Ini cerita lama, sebut saja Si Agus yang kuliah di luar kota dan kemudian mengirimi ayah ibunya selembar foto sebagai tanda kebanggaan.

Sebulan setelah Agus mengirim foto, kiriman dari kampung halaman macet, ayah ibunya tidak mengirimkan uang untuk ongkos hidup sehari-hari saat menuntut ilmu.

Agus memaklumi dan belum berniat menanyakan mengapa kiriman tidak tiba.

Bulan berikutnya kiriman juga tak tiba, Agus masih memaklumi. Namun ketika pada bulan ketiga tidak ada juga kiriman dari ayah ibunya, Agus segera menghubungi ayahnya untuk bertanya mengapa.

“Lho bukannya kamu sudah menjadi tentara, kenapa masih minta kiriman uang?”

Begitu jawaban bapaknya keheranan ketika Agus bertanya kenapa genap tiga bulan ayah ibunya tak lagi mengirimi uang.

Sontak Agus menepuk jidatnya sendiri, ternyata foto dengan baju Resimen Mahasiswa menjadikan ayah ibunya salah sangka.

Memang untuk yang tidak paham, penampilan Menwa seperti tentara. Sebelum jaman reformasi, menjadi Menwa memang keren karena mempunyai Pos Menwa di setiap universitas.

Menwa sendiri merupakan warisan dari jaman pemerintahan Presiden Sukarno. Yang karena kekacauan politik di berbagai daerah lalu menetapkan status darurat perang. Tentara kemudian mempunyai program Wajib Latih {Wala} untuk para mahasiswa.

Memang tidak disebut sebagai Wajib Militer atau Wamil, namun tetap saja pelatihannya serupa dengan tentara.

Di jaman Tri Kora, program Wala ini diperluas hingga kemudian terbentuk Resimen Serbaguna Mahasiswa/wi hingga kemudian disebut sebagai Resimen Mahasiswa {Menwa} saja.

Dulu Menwa dibentuk dalam suasana atau atmosfir adanya ancaman perang atau kekacauan. Namun kini ancaman perang telah berubah, perang tak lagi soal berhadapan dengan senjata. Perang sekarang sudah asimetris sehingga tak melulu butuh lascar yang siap maju bertempur di medan perang dengan memikul senjata.

Maka agak mengherankan jika masih ada Menwa di sebuah universitas dan terus melakukan ‘perponcloan sipil’ yang kemudian memakan korban.

Bayangkan, mahasiswa adalah orang-orang muda calon intelektual namun masih saja mengemari kegiatan ‘petentang-petenteng’ dengan seragam ala-ala laskar seperti Indonesia dalam keadaan siaga atau siap perang.

Padahal perang sesungguhnya generasi muda saat ini justru ancaman kehidupan di masa depan yang jelas-jelas akan buruk andai perubahan iklim atau pemanasan global tak bisa dihentikan.

BACA JUGA : Isu Iklim Nggak Seksi di Mata Partai Politik 

Dari berbagai survey jelas terlihat bahwa sebagian besar generasi muda mempunyai keprihatinan terhadap dampak dari perubahan iklim.  Mereka umumnya menilai perubahan iklim merupakan isu darurat.

Ada kekhawatiran yang besar diantara kaum muda akan kondisi lingkungan yang bakal semakin buruk dimasa mendatang.

Hanya saja kesadaran yang tinggi terhadap isu perubahan iklim tidak sejurus dengan ramai aksi kaum muda untuk turut berpartisipasi dalam agenda-agenda perubahan iklim yang seluas-luasnya.

Narasi perubahan iklim yang digulirkan oleh anak muda masih terbatas, aksi atau gerakan anak muda yang berhubungan dengan iklim juga terasa masih langka.

Greta Thunberg lewat Aksi Mogok Sekolah Untuk Perubahan Iklim menjadi salah satu contoh dari antara sedikit gerakan anak muda untuk iklim.

Dengan retorika yang berani dan tegas serta penuh informasi, apa yang dilakukan oleh Greta berhasil menginspirasi para pelajar lain di berbagai belahan dunia melakukan mogok sekolah untuk mendukung perbaikan iklim. Gerakan ini kemudian dikenal sebagai #FridaysForFuture.

Apa yang disuarakan oleh anak-anak muda, murid-murid sekolah ini adalah kebutuhan untuk perubahan. Solusi untuk mengatasi perubahan iklim sudah banyak namun kemauan dari aktor-aktor kunci yang sulit untuk ditemui.

Tidak ada halangan teknologi dan ekonomi untuk mengatasi persoalan iklim, yang kurang adalah kemauan dan kepemimpinan yang bergerak cepat sebagai tanggungjawab untuk mewariskan bumi yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Bersama dengan kaum miskin, perempuan dan masyarakat adat, generasi muda bakal mengalami dampak buruk perubahan iklim jika tidak ada solusi kongkret yang segera dilakukan.

Bertindak mulai sekarang sangatlah penting untuk semua orang dan semua yang ada di planet bumi. Tindakan yang penting untuk memastikan bahwa generasi masa mendatang dapat terus hidup layak dan sehat.

Orang-orang muda perlu terus menyuarakan keberanian untuk melawan perubahan iklim agar orang-orang tua yang tengah memimpin dan memegang tampuk kekuasaan berani mengeksekusi solusi yang masuk akal dan segera untuk memulihkan iklim dunia.

Sampai dengan detik ini masih banyak orang menganggap isu tidaklah nyata, hanya cerita yang menakut-nakuti. Sementara sebagian lainnya masih menilai perubahan iklim hanyalah masalah es yang mencair di kutub, sebuah tempat yang jauh dari rumah tinggal kita.

Padahal perubahan iklim tidak semata tentang soal memanasnya bumi tetapi juga tentang cuaca yang semakin ekstrem, kenaikan permukaan air laut, pergeseran habitat, kepunahan populasi dan dampak-dampak lainnua.

Kenaikan suhu di permukaan bumi antara 1,5 hingga 2 derajat celsius saja akan menimbulkan dampak yang mengerikan. Salah satunya adalah timbulnya gelombang panas yang bisa mengancam 14 persen dari total populasi bumi.

Mencairnya es di Antartika berkontribusi besar atas naiknya permukaan air laut secara global. Negara-negara kepulauan seperti Indonesia yang wilayah lautnya lebih luas dari daratan mempunyai risiko untuk lebih dulu tenggelam.

Selain peningkatan permukaan air laut, mencairnya es di kutub juga berpotensi untuk menimbulkan wabah baru. Pandemi yang disebabkan oleh virus atau hal lainnya yang terdistribusi akibat lepas dari jebakan es yang mencair.

Sesungguhnya ancaman atau dampak perubahan iklim sudah menjadi nyata di depan mata.

Hanya saja kita masih kerap menutup mata. Memandang bencana hanya sebagai bencana alam atau malah sebagai cobaan dari Yang Maha Kuasa.

Padahal bencana yang terjadi hari ini umumnya berkaitan dengan perubahan iklim. Namun banjir kerap direduksi sebagai akibat kurangnya saluran air atau karena saluran air tersumbat sampah. Kebakaran lahan atau hutan kerap menjadi sarana untuk menyalahkan masyarakat, pun demikian dengan longsor dan kekeringan.

Banjir dan saudara kembar lainnya seperti kekeringan, longsor serta kebakaran lahan sebenarnya merupakan tanda adanya ketidakberesan dalam iklim. Masalah yang kemudian menimbulkan cuaca ekstrem, terlalu banyak air, terlalu sedikit air, terlalu panas dan seterusnya.

Andai bencana tidak segera dilihat secara lebih dalam sebagai konsekwensi dari perubahan iklim, niscaya kita hanya akan sibuk mengembangkan ketrampilan dan kemampuan untuk menghadapi atau menangani bencana. Bukan bagaimana mengurangi atau menurunkan resiko bencana.

Kita hanya akan semakin terampil mengatasi gejala ketimbang menghilangkan permasalahan utamanya.

BACA JUGA : Bencana Iklim 

Generasi muda terbukti mempunyai peran penting untuk menyarakan substansi perubahan iklim ketimbang generasi sebelumnya yang lebih sibuk bicara peluang mendapatkan dana atau kredit iklim hasil komitmen negara-negara kaya dalam berbagai konperensi atau pertemuan tingkat dunia.

Generasi ini pula yang paling berkepentingan karena perubahan iklim yang tak tertangani akan mengancam masa depan mereka.

Maka ketimbang memelihara perasaan bahwa kita bakal diserang oleh negera lain alangkah lebih baiknya mulai berpikir untuk beperang melawan perubahan iklim.

Tak perlulah anak muda mendisiplinkan diri dengan cara baris berbaris, berguling-guling ditanah dan lain sebagainya agar bisa mendapat seragam ala laskar-laskar perang. Sebab yang paling penting justru mendisiplinkan diri agar teguh memakai barang-barang yang bisa dipakai lama atau berulang, mengurangi konsumsi yang menimbulkan sampah, tidak membuang sampah sembarang dan lain-lain.

Inilah perang sesungguhnya kaum muda saat ini, perang yang bermakna memerangi diri sendiri atau mendisiplinkan diri agar mampu bertindak dan berperilaku yang semakin ramah lingkungan dan iklim.

Peran inilah yang mesti diambil agar semakin banyak anak muda bergerak aktif menyuarakan kepedulian terhadap isu sosial dan lingkungan hidup.

Dengan basis internet dan berbagai aplikasi sosial media, anak-anak muda mempunyai ‘senjata’ penting untuk menarasikan persoalan perubahan iklim guna mendorong semua pihak untuk semakin tanggap dan bergerak bersama guna menciptakan dunia yang lebih baik untuk semuanya.

Anak muda, jagalah kampus untuk tetap menjadi lembaga ilmiah  yang akan membuahkan pikiran-pikiran segar untuk menarasikan perubahan iklim secara lebih baik dan menyentuh kesadaran pemerintah serta masyarakat banyak.

Jika tentara kurang personil, biarkan mereka membangun kampusnya sendiri untuk mendidik anak-anak muda yang menyukai kehidupan milteristik. Jauhkan militerisasi dari kampus.