Saya bukan termasuk generasi yang begitu lahir sudah menikmati listrik.

Listrik di kampung halaman mulai dialiri listrik dari rumah-rumah ketika saya duduk di bangku SMP.

Listriknya sudah 220 volt mengantikan listrik 110 volt. Tegangannya lebih besar, terasa sekali kalau kesetrum. 

Kesetrum listrik 110 volt terasa seperti digigit semut, lain cerita dengan yang 220, rasanya seperti tersedot dan setelah itu terasa kram. “Darah bisa kering habis,” begitu anggapan waktu itu.

Diawal perubahan rumah non listrik ke listrik, pemakaian berbesar listrik masih untuk lampu. Alat di rumah masih kebanyakan manual. Kalaupun ada yang cepat berganti adalah setrika, dari setrika arang ke setrika listrik.

Seingat saya pada masa itu listrik sering kali mati, tapi itu tak jadi masalah karena kalau mati di malam hari, di rumah masih ada lampu teplok dan lampu lain yang berbahan bakar minyak tanah.

Sementara kalau mati siang-siang malah tak menganggu sama sekal. Toh tak banyak hal yang butuh setrum. Apalagi waktu itu permainan saya dan teman-teman adalah naik sepeda, perang-perangan di kebun, cari belut di sawah atau mandi-mandi di sungai.

Perlahan-lahan jumlah perangkat listrik mulai meningkat. Salah satunya adalah pompa listrik untuk menyedot air dalam sumur.

Ember dan tali timba yang ditarik lewat kerekan dipensiunkan. Lubang sumur diberi penutup.

Jika bak mandi dan bak air lupa diisi dan kemudian listrik mati, maka mandi serta keperluan lain yang butuh air mesti ditunda.

Listrik padam mulai menimbulkan gangguan, hati bisa kesal.

-000-

Awal-awal tahun 2000-an, saat saya mulai tinggal di Kota Samarinda listrik masih kerap mota-mati.

Baik mati karena pemadaman maupun mati karena tidak cukup daya. Menghidupkan berbagai peralatan yang butuh listrik akan membuat sekring turun atau njeglek.  Terkadang listrik di rumah juga mati karena terjadi konsleting. Umumnya karena kabel colokan yang tidak diinstall dengan rapi.

Gangguan pasokan listrik dari PLN juga kerap terjadi pada masa tertentu. Pembangkit yang digerakkan dengan diesel sering kali tidak bisa dioperasikan penuh karena pasokan BBM yang terlambat dengan berbagai alasan.

Listrik yang mota-mati dan tegangan yang tidak stabil membuat beberapa alat elektronik mesti dilengkapi dengan stabilizer dan power saving.

Saking bermasalahnya listrik, dalam kampanye pencalonan sebagai gubernur periode yang kedua, Awang Faroek Ishak masih menjadikan isu mati listrik sebagai bahan kampanye. AFI berjanji mati listrik tak akan seperti makan obat, sehari tiga kali.

Waktu itu mati listrik memang bikin pusing, apalagi jika terjadi pada malam hari. Bukan karena penerangan, melainkan karena listrik harus tersedia untuk mengerakkan pompa air.

Ya, selain listrik air di daerah saya tinggal hanya mengalir di malam hari, itupun mesti dibantu dengan mesin pompa air. Tanpa disedot maka air tak akan mengalir. PDAM waktu itu identik dengan Perusahaan Daerah Angin Melulu.

Soal air sebenarnya listrik juga diperlukan saat hujan. Karena susah air maka saya menampung air hujan dalam drum-drum dari talang. 

Jika drum sudah penuh maka airnya saya pompa untuk diisikan di tandon. Nah, jika listrik mati air dari talang akan banyak yang terbuang sia-sia karena tak bisa dinaikkan ke tandon.

Sayangnya jika hujan deras dan berangin, listrik biasanya juga padam.

Seingat saya ‘reformasi’ listrik mulai terasa ketika PLN dipimpin oleh Dahlan Iskan. Padahal Dahlan bukanlah ahli listrik. Berlatar jurnalis dan pemimpin perusahaan penerbitan koran, ternyata Dahlan mampu merubah listrik yang menjengkelkan menjadi menyenangkan.

Saat itu menjadi jelas bahwa persoalan listrik adalah persoalan manajemen atau tata kelola.

Produksi listrik digenjot, pasang baru menjadi lebih mudah dan cepat, pun juga dengan menaikkan daya. 

PLN menjadi responsif. Berurusan dengan PLN tak lagi menyebalkan.

-000-

Listrik tak pelak menjadi kebutuhan energi utama masyarakat. Mati listrik bisa menimbulkan bukan hanya masalah di rumah dan jalanan melainkan juga ruang usaha serta fasilitas umum lainnya.

Dengan semboyan listrik pintar, PLN berusaha meningkatkan layanan. Tujuannya adalah emergi listrik digunakan seefisien mungkin dengan resiko seminimal mungkin.

Kini listrik bukan lagi pintar melainkan cerdas. Jaringan listrik menjadi jaringan pintar, bukan hanya mengalirkan setrum melainkan juga data dan informasi serta akses yang bisa dikendalikan dan diatur melalui perangkat digital dan selular.

Resiko mati listrik dan kecelakaan karena listrik bisa dikurangi. 

Hanya saja selalu ada resiko kesalahan manusia, kelalaian dan penyebab lain di luar kendali. 

Maka mota-mati listrik masih mungkin akan terjadi. 

Dan di Samarinda bahkan mati listrik bisa disengaja. Ini berhubungan dengan politik kebijakan.

Seperti mati listrik (dimatikan) di sepanjang tepian Mahakam. Kawasan tepian yang biasanya malam-malam menjadi tempat jualan dan nongkrong warga.

Konon dimatikan agar kawasan itu tidak lagi menjadi tempat jualan dan keramaian di malam hari. 

Akibatnya malam-malam tepian menjadi gelap dan sepi. Tidak ada lagi keramaian orang datang dan orang jualan aneka makanan dan minuman. 

Namun bisa jadi gelap dan sepi akan mengundang penjual lain, yang tidak jualan makanan dan minuman melainkan jualan narkoba, layanan seksual dan lain-lain.

Di manapun yang disebut sepi dan gelap akan mengundang niat serta perbuatan jahat.

Ini