KESAH.ID – Pre loved dan thrifting menjadi istilah yang akrab mengantikan sebutan barang rombeng, gombal amoh, pasar loak atau pasar rombengan. Gara-gara dilabeli dengan jenama ternama dari luar negeri, membeli dan memakai pakaian bekas apalagi yang logo merek kepala besar-besar terasa masih bergengsi dan tidak mati gaya. Tapi pemerintah jadi resah, keranjingan memakai pakaian secondbrand import dari luar negeri membuat industri wastra dan busana nasional merana.
Industri fashion besar umumnya bekerja dengan siklus produksi yang dimulai dari konvensi tekstil di Paris yang dihadiri oleh para produsen fashion sedunia untuk mengetahui trend bahan, pola, warna dan lainnya yang paling muktahir.
Apa yang ditampilkan dalam konvensi tekstil itu akan mempengaruhi karya para desainer yang akan ditampilkan di runway pagelaran busana ternama di berbagai kota pusat industri fashion setahun kemudian.
Para fashionista, influencer dan pengamat busana akan menyaksikan. Fashionista akan membeli dan kemudian mengenakan di event-event besar yang diliput oleh media. Influencer akan mewartakan pada pengikutnya dan pengamat busana akan memberitakan amatannya di media massa.
Karya para desainer itu akan menjadi sebuah trend dan kemudian ditangkap oleh industri busana sebagai inpirasi untuk memproduksi beragam busana secara massal.
Setelah itu masyarakat umum, pengemar dan pecinta fashion bisa membeli busana-busana yang trendy dan bergaya kekinian di toko-toko busana kenamaan.
Keseluruhan siklus produksi itu kurang lebih akan memakan waktu selama dua tahun.
Namun dengan kemajuan teknologi dan komunikasi, para produsen fashion dan retailer busana kemudian mampu memangkas siklus produksi hingga kemudian dari pagelaran busana hingga produk pakaian dipajang di toko hanya butuh waktu 6 bulan.
Fashion brand ternama di dunia kemudian akan meluncurkan koleksi busananya 2 kali setahun.
Siklus normal ini kemudian dilabrak oleh produsen busana bernama Zara yang kemudian melahirkan gelombang fast fashion. Semuanya dihadirkan secara cepat, Zara meluncurkan koleksi busananya 2 kali sebulan.
Zara, jenama pakaian dari Spanyol ini kemudian berhasil membuat perusahaan induknya yakni Inditex menjadi produsen dan retailer pakaian paling besar sedunia mengalahkan H&M, Uniqlo, GAP dan lain-lain.
Inovasi fast fashion yang dimulai oleh Zara telah mengubah wajah dunia fashion untuk selamanya.
Zara telah merubah pendekatan dalam produksi busana yang tidak lagi berdasarkan tebak-tebakan dari mengamati pagelaran busana dunia untuk kemudian merancang desain produk satu tahun ke depan.
Membaca trend lewat pagelaran adibusana dunia beresiko salah tebak sehingga produk fashionnya gagal di pasaran hingga mesti dijual dengan harga diskon atau bahkan dimusnahkan.
Proyeksi kebutuhan busana yang diinginkan oleh pelanggan dikumpulkan oleh Zara melalui toko-tokonya. Para manajer toko yang tersebar di seluruh dunia secara real time akan mengumpulkan umpan balik dari para pembelinya.
Staf lainnya juga bertindak seperti detektif, mengamati pelangan untuk menanyakan kenapa pakaian yang dicoba kemudian dikembalikan ke rak dan seterusnya. Informasi tentang preferensi pelanggan ini dikirim setiap saat ke markas produksi Zara.
Ada kurang lebih 200 desainer yang bekerja di markas Zara untuk melahirkan desain baru yang tidak semata tergantung trend fashion dunia, melainkan juga menerjemahkan preferensi pelanggannya.
Hasilnya desain Zara sesuai dengan trend busana dunia sekaligus menjawab preferensi unik para pelanggannya di lokasi yang berbeda-beda. Zara akan menjual produk yang berbeda pada tokonya di Jakarta, di Dubai, di Canberra dan lain-lain. Bahkan bisa jadi berbeda untuk toko di tiap kota pada negara yang sama.
Para desainer di Zara akan membuat 1000 desain unik setiap bulannya untuk menghadirkan pengalaman pelanggan yang berbeda pada masing-masing tokonya.
Dengan desain yang banyak produksi pada masing-masing jenis diperkecil dengan demikian Zara bisa menghadirkan produk baru di masing-masing tokonya dalam dua minggu sekali. Produk yang laku atau best seller bahkan tidak diproduksi ulang.
Untuk para fashionista ini menghadirkan sensasi eklusifitas dengan harga yang lebih terjangkau. Harga masuk akal namun mode pakaian tidak pasaran.
BACA JUGA : Menjajal Bing “Your AI-powered copilot for the web” Di Microsoft Edge
Sebagaimana diajarkan para guru di sekolah, pakaian adalah kebutuhan utama manusia selain sandang dan pangan. Namun busana sebagai salah satu industri kreatif berhasil membuat pakaian dikonsumsi sebagai kebutuhan tertier. Dibeli bukan karena kebutuhan namun lebih karena keinginan untuk bergaya.
Gaya hidup konsumtif membuat pakaian baru sering kali hanya dipakai dua atau tiga kali lalu diistirahatkan dalam lemari baju. Produksi pakaian menjadi berlebihan dibandingkan dengan populasi.
Gejala ini membuat para pecinta lingkungan khawatir. Limbah atau sampah fashion menjadi salah satu sumber pencemar lingkungan. Produksi pakaian juga rakus energi dan turut menyumbang deforestasi.
Pecinta lingkungan yang juga pengemar mode kemudian meluncurkan gerakan slow fashion. Tetap bergaya namun tidak membeli pakaian baru dengan harapan akan mampu mengurangi produksi dan angka pertumbuhan busana baru.
Eksistensi gerakan slow fashion ini ditemukan dalam istilah pre loved.
Istilah ini sebenarnya merupakan penghalusan dari barang bekas atau pakaian bekas. Disebut pre loved sebab pakaiannya walau bekas masih kelihatan seperti baru atau sangat layak pakai. Kondisinya masih bagus dan mulus.
Maka pre loved berbeda dengan barang loakan atau barang bekas pada umumnya dimana sering ada tanda cacat atau rusak.
Pre loved juga berbeda dengan barang antik atau vintage, yang harganya lebih mahal dari yang baru dan bersifat untuk dikoleksi.
Di luar negeri terutama di Eropa dan Amerika, masyarakat kerap melakukan penjualan barang bekas termasuk pakaian lewat garage sale atau event-event pasar kaget.
Sementara di Indonesia akar slow fashion walau mungkin tidak dilandasi atas motif peduli lingkungan ditemukan di pasar loak atau pasar rombeng.
Menjelang tahun 2000-an muncul pedagang pakaian yang disebut dengan istilah cakar, cakar bongkar, awul-awul dan lain-lain. Yang diperdagangkan adalah pakaian bekas dari luar negeri, pakaian datang dalam bentuk bal lalu dibongkar dan diletakkan begitu saja diatas lapak.
Pembeli memilih-milih dengan cara mengaduk-aduk untuk mencari yang terbaik.
Inovasi bursa pakaian bekas kemudian terjadi memasuki tahun 2020-an, muncul yang disebut dengan thriftshop. Lapak jual pakaian bekas yang tidak sembarang bekas melainkan pakaian bermerek atau second brand.
Thrifting atau berburu pakaian bekas bermerek kemudian menjadi trend di kalangan anak-anak muda. Pangsa pakaian bekas import menjadi semakin besar. Dan bukan hanya pakaian tetapi juga sepatu, topi, tas dan lain-lain.
Media sosial dipenuhi dengan live commerce, pedagang barang bekas bermerek selain menjual di lapak juga menjual lewat live di facebook, instagram, tik tok dan lainnya.
Gerai untuk menjual barang second brand tidak kalah bagus dan kalah besar dengan gerai pakaian, sepatu atau topi baru. Mirip dengan distro-distro yang banyak bermunculan pada tahun akhir tahun 90-an.
Meningkatnya minat anak-anak muda terhadap pakaian secondbrand seiring tumbuhnya rasa malu memakai barang-barang KW atau tiruan. Muncul anggapan lebih baik pakai pakaian bekas bermerek ketimbang pakaian baru tapi palsu. Toh, pakaian bekas jika dipadupadankan bakal membuat tampilan menjadi unik, menarik dan fashionable.
Dan model bisnis fast fashion yang kemudian umum dipraktekkan oleh brand-brand ternama membuat pakaian bermerek walau bekas gaya dan modelnya tidak terlalu tertinggal dengan yang terbaru. Memakai outfit of the day bermodal busana bekas tidak bakalan merasa out of the date.
Model bisnis fast fashion membuat daur produk baju makin pendek sehingga baju bekasnya juga makin up to date.
BACA JUGA : Jangan Hanya Merasa Kenyang Dengan Nasi
Selain kuliner, bisnis busana kemudian menjadi pilihan anak-anak muda untuk berusaha. Dengan teknik marketing dan branding yang lebih unggul dari pedagang tradisional, thriftshop menjamur dimana-mana. Ada yang berdiri sendiri, ada pula yang digabungkan dengan kedai kopi dan barbershop.
Pertumbuhan bisnis menjual pakaian bekas yang diimport dari luar negeri ini kemudian membuat presiden khawatir, bahkan kesal. Presiden Jokowi merasa maraknya konsumsi pakaian bekas bermerek yang datang dari luar negeri ini mengancam eksistensi pengusaha busana dalam negeri. Sektor UMKM yang bergelut dalam wastra dan busana menjadi kehilangan pasar, produknya jadi lesu di pasaran.
Pengusaha tekstil dan pakaian dalam negeri memang terjepit. Import pakaian baru juga tinggi karena model bisnis fast fashion, konsumen kelas atas lebih memilih membeli jenis pakaian ini. Sedangkan konsumen rata-rata atau umum kemudian memilih membeli pakaian bekas yang juga diimport dari luar negeri. Produk dalam negeri kemudian merana di pasarnya sendiri.
Dengan demikian maraknya gerai-gerai thrifting yang sebenarnya berada di bawah bendera slow fashion sebenarnya tidak memberi sumbangsih bagi perbaikan lingkungan di Indonesia. Bahkan justru berpotensi menambah limbah atau sampah berbasis kain karena Indonesia kemudian menjadi tempat buangan pakaian bekas dari luar negeri.
Mestinya presiden dan jajarannya lebih mencemaskan hal ini ketimbang soal ekonomi. Sebab ekonomi selalu merupakan kompetisi. Dan wastra serta busana masuk dalam kategori ekonomi kreatif sehingga tantangan atau ancaman harus dihadapi dengan kreatif bukan lewat proteksi.
Soal slow dan fast fashion ini pada akhirnya tidak bisa di-gebyah uyah. Pada negeri-negeri penghasil jenama ternama hampir tak bermasalah. Produsen dan retailer busana di negeri itu menghasilkan banyak pakaian bukan di negerinya sendiri, pakaian branded itu umumnya dibuat secara outsourcing, di Vietnam, Bangladesh, China dan banyak juga di Indonesia.
Negeri pemilik merek atau produsen fast fahion tidak mendapat limbahnya. Dan ketika pakaian-pakai baru yang laku di negeri itu kemudian tidak terpakai lagi kemudian dikirim kembali ke negeri-negeri lain termasuk ke Indonesia untuk diperdagangkan sebagai pakaian bekas layak pakai yang masih bergengsi karena dilabeli jenama ternama dari luar negeri.
Sebagai negeri yang kebanyakan rakyatnya masih berpikir mendang-mending dan tidak mampu menolak {refuse} produk luar negeri, menggunakan kembali {reuse} pakaian bekas bermerek menjadi lebih masuk akal ketimbang membeli yang baru.
Pengguna pakaian bekas bermerek dari luar negeri tidak akan pernah berpikir bahwa kesukaannya akan mengancam industri wastra dan busana nasional. Yang dipikirkan oleh mereka hanyalah pakaian keren, bergaya, enak dipakai, awet dan jahitannya tidak amburadul.
Soal kemudian pemerintah akan melarang import pakaian bekas bisa jadi mereka akan khawatir kegemaran thrifting akan terganggu. Namun biasanya kekhawatiran itu tak akan lama karena tahu pintu masuk bal-bal pakaian bekas itu banyak.
Dan karena pakaian bekas tak sungguh-sungguh illegal seperti halnya narkoba, semua pasti paham mereka yang menjadi palang pintu akan lebih mudah diajak kompromi untuk meloloskan lewat jabat tangan. Tentu bukan tangan kosong.
note : sumber gambar – KOMPASIANA.COM








