Sebenarnya dalam beberapa tahun terakhir ini kejadian mati listrik sudah jarang (sekurangnya di tempat saya tinggal).

Kalaupun mati biasanya juga tidak lama. Listrik biasa dimatikan jika di jalur alirannya ada kebakaran.

Pemadamannya juga tidak menyeluruh, hanya pada jalur distribusi tertentu. 

Maka ketika listrik mati pada hari Kamis siang yang lalu (Kamis, 27 Mei 2021) saya menduga karena ada kebakaran. 

Namun ternyata tidak. Listrik diberbagai penjuru mati. Ini berarti pembangkit listriknya yang dimatikan. Bukan jalur distribusinya. 

Dan benar terjadi listrik di shutdown karena ada gangguan dalam sistem transmisi jaringan. Dan gangguan sejenis ini butuh waktu yang lama untuk memulihkannya. 

Inilah salah satu kelemahan dari listrik apabila berada dalam sistem interkoneksi. Sebab begitu jaringannya terganggu maka semua pembangkitnya akan dimatikan.

Dan setelah masalah diatasi, listrik tidak bisa langsung bisa dialirkan karena beberapa sistem pembangkit terutama yang berbasis pada uap perlu waktu untuk mendinginkan, menghidupkan kembali dan menghasilkan listrik.

-000-

Membandingkan antara sistem interkoneksi dan terisolir (isolated) untuk kemudian menyimpulkan mana yang terbaik menjadi sulit.

Masing-masing sistem punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Apa itu sistem interkoneksi dan terisolir?

Dari sisi kebijakan energi listrik, pemerintah menetapkan sistem interkoneksi sebagai pilihan untuk pemenuhan kebutuhan listrik secara adil dan merata.

Diusahakan setiap pulau berada dalam satu jaringan. Hanya saja rencana ini baru terwujud di Pulau Jawa, bahkan kemudian meliputi Jawa, Madura dan Bali.

Sistem ini terdiri dari pembangkit listrik, gardu induk, jaringan transmisi tegangan tinggi (super tinggi) dan jaringan distribusi.

Dalam sistem interkoneksi akan terdiri dari berbagai pembangkit listrik (PLTA,PLTU,PLTG,PLTD) dan gardu-gardu induk yang dihubungkan dengan jaringan transmisi. Hubungan ini yang kemudian disebut interkoneksi.

Di dalam gardu induk kemudian akan terdapat subsistem distribusi. Sistem ini terisolasi karena tidak terhubung dengan sub sistem distribusi lainnya.

Nampaknya sederhana namun sebenarnya tidak. Ada banyak aspek teknis dalam jaringan. Ada alat untuk menaikkan tegangan, mengirim listrik dalam tegangan tinggi, menurunkan, menstabilkan, menjaga keseimbangan dan lain sebagainya. Agar tidak ada yang punya beban lebih sehingga memutuskan aliran.

Sementara yang disebut dengan sistem terisolir  hanya terdiri dari satu pembangkit dan kemudian didistribusi ke pelanggan. Tidak ada jaringan umum yang menghubungkan antara satu pembangkit dengan oembangkit lainnya.

Pembangkit pada sistem terisolir umumnya adalah PLTD, PLTG, PLTS, Mikrohidro, Kincir Angin, Biogas atau Biomassa.

Cakupan wilayah distribusi untuk sistem terisolir lebih terbatas atau kecil,pasokannya terbatas dan tarifnya bervariasi.

Sesuai dengan tujuan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan melalui industrialisasi maka pasokan listrik mesti tersedia dan terbagi rata. Dengan demikian sistem yang dikembangkan adalah jaringan atau interkoneksi.

Bagaimana dengan risiko mati listrik?. Dalam sistem jaringan jika terjadi kegagalan sistem maka yang mati listrik akan meliputi wilayah yang luas. Pemulihannya akan tergantung pada jenis pembangkit yang ada dalam jaringan. Namun umumnya berkisar sampai dengan 12 jam.

Sementara pada sistem terisolir selama kegagalannya bukan pada kerusakan pembangkit kemungkinan besar masalah akan cepat diatasi. Namun jika yang bermasalah adalah pembangkitnya maka lama tidaknya pemulihan akan tergantung pada kerusakan.

Jika parah maka mati listriknya akan lama sebab sistem terisolir tidak bisa memasukkan daya dari pembangkit lain. 

Hal mana berbeda dengan sistem jaringan, dimana jika ada pembangkit yang tidak berfungsi, pasokan listrik bisa tetap ada karena disuplai oleh pembangkit lainnya. 

Terkait dengan pemeliharaan pembangkit, dalam sistem jaringan pembangkit bisa dilakukan perbaikan atau pemeliharaan berkala swcara bergilir. Listrik tidak perlu dipadamkan seluruhnya. 

Sedangkan dalam jaringan terisolir perbaikan atau pemeliharaan akan membuat tidak ada layanan listrik terkecuali ada pembangkit cadangan.

-000-

Masalahnya geografis dan demografis di masing-masing pulau sangat berbeda.

Sistem jaringan tidak selalu bisa diterapkan secara efisien di semua wilayah. 

Di Jawa dengan tingkat kepadatan yang tinggi, permukiman yang sambung menyambung sistem jaringan interkoneksi bisa efisien. Baik dari penggunaan listrik maupun pemeliharaan jaringan.

Hal mana akan berbeda dengan kondisi di Kalimantan atau Papua misalnya. Sistem jaringan interkoneksi terpadu dalam satu pulau akan butuh biaya yang sangat besar. Dan dengan investasi yang sangat besar jumlah pelanggan potensialnya tidak sebanyak di Jawa, Madura dan Bali.

Di luar itu dengan kondisi alam dan infratrukturnya, ongkos pemeliharaan jaringan interkoneksinya juga akan sangat tinggi.

Luasnya wilayah dengan sebagiaj besar masih kekurangan inftastruktur jalan membuat pemeliharaan sulit untuk dilakukan. Banyak hambatan. 

Dan tanpa pemeliharaan serta pengawasan yang ketat, listrik dengan sistem jaringan interkoneksi sangat rawan gangguan.

Baik gangguan dari kondisi alam maupun gangguan karena kejahatan. Sebab tidak sedikit besi yang dipakai dalam tower jaringan transmisi tegangan tinggi atau super tinggi dipreteli oleh pencuri.

Alangkah konyolnya jika kemudian kita mengalami blackout akibat robohnya tiang-tiang penyangga kabel transmisi karena besinya diganyang oleh maling yang tak tahu diri.