Indonesia merupakan salah satu negara dengan resiko bencana alam tertinggi di dunia. Salah satu penyebabnya adalah mempunyai 127 gunung api yang aktif.

Selain itu Indonesia juga mempunyai hampir 300 patahan yang tersebar di seluruh wilayah terutama Sumatera, Jawa dan Sulawesi serta Maluku hingga Papua.

Mempunyai dua musim, Indonesia juga dekat dengan bencana karena musim, baik pada musim tertentu seperti banjir, longsor, kekeringan dan kebakaran lahan, atau pada saat pergantian dan peralihan musim seperti angin dan rob.

Dalam 20 tahun terakhir ini bencana yang terkait dengan iklim atau cuaca semakin meningkat. Seiring dengan fenomena pemanasan global yang menyebabkan terjadinya perubahan bahkan kekacauan iklim serta cuaca.

Trend ini tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga pada negara-negara lain diseluruh penjuru dunia. Badan Metereologi Dunia mencatat dalam kurun waktu 50 tahun, antara tahun 1970 hingga 2019 terjadi lebih dari 11.000 bencana terkait iklim.

Bencana itu mengakibatkan kurang lebih dua juta orang meninggal dengan kerugian ekonomi mencapai Rp. 51 kuadriliun.

Dan jumlah kematian terbesar terjadi pada bencana yang menimpa negara-negara berkembang atau miskin.

Meski bencana menjadi lebih sering terjadi namun kemampuan masing-masing negara untuk menghadapi bencana menjadi semakin baik. Angka kematian akibat bencana semakin bisa ditekan karena adanya sistem peringatan dini.

Maka bisa dikatakan dalam urusan menyelamatkan masyarakat terdampak bencana, kemampuan makin baik. Meski demikian bencana selalu menimbulkan dampak ekonomi yang semakin buruk, kerugian ekonomi menjadi semakin besar.

Persoalan lain adalah kemampuan untuk mencegah bencana yang juga tidak semakin membaik meski ilmu pengetahuan, data dan informasi telah tersedia, langkah untuk mencegah bencana tidak selalu mudah untuk dilakukan karena berbagai kepentingan baik politik maupun ekonomi.

Adaptasi terhadap perubahan iklim berjalan lambat dan pemulihan lingkungan atau ekologi untuk mencegah terjadinya bencana karena iklim atau cuaca malah lebih lambat lagi.

BACA JUGA : COP26 dan Krisis Iklim Yang Tak Mudah Diatasi {dengan proyek}

Bentuk bencana karena pengaruh cuaca yang ekstrem terwujud lewat kebakaran hutan/lahan, gelombang panas, banjir, tanah longsor dan lain sebagainya.

Bencana ini tidak semata karena pengaruh iklim yang buruk melainkan juga menjadi semakin buruk karena adanya campur tangan manusia, baik masyarakat umum, dunia bisnis maupun para pemangku kebijakan politik pemerintahan.

Dan betapa para pemangku  kerap kali abai pada pertanda ketidakseimbangan iklim. Kala banjir yang disalahkan adalah curah hujan yang tinggi tanpa kesadaran bahwa anomali atau cuaca ekstrem yang makin sering adalah pertanda dari perubahan iklim.

Pernyataan-pernyataan pemerintah terkait bencana sering kali menunjukkan ketidaksiapan untuk menghadapi bencana karena perubahan iklim.

Bahwa benar bencana seperti cuaca ekstrem adalah peristiwa alamiah, namun saat ini ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa perubahaan iklim akibat ulah manusia membuat kejadian bencana yang tadinya bersifat alamiah menjadi lebih sering dan makin intens.

Dunia kita semakin panas, bukan di siang hari saja melainkan juga masih terasa gerah di malam hari.

Panas akan menimbulkan resiko yang memicu kebakaran, kekeringan dan penguapan yang berlebihan sehingga hujan akan menjadi semakin lebat, curah hujan makin tinggi sehingga menyebabkan banjir.

Perubahan yang semakin ekstrem antara kondisi panas dan hujan akan membuat tanah menjadi lemah, area-area lereng dengan mudah akan menjadi longsor.

Dulu para pengamat bencana kerap kali menyebut siklus bencana sebagai tahunan, 5 tahunan, 20 tahunan dan sebagainya. Siklus yang tak lagi berlaku pada saat ini. Namun yang paling mengkhawatirkan, jangan-jangan para ilmuwan, peneliti cuaca dan iklim tak lagi sahih dalam memprediksi bencana, sebab pola-pola bencana sudah berubah. Pengetahuan dan peralatan yang dipakai tak lagi memenuhi syarat.

BACA JUGA : Ketika Warga Menolak Tambang

Berbagai temuan, data dan informasi dari para ilmuwan peneliti iklim, cuaca serta lingkungan hidup telah memberi bukti-bukti yang meyakinkan tentang bencana iklim.

Namun yang menjadi masalah adalah tak mudah untuk merubah cara pandang terhadap bencana. Cara pandang yang kemudian akan mempengaruhi cara tindak baik saat menghadapi maupun mencari kemungkinan untuk mencegahnya.

Tidak sedikit diantara kita yang masih berpandangan bahwa bencana adalah ‘cobaan’ dari Tuhan karena manusia tidak menuruti atau mematuhi perintah-perintahNYA.

Cara pandang seperti ini cenderung membuat masyarakat menjadi pasif, tidak mencari akan masalah dan kemudian hanya menyatakan prihatin atas gejala-gejala yang kelihatan.

Namun pada sisi lain dengan kesombongan intelektualitasnya ada sebagian manusia lain yang merasa bisa merekayasa alam dengan pendekatan teknis untuk mengatasi bencana.

Dan cara ini yang cenderung diamini oleh para pemangku kebijakan. Dengan perkuatan berbagai infrastruktur, pemangku kebijakan bisa membuat serangkaian program dan membelanjakan anggaran untuk dibanggakan kepada pemangku kepentingan lainnya.

Padahal para ilmuwan sendiri mengakui betapa bencana pada saat sekarang ini menjadi lebih sulit diprediksi kecenderungannya. Maka pembangunan infrastruktur permanen alih-alih bisa membantu mengatasi bencana malah menimbulkan masalah baru.

Bencana iklim terjadi karena ada ketidakseimbangan iklim. Maka untuk mengurangi atau menurunkan jumlah kejadian yang harus menjadi fokus perhatian adalah kembali menyeimbangkan iklim dengan melakukan pemulihan ekologi.

Alam meski dimanfaatkan namun harus tetap dijaga agar tetap sealami mungkin. Ruang-ruang alam harus dipertahankan agar bisa mewadahi dinamika alam itu sendiri.

Sebab alam bukan hanya tercipta untuk manusia melainkan juga mahkluk hidup lainnya. Berpikir hanya berdasarkan kepentingan manusia akan membuat alam dan lingkungan hidup kehilangan kemampuan untuk menjaga serta merawat iklim.