KESAH.IDMilenial muda dan generasi z akan menjadi bagian terbesar dari pemilih pada pemilu 2024 nanti. Sebagai bagian dari bonus demografi, generasi ini mempunyai peluang besar sebagai mesin perubahan dalam praktek berpolitik yang nyaris tidak berubah meski sektor lain telah berubah secara drastik karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Pemilih pemula atau mereka yang lahir antara pertengahan 90-an hingga pertengahan 2000-an yang lazim disebut sebagai generasi Z terus menjadi sorotan. Darah muda mereka berbeda dengan darah muda yang waktu itu dinyanyikan oleh Rhoma Irama.

Yang disebut dengan orang muda saat ini layernya sudah berlapis-lapis. Mereka yang pada tahun 2024 nanti akan memilih untuk yang pertama kali akan menjadi pemilih pemula yang berbeda dengan pemilih pemula pada pemilu-pemilu sebelumnya.

Kini mereka yang disebut sebagai generasi Z ini adalah generasi yang unik. Mereka tumbuh dalam ekosistem digital yang makin canggih dan terhubung secara global lewat internet dan media sosial.  Model komunikasi dan pencarian pengetahuan lewat moda digital membuat mereka mempunyai wawasan yang lebih luas terhadap isu-isu politik, sosial dan lingkungan.

Meski terkesan sebagai generasi yang lebih individualistik karena kerap asyik dengan gadgetnya sendiri namun minat mereka untuk berkontribusi pada perubahan dunia cukup kuat.

Generasi ini sekarang menjadi sorotan terutama dalam kontestasi pemilu presiden 2024 nanti. Hampir tak ada calon presiden yang tak ingin merebut perhatian generasi ini. Selain jumlahnya besar, sebagai pemilih pemula dengan wawasan yang lebih luas, mereka mungkin bisa dipengaruhi dengan isu tentang perubahan iklim, kesetaraan gender, hak asai manusia dan keadilan serta nilai kemanusian lainnya.

Pada kelompok ini opini dan dukungan bisa digalang lewat komunikasi yang efektif dengan menggunakan platform dalam jaringan.

Karena asupan pengetahuan dan informasi mereka cenderung melalui platform digital, kelompok ini juga rawan menjadi korban hoaks. Pendidikan politik pada generasi ini mesti disertai dengan peningkatan literasi digital dan kemampuan untuk berpikir kritis agar dalam mengkonsumsi informasi tidak terjebak atau terperangkap dalam informasi palsu atau salah.

Dunia mengalami berbagai macam distraksi, namun politik relatif masih berjalan begitu-begitu saja tidak terlalu terpengaruh oleh perkembangan ITK sebagaimana pada sektor kehidupan lainnya.

Generasi muda sebagai generasi digital memiliki peluang menggunakan suara mereka untuk mengartikulasikan aspirasi guna mendorongkan agenda-agenda politik yang mewakili nilai-nilai dan kepentingan masa depannya. Agenda politik yang nir kolaborasi antar generasi tidak akan memperkaya dan memajukan praktek politik yang berkeadilan.

Atmosfir yang menunjukkan antusiasme generasi terkini untuk berpartisipasi dalam pemilu presiden sungguh mengembirakan. Bagaimanapun juga keterlibatan yang besar dari mereka menjadi penting untuk tonggak demokrasi yang inklusif dan berkelanjutan.

Generasi terkini, generasi milenial muda dan generasi z relatif lebih memiliki pemahaman yang mendalam tentang isu-isu, dan semangat untuk menghasilkan perubahan positif.

Generasi ini dapat menjadi kekuatan yang menentukan dalam membentuk perjalanan politik Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

BACA JUGA : Messi 7 Laga, 10 Gol dan 1 Gelar

Sikap orang muda terhadap Pemilu Presiden 2024 tentu berbeda-beda. Ada spektrum yang dilatari oleh kondisi sosial, pengalaman pribadi dan pandangan politik individu. Meski demikian dalam berbagai survei dan pengamatan para pakar, ada beberapa trend umum yang bisa diidentifikasi dari mereka.

Generasi milenial muda dan generasi z umumnya memiliki kesadaran politik yang lebih tinggi daripada generasi sebelumnya. Akses kepada informasi yang lebih baik, komunikasi yang luas dengan internet dan media sosial membuat mereka lebih terpapar isu politik, sosial dan lainnya. Mereka juga cenderung lebih aktif dalam mencari informasi tentang calon presiden, pandangan dan gagasan serta isu yang relevan dengannya.

Wawasan yang lebih luas dan interaksi serta komunikasi yang lebih mudah membuat generasi ini juga kritis terhadap informasi. Terbiasa menerima dan terpapar oleh informasi yang cepat dan beragam di dunia digital membuat mereka cenderung lebih kritis pada informasi. Kemampuan memilah dan dan memeriksa kebenaran informasi lebih tinggi daripada generasi sebelumnya. Namun tetap saja ada resiko percaya pada hoaks dan informasi palsu.

Anak-anak ini juga memiliki semangat unuk terlibat dalam kampenye-kampnye perubahan iklim, hak asasi manusia, keadilan gender dan keadilan sosial. Ketertarikan kepada aktivisme memungkin mereka untuk menitipkan aspirasi kepada sosok-sosok calon pemimpin yang mewakili nilai-nilai tersebut.

Milenial muda dan generasi z adalah sosok-sosok yang punya kekhawatiran terhadap masa depan. Bahwa politik terkadang kontroversial namun mereka menyadari bahwa suara mereka memiliki dampak yang penting pada kebijakan pemerintah terkait dengan masa depan mereka.

Sebagai orang muda, kesadaran dan perhatian mereka pada isu-isu kepemudaan juga tinggi. Masalah pendidikan, lapangan pekerjaan dan peluang ekonomi merupakan rencana yang ditunggu dari para calon presiden. Meningkatkan kualitas hidup generasi muda menjadi sebuah isu penting.

Meski demikian orang-orang muda ini secara individual dipastikan mempunyai pandangan yang beragam. Kesamaan dimungkin jika ada tren tertentu, mereka mudah berempati dan kemudian berkolaborasi jika ada isu-isu bersama yang menarik perhatian.

Sulit untuk mendapat keseragaman, hanya saja anak-anak muda ini semakin terampil untuk berada dalam keragaman. Diversivitas pandangan tidak membuat mereka tak bisa berkolaborasi. Tujuan tertentu bisa saja menyatukan berbagai kepentingan yang berbeda.

Namun yang paling penting sampai dengan hari ini belum ada suara-suara dari anak-anak muda untuk melakukan boikot pemilu atau mengkampanyekan golongan putih. Anak-anak muda antusias bicara pemilu, terutama pemilu presiden.

Partisipasi dalam demokrasi ini akan memainkan peran penting dalam membentuk arah politik dan masa depan Indonesia.

Penting untuk mengakui bahwa peran Generasi Z dalam politik di masa depan akan sangat bervariasi tergantung pada latar belakang, nilai-nilai, dan minat individu. Namun, sebagai kelompok yang terhubung, berpendidikan, dan memiliki semangat perubahan, mereka memiliki potensi besar untuk membentuk arah politik, sosial, dan ekonomi di masa depan.

BACA JUGA : Merdeka Dari Lubang Tambang

Separuh lebih pemilih pada pemilu 2024 adalah pemilih muda, pemilih pemula. Partisipasi dari generasi ini akan memberikan warna tersendiri pada aspek pemerintahan dan kemasyarakatan kedepannya.

Menjadi bagian dalam dinamika politik, aura hadirnya inovasi baru dalam cara politik dijalankan mulai kelihatan. Penggunaan teknologi dalam berpolitik akan membuat aktivitas politik semakin aman dan transparan. Pengetahuan politik dan peristiwa-peristiwa politik semakin mudah diakses melalui media sosial, kampanye politik berubah dan jejaring politik bertumbuh sebagaimana blockchain.

Dengan partisipasi politik kaum muda yang semakin tinggi, pergaulan global tidak hanya akan diwarnai oleh model politik luar negeri yang bebas aktif. Ikatan politik dengan negara lain tidak sekedar diwarnai oleh kepentingan politik dalam negeri melainkan kepentingan bersama seperti perubahan iklim, kemiskinan dan lain-lain. Konteks hubungan luar negeri akan menyentuh aspek kemanusiaan yang lebih dalam.

Membangun lingkaran pengaruh dengan internet, generasi z tumbuh menjadi pemengaruh lewat media sosial. Jangkauan mereka lebih luas, lebih fleksibel sehingga memungkinkan media sosial menjadi alat perubahan.

Konektifitas dan aksesibilitas akan membuat partisipasi para pemilih pemula menjadi lebih berkelanjutan. Mereka bukan hanya sasaran untuk mengumpulkan suara karena setelah pemilu mereka dengan mudah akan menjadi pemantau pemerintah, pengkritik pemimpin dan lainnya melalui media sosial atau plaform internet lainnya.

Hal penting lainnya, partisipasi aktif dari orang muda, kelompok milenial muda dan generasi z akan mendorong tumbuhnya budaya kolaborasi dan saling terhubung. Generasi ini punya potensi untuk bekerja secara lintas generasi dalam memecahkan masalah yang kompleks karena kelebihan mereka dalam memadukan perspektif tradisional dan perspektif inovatif.

Dengan semua kelebihan diatas para pemilih muda, generasi milenial muda dan generasi z pantas untuk menjadi tumpuan masa depan demokrasi di Indonesia. Sehingga praktek demokrasi tidak hanya identik dengan pemunggutan suara tetapi juga pengawasan dan pemantauan secara kritis terhadap praktek kebijakan serta kepemimpinan dari mereka yang memenangkan pemilu.

note : sumber gambar ilustrasi – BBC.COM