KESAH.ID – Akan mengakhiri jabatan periode keduanya sebagai presiden, kedudukan Joko Widodo dimata publik dan kekuatan politik justru semakin kuat. Joko Widodo menjadi satu-satunya Presiden Indonesia yang paling dihubung-hubungan dengan pemilu untuk memilih penggantinya. Dalam bayangan publik muncul anggapan presiden yang terpilih nanti adalah yang direstui dan diinginkan oleh Joko Widodo. Lalu siapakah sosok tersebut?.
Ketika berkampanye untuk pemilu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump gencar menjual gagasan “American First” dan “Make American Great Again”. Dan Donald Trump menang melawan Hilary Clinton yang menyepelekan omongan Donald Trump.
Donald Trump memenangkan pemilu bukan karena dirinya lebih baik dari Hilary Clinton, melainkan karena bisa menyakinkan masyarakat Amerika Serikat betapa berbahayanya jika negeri itu dipimpin oleh Hilary.
Kemenangan Donald Trump mengejutkan, banyak yang tak percaya. Dan benar dalam masa kepemimpinannya, budaya demokrasi yang dibangun oleh masyarakat Amerika Serikat selama berabad-abad berantakan.
Dalam pemilu berikutnya, Donald Trump pun kalah oleh calon yang tak lebih baik dari dirinya.
Calon Presiden dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto juga kerap menyampaikan gagasan tentang “Indonesian First” dan “Make Indonesian Great Again”. Prabowo menyampaikannya jauh sebelum Donald Trump menyebutkan hal yang serupa untuk masyarakat Amerika Serikat.
Terus berjuang untuk menjadi orang pertama di Indonesia, Prabowo menyebarkan gagasannya sejak mengikuti konvensi Golkar, mencalonkan diri sebagai wakil dari Megawati Sukarno Putri hingga bertarung dengan Joko Widodo dalam dua pemilu terakhir.
Trump berupaya mengobarkan nasionalisme Amerika lagi. Namun Prabowo jelas sudah nasionalis sejak lahir. Maka jangan heran jika Budiman Sujatmiko dalam konteks nasionalisme lebih memilih untuk melabuhkan harapan pada Prabowo.
Gagasan tentang Kejayaan Indonesia atau membangun Indonesia yang raya {besar} tercermin dalam partai yang didirikan oleh Prabowo. Nama partai itu sendiri sudah mewakili niat yang terpatri dalam dada Prabowo, Indonesia Raya. Maka partainya dinamakan Gerakan Indonesia Raya atau Gerindra.
Saat bertarung dengan Joko Widodo menjelang Pemilu 2019, Prabowo memuji pencapaian para Presiden Republik Indonesia dalam membawa kejayaan Indonesia. Dalam penilaian Prabowo, Presiden Pertama Indonesia Sukarno adalah pemimpin yang kuat, pemimpin yang terus mengobarkan semangat revolusi. Pengaruh Sukarno pada dunia juga kuat karena berhasil menggalang negara Asia dan Afrika.
Sukarno juga merintis Gerakan Non Blok pada era perang dingin. Pidato Sukarno juga kerap menguncang dunia, terutama di Sidang Umum PBB.
Pujian yang tak kalah tinggi juga diberikan oleh Prabowo kepada Suharto. Menurutnya Suharto mampu menstabilkan dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi, berhasil melakukan swasembada beras, dan yang terpenting mampu melakukan transformasi dari negara agraris ke negara industri.
Meski demikian Prabowo menyebutkan modal revolusi dan Pembangunan saja tidak cukup untuk mengembalikan kejayaan dan kebesaran bangsa Indonesia di milenium kedua. Arus demokratisasi yang kuat tak bisa dihindarkan. Gagasan tentang demokrasi harus menjadi modal untuk membangun kembali Indonesia agar menjadi adidaya dan jaya.
Reformasi menjadi tonggak itu. Dan Prabowo tidak menyebut peran Habibie sebagai presiden yang melakukan transisi transformasi itu. Padahal meski singkat, sumbangan Habibie terhadap amanah reformasi cukup besar.
BACA JUGA : Anak Muda Memllih
Yang disebut memberi sumbangsih pada transisi demokrasi adalah Presiden Abdulrahman Wahid dan Megawati.
Kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Prabowo menyampaikan bahwa SBY telah membuat perubahan-perubahan mampu dirasakan. Sebagian cepat dan sebagian lainnya terus tumbuh dan sedang berproses.
Semua Presiden yang disebut oleh Prabowo mampu meninggalkan jejak perubahan untuk Indonesia. Mereka memiliki kesamaan karakter yakni kepemimpinan yang kuat, kepastian hukum dan harmonisnya hubungan antar lembaga.
“Sesuatu yang langka kita temukan sekarang,” ujar Prabowo merujuk pada pemerintahan yang dipimpin oleh duet Jokowi dan Jusuf Kalla.
Jokowi yang akan menjadi lawan politik pada Presiden 2019 itu oleh Prabowo dianggap memimpin negara secara ugal-ugalan. Kebijakan negara sering kali dengan cepat direvisi atau dirubah hingga tidak mendatangkan kepastian, para menterinya tidak akur, saling tuding antar kementerian dan lembaga.
Akhirnya Pemilu Presiden 2019 yang menjadi salah satu pemilu terpanas dimenangkan oleh Joko Widodo. Dan melihat residu paska pemilu dimana terasa sekali masyarakat menjadi terbelah, Joko Widodo kemudian berinisiatif untuk merangkul Prabowo masuk dalam pemerintahannya agar situasi sosial politik mendingin.
Dengan alasan nasionalisme, kepentingan bangsa dan negara Prabowo pun bersedia. Dalam kabinet pemerintahan periode kedua Joko Widodo, Gerindra kemudian diberikan jatah menteri.
Perlahan, Prabowo kemudian menjadi “The Jokowi Man”, orang yang sangat loyal dan dekat bukan hanya dengan Joko Widodo sebagai presiden melainkan juga keluarganya.
Joko Widodo yang sering disebut sebagai Pak Lurah dan Petugas Partai itu ternyata piawai memainkan peran dalam melebarkan pengaruh kepada partai-partai. Jokowi berhubungan baik dengan hampir seluruh partai, bukan hanya partai yang ada dalam pemerintahannya.
Prabowo tentu saja masih menyimpan keinginan untuk maju kembali sebagai presiden dalam kontestasi Pemilu Presiden 2024. Berada dalam pemerintahan, Prabowo berusaha menyetir angin dengan baik.
Selama menjabat sebagai menteri, Prabowo Subianto tampil sebagai sosok yang cool, calm dan confidence. Tak berapi-api seperti dulu-dulu lagi.
Prabowo yang sebelumnya dikenal tak ramah pada media dan gagap bersosial media kemudian mulai sering kumpul-kumpul dengan para pemimpin redaksi. Dan Prabowo juga rajin mendekati dan bergaul dengan para influencer, termasuk kemudian memberi gelar Militer Tituler pada youtuber dan kreator konten paling terkemuka di Indonesia, Deddy Corbuzier.
Ketika aroma Pilpres 2024 mulai mengemuka, Prabowo Subianto kemudian masuk dalam peringkat atas calon presiden versi lembaga-lembaga survey. Dalam beberapa survey terlihat bahwa Prabowo Subianto adalah sosok calon presiden yang paling dikenal oleh masyarakat Indonesia.
Tentu saja wajar karena hubungan Prabowo dengan pemilu presiden memang dekat. Tidak ada satu sosokpun yang dihubungkan dengan kedudukan Presiden selain Prabowo.
Perjalanan Prabowo untuk berkontestasi dalam Pemilu Presiden dimulai dari konvensi Partai Golkar. Namun Prabowo tidak terpilih, kemudian Prabowo menjadi calon wakil presiden berpasangan dengan Megawati. Lagi-lagi kalah.
Dan kemudian Prabowo dua kali bersaing dengan Joko Widodo, namun juga kalah.
BACA JUGA : Messi 7 Laga, 10 Gol Dan 1 Gelar Juara
Perjalanan menuju Pemilu Presiden 2024 ini berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Sebab yang banyak dibahas menjelang pemilu 2024 bukan hanya capres dan cawapres, melainkan juga Presiden yang sedang menduduki jabatan, yakni Joko Widodo.
Pemilu 2024 ini seolah-olah akan dimenangkan oleh sosok yang direstui atau diinginkan oleh Joko Widodo. Saking aktifnya beraktivitas yang terkait dengan isu capres dan cawapres dalam pemilu 2024 nanti Joko Widodo sampai dibilang ikut cawe-cawe.
Paska pandemi Covid 19, Presiden Joko Widodo memang kerap mengendorse tokoh-tokoh tertentu untuk menjadi capres dan cawapres. Joko Widodo dianggap memberi angin pada sekelompok orang tertentu dan menghambat sosok tertentu pada sisi lainnya.
Perhatian terhadap pemilu presiden 2024 ada pada Joko Widodo. Pertemuan-pertemuan dengan para ketua partai dipandang sebagai cara Presiden mengkonsolidasi pemilu 2024 agar sesuai dengan keinginannya.
Dalam banyak hal Presiden Joko Widodo kemudian digambarkan mulai berseberangan dengan PDI Perjuangan, partai tempatnya bernaung dan mendapat penugasan sebagai petugas partai.
Dalam sejarah perjalanan Republik Indonesia, belum pernah sekalipun seorang presiden kaitan erat sekali dengan pemilu di akhir periode kekuasaannya. Baru Presiden Joko Widodo yang mampu menunjukkan pengaruh sangat kuat pada pemilu untuk memilih pengantinya.
Presiden Joko Widodo yang sering dianggap sebagai petugas partai itu ternyata pengaruhnya lebih dari partai. Sampai-sampai para ketua partai yang selama ini mendukung pemerintahannya menyebutkan kalau mereka akan maju sebagai capres jika mendapat restu dari Joko Widodo.
Mereka bahkan tak malu-malu menyebut diri sebagai orangnya Jokowi.
Situasi itu masih bertahan sampai sekarang. Dalam pandangan publik, Joko Widodo seperti tidak lagi mengendorse capres yang dicalonkan oleh partainya. Jokowi lebih condong ke kelompok yang menyebut dirinya sebagai the all president mens.
Apakah benar Joko Widodo mbalelo dan tidak lagi tegak lurus pada kebijakan PDIP?. Tak ada yang tahu.
Yang jelas belum ada surat peringatan atau pernyataan terbuka dari PDI Perjuangan perihal hal itu. Artinya Joko Widodo belum off side atau bahkan dianggap berkhianat seperti halnya Budiman Sujatmiko.
Entah endingnya akan seperti apa. Apakah akan seperti dugaan banyak orang bahwa Jokowi sedang memberi sein kanan tapi nanti akan belok kiri. Sekali lagi tak ada yang tahu. Semua hanya bisa menduga-duga dan menunggu.
Namun sekali lagi yang pasti pada hari ini Joko Widodo kekuatannya lebih dari sekedar partai.
note : sumber gambar ilustrasi – DETIK.COM








