KESAH.IDKetika George Washington dilantik menjadi presiden pertama Amerika Serikat pada tahun 1789, muncul pergulatan tentang peran seorang istri presiden. Istri presiden kemudian disebut sebagai First Lady, namun kedudukan ini bukan kedudukan resmi dalam pemerintahan. Walau begitu seorang Fist Lady mempunyai peran penting dalam pemerintahan dan punya kegiatannya sendiri. Indonesia mencatat beberapa First Lady yang menonjol peran politik dan sosialnya. Namun dalam lima tahun ke depan, mungkin kita tak akan punya cerita tentang hal ini.

Di Amerika Serikat, first lady atau istri presiden sering menjadi bahan gunjingan, gurauan bahkan olok-olok. Beberapa orang istri presiden memang sama terkenalnya dengan sang presiden. Ambil contoh Michele Obama, kesehariannya seperti seorang yang ikut dipilih oleh rakyat.

Michael Obama sering dipanggil menjadi pembicara disana-sini, punya kegiatan sendiri dan pengaruhnya untuk masyarakat sungguh luas.

Istri presiden Amerika Serikat yang terkenal lainnya adalah Hillary Clinton. Saking terkenalnya bahkan kemudian terpilih menjadi calon presiden dari Partai Demokrat. Walau kemudian tak terpilih karena kalah dengan Donald Trump.

Tapi jauh sebelum itu, nama fist lady yang paling terkenal adalah Jacqueline Kennedy. Namanya dikenal sebagaimana John F. Kennedy yang tewas karena ditembak kurang lebih setelah dua tahun menjabat.

Jacqueline sebenarnya tak suka dengan sebutan first lady, dia lebih suka dipanggil dengan nama Ms Kennedy. Karena dia merasa tidak bertugas untuk mengurusi negara, yang diurus olehnya adalah suami yang menjadi presiden. Jika presiden diurus baik-baik olehnya maka presiden akan melayani rakyatnya dengan baik.

Walau begitu tak bisa dipungkiri kalau Jaqueline piawai dalam urusan komunikasi. Pertemuan-pertemuan di istana presiden yang diurus olehnya menimbulkan kenangan baik bagi yang mengikutinya.

Dia juga punya perhatian besar pada seni, budaya dan kegiatan sosial.

Mungkin karena berasal dari dunia film, Nancy Reagan istri dari Ronald Reagan yang sebelumnya juga merupakan seorang aktor itu jadi cukup terkenal.

Namun banyak istri presiden Amerika Serikat lainnya yang tak cukup dikenal. Seperti istri dari George Bush senior dan junior. Begitu juga istri Joe Biden yang adalah seorang guru.

Dan istri presiden terpilih Amerika Serikat yang baru terpilih yakni Donald Trump juga kurang terkenal. Yang lebih dikenal justru istri Donald Trump yang sudah diceraikan dan sudah meninggal yakni Ivanna Trump.

Bill Burr seorang komedian yang provokatif menyebut “Donald Trump istrinya hanya berdiri di belakangnya seperti seekor meerkat raksasa,”

Bisa jadi ini bukan salah Donald Trump yang tak memberi peran pada istrinya atau first lady-nya. Konon tipikal presiden dari Partai Republik memang pintar menyembunyikan peran istri di belakang. Berbeda dengan presiden dari Partai Demokrat yang istri-istrinya sering terlihat di depan.

Mungkin ini kebetulan saja sebab beberapa first lady dari presiden yang berasal dari Partai Demokrat memang setara dengan suaminya.

Hillary Clinton yang dianggap cerewet itu adalah lulusan dari universitas kondang. Hillary adalah pengacara lulusan Universitas Yale, pernah menjadi menteri luar negeri hingga kemudian nyaris menjadi presiden perempuan pertama Amerika Serikat.

Demikian juga dengan Michele Obama. Dia lulusan Universitas Harvard dan berprofesi sebagai pengacara seperti Barrack Obama. Sampai sekarang Michele Obama masih berkiprah di publik dan jika mau bisa saja dia maju sebagai calon presiden dari Partai Demokrat.

Tapi Michele tidak mau melakukan hal itu, makanya ketika Joe Biden mundur makan Partai Demokrat Amerika Serikat mencalonkan Kamala Harris.

Seandainya Kamala Harris terpilih maka untuk pertama kali Amerika Serikat tidak akan punya first laddy. Sebab suami tidak akan disapa dengan Bapak Presiden seandainya isterinya terpilih menjadi presiden.

BACA JUGA : Drama Pilkada

Indonesia mempunyai beberapa first laddy yang terkenal. Yang pertama tentu saja Ibu Fatmawati karena tercatat dalam sejarah sebagai yang menjahit bendera merah putih yang dipakai untuk upacara deklarasi kemerdekaan Indonesia oleh Sukarno Hatta.

Namun dalam perjalanannya selanjutnya yang dikenal adalah Ratna Sari Dewi yang dinikahi Sukarno pada tahun 1962. Dia berasal dari Jepang dengan nama asli Naoko Nemoto. Setelah Sukarno meninggal, Ratna Sari Dewi kemudian tinggal di luar negeri, utamanya Eropa. Namun kemudian juga di Jepang, pada sebuah rumah yang luas dan penuh memorabilia di Shibuya, Tokyo.

Ratna Sari Dewi pernah membuat kontroversi lewat pose-pose yang dianggap setengah telanjang dalam buku berjudul Madame Syuga.

Sulit untuk menyebut siapa first laddy Indonesia pada saat itu. Sukarno dikenal mempunyai banyak istri. Dua yang pertama yakni Siti Oetari dan Inggit Ganarsih berpisah sebelum kemerdekaan RI.

Setelah itu Sukarno menikahi Fatmawati yang mendampinginya selama perjuangan kemerdekaan dan ketika memproklamasikan kemerdekaan. Fatmawati menjadi first lady.

Namun setelah menjadi presiden, Sukarno kemudian menikahi Hartini, Kartini Manopo, Ratna Sari Dewi, Haryati, Yurike Sanger, dan yang terakhir adalah Heldy Djafar saat kekuasaan Sukarno menjelang tenggelam.

Sukarno digantikan oleh Suharto. Dan Ibu Tien Suharto kemudian menjadi first lady paling terkenal dalam sejarah Indonesia.

Suharto giat melakukan pembangunan, Ibu Tien juga giat melakukan aktivitas pemberdayaan sosial. Nama ibu Tien erat dengan PKK, Dharma Wanita dan lain-lain.

Ibu Tien juga dikenal sebagai inisiator Taman Mini Indonesia Indah, kelak disana dibangun sebuah masjid yang namanya diambil darinya.

Saking kuatnya pengaruh ibu Tien Suharto sampai-sampai ada yang menganggap dirinya sebagai the real president.

Sama dengan Ibu Ani Yudhoyono, Ibu Tien Suharto mangkat terlebih dahulu meninggalkan suami dan anak-anaknya.

Seperti Tien Suharto, Ani Yudhoyono juga merupakan first lady yang kuat. Tak seperti istri-istri presiden yang lainnya, Ani Yudhoyono memang aktif secara politik. Dia aktif ikut cawe-cawe mempersiapkan jalan kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono melalui Partai Demokrat.

Dunai politik bukan dunia yang asing untuk Ani Yudhoyono. Istri-istri para anggota kabinet Susilo Bambang Yudhono diorganisir olehnya untuk melakukan kegiatan sosial yang cukup berdampak positif pada citra pemerintahan.

Menjadi presiden yang paling sarat dengan prestasi pembangunan setelah Suharto, Joko Widodo didampingi oleh Iriana. Ibu Iriana lebih tampil sebagai ibu rumah tangga biasa. Selama sepuluh tahun mendampingi Presiden Joko Widodo tidak terlalu menonjol penampilannya di ruang publik.

Bahkan di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo periode kedua, konon Iriana lebih sering tinggal di Surakarta, menikmati hari-hari bersama cucunya. Dan muncul desas-desus disanalah Iriana mengatur masa depan politik untuk anaknya.

BACA JUGA : Awas Santet

Sampai dengan pemerintah presiden ke delapan, Indonesia pernah tidak memiliki fist lady. Yang pertama ketika yang terpilih sebagai presiden adalah Megawati Sukarnoputri.

Sebelumnya ketika dipimpin oleh Abdurahman Wahid atau Gus Dur, yang sering tampil mendampingi presiden bukan Sinta Nuriyah melainkan putrinya yakni Yenni Wahid.

Dan kini Prabowo Subianto, presiden Indonesia ke delapan juga tidak mempunyai pendamping.

Prabowo dalam penampilannya di publik lebih sering didampingi oleh putra semata wayangnya.

Menantu presiden ke dua Indonesia ini, berpisah dengan sang istri setelah masa reformasi.

Mesti tetap berhubungan baik dengan Titiek Suharto yang kini menjadi anggota DPR RI melalui partai besutan Prabowo, tanda-tanda keduanya rujuk belum nampak.

Di dalam negeri, Prabowo dan Titiek kerap muncul dalam kesempatan yang sama. Kebersamaannya sering kali memunculkan sorak-sorai penyemangat agar keduanya kembali rujuk.

Banyak meme beredar di internet untuk mendorong-ndorongkan hal itu.

Tapi nampaknya baik Prabowo dan Titiek serta anak tunggalnya menikmati perannya masing-masing.

Adanya fist lady memang bukan keharusan.

Konstitusi tidak mengisyaratkan calon pemimpin harus mempunyai pasangan. Yang diatur oleh Undang-Undang adalah umur minimal dan besaran dukungan.

Dan yakinlah Mbak Titiek Suharto pasti tak kepikiran untuk mengusulkan perubahan undang-undang atau melakukan judicial review  agar syarat untuk calon presiden ditambah dengan ayat yang menyatakan harus mempunyai seorang pendamping.