KESAH.ID – Disana-sini mulai muncul ungkapan rasa kekecewaan warga atas kehidupan yang mereka alami sehari-hari. Kekecewaan tidak lagi dipendam dalam bentuk omelan, gerutuan atau keluh kesah di media sosial. Warga mulai mengungkapkan dengan tindakan, mulai ada perlawanan. Jika perlawanan dari berbagai kelompok muncul dimana-mana, Indonesia Gelap makin nyata. Jaman yang disebut oleh Ronggowarsito sebagai Kalabendu mulai tiba.
Tradisi kebijakan dalam budaya Jawa mengajarkan nrima ing pandum, menerima segala sesuatu yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa atau yang lainnya. Falsafah ini mendidik seseorang untuk menerima apa yang terjadi dengan lapang dada dan syukur.
Makanya orang Jawa sering bilang untung. Saat kecurian bilang untung yang dicuri cuma kompor, bukan dengan tabung gas, panci, waja dan lainnya. Atau ketika kecelakaan juga masih bilang untung, untuk hanya lecet saja. Dan untung-untung lainnya.
Oleh masyarakat lainnya, sikap ini dianggap sebagai inggah-inggih, mengiyakan saja apa yang terjadi. Sehingga kadang dianggap sebagai pasrah pada keadaan, atau bahkan ngalah pada tekanan.
Budaya Jawa memang tak mengajarkan bersifat reaktif. Bahkan atas segala keindahan, orang Jawa diajarkan untuk tidak gumunan.
Tapi benarkah orang Jawa ngalahan?.
Tidak juga bagaimanapun nrima itu ada batasnya. Apalagi kalau berhadapan dengan ketidakadilan.
Apa yang disebut nrima ing pandum itu ada pentahapan atau siklusnya.
Ngalah itu sikap pertama karena orang Jawa diajarkan untuk mengutamakan harmoni. Kalau masih bisa ditahan ya diam saja, atau tahan saja.
Namun jika masih terus terjadi, langkah berikutnya adalah ngalih, atau berpindah untuk menjauh.
Sudah berpindah kemudian masih saja ditimpa masalah, biasanya mulai terganggu sehingga ngesulo sendiri.
Jika yang digrundeli tak tahu diri maka tidak ada cara lain selain ngamuk.
Jadi urutannya adalah ngalah, ngalih, ngresulo dan ngamuk.
Kalau dipikir-pikir lebih dalam, rasanya siklus sikap atau reaksi seperti ini sebenarnya bukan khas masyarakat atau budaya Jawa. Rata-rata keutamaan tradisi di Nusantara mengajarkan hal ini.
Toh yang disebut sebagai kesukaan menjilat yang lebih berkuasa dan kaya merata hampir di seluruh wilayah nusantara.
Yang kaya dan berkuasa selalu ada di piramida teratas, jumlahnya tak banyak. Mereka dianggap sebagai segala-galanya. Untuk kebanyakan orang yang adalah orang biasa-biasa saja bahkan cenderung miskin, memuji-muji, mengancungkan jempol, selalu menggangap mereka benar menjadi cara agar ikut kecipratan nikmat hidup.
Setelah dipimpin oleh Joko Widodo dengan prestasi akhir yang agak mengejutkan, sebab biasanya presiden yang telah menyelesaikan dua periode kepemimpinan tingkat kepuasan masyarakat akan menurun. Tapi untuk kasus Jokowi, tingkat kepuasaan masyarakat ternyata tetap tinggi.
Tentu saja Presiden berikut yang dianggap sebagai penerus akan mewarisi hal itu.
Namun ternyata tidak, belum seratus hari kejiwaan masyarakat dengan cepat berubah.
Masyarakat tidak mudah untuk menerima begitu saja kebijakan atau langkah yang diambil oleh pemerintah.
Di masa-masa awal pemerintahan Prabowo, masyarakat sudah bergolak. Menolak ini dan itu, langkah yang coba dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah tertentu.
Kelompok mahasiswa yang sejak jaman merdeka selalu menjadi tonggak kekritisan pada pemerintah, menghadiahi Prabowo yang telah melewati 100 hari kepemimpinannya dengan Indonesia Gelap.
BACA JUGA : Pagi Sore
Hanya saja tingkat ketahanan masyarakat tidak sama. Ada sekelompok yang ngalah dan kemudian memilih untuk ngalih seperti tertangkap dalam tagar #pergiajadulu.
Hanya saja tak semua punya kesempatan untuk ngalih. Hingga sebagian kini mulai ngresulo.
Ngresulo adalah ungkapan keluhan bernada kekecewaan, benci pada keadaan atau mulai tak nyaman dengan keadaan. Penderitaan atau gangguan bukan hanya pada batin melainkan sudah terasa hingga ke fisik.
Sepertinya masyarakat sudah mulai ngresulo.
Para petani mulai ngresulo karena pupuk menghilang, kalau ada ternyata pupuk palsu.
Ibu-ibu dan pelaku usaha mikro juga mulai ngresulo karena gas menghilang, langka, kalaupun bisa diperoleh harus mengantri di agen-agen.
Dalam soal tata niaga, jika terjadi kekacauan pemerintah memang cenderung menyelesaikan dengan pendekatan birokrasi, kekuasaan.
Bukan dengan pendekatan yang makin memudahkan masyarakat. Maka dalam soal gas misalnya yang dimatikan justru para pengecer yang selama ini bisa memecah antrian di agen-agen.
Padahal dalam rantai keuntungan, para pengecer yang langsung berhadapan dengan warga bukanlah kelompok yang paling meraup untuk dari gas subsidi.
Tidak mungkin pengecer menumpuk gas, menahan-nahan gas agar harganya melambung sehingga seperti tidak disubsidi.
Karena omelan, gerutuan atau ungkapan kekecewaan masyarakat tak cukup mendapat tanggapan maka mulai terjadi perlawanan di sana-sini. Perlawanan memang masih bersifat mikro, artinya benar-benar dalam skala kecil oleh mereka yang tak tahan dengan keadaan.
Hanya saja perlawanan kecil tetap bisa memicu perlawanan besar ketika banyak yang lainnya merasakan hal yang sama.
Seperti kisah ibu guru yang dipolisikan karena dianggap memukul anak polisi di sekolah.
Ibu guru melawan dan perlawananannya didukung oleh guru-guru lainnya. Didukung oleh pengacara atau pembela hukum dan kemudian didukung oleh masyarakat luas.
Sekolah-sekolah yang mendukung ibu guru itu kemudian bersikap mereka menyatakan tak mau menerima anak polisi.
Guru-guru di Kalimantan Timur juga mulai melawan. Para guru di Kabupaten Mahakam Hulu mogok mengajar karena beredar dokumen Tambahan Penghasilan Pegawai {TPP} ASN yang dianggap tidak adil.
The power of emak-emak juga muncul di Kalimantan Timur. Ibu-ibu di Muara Kate lagi-lagi menjadi yang terdepan untuk melakukan sweeping dan menghentikan truk pengangkut batubara.
Perlawanan kecil-kecil ini berpotensi untuk menjadi perlawanan besar. Teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan perlawanan cepat tersebar, masyarakat dimanapun kemudian bisa ikut serta, mendukung dan memperluas perlawanan itu.
Jika perlawanan mikro yang bersifat sangat lokal namun kemudian terkonsolidasikan dengan perlawanan-perlawanan di daerah lain dan dilakukan secara serentak, dipastikan pemerintah akan kerepotan. Dan salah mengambil langkah, Indonesia gelap akan menjadi semakin nyata.
BACA JUGA : Migran Global
Pagi-pagi ketika menjalankan ritual nongkrong di kloset duduk sambil menghirup sebatang rokok murah yang dibeli dari Warung Daeng langganan, saya mulai teringat dengan kosmologi konsepan Ronggowarsito.
Tanda-tanda jaman Kalabendu atau masa kehancuran mulai kelihatan. Mahasiswa menyebut Indonesia Gelap, mungkin mereka menilai dalam konsep masa depan yang dihubungkan dengan konsep Indonesia Emas.
Namun jika dikosmologikan gelap bisa berarti kiamat.
Tanda gelap memang sudah kelihatan. Sejak awal pemerintahan, sudah terlihat kesulitan untuk memenuhi janji-janji yang tinggi itu. Pemerintah seperti kebingungan mengatasi masalah yang mana dulu. Sulit untuk membuat prioritas, karena masalah memang sudah berurat berakar. Akar masalahnya tidak lagi tunggal.
Seperti seseorang yang terkena kanker, kankernya sudah menyebar bahkan memicu kanker lainnya. Diamputasi saja tak cukup untuk menyembuhkan.
Kalau negeri ini dianggap sebagai tubuh, organ-organ pentingnya sudah diserang oleh jalaran akar-akar kanker. Organ utama hampir lumpuh, yang masih sehat hanya organ-organ yang tak penting hingga tak cukup menolong untuk menyelesaikan permasalahan.
Jaman atau keadaan kacau balau ini oleh Ranggawarsito disebut sebagai Kalabendu.
Namun Ronggorwasito mengkonsepkan kosmologinya sebagai sebuah siklus. Dimulai dari Kalatidha atau masa gelisah tanpa arah, kemudian masuk ke jaman Kalabendu atau masa kehancuran. Dan dalam konsep biologi atau kimia, kehancuran akan memunculkan material atau kehidupan baru, itulah jaman Kalasuba atau masa gemah ripah loh jinawi.
Kosmologi Ronggowarsito yang berupa siklus secara evolusi dilandasi pikiran positif. Bahwa evolusi akan berjalan menuju perbaikan, penyempurnaan.
Artinya seperti banyak nasehat lain, maka kehancuran dipandang sebagai pondasi untuk kebangkitan. Kegagalan adalah jalan untuk keberhasilan.
Haruskah kejayaan Indonesia atau Indonesia Emas dibangun dengan menghancurkan Indonesia lebih dahulu agar Indonesia baru lahir kembali?.
Jangan terlalu diambil hati, toh ini hanya hasil pikiran yang melayang-layang saat jam tubuh berbunyi karena yang bikin melilit perut mesti segera dibuang.
note : sumber gambar RRI








