KESAH.IDKurban mempunyai dua makna, pemberian itu merupakan bentuk ketaqwaan pada Yang Maha Kuasa dan bentuk kepedulian pada orang lain yang menderita atau berkesudahan. Maka selain memupuk iman, korban juga memperkuat solidaritas sosial, memperbesar semangat kepedulian pada orang lain tanpa pilih-pilih.

Waktu itu sering muncul isu tentang penculikan anak untuk dijadikan tumbal pada pembangunan infrastruktur yang besar.

Entah benar atau tidak, yang jelas saya dan teman-teman sepermainan sering lari dari jalan kalau melihat mobil yang mencurigakan menurut persepsi kami.

“Culik,” teriak kami sambil lari.

Pada waktu itu memang masih lazim dilakukan ritual dalam sebuah pembangunan. Ada berbagai macam umba rambe sewaktu melakukan pembangunan. Saat membuat pondasi, menaikkan tiang rumah atau masang atap.

Tumbal atau kurban diberikan pada saat membuat pondasi. Makin bernilai tumbalnya dipandang akan makin kuat bangunannya.

Biasanya yang dikurbankan adalah hewan, mulai kerbau, sapi, kambing dan lainnya. Hewan disembelih kemudian kepalanya ditanam di pondasi bangunan.

Yang senang tentu yang bekerja. Karena mereka akan menikmati daging dari hewan kurbannya.

Kelak kemudian hari saya yakin bahwa isu culik anak untuk dijadikan tumbal adalah sebuah cara bagi orang tua agar anak-anaknya tidak bermain disekitar jalan.

Tentu saja ada peristiwa penculikan anak tapi tidak dimaksudkan untuk dijadikan tumbal. 

Kisah tentang kurban manusia adalah kisah masa lalu, jauh di waktu lampau. Dalam sejarahnya yang disebut dengan kurban kemudian mengalami pergeseran, kurban yang awalnya sadis kemudian bergeser menjadi makin manusiawi. 

Setiap bangsa, budaya maupun agama mempunyai ritual atau upacara kurbannya sendiri. 

Ritual atau upacara kurban biasanya ditujukan untuk menyenangkan dan menenangkan sang penguasa tempat dan kehidupan. Kurban juga dimaksudkan untuk merubah kondisi dan kecenderungan alam. 

Dan untuk yang memberikan, kurban dimaksudkan agar diberi imbalan berkah, kemakmuran, kebahagiaan dan lain-lain karena melakukan pengorbanan.

Dalam konteks tertentu apa atau nilai yang dikorbankan adalah bentuk silih atas kesalahan, kekurangan atau ketidaksempurnaan dari yang mempersembahkan kurban. Harta benda, binatang berharga dan lainnya adalah penganti dari semua cacat celanya, tanda dari rasa sesal dan pernyataan maafnya.

Dalam khazanah kebudayaan Nusantara, kisah korban manusia diawetkan dalam legenda tentang padi.

Masyarakat tradisional Nusantara biasanya melakukan ritual atau upacara menumbuk padi baru sebagai bentuk syukur atas hasil panenan.

Dibalik upacara itu selalu ada kisah tentang Dewi Padi. Dewi Padi adalah perempuan yang dikurbankan dan kemudian mewujud menjadi tanaman padi yang subur, pengorbanannya membuat masyarakat terbebas dari ancaman kelaparan.

Kurban manusia dalam kebudayaan Nusantara bermakna penyelamatan. Yang mengorbankan dirinya kemudian berubah wujud menjadi tumbuhan padi.

Masyarakat yang mempercayai ini kemudian sangat menghormati padi. Menjaga dan merawat padi bak saudari sendiri.  Penghormatan itu terus dirawat, pengorbanan itu terus dikenang dalam bentuk upacara syukur atas beras baru.

BACA JUGA : Air Yang Memanggil

Artefak dan jejak kurban manusia selain dalam bentuk kisah, upacara dan kepercayaan masih bisa ditemukan dalam banyak situs di berbagai belahan dunia.

Manusia dikorbankan untuk berbagai macam keperluan yang berkaitan dengan alam, infratruktur dan kekuasaan.

Di bawah pondasi Kuil Quetzalcoatl,.Teotihuacan, Mexico ditemukan banyak tulang belulang manusia. 

Manusia dikurban karena dalam kepercayaan bangsa Aztec diyakini bisa tetap menjaga matahari tetap terbit dan terbenam dalam orbitnya. Pengurbanan manusia juga dilakukan oleh Pendeta Aztec untuk memanggil hujan.

Pada makam raja-raja di Mesir, Tiongkok dan lainnya juga ditemukan banyak makam disekitarnya.

Yang dikubur atau dikurbankan untuk menyertai pemakaman raja adalah pengawal, abdi atau pelayan, musisi atau penghibur dan lainnya. Mereka dikorbankan untuk menyertai dan melayani sang raja atau penguasa di alam baka.

Kini pengorbanan manusia tak lagi bisa dibenarkan secara etik,hukum, moral maupun religi. 

Dalam agama-agama Abrahamik, transisi atau pengakhiran kurban manusia diawali oleh Abraham. 

Abraham diminta mengorbankan anaknya untuk menyelamatkan kaumnya. Namun kemudian ketika Abraham hendak menyembelih anaknya sebagai kurban, kemudian dihentikan dan diperintahkan untuk menyembelih domba sebagai gantinya.

Transisi itu kemudian diawetkan dalam ritual kurban binatang dalam tradisi agama-agama Samawi.

Dalam konteks yang berbeda, tradisi kekristenan mengakhiri korban manusia dalam peristiwa penyaliban Yesus Kristus.

Namun mati dan tergantung di kayu salib adalah tindakan sukarela,pengorbanan diri. 

Tindakan pengorbanan diri untuk keselamatan kaumnya ini dalam tradisi gereja katolik diawetkan dalam misa atau ekaristi.

Sementara dalam tradisi umat muslim, upacara pengorbanan Abraham dikenang dalam perayaan kurban atau idul adha.

Dalam perayaan ini masyarakat muslim akan memberi korban berupa binatang mulai dari onta, sapi, kerbau,domba, kambing dan lainnya.

Idul adha atau hari raya kurban kemudian mengalami perluasan makna. Apa yang dikurbankan bukan hanya merupakan wujud ketaatan atas segenap perintah dan petunjuk dari Allah Yang Maha Kuasa melainkan juga menjadi bentuk ritual sosial.

Upacara korban adalah upacara berbagi, yang berkurban bersedia dan rela memberikan sebagian hartanya yang kemudian diwujudkan dalam hewan kurban untuk dibagikan kepada orang lain, terutama kaum miskin papa atau yang berkekurangan.

Pemberian itu merupakan bentuk syukur atas limpahan rejeki dari Yang Maha Kuasa. Karena rejeki merupakan pemberian dari Yang Maha Kuasa maka dalam rejeki itu ada hak orang lainnya, terutama orang-orang yang menderita.

Perayaan kurban kemudian menjadi bentuk ketaqwaan kepada Allah Yang Mahakuasa sekaligus ekpresi kepedulian terhadap sesama manusia. 

Dengan merayakan upacara kurban, iman diwujudkan dalam dimensi vertikal dan horizontal.

BACA JUGA : Mimpi Pak Presiden SBY

Ritual atau upacara kurban telah melewati sejarah panjang mulai dari ribuan tahun sebelum masehi.

Dari berbagai literatur dan kisah sejarah ada banyak catatan tentang laku pengorbanan yang tidak cocok lagi untuk jaman ini. Apa yang dulu diterima dan lazim sekarang menjadi bentuk kesadisan, tindakan tak manusiawi.

Dulu laku pengorbanan dianggap sebagai jawaban atau cara untuk mengatasi persoalan. Ada banyak fenomena yang waktu itu belum ditemukan jawabannya secara ilmiah.

Bencana misalnya kerap dianggap sebagai murka atau kemarahan dari Yang Kuasa. Kemarahan itu perlu diredakan maka diberi persembahan. Yang dipersembahkan tentu yang dianggap paling berharga agar setimpal dengan kemarahan, mengobati kekecewaan dan lainnya.

Seiring dengan kemajuan pengetahuan (sains) dan teknologi banyak upacara korban hilang atau menjadi tak relevan karena telah ditemukan jawab untuk berbagai fenomena.

Tak perlu ada jiwa yang dikorbankan lagi untuk menjaga terbit terbenamnya matahari. Tak perlu lagi mengorbankan kambing, kerbau dan lainnya untuk memanggil hujan. Rekayasa hujan bisa dilakukan dengan teknologi.

Apakah ini pertanda bahwa laku, ritual atau upacara korban akan hilang?.

Tidak juga. Secara esensial ritual kurban masih penting untuk peradaban manusia. Hanya bentuk, model maupun penghayatannya yang akan terus berkembang.

Karena pada akhirnya tindakan berkorban adalah wujud dari semangat altruisme. Sebuah kencenderungan asasi untuk membela kehidupan, bukan hanya hidupnya sendiri melainkan juga hidup orang lain.

Seorang berkorban karena peduli pada hidup dan keadaan orang lain. 

Ritual atau upacara korban adalah sebuah cara untuk memelihara dan menjaga agar altruisme bersifat universal, tidak bersyarat atau bersifat transaksional. Merayakan upaca korban merupakan bentuk ekpresi altruisme murni. Kepedulian yang tidak pilih kasih.

Soal apa yang dikorbankan, mereka yang peduli bisa mewujudkan sesuai tradisi atau kebiasaan. Namun juga bisa mengembangkan dalam bentuk yang lain sesuai konteks jaman maupun kondisi saat itu.

Yang pasti sesuatu yang dikorbankan atau dibagikan adalah yang berharga dari yang dipunyai. Bisa berupa materi maupun non materi asalkan mampu bermanfaat dan menyokong hidup yang lainnya.

Di luar konsep tradisi, spiritual dan religius, sikap mental yang diajarkan oleh GSSJ Sam Ratulangi bisa menjadi pengingat agar kita terus berbagi, berkorban untuk orang lain yang membutuhkan.

Beliau mengatakan “Sitou Timou Tomou Tou”, manusia hidup untuk menghidupkan orang lainnya.

Selamat merayakan hari kurban.

note : sumber gambar – myjewoshlearning.com