KESAH.IDAda banyak kota mampu menyediakan layanan transportasi publik yang nyaman untuk warganya, bahkan ada yang gratis. Namun ada lebih banyak kota yang transportasi publiknya makin buruk dari hari ke hari karena ketidakmampuan pemerintahnya mengantisipasi pertambahan jumlah penduduk dan mobilitas warganya. Sebuah kota yang tak mampu menyediakan layanan transportasi publik yang baik akan semakin terpuruk tatkala tak berhasil juga menumbuhkan budaya jalan kaki pada warganya.

Kalau ada yang menanyakan apa aktivitas saya sehari-hari maka akan saya jawab ber-ternak. Dan biasanya mereka tak percaya jawaban itu, orang macam saya bisa berternak apa. Wong pagi-pagi saja sudah sering nongkrong di warung kopi sampai menjelang siang.

Mereka baru mengangguk-anggukan kepala ketika saya jelaskan kalau ternak itu artinya anter anak.

Ya setiap hari dari Senin sampai Jum’at saya memang mengantar anak pergi ke sekolah. Terkadang masih ada tugas tambahan, mengantar ke Mall atau ke rumah teman sekolahnya.

Bolak-balik setiap hari antara Batu Lumpang melewati jalan Juanda sampai ke halte depan SMAN 5 Samarinda lama-lama saya menyadari bahwa tak ada lagi anak yang pergi dan pulang sekolah naik kendaraan umum.

Sebagian anak sekolah diantar naik motor atau naik mobil, ada yang membawa motor sendiri dan ada yang menumpang transportasi online entah itu motor atau mobil.

Saya tak tahu persis sejak kapan anak-anak sekolah tak lagi menumpang angkot. Padahal setahu saya beberapa tahun lalu setiap kali jam pulang sekolah, di jalan depan sekolah jejeran angkot ngantri menunggu bubaran sekolah.

Nasib angkutan kota di Samarinda nampaknya memang suram. Padahal mereka pernah menjadi raja jalanan, memberi sumbangsih yang besar bagi warga yang hendak bepergian dari satu tempat ke tempat lain di dalam Kota Samarinda.

Saya sendiri termasuk jarang menaiki angkutan umum. Hanya sesekali saja saya menumpang angkot dari jalan Juanda ke Terminal Sungai Kunjang kalau hendak bepergian ke luar daerah. Namun saya juga pernah menaiki angkot dari Samarinda Seberang ke Tenggarong.

Ketika Angkutan Kota masih menjadi urat nadi penghubung antar wilayah di Kota Samarinda, upaya pemerintah untuk membuka ruang bagi layanan transportasi umum yang lebih baik dan privat yakni taxi argo berkali-kali ditolak oleh sopir angkot.

Meski begitu taxi argo pernah beroperasi juga di Kota Samarinda dengan ngetem di tempat-tempat tertentu. Namun karena argonya argo kuda, popularitas taxi argo surut. Taxi argo kemudian lebih melayani penumpang antar kota terutama penumpang pesawat dari Kota Samarinda yang hendak berangkat dari Bandara Sepinggan Balikpapan yang kini berubah nama menjadi bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepingan.

Sebagai kota utama di Kalimantan Timur, permukiman di wilayah Kota Samarinda terus berkembang. Wilayah hunian telah masuk ke bagian terdalam dari kota yang sebagian belum terhubung oleh jalur transportasi publik.

Angkotan Kota yang rutenya memakai abjab, hanya melewati jalan-jalan utama dan sebagian kecil saja jalan penghubung. Salah satunya adalah jalan KS. Tubun

Sebagai kota industri dan jasa, mobilitas penduduk Samarinda tinggi. Untuk itu setiap warga mesti mengusahakan transportasi privatnya sendiri. Umumnya adalah motor, sehingga indeks motor per kapita di Kota Samarinda tinggi. Rata-rata dalam satu keluarga ada lebih dari satu sepeda motor.

Seingat saya awal tahun 2000-an, keberadaan angkutan umum roda dua {ojek} begitu menonjol di Kota Samarinda. Di pinggir jalan terutama pertigaan atau perempatan selalu ada pangkalan ojek. Mereka ini yang berperan besar mengantar warga untuk pergi pulang melewati jalan yang tak dilalui oleh angkot.

BACA JUGA : Jokowi Lebih Dari Partai 

Dua Walikota Samarinda yang terakhir terus berupaya untuk meningkatkan kwalitas angkutan umum di Kota Samarinda dengan mengembangkan moda transportasi umum baru. Dulu ketika jaman deman Bus Transkota, di beberapa ruas jalan Kota Samarinda dibangun halte-halte baru. Kemungkinan besar untuk persiapan operasi Bus Trans Samarinda.

Namun dari saat pertama dibangun sampai sekarang halte-halte itu sepi dari calon penumpang. Bahkan lama kelamaan malah tampil sebagai infrastruktur yang terbengkalai.

Jalanan di Kota Samarinda yang sempit tidak cocok untuk mengoperasikan bus sekalipun itu bus mini.

Dan kemudian muncul rencana dari Pemerintah Kota Samarinda untuk membangun jalur kereta api. Rutenya bermula dari Bandara APT Pranoto Sungai Siring hingga Stadion Sempaja dan terus hingga Terminal Sungai Kunjang.

Tapi rencana masih tetap menjadi rencana, seperti banyak rencana lainnya yang tidak bisa dieksekusi dengan segera.

Sekitar tahun 2016, di Samarinda mulai mengaspal layanan transportasi umum yang berbasis online. Layanan ini disediakan oleh perusahaan start up nasional. Ada dua moda transportasi yang disediakan yakni kendaraan roda dua dan roda empat.

Di mulai oleh Gojek, layanan transportasi online atau lebih populer dengan nama Ojol ini kemudian berkembang. Kini selain Gojek, yang populer adalah Grab dan Maxim. Pernah ada aplikasi transportasi online lain yang berusaha masuk yakni Nujek namun kurang berkembang.

Layanan transportasi online ini bukan hanya untuk antar jemput penumpang melainkan juga barang dan makanan. Ibarat satu kali dayung dua pulau terlampaui, kehadiran layanan transportasi online bukan hanya mempermudah mobilitas warga melainkan juga mampu mengairahkan ekonomi utamanya barang-barang konsumsi.

Untuk urusan food delivery ini kemudian ada aplikasi lain yang mencoba peruntungan di Kota Samarinda yakni Shopee Food, yang mengkhususkan diri untuk pesan antar makanan. Namun nampaknya kurang berkembang, keberadaan perusahaan transportasi online yang lama sudah mencukupi untuk warga Kota Samarinda.

Sebab selain perusahaan transportasi online yang sudah mapan, di Kota Samarinda juga ada usaha kurir berbasis online lokal yang tetap eksis melayani para pelanggan.

Meski kehadiran transportasi online telah membantu mobilitas dan aktivitas warga Kota Samarinda namun dalam konteks sebuah sistem yang terintegrasi belumlah mencukupi. Sistem transportasi online diselenggarakan oleh pihak swasta yang tidak teregulasi oleh pemerintah. Mereka berada di luar kendali pemerintah sehingga sifat layanannya hanya bersifat cari untung.

Masyarakat sebagai pemakai tidak dilindungi haknya sebagai pihak yang mempunyai hak untuk mendapatkan layanan publik yang baik untuk memenuhi hajat hidup dan kesejahteraan.

Lagi pula jika semua menjadi serba online maka ada kelompok masyarakat yang tidak mempunyai akses padanya. Padahal prinsip layanan transportasi umum adalah ketersedian untuk semua tanpa kecuali, terjadwal dan ajek sehingga masyarakat tidak kesulitan karena ada banyak pilihan.

BACA JUGA : Anak Muda Memilih

Urusan transportasi publik ini yang tidak becus bukan hanya Pemerintah Kota Samarinda, ada banyak daerah lainnya yang bahkan lebih buruk lagi. Keberadaan transportasi publiknya tidak ada sama sekali.

Masyarakatpun punya cara sendiri untuk mengatasi, membeli kendaraan pribadi sebagai sarana untuk mobilitas setiap saat. Kini selain motor, kredit mobil juga dipermudah. Maka alih-alih membeli tanah dan rumah lebih banyak keluarga memilih membeli mobil terlebih dahulu agar aktivitas hariannya tak terkendala.

Populasi kendaraan pribadi meningkat tajam. Jalanan kemudian menjadi macet, bukan hanya banyaknya kendaraan yang lalu lalang melainkan tak sedikit kendaraan yang diparkir sembarangan.

Banyak rumah yang dibangun tanpa rencana untuk mempunyai kendaraan roda empat membuat mobil terparkir menginap di badan jalan. Deretan mobil yang terparkir ini membuat arus lalu lintas mulai tidak lancar sejak dari gang-gang.

Mengusung tagline Kota Pusat Peradaban, salah satu kegagalan dari Pemerintah Kota Samarinda adalah membangun budaya jalan kaki. Meski banyak trotoar dipercantik dengan keramik dengan macam model serta warna-warni, trotoar adalah bagian dari jalanan yang sepi pemanfaatan sebenarnya.

Bahkan di beberapa ruas jalan trotoar dilengkapi dengan bangku, tempat pejalan kaki bisa beristirahat atau duduk menunggu kendaraan umum yang lewat. Tapi lagi-lagi bangku itu merana, sepi orang yang mendudukinya. Mungkin hanya orang yang hilang jalan yang pernah menikmati keberadaan bangku diatas trotoar itu.

Di tengah malasnya orang Samarinda berjalan kaki, Pemerintah Kota Samarinda kini tengah membangun kawasan pedestrian atau kawasan pejalan kaki di Citra Niaga. Sebuah inisiatif yang bagus dan semoga kawasan itu nanti juga akan sebagus permodelannya yang disusun dengan software gambar di komputer.

Saya yakin ketika nanti diresmikan pasti akan ramai dengan orang berjalan kaki disana. Namun sekali lagi kawasan pedestrian yang tidak terintegrasi dengan layanan transportasi umum yang baik akan berpotensi menimbulkan masalah baru di tempat lain.

Mereka yang akan berjalan kaki ria di kawasan pedestrian pasti akan membawa kendaraan pribadinya masing-masing. Dan kendaraan itu akan diparkir di tempat parkir yang disediakan di luar kawasan. Jika tempat parkirnya tak memadai maka akan muncul tempat-tempat parkir baru di sekitar jalanan yang berpotensi menjadi titik macet dan keruwetan yang baru.

Jika begitu maka setelah keluar dari mulut singa ternyata kita jatuh ke mulut buaya.

note : sumber gambar – KALTIMPOST.JAWAPOS.COM