Perkembangan teknologi yang menghasilkan peralihan dari analog menjadi digital membuat dunia audiovisual menjadi kian semarak. Membuat video dan film jadi semakin mudah karena tak harus menggunakan kamera professional.

Film dengan sinematografi yang apik dan video sinematik bisa dihasilkan dengan menggunakan kamera smartphone. Kamera pada smartphone kualitas gambarnya mendekati atau bahkan setara dengan kamera foto maupun video.  Aplikasi editing audovisualnya juga tak kalah dengan aplikasi sejenis di PC maupun laptop.

Hadirnya smartphone dengan kualitas gambar yang tinggi membuat biaya produksi menjadi lebih terjangkau. Dan hasilnya ternyata tidak mengecewakan sebab film-film yang direkam secara penuh dengan smartphone ternyata laris di pasaran, contohnya film “Unsane (2018)” dan film “Snow Steam Iron (2017)”.

Di dunia musik, penggunaan kamera smartphone untuk merekam video klip jauh lebih banyak. Penyanyi terkenal seperti Lady Gaga, Justine Bieber, Selena Gomez, John Legend dan Eminem pernah membuat video klip berbekal kamera smartphone.

Perkembangan ini membuat film dan video semakin tipis perbedaannya. Banyak istilah yang lazimnya digunakan dalam film kemudian dipakai juga dalam produksi video. Sama-sama bermain dalam wilayah audio visual, film dan video sebenarnya berbeda.

Untuk menghindari timbulnya kekeliruan yang menyesatkan, Abdul Rahman Riski, seorang kreator film lulusan Institute Kesenian Jakarta yang kini lebih banyak tinggal dan beraktivitas di Bontang membeber apa itu film dari sisi elemen, proses atau tahapan dan profesi major dalam perfilman.

Melihat sejarahnya dalam industri film istilah sinematografi adalah merujuk pada sebuah disiplin ilmu yang dipelajari dan diterapkan oleh profesi sinematografer atau yang biasa disebut dengan DP/DoP (Director of Photography) dalam sebuah produksi film.

Sinematografi meliputi segala elemen visual yang akan ditampilkan pada layar ketika film ditayangkan. Elemen-elemen tersebut meliputi framingzoomingexposure, tata cahaya, komposisi, pergerakan kamera, sudut-sudut kamera, pemilihan film, pemilihan lensa, fokus, warna, penggunaan filter, dan depth of field. Produksi film awalnya menggunakan pita seluloid dan kamera film untuk menangkap serta menyimpan gambar.

Sementara video yang kemudian melahirkan istilah videografi muncul setelah adanya medium elektronik  untuk menangkap sebuah gambar bergerak yang berbasis digital. Kamera video adalah alatnya dan hasilnya memang dikhususkan untuk penayangan pada medium elektronik seperti televisi, internet dan peralatan elektronik lainnya.

Benar kini baik pembuat film maupun video menggunakan peralatan yang sama yaitu kamera digital dan menghasilkan medium yang sama yaitu klip-klip video. Namun film atau sinematografi tetap berbeda dengan videografi. Untuk sederhananya, video bisa dihasilkan sendirian tapi film tidak. Atau pembuat film pasti membuat video namun pembuat video tidak selalu menghasilkan film.

Bertutur dengan gambar bergerak

Film bisa diartikan sebagai sebuah cerita yang dituturkan kepada penonton melalui rangkaian gambar bergerak. Dengan demikian sesuatu dikatakan sebagai sebuah film bila mempunyai 4 elemen penting yaitu cerita, dituturkan,penonton dan gambar bergerak.

Dan untuk menghasilkan sebuah film diperlukan sumberdaya berupa tim yang terdiri dari berbagai profesi, peran atau bidang dengan tanggungjawab masing-masing. Sekurangnya ada 7 profesi major yang berkaitan dengan bidang dalam film.

Yang pertama adalah penyutradaraan. Seorang sutradara bertanggungjawab penuh atas sebuah film karena dialah yang akan merubah suatu karya tertulis menjadi karya sinematik yang artistik.

Kedua bidang produksi yang digawangi oleh produser. Produser bertanggungjawab terhadap jalannya proses pembuatan film mulai dari pengembangan ide hingga penanyangan. Produser mengurus kebutuhan mulai dari administrasi hingga kebutuhan artistik sebuah film.

Ketiga bidang penulis. Penulis cerita atau skenario adalah seorang yang berugas menciptakan ‘cetak biru’ dalam rupa kisah, jalan cerita, penokohan dan deskripsi visual. Apa yang ditulisnya nanti akan menjadi pedoman bagi seluruh bidang.

Keempat bidang tata kamera. Penata kamera biasa disebut dengan DoP/DP (director of photography), seseorang yang akan bertanggungjawab sebagai koordinator visual pada bidang kamera dan pencahayaan.

Kelima bidang artisitik. Penata artisitik adalah seseorang yang bertanggungjawab sebagai koordinator visual pada bidang artistik, apa saja yang nanti akan terlihat di depan layar yang bisa berupa property,cahaya,pewarnaan,kostum, setting latar dan lain sebagainya.

Keenam bidang tata suara. Penata suara bertanggungjawab untuk mengurus semua hal yang terkait dengan elemen aural atau suara, mulai dari dialog, ambience, narasi, music hingga sound effect.

Ketujuh bidang editing. Seorang editor bertanggungjawab untuk menjahir potongan-potongan film dan menggabungkan berbagai scene dan shot yang terpisah menjadi satu kesatuan cerita dengan mengacu pada cetak biru film atau skenario.

Ketujuh bidang itu akan bekerja baik bersama-sama maupun terpisah dalam setiap tahapan pembuatan film. Menurut Riski tahapan pembuatan film adalah pra produksi, produksi dan paska produksi. Namun proses itu masih bisa dipecah atau didetailkan menjadi pengembangan,pra produksi,produksi dan paska atau post produksi dan distribusi atau ekshibisi.

Dalam tahapan pengembangan, sutradara,produser dan penulis akan bersama-sama melakukan brainstorming, menggali dan mengembangkan ide cerita. Proses ini biasa juga disebut dengan triangle system.

Pra produksi adalah tahapan sebelum produksi yang meliputi penjadwalan, perekrutan kru, finalisasi skenario, pemilihan talent, latihan, pencarian lokasi, perijinan dan lain sebagainya.

Setelah pra produksi diselesaikan maka akan dilanjutkan dengan produksi atau pembuatan film di lapangan untuk perekaman audio dan visual.

Tahap selanjutnya disebut paska produksi atau post produksi. Dalam tahapan ini hasil produksi atau material mentah akan diolah untuk disatukan menjadi sebuah karya yang artistik dan dramatik.

Dan setelah editing film diselesaikan maka film kemudian akan didistribusikan atau diputar berkeliling.

Menjadi jelas bahwa membuat film tidak sesederhana membuat video. Seseorang tidak mungkin akan langsung bisa membuat film tanpa belajar baik di institusi pendidikan tertentu atau ikut terjun secara langsung dalam sebuah produksi film.

Pembuat film juga mesti seseorang yang menyukai film, suka menonton film dan menilai film. Tentu setiap orang mempunyai keterbatasan ketika hendak mulai atau berkeinginan membuat film, misalnya keterbatasan alat. Namun belajar membuat film tidak harus dimulai dengan mempunyai alat melainkan dimulai dari ide. Maka mengasah ketrampilan untuk menggali dan mengasah ide atau isi film merupakan langkah awal untuk mulai mewujudkan film sebelum mengasah dan menapak langkah berikutnya.

Sebuah film akan dimulai dari ide pokok (premis) dan tema. Ide pokok adalah satu kalimat permenungan yang ingin disampaikan oleh pembuat film kepada penontonnya. Sedangkan tema adalah permasalahan utama yang diangkatdari sebuah cerita. Tema paling tidak menjawab soal siapa dan bagaimana.

Ide pokok dan tema kemudian dikembangkan menjadi cerita dasar. Ini merupakan sebuah kerangka agar cerita tidak melebar kemana-mana. Cerita harus tetap fokus pada permasalahan utama, tidak bercabang atau menciptakan masalah baru. Dalam cerita dasar akan ditulis hal-hal terkait waktu dan tempat, tokoh utama, masalah utama, plot utama dan ending cerita. Cerita dasar ini biasanya hanya ditulis dalam selembar kertas.

Kerangka cerita kemudian akan dikembangkan dalam sebuah sinopsis yang didalamnya telah termuat sub plot, uraian masalah dan penyelesaiannya. Sinopsis ini biasanya sekitar 2 halaman.

Selain ditulis dalam bentuk sinopsis, ide cerita juga mesti ditulis dalam bentuk treatment untuk membuat alur cerita. Treatment akan memiliki informasi tentang setting dan deskripsi adegan juga deskripsi visual.

Dan terakhir semuanya dikembangkan menjadi sebuah skenario, sebuah tulisan lengkap yang memuat dialog,deskripsi visual dan suara yang lebih detail. Skenario inilah yang kemudian akan menjadi panduan bagi siapapun yang terlibat dalam pembuatan film. Panjang pendek, tebal tipisnya skenario akan menentukan durasi film. Biasanya satu lembar skenario identik dengan 1 menit durasi film.

Abdul Rahman Riski, sineas muda Bontang sedang menyampaikan tahapan development dan pra produksi film pada peserta bimtek pelaku kreatif videografer dan fotografer di Taman Wisata Graha Mangrove Bontang

*Artikel ini merupakan kerjasama pemberitaan antara Bidang Pengembangan Karya Seni Budaya, Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim dengan Borneo Corner/kesah.id dalam kegiatan Bimtek Pelaku Kreatif Videografer dan Fotografer di Kota Bontang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen + seven =