GIGO bisa merupakan singkatan dari garbage in, garbage out atau sebaliknya gold in, gold on. Artinya apapun itu, output akan tergantung pada input. Maka jika yang masuk sampah, sampah pula yang keluar, pun demikian jika yang masuk emas maka yang keluar emas pula.

Dengan semua kemudahan yang kita punyai saat ini dimana kebanyakan alat bantu sudah berwujud digital, menulis, memotret, merekam menjadi serba gampang. Coba ingat kembali jaman menulis masih memakai mesin ketik. Apa yang akan diketik pasti sudah ditulis di dalam kertas catatan. Mengetik adalah menyalin apa yang tertulis dengan tangan di lembar-lembar kertas draft atau kertas buram.

Ketika mesin ketik digantikan oleh komputer, kedisiplinan untuk menuliskan draft di kertas atau buku catatan perlahan hilang. Masih ada yang melakukan namun sebagian besar tidak. Tahapan atau persiapan dalam menulis kemudian terpotong. Kilah yang terkenal adalah nanti kan bisa diedit atau nanti editor saja yang memperbaiki.

Hal yang sama terjadi juga dalam bidang audiovisual yang perkembangannya justru lebih luar biasa. Kini dalam sebuah smartphone, apa yang dulu terpisah kemudian disatukan. Dalam genggaman satu tangan sudah ada alat rekam suara, rekam gambar dan rekam video.

Semua orang kini bisa membuat produk audiovisual dan banyak yang kemudian viral. Bukan karena kualitas gambar dan cara penyajian melainkan karena isinya. Isinya yang konyol, kontroversial, aneh, nyeleneh dan seterusnya.

Aplikasi olah suara, olah gambar dan olah video juga semakin ringan, tidak lagi perlu memakai PC atau Laptop dengan prosesor, ram, vga cards yang besar. Hanya dengan satu smartphone seseorang bisa mengambil gambar, menyunting dan memposting sekaligus.

Berani memulai

 Saat ditanya apa syarat bagi seseorang untuk bisa membuat film, M. Septian Hidayat seorang fotografer yang berpengalaman sebagai DoP (director of photography) pada berbagai film pendek produksi sineas Samarinda dan Tenggarong menyebut dengan singkat “Punya kamera,”.

Yang disebut punya kemera bukan berarti milik sendiri, kamera bisa saja pinjam atau bahkan sewa. Jawaban Tian demikian dia akrab dipanggil mau mengatakan bahwa kamera dalam sebuah film adalah alat yang vital karena dalam sinematografi dikenal istilah 5 C yaitu camera angle, continuity, cutting, close up dan composition. Kelimanya berhubungan dengan kamera.

Mengacu pada itu, meski kita punya kamera tak berarti kita langsung bisa bikin film sebab ada kaidah-kaidan atau kemestian sebuah produk audiovisual layak untuk disebut sebagai sebuah film. Bahwa kita bisa mulai dari membuat saja, bisa jadi itu benar sebagai sebuah semangat untuk maju dan berkreatifitas. Tapi membuat film perlu punya pengetahuan-pengetahuan dasar dan lanjutan tentang penggunaan kamera.

Pesan buat saja secara moral mengandung anjuran untuk belajar dan terus belajar mengasah kemampuan dalam menggunakan kamera. Hingga kemudian akan menemukan bahwa setiap gambar atau potongan gambar dalam sebuah film harus mengandung tujuan atau motif.

Jenis ukuran shot seperti extreme long shot, long shot dan medium shot, close up dan big/extreme close up adalah cara bagi kreator untuk menunjukkan lokasi, latar belakang tempat atau situasi, interaksi antara talent dengan situasi, reaksi atau suasana batin talent dan lain sebagainya.

Bagaimana sikap, perasaan atau detail lain dari talent diperkuat dengan posisi dan sudut kamera saat mengambil gambar (angle camera). Ada yang disebut dengan eye level atau kamera sejajar dengan mata, low angle dan frog eye atau kamera lebih rendah dari subyek, high angle dan bird eye atau kamera lebih tinggi dari subyek.

Dan film adalah sebuah cara menghadirkan realitas (buatan) dalam bentuk gambar hidup. Sebuah realitas selalu diwakili oleh subyek tertentu. Maka dalam setiap frame harus ada point of view, sesuatu yang ditonjolkan sehingga akan membuat siapa saja yang melihat bisa menangkap suasana yang diceritakan. Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang komposisi dalam menempatkan subyek pada frame gambar.

Realitas dalam film semakin dipertajam dengan gerakan kamera, gerakan yang disengaja seperti tilt up, tilt down, panning, follow dan lain sebagainya. Gerakan ini bukan guncangan karena kamera tidak stabil. Kemera mesti digerakkan secara stabil oleh karenanya diperlukan berbagai alat bantu seperti tripod, gimbal, dolly dan lain sebagainya.

Film pasti mempunyai rentang waktu yang ingin diceritakan dan semua tidak bisa ditampilkan karena akan memakan waktu. Maka akan ada potongan-potongan masa dalam sebuah film namun harus menunjukkan kesinambungan. Pengaturan warna menjadi penting disini agar film tidak terasa menjadi sebuah potongan gambar yang dipaksa untuk menjadi satu.

Untuk mendapatkan itu semua maka dalam pembuatan sebuah film kamera akan berganti-ganti lensa, mulai dari lensa tele, lensa wide dan lensa fix. Memaksa hanya menggunakan satu lensa akan membuat editor kekurangan bahan mentah dan membuat tugasnya jadi berat.

Sekali lagi yang perlu diingat dalam sebuah produksi film, berusahalah sekeras mungkin untuk mendapatkan bahan gambar yang terbaik. Jangan sekali-kali berkilah nanti kan bisa diedit. Tugas editor adalah memoles dan menyatukan gambar agar menjadi seperti yang diinginkan sebagaimana ditulis dalam skenario, bukan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas gambar.

Sepertinya mengambil atau merekam gambar untuk film jadi ketat sekali. Benar, namun masih terbuka peluang untuk berkreasi menghasilkan gambar-gambar indah atau biasa disebut beauty shot atau B roll, sebagai isian dalam sebuah film. Isian yang bukan sekedar tempelan melainkan untuk membuat film menjadi apik, artistik dan menarik untuk ditonton.

Narasumber mendapat kenang-kenangan dan berfoto bersama dengan Sri Wahyuni, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim

*artikel ini merupakan kerjasama pemberitaan antara Bidang Pengembangan Karya Seni Budaya, Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim dengan Borneo Corner/kesah.id dalam kegiatan Bimtek untuk Pelaku Kreatif Videografer dan Fotografer di Kota Bontang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five + 12 =