Lahirnya sebuah film yang baik tidak bisa lepas dari kehadiran seorang sutradara. Dia akan berlaku bak kapten dalam sebuah tim sepakbola atau konduktor dalam sebuah orkestra. Sutradara menjadi amat penting karena film adalah sebuah karya kolektif yang melibatkan banyak unsur.
Film sendiri saat ini merupakan medium yang paling pas dengan jaman untuk menyediakan panggung bagi anak-anak muda untuk eksis, membangun kompetensi sekaligus berkompetisi dalam jalur industri kreatif.
Dalam kesadaran itu, Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur mengadakan rangkaian kegiatan untuk mendorong tumbuhnya ekosistem kreatif yang mampu mewadahi para kreator film yang bertumbuh pesat di Kota Bontang.
Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah nonton dan diskusi film di Kantor Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kota Bontang pada hari Jum’at, 6 November 2020.
Dalam kegiatan yang dipandu oleh Awang Khalik, salah satu kepala seksi dari Bidang Pengembangan Karya Seni Budaya Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur diputar beberapa film cerita pendek karya sineas yang bergelut dalam komunitas film di Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara.
Acara nonton bareng dan diskusi film ini dibuka dengan sebuah film animasi pendek berjudul Irony karya Radeya Jegatheva yang berkisah tentang intusi teknologi dan media sosial dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Film yang dikreasi oleh remaja berumur 18 tahun ini lolos seleksi pada 168 festival film yang diselenggarakan di seluruh dunia dan memperoleh sebanyak 74 penghargaan.
Film berikutnya yang diputar berjudul Cahaya Kecil karya bersama sineas Samarinda dan Tenggarong. Film ini berkisah tenang hubungan percintaan yang berlatar perbedaan keyakinan. Mengambil momentum Festival Kota Raja, film ini menyajikan scene-scene gambar yang manarik dan langka. Pada kesempatan nonton dan diskusi ini hadir M. Septian Hidayat, fotografer yang adalah juru kamera pada pembuatan film Cahaya Kecil.
Dua film berikutnya yang diputar berjudul Pisau dan Gambaran yang diproduksi oleh Komunitas Indie Movie Samarinda. Fatqurozy atau biasa dipanggil Oji yang menyutradarai kedua film tersebut juga hadir untuk mengisahkan kisah dibalik pembuatannya.
Tian panggilan akrab dari M. Septian Hidayat mengatakan bahwa membuat film memang membutuhkan sumberdaya yang besar. Namun tak perlu menunggu semuanya tersedia untuk memulai.
“Film cahaya kecil itu hasil iuran,” ujarnya.
Oji pun menegaskan hal yang sama. Menurutnya menunggu semuanya lengkap sama artinya film yang diinginkan mungkin tidak akan pernah dibuat. Justru dengan keterbatasan alat, seorang film maker bisa semakin kreatif dalam memanfaatkan peralatan dan situasi yang ada.
“Cara belajar terbaik adalah belajar dari kekurangan,” tandasnya.
Berani memulai adalah kata kunci bagi seseorang yang ingin menjadi kreator film. Dan agar karyanya semakin baik seorang kreator harus terbuka atas kritik yang diarahkan pada hasil karyanya. Maka memutar film dan mendiskusikannya menjadi jalan utama bagi kreator film untuk meningkatkan mutu karyanya.
“Komunitas film adalah tempat kita menempa diri, belajar dan bertukar pengetahuan terutama untuk para kreator yang tidak mempunyai latar belakang akademis dalam bidang perfilman,’ lanjut Oji.
Pentingnya komunitas film kembali ditandaskan oleh Awang Khalik agar pemerintah sebagai fasilitator bisa lebih mudah berkomunikasi dan memberikan dukungan untuk pengembangan dunia film di Kalimantan Timur sehingga bisa menjadi salah satu sektor unggulan dalam industri kreatif di masa yang akan datang.
“Mungkin di Bontang sudah bermunculan komunitas-komunitas film, namun belum saling berhubungan satu sama lainnya. Semoga setelah ini akan terbentuk wadah yang bisa mempersatukan sehingga dunia perfilman di Bontang akan semakin berkembang,” tandas Awang saat menutup kegiatan.









