KESAH.IDKopi identik dengan begadang karena dipercayai bisa mengusir kantuk apabila meminumnya. Sebenarnya bukan kopi melainkan senyawa yang terkandung didalamnya yakni kafein. Dan kafein tidak hanya ada dalam kopi melainkan juga teh, coklat dan jenis minuman lainnya. Namun kopi yang populer sebagai pencegah kantuk, sehingga orang tua biasanya melarang anak-anak minum kopi. Orang tua takut kerepotan kalau anak-anaknya tetap melek ketika waktunya tidur.

Selalu semangat kalau diajak lek-lekan. Dulu saya begitu.

Melek atau jagongan sampai malam memang menyenangkan. Begadang di rumah orang yang kedukaan atau yang sedang mau hajatan pasti aman urusan kopi dan rokok.

Maka ajakan pergi ke lek-lekan hampir tak pernah saya tolak. Pertama karena di rumah tak boleh minum kopi sesuka hati. Bapak dan ibu bilang, kopi itu minuman orang tua. Minum kopi nanti rambutnya cepat putih.

Ya, waktu itu kopi memang identik dengan minuman orang-orang tua, mbah-mbah yang sudah sepuh. Kopinya nasgitel, panas legi dan kentel.

Kalau dipikir-pikir larangan itu ada baiknya juga, biar anak-anak tidak kelebihan gula sejak kecil.

Nah, kalau ada kopi tentu ada rokok. Kopi dan rokok seperti tak terpisahkan.

Di lek-lekan biasanya orang-orang tua sedikit permisif. Tak ribut kalau ada anak-anak ikut rokokan. Jadi sayapun bisa klepas-klepus ngudut bebas bersama teman-teman. Yang penting rajin bantuin ini dan itu yang diperlukan oleh yang sedang kerepotan.

Mungkin waktu itu anak-anak dilarang minum kopi karena kopi bisa menyebabkan sulit untuk menutup mata. Kantuk jadi hilang sehingga anak-anak melekan, sulit memejamkan mata lalu rewel atau umek aja. Yang lain kemudian terganggu tidurnya.

Seingat saya menyuruh anak-anak tidur dulu hingga sekarang kerap menjadi tugas berat orang tua.

Orang tua memang senang kalau anak-anaknya tidur siang dan cepat tidur di malam hari.

Anak-anak yang tidak tidur dan klayapan serta begadang memang kerap bikin orang khawatir. Makanya para orang tua waktu itu sungguh mengemari lagu Rhoma Irama, Begadang Jangan Begadang.

Mencari alasan untuk begadang sungguh tak gampang. Mau pakai alasan belajar bersama juga agak aneh. Dulu saya sering memakai alasan mau pergi nyuluh atau mencari belut di sawah dengan obor agar bisa begadang dengan teman-teman.

Jaman itu belum ada listrik. Penerangan di rumah hanya memakai teplok, lampu berbahan bakar minyak tanah. Lampu pompa atau strongking hanya dinyalakan pada kesempatan tertentu. Biasanya juga tak lama karena boros minyak.

Maka begitu matahari surup, anak-anak harus masuk rumah. Waktu magrib adalah batas jam berkeliaran. Saat adzan magrib berkumandang semua mesti dalam rumah.

Saat matahari masuk dalam peraduan digambarkan sebagai waktu jin, setan, hantu dan berderet mahkluk halus lainnya keluar dari sarang bergentayangan.

Sayangnya energi anak-anak selalu masih berlebih. Ketika hari mulai gelap, energi yang masih tersisa sulit disingkirkan. Tapi orang tua sudah memaksa tidur. Tentu saja mata sulit untuk dipejamkan.

Di tempat tidurpun masih umek.

Dan itu menjadi gangguan untuk ibu dan bapak. Bagi bapak dan ibu, tidur atau istirahat adalah kemewahan setelah seharian berkutat dengan perjuangan hidup.

Kelak saya kemudian mahfum, kenapa dilarang minum kopi waktu masih kanak-kanak. Karena kopi bisa membuat saya begajukan di malam hari sehingga istirahat bapak dan ibu akan terganggu.

BACA JUGA : Goreng Marc

Kisah tentang kopi memang tak bisa dipisahkan dari penghilang rasa kantuk, bukan pada manusia melainkan pada kambing.

Adalah Kaldi, seorang pengembala kambing di Etiopia yang menemukannya. Dia memperhatikan kambingnya setelah memakan ‘buah beri’ menjadi sangat energik, terus berlarian kesana kemari tak beristirahat setelah kenyang.

Buah-buah itu kemudian dikantonginya dan dibawa pulang untuk ditunjukkan pada istrinya. Dari Kaldi buah itu kemudian dikenal oleh masyarakat di sekitar tempat tinggalnya lalu menyebar ke jazirah lainnya.

Mulanya kopi dikonsumsi dengan cara dimakan, biji kopi dihancurkan lalu ditambah minyak. Adonan itu kemudian dibentuk bulat-bulat lalu dimakan.

Kopi kemudian menyebar ke Arab. Mulanya dijadikan obat dan minuman seperti halnya anggur. Air panas disiramkan ke biji kopi yang sudah kering. Namun lama kelamaan kopi dipanggang dan rasanya lebih enak.

Dari Arab kopi kemudian menyebar ke Eropa.

Orang-orang Italia yang kemudian mengembangkan inovasi dalam konsumsi kopi. Di Italia pula kedai pertama kopi dibuka dan menjadi tempat berkumpul para para cerdik cendekia dan tokoh lainnya.

Popularitas kopi mulai menyaingi anggur.

Berkembang ke negara-negara lainnya, inovasi kopi makin berkembang. Kopi kemudian menjadi komoditas dunia dan menjadi bagian dari kolonialisasi. Hindia Belanda, menjadi salah satu wilayah perkebunan kopi yang jejaknya masih bertahan hingga sekarang.

Di Arab dan Eropa kopi pernah dilarang, diharamkan karena dianggap sebagai minuman setan. Sedangkan di Nusantara, larangan atas kopi dikenakan oleh kolonial Belanda. Masyarakat dilarang meminum kopi, karena kopi diibaratkan sebagai emas.

Karena larangan itu, muncul kebiasaan meminum kopi luwak, biji kopi yang keluar sebagai kotoran dari Luwak yang memakan buah kopi dan tak tercerna dengan sempurna. Selain itu ada juga kawa daun, minuman yang berasal dari seduhan daun kopi.

Ketika kolonial berakhir, kebiasaan minum kopi berkembang di kelompok orang-orang tua. Muncul larangan mengkonsumsi kopi untuk anak-anak. Larangan yang perlahan mulai surut beberapa tahun terakhir ini karena perkembangan bisnis dan inovasi kopi.

Kini kedai-kedai kopi justru dipenuhi oleh anak-anak muda. Nongkrong dan ngopi menjadi tradisi baru anak-anak muda jaman sekarang.

Kreasi minuman berbasis kopi menjadi sangat lebar, beberapa bahkan mungkin tak layak lagi disebut kopi.

Mereka yang nongkrong di kedai kopi bukan lagi melek karena minum kopi melainkan sulit memejamkan mata karena asyik main game.

BACA JUGA : Golkar Pasrah

Benarkah anggapan atau keyakinan banyak orang bahwa kopi akan membuat orang terjaga?.

Anggapan itu tidak salah, namun yang membuat terjaga sebenarnya bukan kopi melainkan kafein-nya. Dan kafein tidak hanya ada dalam kopi, tetapi ada juga pada teh, coklat dan lain-lainnya. Adanya kandungan kafein ditandai dengan rasa pahit.

Dalam tubuh manusia senyawa yang menyebabkan rasa kantuk adalah adenosine, kafein menjadi stimulant yang bisa menghambat kinerja adenosine receptor sehingga tidak mengantuk.

Kafein juga merupakan energizer, meningkatkan kerja psikomotor tubuh. Mengkonsumsi kafein bisa memberi efek fisiologis seperti mendapat energi tambahan. Lebih bertenaga dan bersemangat, rasa kantukpun terusir.

Efek kafein juga terbilang cepat, dalam waktu kurang lebih 30 menit sudah bisa dirasakan oleh tubuh. Dan kemudian bertahan cukup lama, 3 – 5 jam bahkan ada yang lebih.

Makanya tak heran jika mereka yang meminum kopi atau sumber kafein lainnya kemudian tahan begadang. Namun jika tak ingin begadang, mereka bisa mengeluh karena menjadi sulit tidur.

Namun tidak semua kopi mengandung kafein yang tinggi. Kadar kafein dalam kopi bisa diturunkan atau bahkan bisa dihilangkan. DI pasaran dikenal kopi yang amat rendah kafeinnya, dikenal dengan nama kopi decaf.

Menurunkan kadar kafein juga bisa dilakukan dengan teknik dalam penyeduhan. Beberapa teknik seduh manual yang menggunakan uap panas untuk mengektraksi kopi cenderung menurunkan kadar kafein dalam kopi.

Meski demikian tidak semua orang merasakan efek kafein secara sama. Masing-masing orang berbeda karena faktor genetiknya sendiri-sendiri. Ada saja orang yang tetap cepat ngantuk walau minum kopi karena tubuhnya mampu memetabolisme kafein dengan cepat.

Faktor lain yang mempengaruhi efek kafein terhadap tubuh adalah usia. Semakin tua usia seseorang, tubuhnya juga akan semakin sensitif pada efek kafein.

Kebiasaan meminum kopi atau minuman lain yang mengandung kafein juga mempunyai pengaruh pada efek kafein pada tubuh. Yang terbiasa meminum kopi dengan kafein tinggi lama kelamaan cenderung tidak terlalu merasakan efek dari kafein untuk mencegah rasa kantuk.

Terakhir biar tidak mengeluh karena susah tidur, usahakan jangan minum kopi saat dekat-dekat jam istirahat.

Kopi dalam banyak kebudayaan memang dekat dengan begadang atau melek-melek-an. Namun tidak hanya kopi yang bisa membuat orang terjaga.

Dan terbukti warung kopi yang buka 24 jam sekalipun jika diamati secara lebih dekat akan kelihatan bahwa mereka yang begadang dan melek sampai larut malam bahkan diri hari tidak selalu minum kopi.

Lebih-lebih di warung kopi kekinian, yang banyak terjual dan bikin untung pedagangnya malah bukan kopi. Begadang atau melek sesungguhnya tak lagi identik dengan kopi. Karena gadget dan wifi juga bisa membuat orang begadang dan melek semalaman, bahkan berhari-hari.

note : sumber gambar – CNN INDONESIA