Sebagai seorang pengelana malam, berulang kali saya terkejut-kejut ketika berkendara di jalan yang sepi. Tiba-tiba saja ada segerombol pengendara motor berkejaran, saling menyalip untuk menjadi yang tercepat. Anak-anak muda bahkan ada yang teramat muda berkendara bak peserta motoGP. Amor demikian sebutan untuk mereka dan salah satu kegemaran mereka adalah balapan liar di jalan raya.

Meski terkaget-kaget juga menyumpah dalam hati, di lubuk hati terdalam terkadang muncul kekaguman pada mereka yang berlaga di balap liar jalanan raya. Saya kagum pada keberanian mereka, memacu kendaraan di jalan raya, berkelok, menarik gas dan irit menginjak rem. Saat seumuran mereka saya hanya berani berkendara dengan sepeda dan sekencang-kencangnya sepeda kecepatannya belum mampu melampaui kejaran anjing.

Dan dari beberapa tayangan berlabel Patroli Polisi, anak-anak yang doyan berkejaran dengan motor kerap nge-grup dengan nama Genk Motor. Selain kebut-kebutan mereka juga doyan tawuran alias saling serang satu sama lain. Dan mereka berkomunikasi, rapat, merencanakan tawuran dan lain-lain lewat smartphone. Maka biasa sasaran pertama yang digeledah oleh polisi saat melakukan razia adalah smartphone mereka.

Anak-anak remaja dan pemuda selalu kelebihan energi. Keberanian selalu menjadi obsesi. Untuk membuktikan itu mereka kerap melakukan uji nyali. Mereka juga lebih loyal kepada sesamanya (peer group) ketimbang orang tua, orang dewasa lainnya. Bergerombol dengan sesama mereka untuk menghabiskan waktu, bersenang-senang akan jauh lebih membahagiakan daripada berkumpul bersama yang lebih dewasa. Buat mereka berkumpul dengan yang lebih dewasa berarti siap panas telinga karena hanya akan mendengar deret nasehat.

Adalah watak mereka untuk mencoba-coba tanpa perhitungan panjang. Meski jalan hidup mereka masih panjang namun pikiran mereka sering pendek, saat ini dan disini. Menyalahkan mereka tentu bukan cara yang benar, karena bisa jadi mereka malah marah karena nggak merasa ada yang salah.

Apa yang penting justru menjaga semangat keberanian mereka, menyalurkan energi mereka yang berlebih agar mereka mempunyai ketrampilan merencanakan kehidupan (live planning skill). Tentu saja dengan cara yang sesuai dengan jiwa dan dinamika batin mereka.

Yang menjadi masalah, saat ini ruang berkumpul mereka dalam organisasi atau komunitas sebaya kerap diintervensi oleh mereka yang lebih tua. Mereka hanya terus jadi obyek bimbingan, selalu diarah-arahkan. Kita orang yang lebih dewasa dan tua sering menyusun atau merencanakan apa-apa untuk mereka sesuai dengan keinginan kita.

Anak-anak, para remaja dan mereka yang beranjak menjadi pemuda tentu saja ingin bahagia, ingin bersenang-senang dengan berada bersama sesamanya. Bahagia dan senang adalah hak mereka. Namun jika mereka hanya bahagia atau senang kala berada dengan sesame mereka maka itu adalah tanda bahaya. Artinya rumah dan keluarga bisa jadi tak lagi mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan.

Home Sweet Home, begitu tulisan yang sering digantung di pintu depan rumah kita. Ya kita selalu memimpikan rumah menjadi tempat yang paling menyenangkan, paling kita rindukan setelah kita beraktivitas di luar rumah. Semua ingin segera pulang ke rumah.

Tapi yang sering kita saksikan justru kebalikannya, banyak rumah besar, megah dan indah sekalipun namun tak nampak kehidupan di dalamnya. Tak terlihat aura kesenangan atau kebahagiaan bahkan dari mereka yang jelas-jelas berlebih.

Karena rumah, lingkungan sekitar rumah bukanlah ruang yang membahagiakan, maka banyak yang mencari kebahagiaan di luar. Dan jalanan adalah salah satunya, entah duduk bergerombol di trotoar atau memacu motor di lintasan aspalnya.

Dan di jalanan itu kita bisa menyaksikan para remaja, anak-anak muda kita berpacu seolah tak takut mati untuk hal-hal yang tak berarti.

kredit foto : Monica Leonardi – unsplash.com

2 KOMENTAR

Comments are closed.