KESAH.IDBerapa jumlah kedai kopi di Samarinda, ada yang menyebut 200, tapi ada yang menyebut sampai 500. Kedai kopi sampai sekarang memang masih terus bertumbuh, peminum kopi bertambah. Lalu bagaimana membuat nilai tambah karena Samarinda bukan penghasil kopi. Kopi selalu didatangkan dari luar. Syukurlah muncul coffee roastery, salah satu yang bisa membeli nilai tambah. Karena kopi hasil gorengan mereka bisa dijual kembali ke luar daerah. Tentu masaih ada inovasi lain yang bisa dilahirkan oleh para Bubuhan Kopi Samarinda, agar ‘Kopi Samarinda’ makin punya nama.

Adakah Kopi Samarinda?. Fix, nggak ada. Yang banyak itu kedai kopinya, katanya sih lebih dari 300 an. Kalau nggak percaya cari dan hitung sendiri.

Kalimantan Timur memang tidak tercatat dalam sejarah kopi, tidak seperti Batavia, tempat kopi pertama ditanam dan Jawa Barat yang kemudian membuat java preanger mendunia. Kopi tanah Pasundan memang menjadi kopi terbaik di dunia pada awal abad ke 19, di Eropa mereka akan mengatakan ‘A Cup of Java’ kala mereguk kopinya.

Di Jawa Tengah ada Kopi Temanggung, di Jawa Timur ada Kopi Malang dan Kopi Banyuwangi. Sulawesi juga terkenal dengan kopinya, Kopi Toraja. Bali dengan Kopi Kintamani, NTT dengan Flores Badjawa, Papua dengan Kopi Wamena. Dan Sumatera dengan segudang kopinya mulai Kopi Gayo, Kopi Mandailing, Kopi Sidikalang dan lain-lain.

Kalimantan meski ada cerita kalau Sultan Kutai Kartanegara adalah pencicip kopi pertama, namun kisah kopi bukan kisah di wilayah ini. Kabarnya di masa Hindia Belanda ada konsesi untuk kebun kopi, namun tak berlanjut.

Kebiasaan minum kopi disertai duduk-duduk di warung mungkin diperkenalkan oleh masyarakat Thionghoa. Mereka merantau dari negeri China ke daerah-daerah pertambangan untuk berniaga dengan membuka warung kopi.

Di daerah dengan kebudayaan Melayu kemudian dikenal Kopitiam, perpaduan antara bahasa Melayu dan Hokkien yang artinya Warung atau Kedai Kopi.

Di Kalimantan Timur, warung kopi ini kemungkinan besar muncul di Sanga-Sanga dan Balikpapan.

Dari Sanga-Sanga kemudian ke Samarinda. Warung kopi mulanya berada di sekitar pelabuhan. Masyarakat Samarinda dulu mengenal istilah bahelam atau baelang, pagi atau sore pergi ke warung kopi untuk menikmati secangkir kopi sambil ngobrol kesana-kemari.

Di lihat dari jejak-jejak di kebun, sebenarnya masih ada kopi yang ditanam oleh warga. Di Lempake, Muang, Makroman, Tanah Merah dan lain-lain masih ada tanaman kopi yang dibiarkan begitu saja.

Dulu mungkin warga menanam untuk konsumsi sendiri, namun setelah muncul banyak kopi kemasan bahkan kopi instan mereka tak lagi mengolah kopi.

Sekian lama dunia perkopian di Samarinda diwarnai oleh Kopitiam, kedai kopi yang diusahakan oleh anak cucu perantauan dari China. Dari sekian nama, Ko Lim dan Ko Abun yang paling dikenal. Ko Abun bahkan pernah mendapat julukan ‘The Goodfather of Caffein’ dari sebuah flight magazine yang terbit di Singapura.

Jagat perkopian terus berkembang, muncul kedai-kedai kopi franchise yang menyajikan kopi berbasis espresso. Kopi yang umumnya disajikan juga di Coffee Shop hotel berbintang.

Dunia kopi belum semarak, pertumbuhan kedai baru masih lambat karena butuh modal dan biaya besar untuk peralatan.

Pertumbuhan kedai kopi menjadi tak terkendali setelah sekitar tahun 2015-an bermunculan kedai-kedai manual brewing. Namun era kopi adalah arabika ini tak lama karena segera disusul oleh gelombang baru yang disebut kopi kekinian, era kopi es gula aren.

Kini kopi klasik, espresso base, manual brew dan kekinian tumbuh beriringan, saling silang.

Ko Abun dan Ko Lim juga sudah menurunkan generasi berikutnya dengan munculnya Kedai Kopi Papalim dan Kedai Kopi Starbud, yang tidak hanya menyajikan kopi hitam dan kopi susu, tapi juga kopi krim dan lain-lain.

Kopi sudah jadi perbincangan sehari-hari, makin lama makin canggih. Ngobrol dengan para pegiat kopi bisa-bisa kita berpikir segelas minuman pahit itu kok rumit sekali.

BACA JUGA : Jalan Keramat

Samarinda sebenarnya mencatat beberapa pioner kopi. Namun ada nama-nama yang mungkin tidak di-mention oleh bubuhan kopi saat ini.

Yang sering dibincang oleh para pegiat kopi terkini pasti Slamet Prayoga, yang akrab dipanggil Yoga. Lulusan Fahutan Unmul ini memang lama mengeluti kopi, dia pemilik Malabar Mountain Coffee, perkebunan kopi di Jawa Barat.

Untuk bubuhan kopi Samarinda terkini, Yoga adalah Godfather-nya, tapi sekaligus juga good father yang tak pelit berbagi ilmu baik soal budidaya kopi maupun bisnisnya.

Tapi tak ada orang kopi Samarinda terkini yang kenal nama Sapuan atau oleh tetangganya akrab disapa Ateng.

Tetangganya menyapa Ateng berdasarkan sosok legenda pelawak yang terkenal di medio tahun 70 – 80 an.

Pak Ateng yang tinggal di Jalan Pahlawan 3, yang dekat dengan Pasar Segiri membeli biji kopi dari pasar itu. Biji kopi yang dijual disini umumnya berasal dari Sulawesi dan sebagian kecil dari beberapa daerah di Kutai Kartanegara. Salah satu yang disebut oleh seorang pedagang adalah Prangat.

Kopi itu disanggrai sendiri oleh Pak Sapuan dan kemudian diedarkan dengan sepeda yang dilengkapi dengan gilingan tangan.

Kompleks pabrik pengolahan kayu menjadi lokasi favorit untuk mangkal.

Dengan ketekunannya, kopi giling Pak Ateng ini laris dan berkembang. Hingga kemudian Pak Ateng bisa punya alat sanggrai yang digerakkan dengan bantuan mesin diesel. Kopi disanggrai dalam tong yang berputar. Alatnya bisa menyanggrai kopi hingga 60 kilo.

Dan distribusinya kemudian meluas hingga wilayah pelosok Kutai Kartanegara. Pak Ateng meng-kanvas kopinya dengan mobil boks.

Kopi bikinannya diberi merek KBA, Kopi Bubuk Asli. Tapi lagi-lagi warga sekitarnya menyebut sebagai Kopi Bubuk Ateng.

Namun kemudian datang serbuan kopi kemasan dan kopi instan yang dibuat oleh pabrikan-pabrikan besar. Kopi Pak Ateng lama-lama surut.

Dia menyebut biji kopi yang dijual di Pasar Segiri lama kelamaan juga memburuk jadi kualitas rasa tidak bisa dipertahankan lagi.

Pak Ateng tetap berusaha berjualan kopi, namun dengan mendatangkan kopi bubuk dari Jawa Timur. Kopi itu kemudian dikemas dalam plastik es. Dan diedarkan ke beberapa warung yang ada di sekitar Kota Samarinda.

Tentu saja kopinya bukan menjadi kopi yang utama. Pelanggannya makin berkurang karena generasi baru lebih mengenal kopi kemasan, kopi kekinian yang dijual di kedai-kedai atau kafe.

Satu persatu pelanggan kopi Pak Ateng berpulang.

BACA JUGA : Samar Kotak

Jaman memang berputar. Ada yang hilang dan ada yang datang.

Sapuan atau Ateng-Ateng baru muncul dalam wajah yang lain.

Berkembangnya kedai, rumah kopi atau kafe membuat kebutuhan kopi meningkat. Dan ini menjadi kesempatan baru untuk penyanggrai kopi.

Beberapa pegiat kopi kemudian melihat peluang bisnisnya dan kemudian memulai untuk menjadi coffee roastery.

Dengan mendatangkan coffee bean dari luar daerah, mereka kemudian mengoreng kopi di Samarinda.

Kalau tidak salah dulu ada Salman Coffee, lalu Kopikumana, Blackbird, Konus, Semenjana dan lainnya kemudian mengikuti. Memulai bisnis coffee roastery. Di kedai kopi Whynot juga pernah terlihat mesin penggoreng kopi.

Lalu muncul Rate of Rise yang jelas-jelas membranding diri sebagai Coffee Roastery dan juga Kael yang di kedainya terlihat kehadiran mesin penyanggrai kopi.

Kini ada salah satu coffee roastery yang sangat aktif yakni Triton.

Digawangi oleh Anthony Komala yang terbilang masih muda itu, Triton mengeliat dengan dinamikanya sendiri.

Berbagai event baik sendiri maupun kolaborasi digelar oleh Triton untuk mengedukasi masyarakat tentang kopi. Selain itu juga untuk meningkatkan ketrampilan para barista, peracik kopi.

Entah Toni dan teman-temannya yang masih muda-muda itu generasi keberapa dari Bubuhan Kopi di Samarinda. Yang jelas mereka membawa arus yang berbeda, obrolan mereka tentang kopi sudah bernuansa techscience.

Kopi memang salah satu minuman yang rumit kalau mau diperumit. Sejak dipanen lalu diolah ada proses panjang yang melibatkan teknologi dan sains untuk menghasilkan kopi yang terbaik.

Dan teknologi dan keilmuan tentang kopi terus berkembang dengan lahirnya berbagai inovasi, mulai dari pengolahan hingga teknik-teknik penyajiannya.

Samarinda memang bukan penghasil kopi dan mungkin memang sulit untuk menghasilkan kopi. Namun Samarinda bisa punya peran dalam dunia perkopian dalam bisnis kopi karena lini bisnis kopi memang panjang.

Lihat saja Italia, bukan negara penghasil kopi namun berhasil menjadi kiblat kopi karena mereka mampu meracik kopi yang superior.

Dari Italia lahir espresso, cappucino, caffe machiato, caffe latte, caffe ristretto, caffe lungo dan café doppio.

Amerika Serikat juga bukan penghasil kopi, namun dari sana berkembang hegemoni kopi lewat Starbuck.

Jadi kelak kalau ada Kopi Samarinda, mungkin itu bukan biji kopi yang dihasilkan oleh petani di Samarinda, melainkan kopi yang diolah atau diproses di Samarinda. Kopi yang disajikan dengan teknik saji dan algoritma rasa yang lahir dari Kota Samarinda.

note : sumber gambar – PRIBADI