KESAH.ID – Samarinda di jaman Hindia Belanda mungkin terlihat mengkotak-kotak. Ada blok-blok yang tercipta dari kanal dan jalannya yang belum sepanjang sekarang. Tapi kemudian setelah jaman merdeka, Samarinda berkembang secara organik bahkan mungkin ada yang menyebutnya auto pilot. Dulu orang Samarinda mengenal daerahnya lewat kluster jalan, hanya saja penamaan itu kemudian arkaik karena nama-nama jalan kemudian lebih banyak memakai nama pahlawan. Mulai dari pahlawan lokal sampai pahlawan nasional.
“Seperti kotak-kotak ya Samarinda di bawah sana,” ujar Ra menunjuk ke arah bawah bagian barat.
Waktu itu kami berada di atas bukit pandang, Bukit Steling dengan pemandangan mulai dari sisi sekitar Muara Karangmumus kearah Jembatan Mahakam Kota.
Garis jalanan memang seperti membuat blok-blok, mengkotak.
“Mungkin itu sisa-sisa warisan tata kota pada masa Kolonial Belanda,” ujar saya sekenanya.
Bisa jadi karena saya jauh lebih tua, maka Ra percaya saja.
Dari atas Bukit Steling atau orang kerap menyebutnya sebagai Gunung Steleng, wilayah Samarinda di masa kolonial bisa terlihat. Pada masa itu Samarinda merupakan Vierkante-paal, sebuah kawasan pusat pemerintahan lokal Hindia Belanda seluas satu pal persegi.
Area Samarinda sebagai pusat kedudukan dari asisten residen Hindia Belanda bermula di Sungai Karangmumus pada sisi timur atau hilir, hingga Sungai Karang Asam Besar atau Teluk Lerong di sisi barat atau hulu.
Wilayah kotanya berada di tepian Sungai Mahakam, pada perlembahan di bawah-bawah perbukitan pendek di Kelurahan Bugis, Kelurahan Jawa dan Kelurahan Teluk Lerong saat ini.
Karena berada di tepi air dengan sungai besar yang ramai dilayari oleh kapal niaga, Samarinda disebut sebagai Kota Bandar.
Samarinda bukan hanya kota yang menghadap atau berada di tepian air melainkan juga kota air. Kala hujan dan air Sungai Mahakam pasang, wilayahnya sering tergenang. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda kemudian menata Kota Samarinda seperti halnya Amsterdam. Dibuat kanal-kanal yang terhubung termasuk menghubungkan antara Sungai Karang Mumus dan Mahakam pada beberapa titik atau lajur.
Kanal-kanal yang saling terhubung selain berfungsi untuk mengatur dan menampung air, juga menjadi jalur transportasi yang bisa dilewati perahu atau kapal cukup besar.
Mungkin di waktu kemudian ketika populasi semakin besar dan permukiman baru bertumbuh, jalanan darat kemudian dibuat mengikuti alur kanal-kanal itu sehingga Samarinda pada wilayah bekas pemerintahan Kolonial Hindia Belanda samar-samar kelihatan mengkotak-kotak dari atas.
Pandangan dari Bukit Steling memang seperti CCTV, dari atas sini mulai bisa dipahami soal asal usul nama Samarinda yang konon berasal dari Sama Randah.
Dari atas bukit sambil memandang ke arah barat pada sisi Sungai Mahakam muncul bayangan bagaimana Samarinda Bahari. Konon sebelum disebut Samarinda telah ada beberapa kampung. Kampung yang terpisah-pisah, sebagian jaraknya cukup jauh antara yang satu dengan yang lainnya.
Baru kemudian pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengembangkan sebuah kota yang wilayahnya diapit oleh Sungai Karangmumus dan Sungai Karangasam.
Kawasan perkotaan ini berada di pinggir sungai, riverside city yang kelak diterjemahkan dalam slogan TEPIAN. Samarinda memang benar kota yang berada di tepian aliran sungai.
Konon dalam catatan sejarah, wilayah Samarinda yang memanjang antara Sungai Karangmumus hingga Sungai Karangasam itu lebarnya sekitar 500 meter dari tepian Sungai Mahakam.
Bisa dibayangkan pasti waktu itu sebagian besar berupa tanah rawa-rawa, ruang banjir atau tempat tangkapan endapan sedimen dari Sungai Mahakam.
Untuk mengelola air, mengatur genangan pemerintah kolonial Hindia Belanda kemudian membuat kanal-kanal. Penjajah memang sering membangun kota di negeri jajahannya mirip kota-kota di tanah air mereka.
Samarinda kemudian disebut Amsterdam Klein, atau Amsterdam mini.

BACA JUGA : Ngalah Ngalih
Tetapi benarkah Samarinda mengkotak-kotak, seperti selera kota-kota di Amerika yang tertata rapi memakai sistem blok?. Rasanya tidak, maka dalam perbincangan sehari-hari tak pernah terdengar obrolan yang menyebutkan jarak sekian blok. Tak ada pertanyaan “Berapa blok jarak antara Citra Niaga dengan Kantor Gubernur?”
Mungkin Samarinda justru dibangun lewat kluster, terutama pada penamaan jalannya. Ada jalan dengan kluster nama buah, nama sungai, nama danau, nama burung, nama ikan, nama alat musik, nama pulau, nama pohon dan lain-lain.
Beberapa kluster nama jalan kini juga sudah berubah, pengetahuan atau penyebutan antara orang bahari dan orang terkini atas sebuah jalan menjadi berbeda. Orang dulu misalnya mengenal dengan nama jenis unggas, orang kini mengenal dengan nama pahlawan.
Jadi fix Samarinda sebenarnya tidak mengkotak, tidak dibangun berdasarkan blok-blok.
Mungkin ini pertanda bahwa Kota Samarinda setelah pemerintahan Hindia Belanda berkembang dan bertumbuh secara organik.
Blok atau kotak-kotak kemudian lebih lazim pada wilayah perumahan.
Memang sulit untuk membuat penataan Kota Samarinda menjadi kotak-kotak. Sebab wilayah kota Samarinda mempunyai banyak bukit-bukit, konturnya menjadi tidak rata. Sulit untuk menarik garis lurus dalam membuat jalan. Sehingga ketika dipaksa ada banyak jalan dengan tanjakan dan turunan yang terjal.
Pemerintah Hindia Belanda konon membuat Samarinda terlihat kotak-kotak dengan garis berupa kanal-kanal untuk mengatasi genangan saat musim hujan dan air pasang.
Samarinda waktu itu memang berada di perlembahan dan dikepung oleh sungai. Sisi Selatannya adalah Sungai Mahakam, sisi timurnya Sungai Karangmumus dan sisi baratnya Sungai Karangasam Besar. Dan disisi utara berupa tembok, perbukitan rendah yang pada saat hujan akan mengalirkan air liaran ke sungai-sungainya.
Genangan bisa terjadi ketika air liaran belum masuk sungai, atau ketika air sungai meluap karena tak mampu menampung tambahan air dalam jumlah yang besar dalam waktu bersamaan. Dan surplus air akan semakin besar ketika hujan deras berpadu dengan pasang tinggi Sungai Mahakam. Air yang tumpah tak bisa masuk ke sistem pembuangan yakni Mahakam.
Nampaknya kesadaran Samarinda sebagai sama randah atau sama rendah kemudian memudar setelah jaman kemerdekaan.
Permukiman yang berkembang ke berbagai penjuru terutama pada anak-anak sungai Mahakam yang ada di Kota Samarinda kemudian membuat sama rendah makin parah. Masyarakat yang memilih bermukim di lokasi yang dekat dengan air baku merubah ekosistem sungai. Ruang sungai makin terokupasi sehingga mendangkal dan menyempit. Bahkan beberapa sungai seperti ‘menghilang’ karena tak cukup lagi terlihat sebagai sungai.
Wilayah genangan kemudian makin tahun makin meluas. Samarinda kemudian menjadi sama basah, calap dimana-mana.

BACA JUGA : Jalan Keramat
Tapi Samarinda indah kalau dari atas, ditatap dengan moda pandangan ‘mata burung’.
Gunung Steleng atau Bukit Selili menjadi tempat paling pas untuk melihat wajah Samarinda hari ini sambil menarik bayang bagaimana di masa bahari.
Dari atas Gunung Steleng, wilayah Samarinda di masa pemerintahan Hindia Belanda dahulu memang kelihatan jelas. Tentu wajah dan nuansa wilayah Kota Samarinda yang berada di tepian Sungai Mahakam dan diapit oleh Sungai Karangmumus dan Karangasam Besar kini sudah jauh berbeda.
Di bukit yang kini ada beberapa destinasi wisata pandang itu, Samarinda samar-samar memang indah. Tak heran jika ada seloroh, Samarinda berasal dari kata samar indah.
Entahlah, apakah yang dimaksud samar indah itu keindahannya samar-samar atau mulai tampak indah ketika sinar mentari mulai samar-samar menjelang malam.
Menjelang gelap Samarinda terutama di sekitar tepian memang indah. Air sungai yang tenang akan memancarkan pendar lampu yang mulai menyala. Sungai seperti cermin, yang memantulkan pemandangan di sisi-sisinya.
Keindahan itu semakin menyala terlebih ketika Samarinda mulai bersolek, membuat taman-taman di tepian sungai yang malamnya dihiasi lampu. Di malam hari Samarinda memang indah.
Di tepian dan di puncak-puncak bukit memandang keindahan Samarinda memang nyata.
Hanya saja memang tak selalu nyaman, sebab malam-malam di tepian atau di puncak bukit, badan mesti siap dengan cubitan nyamuk.
Hanya di siang hari, ketika mentari terang berderang, centang perentang Kota Samarinda bakal kelihatan. Bukit yang mengelilingi perlembahan kota yang ketika malam terlihat sebagai tembok, di siang hari kelihatan botak-botaknya.
Kota Samarinda yang berkali-kali mengalami booming penduduk, membuat permukiman kemudian merangsek ke perbukitan. Ada titik-titik permukiman padat diatas perbukitan. Yang membuat bukit-bukit tak lagi maksimal menjalankan fungsinya untuk menangkap dan menahan air.
Selain banjir, wilayah perbukitan dengan kemiringan yang ekstrim namun ditinggali juga punya potensi besar bahaya longsor.
Banjir, longsor dan kebakaran menjadi paket bencana yang lazim terjadi di Kota Samarinda.
Mungkin karena terlalu lama dibiarkan tumbuh organik, berkembang secara autopilot maka menjadi sulit untuk menata kembali Kota Samarinda. Penataan umumnya hanya dilakukan di permukiman-permukiman tepian sungai. Warga digusur dan sungai dinormalisasi.
Tapi penataan tak menyentuh kawasan-kawasan permukiman lainnya.
Dan masyarakat tepian sungai yang kerap dianggap menjadi salah satu penyumbang banjir, ketika mereka disingkirkan, dari tempat tinggal mereka yang baru ternyata bisa menyaksikan kalau pengorbanan mereka tak juga mampu membebaskan Samarinda dari banjir.
Kita mungkin lupa kalau penyebab banjir tidaklah tunggal.
Dan Gunung Steleng bisa menjadi tempat bagi para perencana proyek mengatasi banjir untuk ‘merenung’ dan ‘bertapa’ melihat Samarinda agar lebih paham apa yang membuat genangan di Kota Samarinda yang sudah coba diatasi dengan anggaran milyardan rupiah itu hasilnya belum sepadan.
note : sumber gambar – IG SUSUR GANG SAMARINDA








