Film karya rumah produksi Racavana Films ini selesai dibuat pada tahun 2018 dan telah diputar pada berbagai kesempatan. Menyongsong HUT Kemerdekaan Indonesia ke 75 akhirnya diputuskan untuk mengupload film itu ke youtube agar bisa ditonton masyarakat luas.

Dan hasilnya dalam dua hari setelah diupload, film dengan judul Tilik meledak. Bu Tejo, salah satu karakter utamanya menjadi viral di media sosial. Trending dimana-mana karakter Bu Tejo yang mengucapkan kalimat “Dadi wong ki mbok sing solutip ngono lho,” meninggalkan kesan yang mendalam pada penontonnya.

Apa yang dicapai oleh Tilik sungguh mengembirakan dan memberi nafas baru untuk film-film pendek. Lazimnya film cerita pendek hanya dinikmati oleh penonton yang hadir dalam festival-festival film independen atau screening film yang diselenggarakan komunitas tertentu.

Dengan hadirnya platform berbagai video baik yang berbayar maupun gratis, film-film pendek yang diproduksi secara independen kini mempunyai ruang distribusi yang lebih luas dan mudah. Mendistribusikan karya melalui platform media sosial membuat sineas-sineas pemula mampu membangun nama tanpa harus berkeliling dari satu festival ke festival lainnya.

Ada banyak cara atau jalan membuat sebuah film menjadi viral. Salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah pembuatnya mesti memahami teknis pembuatan sebuah film.

“Jadi membuat film bukan sekedar hobi, tetapi mesti sesuai dengan kaidah-kaidahnya. Agar pesan yang disampaikan sampai dan disajikan secara menarik. Hal ini akan berujung pada karya yang akan viral,” ujar Sri Wahyuni, Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur saat membuka acara Bimbingan Teknis untuk Pelaku Kreatif Videografer dan Fotografer di Taman Wisata Graha Mangrove, Bontang pada hari Sabtu, 7 November 2020.

Sri Wahyuni yang didampingi oleh Lukman Junaidi, Kepala Bidang Pengembangan Karya Seni Budaya, Dispar Kaltim dan Bambang Cipto Mulyono, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Parisata Kota Bontang mengatakan bahwa acara bimtek ini digelar dengan harapan bisa mendorong lahirnya karya-karya yang luar biasa dari sineas Bontang yang akan diakui secara nasional.

“Dalam bimtek ini kami hadirkan narasumber yang bukan hanya punya pengetahuan melainkan juga pengalaman dan karya sehingga bisa mengispirasi dan menjadi panduan bagi sineas-sineas muda atau pemula sehingga paham tentang bagaimana memproduksi atau menghasilkan film,” lanjutnya.

Ruang belajar dan produksi bersama

Film adalah karya kolektif, oleh karenanya kreator film harus berjejaring dan saling komunikasi satu sama lainnya. Dan film sebagai sebuah karya juga bernilai ekonomis sebab film merupakan salah satu sektor unggulan dalam pengembangan industry dan ekonomi kreatif.

Momen pengembangan film untuk berkontribusi dalam dinamika ekonomi kreatif saat ini adalah waktu yang sangat tepat. Oleh karenanya untuk mengakselerasi diperlukan wadah atau ruang kreatif untuk para sineas muda dan pemula.

Sri Wahyuni menegaskan ruang atau wadah kreasi ini tidak mesti dimulai dengan membangun yang baru melainkan dengan memanfaatkan atau merevitalisasi apa yang sudah ada.

Gayungpun bersambut, Bambang Cipto Mulyono, Kadispopar Bontang menyatakan siap menjadikan kantor Dispopar sebagai wadah komunikasi dan kreatif bagi para pelaku industry dan ekonomi kreatif.

“Di kantor kami banyak ruang kosong, silahkan dimanfaatkan untuk kepentingan para pekerja seni,” ujarnya.

Antusiasme Bambang ini tak lepas dari peluang  untuk memanfaatkan kesempatan emas karena Ibukota Negara akan dipindahkan ke Provinsi Kalimantan Timur.

“IKN akan dipindahkan ke Provinsi Kalimantan Timur, jadi jangan sampai generasi millennial nanti akan jadi penonton saja. Jadi kita harus memanfaatkan kesempatan, harus menjadi bagian dan pelaku dari pembangunan tersebut,” tandasnya.

Selain mengucapkan terimakasih kepada Dinas Pariwisata Kaltim yang telah menyelenggarakan bimtek di Kota Bontang, Bambang berhadap agar pelaksanaan bimtek yang ditujukan untuk fotografer dan videografer muda dari Kota Bontang bisa terus berkelanjutan serta menghasilkan karya yang akan mengharumkan nama Kota Bontang.

“Semoga diakhir acara ini dapat terbentuk wadah bagi komunitas pegiat seni. Sehingga kedepannya akan memudahkan kami untuk memberikan dukungan dan melakukan pembinaan,” pungkasnya.

Pembukaan Bimtek yang ditandai pemukulan gendang oleh Sri Wahyuni, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim. Bambang Cipto Mulyono, Kadispopar Kota Bontang dan Lukman Junaidi, Kabid PKSB Dispar Kaltim turut mendampingi. Foto Yustinus Sapto Hardjanto, Borneo Corner/kesah.id

*Artikel ini merupakan kerjasama pemberitaan antara Bidang Pengembangan Karya Seni Budaya, Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur dalam acara Bimtek untuk Pelaku Kreatif Videografer dan Fotografer di Kota Bontang, 7 November 2020.