KESAH.IDHastag #kaburajadulu terlihat seperti pararel dengan #indonesiagelap. Kabur menjadi sebuah pilihan untuk meninggalkan Indonesia yang dirasa tidak ada kesempatan yang lebih baik untuk masa depan. Meski ditanggapi dengan reaktif oleh para pembantu presiden, menyingkir dulu dan nanti kembali kalau Indonesia lebih baik ini agak membahayakan. Ada nuansa yang ingin pergi adalah kelompok menengah dan terdidik. Jika mereka enggan bertahan dan ikut menghadapi permasalahan maka nampaknya apa yang diharapkan oleh kebanyakan orang sulit untuk diwujudkan. Sebab yang tertinggal adalah kelompok menengah dan terdidik yang punya pilihan #dekatiistanadulu.

Satu fenomena sosial ekonomi yang dulu diajarkan oleh guru di sekolah dasar adalah urbanisasi, atau perpindahan orang dari desa ke kota.

Masyarakat perdesaan menganggap kota lebih menjanjikan untuk memperoleh penghidupan, kesempatan untuk merubah nasib lebih tersedia di perkotaan.

Karena kota selalu butuh sesuatu yang lebih banyak dari desa. Kota butuh pekerja, selain pekerja formal ruang untuk pekerjaan informal juga tak kalah lebar.

Dan desa tak menyediakan hal itu, sekolah tinggi-tinggi juga percuma karena tak ada pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi pendidikannya.

Maka selain urbanisasi, desa kemudian menjadi makin sepi dan kehilangan sumberdaya orang muda karena mereka yang sekolah sama artinya dengan pergi. Yang meninggalkan desa untuk sekolah di kota, umumnya tak kembali.

Kota-kota menjadi sesak, permukiman teramat padat, sampai untuk istirahat saja mesti bergiliran.

Pemerintah kota kewalahan mengatur pendatang yang sebagian tak dikehendaki itu.

Masalahnya setiap kali mudik, mereka yang merasa berhasil di kota kemudian membawa orang lain turut serta untuk mengadu nasib di kota.

Dulu Jakarta sering melakukan razia pada saat arus balik mudik, mencegah agar Jakarta tidak semakin sesak karena pendatang terus meningkat.

Tapi kini terjadi fenomena yang sebaliknya. Fenomena yang mungkin belum menjadi materi ajar dari guru-guru sekolah dasar.

Ada fenomena deurbanisasi, penduduk perkotaan kemudian merangsek ke wilayah pinggiran kota. Mereka lebih memilih untuk tinggal di desa atau kampung bukan di pusat-pusat kota agar hidupnya lebih tenang, nyaman dan lega.

Dulu kota disusupi orang desa atau orang kampung, kini desa atau kampung dirasuki orang kota.

Jika urbanisasi melahirkan kampung atau desa kota, deurbanisasi kemudian melahirkan kota  desa atau kampung.

Apapun itu yang jelas kota masih menjadi ukuran, wajah dan lingkungan kampung atau desa menjadi mengkota. Terjadi gentrifikasi atau masuknya orang-orang dengan kemampuan ekonomi dan kelas sosial yang lebih tinggi ke lingkungan yang udik, kurang baik atau tak tertata.

Dengan masuknya orang-orang baru itu, terjadi kenaikan harga lahan di wilayah itu, wajah lingkungan sosial dan tataguna lahannya juga berubah. Mereka yang sebelumnya lama tinggal di wilayah itu kemudian menjadi asing dengan daerahnya sendiri yang berubah. Dan jika kemampuan ekonomi tak meningkat, lama kelamaan mereka akan tergusur, tersingkir dan menjauh ke wilayah yang lebih pelosok.

Di jaman pemerintahan orde baru, mereka yang tergusur, tersingkir atau terperosok ini menjadi sasaran dari program transmigrasi. Mereka akan dimukimkan di permukiman baru yang dibangun di pelosok pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan lainnya.

Kini dengan semua kemajuan teknologi informasi, telekomunikasi dan transportasi, isu perpindahan dari satu tempat ke tempat lain sudah melewati batasan negara. Yang terjadi saat ini adalah migrasi global.

BACA JUGA : Ndasmu Mlocot

Trend migrasi global tidak semuanya merupakan inisiatif personal. Ada juga yang terorganisir dan legal. Kini ada banyak negara kekurangan populasi seperti Jepang misalnya. Mereka butuh sumberdaya agar ekonomi di kawasan tertentu tetap bergerak. Namun keterbatasan sumberdaya membuat mereka harus mendatangkan pekerja dari luar negeri.

Dalam kasus tertentu yang ditawarkan bukan hanya pekerjaan melainkan kesempatan untuk menjadi penduduk untuk meninggali wilayah tertentu yang mengalami depopulasi.

Nuansa lain dari migrasi global yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan sebagaimana viral lewat hastag #kaburajadulu menjadi sebuah arus baru yang mendorong orang untuk berpindah ke negeri lain.

Nampaknya perkotaan dengan semua kemajuannya termasuk sumberdaya manusianya kemudian dirasa tidak adil terutama untuk mereka yang punya kualifikasi baik atau bahkan tinggi. Mereka ternyata sulit masuk dalam orbit karena akses politik ekonominya rendah.

Anak-anak kota yang umumnya punya road map karier yang telah tertata, tiba-tiba mentok masa depannya di negeri sendiri.

Bisa jadi sebagian besar bukanlah anak muda yang berkekurangan secara ekonomi. Namun yang disebut pencapaian selalu merupakan ekpresi atau usaha dari diri sendiri, jadi mereka tak puas kalau bukan menjadi bagian dari produktifitas.

Hanya saja kesempatan untuk menjadi eksis terasa sempit. Nepotisme, korupsi, kolusi dan fenomena lain seperti ordal, dinasti membuat mereka frustasi. Maka tak ada pilihan lain bagi mereka selain pergi. Dan kepergian itu bernuansa menyingkir atau meninggalkan masalah, maka hastagnya #kaburajadulu.

Kabur aja dulu seperti sebuah keterpaksaan, pergi dulu sambil menunggu keadaan membaik lalu pulang. Ini adalah sebuah pilihan untuk tidak ingin melawan, bersifat pasif atas permasalahan dan kemudian aktif mencari alternatif baru.

Fenomena #kaburjadulu kemudian ditanggapi oleh para pembantu presiden. Ada menteri yang mengatakan mereka tidak nasionalis. Menteri lainnya mengatakan pergi aja, kalau perlu jangan kembali.

Entahlah kenapa para pejabat negeri ini cenderung reaktif dan kemudian tak memandang itu sebagai sebuah masalah.

Sikap ini jika diteorisasikan cocok dengan Teori Kuda Mati, sebuah metafor atau satir yang menggambarkan bagaimana mesin pemerintah atau negara, yakni para birokrat atau pejabatnya dalam menghadapi masalah yang jelas-jelas ada, dengan sikap yang abai. Alih-alih menerima kenyataan mereka justru mencari pembenaran dengan tudingan masalah lainnya.

Sudah jelas kudanya mati, tetapi masih membeli pelana kuda yang baru. Ada ketika kuda mati, penjaganya dipecat dan mencari penjaga baru.

Padahal sudah jelas kudanya mati. Bukannya mengubur dan menganti dengan kuda baru tetapi justru ropat-rapat untuk membahas kenapa kuda mati, siapa yang harus disalahkan karena kudanya mati, seolah kalau semua itu terjawab kudanya bakal hidup lagi.

Menganggap mereka yang memilih pergi aja dulu untuk membangun karir dan kehidupannya sebagai tidak nasionalis atau tak mencintai negeri jelas sebuah kesimpulan yang tergesa-gesa. Mereka bisa saja merupakan orang-orang yang cinta negeri ini tapi merasa kemampuannya terbatas untuk melawan keadaan.

BACA JUGA : Pagi Sore 

Siapa yang bisa melarang seseorang berpikir atau merasa tak ada harapan di negeri ini, tak ada masa depan, tak ada kesempatan atau bahkan tak ada yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan pencapaian hidupnya.

Dan diluar sana ada kesempatan atau masa depan cerah yang bisa diraih. Tentu tak salah untuk merebutnya dengan kerja keras dan usaha serta mengatur hidup dengan benar.

Maka keputusan #kaburajadulu mesti dihormati sebagai sebuah pilihan rasional.

Mestinya hal ini justru menjadi sebuah catatan, bahwa yang frustasi dengan masa depan kini bukan hanya anak-anak muda kebanyakan. Hastag #kaburajadulu kemungkinan besar lahir dari kelompok orang muda dalam lingkaran kelas menengah dan terdidik. Mereka sudah memperkaya diri dengan pengetahuan dan ketrampilan. Tapi yang mereka upayakan tak berguna, apa yang mereka punya tak bisa diekspresikan karena tak punya cantolan, koneksi dengan pihak yang berkuasa.

Mau bersaing dengan cara apapun mereka akan kalah. Daripada kalah dan mungkin malah disalahkan maka menyingkir, sejenak meninggalkan sambil menunggu iklim baik datang bukanlah sebuah pilihan yang bisa membuat mereka disebut pecundang.

Tak semua orang terlahir dengan DNA untuk melawan.

Terbukti hanya sedikit lahir lembaga atau kelompok yang menamai diri sebagai watch. Orang-orang atau sekelompok orang yang melihat masalah lalu memutuskan untuk melawan.

Dan benar mungkin negeri ini tak akan membaik dengan sendiri jika tak ada yang menuliskan hastag #lawanajadulu atau #tetapmelawan.

Jadi biarlah yang pergi tetap pergi, tetapi yang ingin bertahan dan tetap melawan juga harus didukung dengan sepenuh hati.

Bahkan mereka yang pergi bisa mendukung dari luar, bukankah perlawanan dari luar sering kali jauh lebih kuat dan didengar.

Tapi yakinlah arus hastag #kaburajadulu atau #lawanajadulu bukanlah arus yang utama.

Kebanyakan yang muda-muda dan berdaya akan terinspirasi oleh para senior atau kanda-kandanya.

Mereka pasti akan meniru jejak seniornya yang kerap bersabda “Kalau kamu merasa sistem sekarang ini bermasalah, masuklah dalam sistem dan perbaiki dari dalam,”

Dan pilihan para kanda itu terbukti benar, sekurangnya dengan cepat ada perubahan kesejahteraan dari dalam.

Kalau kemudian ada yang tanya berhasil atau tidak memperbaiki dari dalam, siapkan jawaban “Bagaimana mau memperbaiki kalau kamu masih nyeker,”

Lalu jika yang diberi tahu masih ngeyel dan terus mempertanyakan keberhasilan merubah dari dalam, sembur saja dengan kata-kata “Ndasmu, benjut”

note : sumber gambar – YOGYASEMARNEWS