Apa yang terbersit dalam pikiran ketika melihat seorang sutradara memimpin produksi sebuah film?. Ya sutradara nampaknya seperti raja, duduk di kursi sutradara, dipayungi, melihat monitor dan kemudian berteriak action atau cut.

Fatqurozi, kreator film yang bergiat di komunitas Samarinda Indie Movie mengatakan seorang sutradara memang harus dibuat enak. Sebab mood-nya harus dijaga, sebagai penerjemah skenario tertulis menjadi gambar yang hidup jika mood-nya rusak maka rusak pula filmnya.

Jadi jangan disangka kerja sutradara itu enak hanya duduk, melihat monitor dan mengatur-atur. Fatqurozi yang akrab dipanggil Oji mengungkapkan bahwa seorang sutradara harus mulai memutar otak dan mengembangkan imajinasi sejak film bermula dari ide hingga diedarkan. Dia akan mengatur dan menyelaraskan semuanya, mulai dari pemilihan pemain, pencahayaan, suara hingga bagaimana potongan-potongan film dirangkai menjadi sebuah cerita berdasarkan skenario.

Bicara film adalah bicara kehidupan. Apa yang disajikan dalam film bukanlah lakon yang biasa disajikan di panggung hiburan atau teater. Akting dalam film berbeda dengan akting dalam drama. Akting dalam film adalah berlaku sewajar mungkin sebagaimana terjadi dalam kenyataan hidup. Akting dalam film sering disebut bukan akting.

Dan bagaimana sebuah cerita film menjadi wajar seperti kenyataan semua itu berada di tangan sutradara. Visi artistik seorang sutradaralah yang akan menentukan keberhasilan sebuah film. Kejeliannya memvisualisasikan keadaan atau kenyataan adalah kuncinya. Jeli memilih menjadi kunci karena sebuah keadaan bisa disajikan atau divisualisasikan dengan seribu cara.

Mulai dari mana?

Seorang sutradara adalah orang yang paling tahu sebuah film dari tahapan pengembangan sampai distribusi atau ekshibisi. Untuk punya pengalaman dan wawasan yang luas tentang film, siapapun yang berkeinginan menjadi sutradara bisa mulai terlibat dalam sebuah produksi film sebagai apa saja.

Dengan pernah bekerja atau punya pengalaman dalam berbagai bidang pada produksi film, seseorang bisa akan lebih memahami bagaimana cara mengkoordinasi dan mengarahkan masing-masing untuk bekerja sama secara optimal.

Semakin sering terlibat dalam produksi seseorang akan bisa membangun kompetensi, visi kreatif dan nama sehingga bisa meraih kepercayaan untuk menyutradarai sebuah film. Namun bisa saja seseorang langsung menjadi sutradara, asal memproduksi filmya sendiri, film yang dibiayai sendiri atau diupayakan oleh dirinya sendiri.

Jika merasa sudah cukup punya pengetahuan, jalan untuk menjadi sutradara bisa dimulai dengan membuat film pendek. Film pendek bukan film panjang yang dipendekan. Istilah pendek tidak melulu soal durasi melainkan cerita yang lebih simple dan to the point.

Membuat sebuah film pendek akan memaksa seseorang untuk mengetahui dan mendalami semua aspek film baik teknis maupun non teknis. Termasuk di dalamnya bagaimana mengarahkan pemain agar bisa melakonkan peran sesuai dengan visi kreatif dan artistik sutradara.

Apakah dengan demikian seorang sutradara mesti merupakan orang yang ahli akting?. Tidak juga. Yang dibutuhkan seorang sutradara adalah kemampuan untuk mengarahkan pemeran mengeluarkan seluruh kemampuan dan memberikan wawasan juga dorongan sehingga pemain menjadi lebih paham akan apa yang diperankannya.

Berhasil membuat film pendek maka akan diperoleh modal untuk membangun nama atau identitas sebagai sutradara melalui berbagai model distribusi atau ekshibisi. Film bisa diedarkan atau dipertunjukkan lewat berbagai cara misalnya pemutaran keliling lewat komunitas-komunitas film, diupload ke berbagai situs berbagi video, diikutkan dalam berbagai festival film dan lain sebagainya.

Dan akhirnya agar referensi terus berkembang, rajin-rajinlah menonton dan mengkritisi film dan luangkan waktu untuk meningkatkan pengetahuan dengan mengikuti kursus atau pelatihan film, workshop dan lain-lain.

Membangun dan bergabung dalam komunitas film juga merupakan salah satu langkah yang baik karena di dalam komunitas kita bisa saling berbagi dan bekerja sama untuk menciptakan sebuah aksi atau karya kreatif. Sebab kita tidak selalu berada dalam situasi dimana apa yang kita inginkan sudah tersedia atau kita punya.

Fatqurozi, sineas dari komunitas Samarinda Indie Movie tengah berbagai pengalaman perihal produksi film pendek di Taman Wisata Graha Mangrove Bontang

*Artikel ini merupakan kerjasama pemberitaan antara Bidang Pengembangan Karya Seni Budaya, Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim dengan Borneo Corner/kesah.id dalam kegiatan Bimtek Pelaku Kreatif Videografer dan Fotografer di Kota Bontang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × 1 =