Hampir dua tahun ini dunia kompak menghadapi pandemi Covid 19. Meski sempat gelagapan diawal-awal, perlahan cara menghadapi kemudian terkonsolidasi. Masyarakat dunia umumnya menerima pembatasan gerak sebagai cara yang efektif untuk mencegah penyebaran sebelum vaksin dan obatnya ditemukan.

Dunia dipaksa berhenti oleh Covid 19, industri transportasi kemudian mati suri dan salah satu yang paling menderita kerugian adalah dunia penerbangan. Banyak maskapai tak mampu lagi menahan rugi sehingga dinyatakan atau menyatakan diri bangkrut.

Untuk bumi, serangan pandemi Covid 19 menjadi kesempatan beristirahat. Ada jeda dari hiruk pikuk sebelumnya yang membuat bumi menahan beban nan semakin berat.

Langit Jakarta sempat cerah tak terlihat diselimuti kabut asap. Warganya yang berdiam di rumah bisa menikmati pemandangan langit biru dari balik jendela. Kualitas udaranya juga membaik.

Apa yang dialami oleh Jakarta juga ditemukan di banyak kota-kota lainnya yang sehari-hari sibuk oleh pergerakan manusia dan mesin-mesin industri.

Hanya saja jeda hampir dua tahun tidak cukup untuk menghapus derita bumi karena tak mampu menahan beban keinginan manusia selama puluhan tahun. DI tengah pandemi, bencana banjir, tanah longsor, kebakaran lahan dan kekeringan masih terjadi di berbagai tempat.

Dan ketika pandemi mulai bisa dikendalikan karena vaksinasi massal di berbagai belahan bumi, Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa yang sebelumnya tertunda akhirnya bisa diselenggarakan kembali.

Mulai tanggal 31 Oktober hingga 12 November 2021, delegasi dari berbagai negara akan bertemu untuk melakukan konperensi di Glasgow, Skotlandia, Britania Raya untuk membahas perkembangan perubahan iklim dan menegosiasikan berbagai aksi atau tindakan untuk menanganinya.

Konperensi di Glasgow ini menjadi konperensi ke 26, yang menandakan COP telah dilaksanakan sebanyak 26 kali dalam rentang 27 tahun terakhir ini.

Meski telah berlangsung sebanyak 26 kali dan setiap kali penyelenggaraan selalu disertai dengan berbagai demonstrasi, namun ada banyak istilah yang jamak dipakai dalam membicarakan soal perubahan iklim belum juga menjadi pengetahuan yang populer di masyarakat luas.

BACA JUGA : Menarasikan Perubahan Iklim 

Apa saja istilah-istilah yang jamak dipakai dalam perbincangan soal perubahan iklim?

Emisi Nol Bersih dan Emisi Negatif

Net zero emissions atau emisi nol bersih adalah keseimbangan antara emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dengan yang dikeluarkan ke atmosfer. Untuk mencapai kondisi itu pemerintahan dari berbagai negara beserta kaum industriawan menyepakati upaya untuk menurunkan emisi serta mempertahankan kemampuan alam untuk menyerap karbon.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan penanaman pohon dan menjaga hutan sebagai paru-paru dunia.

Selain cara alami untuk menyerap karbon, rekayasa teknologi juga dikembangkan untuk menemukan alat yang akan menangkap karbon dan menyimpannya atau menyuntikkan kembali ke dalam bumi agar tak terlepas ke atmosfer.

Setelah pertemuan COP, negara-negara peserta biasanya akan mempunyai target untuk menurunkan tingkat emisi di negaranya masing-masing. Ada banyak negara yang telah berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih pada pertengahan abad ini. Dan negara-negara dengan komitmen rendah biasanya akan ditekan dalam COP.

Namun para ilmuwan menyebut bahwa menyelamatkan dunia dari perubahan iklim dengan emisi nol bersih tidaklah cukup. Para ilmuwan kemudian memperkenalkan istilah emisi negatif. Emisi negatif adalah situasi dimana jumlah gas rumah kaca yang dikeluarkan dari atmosfer lebih banyak daripada jumlah yang dikeluarkan oleh manusia pada periode waktu tertentu.

Penyerapan Karbon

Setelah pertemuan COP 4 di Denpasar, Bali mulai dikenal istilah dana iklim, perdagangan karbon dan lain-lain. Pemerintah dan elemen lainnya mulai antusias untuk mengakses dana iklim dengan cara menyediakan area, memulihkan lahan dan lainnya untuk penanaman pohon dan pengayaan vegetasi lainnya.

Hutan dianggap sebagai paru-paru dunia karena dapat menghilangkan atau menyerap karbon melalui kegiatan fotosintesis. Selain itu kawasan laut atau pesisir yang sehat juga akan menjadi penyerap karbon utama dengan aktor berupa fitoplankton. Tumbuhan ini akan menyerap karbon di dalam laut dan kemudian memproduksi oksigen secara besar-besaran.

Maka pelestarian hutan yang pada akhirnya akan bermuara bagi kesehatan pesisir dan laut menjadi salah satu langkah terpenting untuk mengurangi emisi.

Penangkapan dan Penyimpanan Karbon

Para pakar teknologi industri juga berkutat dengan emisi karbon untuk menghilangkan atau menahan dari atmosfer dengan cara yang tidak alamiah. Mereka berusaha menemukan teknologi untuk menyerap karbon secara langsung dari sumbernya saat mengekstrasi batubara, minyak bumi dan gas untuk menjadi sumber energi.

Teknologi untuk menyerap karbon terus dikembangkan untuk menangkap karbon diudara dan kemudian menyimpannya di bawah tanah atau dasar lautan. Konon saat ini sudah ada 27 fasilitas komersial yang beroperasi penuh diseluruh dunia untuk menyerap dan menyimpan karbon.

Dalam dunia pertambangan emas dikenal istilah submarine tailing disposal {STD}, sebuah cara membuang limbah tambang emas ke bawah lapisan termokline yang ada di kedalaman laut. Berada di bawah lapisan termoklin akan membuat limbah tersimpan di tempat itu, tidak menyebar kemana-mana.

Sedangkan dalam urusan karbon dikenal istilah carbon dioxide capture and storage {CCS}. Dalam proses ini karbon yang dihasilkan oleh pembangkit listrik misalnya akan dikumpulkan ke titik tertentu, dikompresi dan kemudian disimpan dalam formasi geologi dalam.

Kontribusi Yang Ditentukan Secara Nasional

Pada setiap pertemuan COP, delegasi dari masing-masing negara akan membuat rencana masing-masing untuk memangkas emisi gas rumah kaca. Rencana aksi ini akan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing negara termasuk juga berkaitan dengan bantuan atau dukungan dari institusi dunia dan negara lainnya.

Dalam Perjanjian Paris 2015 yang ditandatangani oleh hampir seluruh negara di dunia, setiap negara diberikan kebebasan untuk menentukan sendiri soal rencana aksi untuk memenuhi target menurunkan emisi sesuai dengan perjanjian.

Bagaimana menurunkan emisi yang disebut sebagai Nationally Determined Contributions  {NDC} ini akan diperbaharui setiap tahun dan diserahkan kepada PBB. Hanya saja tidak setiap negara mampu memenuhi rencananya dan tak sedikit yang gagal menyerahkan hasil kerjanya menjelang COP.

1,5 derajad

Salah satu aktor paling bertanggungjawab terhadap peningkatan suhu bumi adalah ekstraksi dan penggunaan energi yang bersumber pada fossil. Bertujuan meningkatkan produktifitas pada berbagai bidang, penggunaan energi fossil menjadi sangat berlebihan.Energi fossil adalah panglima ekonomi dunia.

Para ilmuwan mengingatkan bahwa jika rata-rata kenaikan suhu global diatas 1,5 derajad celsius diatas tingkat pra-industri maka akan ada banyak dampak dan kejadian buruk di muka bumi.

Negara-negara penandatangan Perjanjian Paris sepakat untuk membatasi peningkatan suhu global hingga jauh dibawah 2 derajad. Namun nyatanya kebanyakan melanggar komitmen ini. Banyak negara tidak memiliki rencana kongkrit ke depan untuk memenuhi kewajiban di bawah Perjanjian Paris.

Keanekaragaman Hayati

Indonesia selalu merasa diri sebagai negara super dalam urusan iklim karena kekayaan sumberdaya hayatinya. Yang disebut dengan keanekaragaman hayati adalah keseluruhan sistem hidup baik di darat, udara maupun di air.

Perubahan iklim akan mengancam keanekaragaman hayati ini namun keanekaragaman hayati sekaligu juga jadi senjata untuk menghadapi perubahan iklim jika dijaga kelestariannya.

Pola pembangunan dan ekonomi masyarakat dunia saat ini membawa tantangan dalam menjaga kekayaan dan kelestarian keanekaragaman hayati akibat konversi lahan, penghilangan habitat, polusi, sampah plastik, pestisida dan lain-lain.

Kesepakatan dan pengetahuan bahwa harus ada area yang dicadangkan untuk melestarikan sumber daya keanekaragaman hayati tidak selalu bisa dipenuhi, kekayaan yang kerap dipuja-puji pada akhirnya sering dikalahkan oleh kepentingan ekonomi dan politik.

Seorang menteri yang mestinya menjaga hutan bahkan mewanti-wanti agar apa yang diupayakan oleh Presiden Jokowi lewat pembangunan besar-besaran tidak boleh ditunda atau dihentikan karena alasan emisi serta perubahan iklim.

BACA JUGA : Isu Iklim Nggak Seksi di Mata Partai Politik