidah rakyat pada penguasa. Idealisasi semacam ini kerap membuat masyarakat terguncang ketika melihat seorang seniman kemudian bermain dalam politik praktis. Harusnya kita tak terkejut, persekongkolan seniman dan politik atau regim sudah terjadi sejak masa lampau. 

Butet Kartarejasa, khalayak mengenalnya sebagai aktor yang handal, terutama dalam membawakan monolog.

Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Seni Rupa, Butet memang aktif berteater. Prestasi mulai ditorehkan olehnya, dalam lomba teater se DIY untuk pelajar setingkat SMA, Butet tercatat berhasil menyandang gelar sebagai aktor dan sutradara terbaik.

Pada saat yang sama Butet juga mulai mengasah kemampuannya menulis. Tulisannya dimuat di berbagai media cetak. Butet kemudian menjadi penulis lepas di majalah HAI yang waktu itu dipimpin oleh Arswendo Atmowiloto.

Sempat menjadi karyawan tetap di Kompas Gramedia Group, Butet mundur bersamaan dengan ditutupnya tabloid Monitor. 

Butet kemudian meneruskan karya kepenulisan dengan memasuki industri kreatif dalam bidang periklanan dan penerbitan. Usahanya terbilang sukses.

Setelah itu Butet kembali ke jalan kesenian, kembali berteater. Bersama dengan Teater Gandrik, Butet melambungkan namanya lewat berbagai pementasan dengan tema-tema yang mengelitik. 

Pementasan Teater Gandrik selalu ditunggu-tunggu oleh khalayak. Tiket pementasannya selalu terjual habis.

Selain tampil bersama grup teaternya, Butet kemudian juga dikenal sebagai penampil tunggal lewat monolognya.

Kemampuannya melakukan impersonate, meniru cara dan gaya bicara tokoh tertentu membuat Butet laris manis, termasuk kemudian mengisi dan mempunyai acara di stasiun televisi.

Salah satu program televisi yang terkenal adalah Republik Sentilan Sentilun. Sebuah program komedi satir yang tampil di Metro TV. Butet berduet dengan Slamet Raharjo membawakan acara yang berdurasi kurang lebih 30 menit ini.

Republik Sentilan Sentilun sendiri merupakan paket acara televisi hasil adaptasi dari naskah berjudul Matinya Sang Kritikus, karya Agus Noor yang sebelumnya dimainkan secara monolog oleh Butet Kartarejasa.

Setelah Bagong kussudiardja wafat, Butet meneruskan warisan kekaryaan bapaknya itu bersama Djaduk Ferianto, adiknya.

Duet Butet dan Djaduk menjadi salah satu duet maut kakak beradik dalam dunia kesenian di Indonesia. Butet menguasai seni peran dan menulis, Djaduk menguasai seni musik.

Butet kemudian berhasil menjadi seniman yang terkenal dan disegani. Butet kemudian pantas menyandang gelar sebagai budayawan.

Kematian adiknya, Djaduk Ferianto yang tiba-tiba, menjelang perhelatan Ngayogjazz yang dirintis sejak tahun 2007 membuat Butet terpukul.

Kesehatannya merosot dan Butet bolak balik keluar masuk rumah sakit. Sempat berada diatas kursi roda, Butet akhirnya pulih. Buku Urip Mung Mampir Ngguyu, 60 Tahun Butet Kartarejasa yang ditulis oleh Agus Noor, dkk oleh Butet diakui sebagai pemicu untuk bangkit kembali dari keterpurukan karena penyakitnya.

Meski masih kocak dan ceplas-ceplos kalau bicara, mulai nampak ada yang beda dalam diri Butet. Dia yang sebelumnya dikenal kritis pada pemerintah, tak segan menyental-nyentil perilaku dan kebijakan pemimpin negara, Butet tak menutupi kalau dirinya begitu kagum pada Presiden Jokowi.

Butet terang-terangan menunjukkan dukungan pada segenap kebijakan Presiden Jokowi. Bagi Butet, Joko Widodo adalah presiden terbaik hingga saat ini.

Tentu tidak salah kalau seorang Butet mengungkapkan dukungannya. Sebagai warga negara, Butet juga punya aspirasi politik. 

Jika dulu Butet menyuarakan aspirasi, pemikiran dan kegelisahan politik lewat pementasan yang bernuansa kritis namun menghibur. Kini pikiran dan aspirasi politik Butet lewat disuarakan olehnya selayaknya seorang politisi.

BACA JUGA : Korban Dan Pengorbanan

Duet Butet dan Djaduk yang secara eksplisit mendukung Joko Widodo dilakukan menjelang Pemilu 2019, ketika Jokowi maju kembali untuk jabatan periode yang kedua.

Butet dan Djaduk mengajak seniman lain bergabung lewat Alumni Yogya Satukan Indonesia. 

Kakak beradik putra seniman besar Bagong Kussudiardja memasuki wilayah politik praktis walau tak memakai baju partai politik 

Lama tak tampil, Butet Kartarejasa pada tanggal 24 Juni 2023 membacakan puisi di Stadion Gelora Bung Karno dalam acara puncak peringatan Bulan Bung Karno.

Acara Bulan Bung Karno memang acara internal PDIP, namun dalam perayaan puncak peringatannya diundang tamu-tamu dari partai politik lainnya. 

Puisi yang dibacakan Butet mungkin seru kedengarannya namun isinya sebagian menyindir calon presiden dari partai atau gabungan partai lain. 

Bisa jadi pimpinan dan anggota PDIP yang hadir dalam acara itu tersenyum mendengar puisi yang dibacakan Butet, namun itu senyum kecut.

Meski tak menyebut Anies, jelas bait puisi “Di sini semangat meneruskan, di sana maunya perubahan. Oh begitulah sebuah persaingan. Di sini nyebutnya banjir, di sana nyebutnya air yang markir. Ya, begitulah kalau otaknya pandir,” 

Dan  “Pepes ikan dengan sambel terong, semakin nikmat tambah daging empal. Orangnya diteropong KPK karena nyolong, eh lha, kok koar-koar mau dijegal.” jelas ditujukan untuk calon presiden dari Koalisi Perubahan yang dideklarasikan oleh Partai Nasdem, Demokrat dan PKS.

Sementara Prabowo, calon presiden dari Partai Gerindra disindir dengan bait ini “Jagoan Pak Jokowi rambutnya putih, gigih bekerja sampai jungkir balik. Hati seluruh rakyat Indonesia pasti akan sedih jika kelak ada presiden hobinya kok menculik,” 

Puisi Butet mungkin mengelitik namun tak lagi mempesona. Isinya tak lagi bebas merdeka karena bias dukungan politik.

Sebagai seniman Butet memilih berpihak pada yang tengah berkuasa dan seseorang yang dicandra sebagai penerusnya.

Butet tentu masih seorang seniman, juga budayawan namun telah berpayung PDIP. Puisinya, puisi politik. Bukan politik yang inklusif tapi politik eklusif untuk tujuan elektoral.

Andaikan saja puisi itu tidak dibaca di hadapan petinggi dan anggota PDIP serta partai lainnya, penonton umum barangkali tidak terlalu bermasalah.

Monolog dan pementasan serta acara Butet memang dikenal kental politik, namun politik kritis. Meski berpihak, sentilan-sentilannya lebih ditujukan untuk kepentingan umum, bukan kepentingan partai tertentu.

Menyindir partai lain dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh sebuah partai meski dibawakan dalam nuansa seni tetap saja memungkinkan kecurigaan terhadap motif kampanye negatif.

Sindirannya terutama kepada Prabowo, calon presiden dari partai Gerindra bisa membuat PDIP tidak enak hati. Selain karena Gerindra masih berada dalam koalisi pemerintahan Jokowi, hubungannya dengan petinggi PDIP baik sekali. Probowo juga pernah menjadi calon presiden berpasangan dengan Megawati.

Butet sebetulnya amat piawai dalam membawakan karya yang bersifat politis. Namun penampilan terbarunya, bisa dikatakan sebagai karya politis yang paling hambar. 

Karya Butet menjadi hambar karena dia tidak memilih berdiri disisi rakyat berhadapan dengan penguasa. Butet telah memilih untuk berdiri di salah satu sisi dari mereka yang akan berkontestasi di pemilu 2024 nanti.

BACA JUGA : Air Yang Memanggil

Sebetulnya tak perlu terkejut dengan peristiwa seperti ini. Meski merupakan seniman besar toh Butet tidak selalu berkarya dengan semangat keseniannya.

Maka wajar jika mutu puisi Butet kemudian setingkat dengan puisi Fadli Zon saat menyerang Ahok, atau pantun-pantun Tifatul Sembiring yang nyindir-nyindir dan nyinyirin pemerintahan Joko Widodo.

Bagi yang mengagumi Butet tentu saja ini mengecewakan. Sebab Butet mestinya bisa membuat puisi yang lebih baik, lebih bernas dan lebih bermakna untuk mengenal dan mengenang pemikiran Sukarno. Sebab meski kerap diidentikkan dengan PDIP, karena diketuai oleh anak Sukarno, namun Sukarno adalah tokoh besar Republik Indonesia, milik seluruh bangsa Indonesia. Sukarno menjadi presiden bukan karena dicalonkan oleh PDIP, seperti halnya Joko Widodo.

Kecewa tentu boleh saja, tapi tak perlu sampai men-downgrade kesenimanan Butet. Bagaimanapun juga Butet tetap seniman besar, yang patut dihargai dan diapresiasi.

Kalau kemudian Butet keluar dari ‘rumah di angin’ tempat dia mengambil jarak dengan penguasa dalam keseniannya itu adalah pilihan.

Sebagai seniman Butet tentu punya pemikiran dan opini sendiri tentang kekuasaan. Dan ketika merasa penguasa saat ini sesuai dengan aspirasi dan idealisasinya tentang kepemimpinan maka kesukaan dan dukungan pada Presiden Jokowi, PDIP dan calon presiden yang akan diajukan oleh PDIP adalah hal politiknya yang harus dihormati.

Yang berharap seni menjadi penyeimbang kekuasaan, menyuarakan rintih yang tak terdengar mesti juga paham sudah lama elemen politik meminjam mulut dan tangan seniman untuk meraih dan menopang kekuasaan.

Bang Haji Rhoma Irama, seniman dangdut kerap menyampaikan dukungan pada calon dan partai tertentu di panggung dangdutnya. Iwan Fals dulu juga kerap diseret-seret namanya setiap kali menjelang pemilu.

Kampanye menjelang pemilu juga selalu dihiasi oleh artis atau penyanyi diatas panggung untuk menggoyang massa. 

Banyak partai juga mendadak artis karena daftar calon legislatifnya bertabur bintang dunia hiburan.

Ahmad Dhani dan Slank juga pernah berdiri dalam kubu yang berbeda dalam pemilu. Ahmad Dhani mendukung Prabowo Subianto dan Slank mendukung Joko Widodo.

Sama seperti Butet, keduanya mempersembahkan karya. Bukan puisi tapi lagu.

Lagu politik untuk sosok yang didukung itu sama gambarnya dengan puisi Butet. Tak ada lagi yang menyanyikan. Lagu Aldy Taher malah lebih populer, meski amburadul toh tetap bisa menghibur.

Bumi terus berputar, manusia terus berubah terutama sikapnya dalam berhadapan dengan situasi dan medan juangnya.

Mereka yang selama bergerak di jalan pergerakan politik kerakyatan kemudian bisa memilih jalan bermain di politik praktis dan partisan.

Tidak perlu terkejut. Namun kita harus tetap mengingatkan pada mereka yang berpindah pijakan kakinya agar apa yang mereka ajarkan tidak membuat rakyat terbelah, tidak mengadu domba rakyat.

Pada dasarnya seniman yang populer memang mudah tergelincir untuk masuk ke aktivisme politik praktis. Karena seni dan politik kini bekerja dengan algoritma yang sama yakni popularitas.

note : sumber gambar –HELLOINFONESIA.COM