KESAH.ID Fenomena kekerasan diantara anak-anak belia semakin mengkhawatirkan. Organisasi Kesehatan Dunia bahkan sudah memasukkan menjadi salah satu isu kesehatan global. Namun cara atau kebijakan untuk menangani perilaku kekerasan oleh dan dari anak-anak muda ini masih belum beranjak dari kebijakan reaktif dan top down. Yang tua dan berkuasa masih lebih suka mengobral slogan mulia ketimbang bertindak mulia dan menjadi teladan.

Tak perlu merenung terlalu dalam untuk berani menyimpulkan kehidupan berjalan semakin baik. Sekurangnya dengan berkaca dari perjalanan hidup saya dulu dibandingkan dengan anak saya sendiri.

Apa yang dialami oleh anak saya sejak lahir hingga duduk di bangku SMA jelas berkali lipat enak dan nyamannya ketimbang diri saya sendiri ketika pada umur yang sama.

Rasanya teramat jarang anak saya pulang pergi sekolah berjalan kaki, sementara saya sampai jaman kuliah, kaki adalah modal utama untuk menuntut ilmu.

Naik pesawat terbang adalah impian saya sedari kecil dan hingga tamat SMA tak tercapai juga. Saya merantau ke pulau seberang dengan naik kapal. Sedangkan anak saya sedari kandungan sudah bolak-balik numpak motor mabur.

Oh, iya kali pertama saya makan di gerai fast food jaringan dari luar negeri ketika berumur 19 -an tahun di Jakarta. Yang mentraktir mengatakan jenis makanan ini masih akan lama ditemui di tempat baru yang akan saya tinggali kemudian.

Setelah makan kemudian saya diajak piknik, melewati jalan tol. Dan saya merasa lewat jalan tol sungguh sebuah piknik betulan.

Saya yakin ketika berumur 19 tahun nanti anak saya mungkin sudah tak sudi lagi mampir di gerai-gerai fast food yang saya kagumi waktu itu. Gerai semacam itu sudah nggak eklusif, sudah terlalu biasa untuknya.

Sedangkan lewat jalan tol meski terasa lebih cepat pasti bukan lagi sebuah hiburan untuknya.

Walau ada banyak kemajuan mengembirakan yang bisa saya catat namun tetap saja muncul kekhawatiran.  Capaian yang dibuktikan lewat berbagai index tak mampu menghapus kenyataan bahwa anak-anak muda sekarang sepertinya jauh lebih ganas, lebih mudah melakukan kekerasan baik kepada sesamanya maupun mereka yang lebih tua.

Dulu kehidupan yang keras kerap diidentikan dengan Jakarta. Ibukota negara tercinta ini bahkan diberi julukan sebagai ibu tiri. Anak-anak mudanya sering tawuran, mungkin karena kelebihan energi hingga perlu disaluran dalam bentuk berkelahi.

Tapi kini yang disebut kota bukan hanya Jakarta. Gaya hidup perkotaan sudah merasuk ke semua penjuru, hingga ke sudut-sudut terjauh perdesaan. Kehidupan berubah menjadi semakin ‘meng-kota’.

Dulu desa mewarnai kota karena kota menjadi tempat tujuan orang-orang desa untuk meningkatkan segala aspek kehidupannya. Namun hal yang sebaliknya kini terjadi, kota-kota kemudian mewarnai desa, gejala ini dinamai sebagai gentrifikasi.

Yogyakarta yang dikenal sebagai kota adem ayem, ramai diperbincangkan tentang klitih. Dalam kosa kata bahasa Jawa klitih berarti kegiatan di luar rumah untuk mencari angin. Maknanya positif, kumpul-kumpul di luar rumah untuk mengisi waktu luang.

Fenomena klitih mulai dikenal sejak tahun 90-an dalam bentuk geng-geng anak remaja yang kemudian kerap terlibat dalam kejahatan. Namun pada tahun 2016 kembali populer karena mengalami pergeseran perilaku dalam kekerasan.

Klitih bukan lagi ekpresi kenakalan anak-anak remaja yang tengah mencari ekpresi eksistensi diri dengan saling serang terhadap sesamanya. Klitih bukan lagi jenis kenakalan dengan kekerasan antar kelompok seumuran, melainkan juga menyerang masyarakat umum secara acak.

Pada tahun 2020 tercatat ada 52 kasus klitih dan meningkat menjadi 58 kasus di tahun 2021. Kasus terbesarnya adalah penganiayaan, penggunaan senjata tajam dan pengrusakan. Mayoritas pelakunya berstatus pelajar.

BACA JUGA : Fast Fashion dan Ledakan ‘Gombal Amoh’ Global

Dulu ketika saya tinggalkan, desa tempat bapak dan ibu tinggal masih dipenuhi pekarangan serta sawah. Pinggiran jalan masih banyak tanah kosong dan jumlah warung bisa dihitung dengan jari. Bermain di pinggir jalan tidak membahayakan karena tak banyak kendaraan yang melintas.

Jalanan masih dihiasi oleh gerobak, dokar dan sepeda serta pejalan kaki. Pagi dan sore jalanan juga menjadi tempat melintas bagi pengembala kerbau dan bebek. Beberapa kali saya melihat kap depan mobil colt peyot karena menabrak kerbau karena ada seekor keluar dari barisan dan tiba-tiba menyeberang.

Hampir 20 tahun setelah saya tinggalkan, desa yang membuat saya sering diolok-olok sebagai cah ndeso ketika sekolah di ibukota Kabupaten telah banyak berubah. Tak terlihat lagi sawah membentang luas di kanan kiri jalan. Tanah kosong atau pekarangan di pinggir jalan sudah penuh dengan warung, toko, bengkel, salon dan minimarket.

Bapak saya bilang setelah saya pergi ada 3 atau 4 kawasan perumahan dibangun di desa saya. Dan secara administratif desa saya tak lagi dipimpin Kepala Desa tapi Lurah.

Tak jauh dari rumah tempat bapak ibu tinggal ada rumah sakit dan juga SPBU. Perempatan jalan yang dulu ada buh tempat saya dan teman-teman nongkrong di tepian jalan sudah dipasangi lampu lalu lintas.

Perubahan berjalan dengan sangat cepat, kota melebar dengan cepat menelan perdesaan di sekitarnya.

Hal ini tentu saja tidak terjadi hanya di desa saya tapi juga desa-desa di seluruh Indonesia bahkan di seluruh dunia. Populasi terbesar sekarang ini lebih banyak tinggal di kawasan perkotaan, daerah urban.

Yang berubah bukan hanya wajah perdesaan yang kemudian menjadi kawasan urban, profil demografisnya juga berubah dimana orang-orang muda kemudian menjadi penyumbang terbesar penghuninya.

Kawasan urban umumnya separuh penghuninya adalah anak-anak muda, daerah urban menjadi rumah terbesar bagi kaum muda belia.

Ruang terbuka yang makin sempit sehingga tidak banyak aktivitas fisik yang cukup untuk menyalurkan tenaga yang berlebih kerap membuat kaum muda belia ini kehabisan akal mengatasi keinginannya yang berlebih.

Kawasan perkotaan yang sebagian besar tumbuh tanpa rencana, berkembang begitu saja sesuai hingga lupa pada ruang aspirasi anak-anak muda belia membuat mereka frustasi. Kumpul-kumpul dengan teman sebaya, berbuat iseng dan aneh-aneh kemudian kerap mengantar anak-anak muda ini pada perilaku kekerasan.

Organisasi Kesehatan Dunia {WHO} menyatakan dalam laporannya di tahun 2015 dan 2020 bahwa kekerasan di antara anak muda telah menjadi isu kesehatan masyarakat global. WHO menyebutkan setiap tahun ada 200.000 pembunuhan dikalangan orang berusia antara 10 hingga 29 tahun.

Di negeri kita, awal tahun 2023 ini sudah berkali-kali dikejutkan oleh pamer kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak muda belia. Dalam tiga bulan pertama tahun 2023 sudah banyak berita tentang kekerasan dalam bentuk pengeroyokan, tawuran, pembunuhan dan penculikan yang pelaku serta korbannya sama-sama belia.

BACA JUGA : Menjajal Bing ‘Your AI-powored copilot for the web” di Microsoft Edge

WHO mendefinisikan kekerasan sebagai penggunaan kekuatan fisik ataupun serangan psikis secara sengaja terhadap orang lain atau terhadap suatu kelompok atau komunitas yang dapat mengakibatkan cidera, kematian, kerugian psikologis, kelainan atau gangguan perkembangan fisik dan psikis.

Adapun bentuk kekerasan kaum muda terdiri dari tiga jenis. Yakni kekerasan pada diri sendiri seperti bunuh diri dan penyalagunaan diri. Lalu kekerasan antarindividu yang bisa terjadi lewat kekerasan dalam keluarga, kekerasan kepada teman dekat/pasangan intim dan kekerasan komunitas. Bentuk  kekerasan komunitas adalah  menyerang sesama yang dikenal, menyerang orang asing, melakukan pengrusakan atau kekerasan properti baik berupa fasilitas umum, institusi maupun perorangan. Termasuk dalam kekerasan komunitas adalah perilaku kekerasan yang terjadi di tempat kerja.

Dan kekerasan yang terakhir adalah kekerasan kolektif. Kekerasan ini mengacu pada kelompok yang lebih besar yang terbagi dalam bentuk kekerasan sosial, politik dan ekonomi.

Ketiga jenis kekerasan bisa terjadi saling silang sehingga korban akan mengalami kekerasan ganda berupa kekerasan fisik, psikologis, seksual, perampasan hak hingga penelantaran.

Kekerasan sendiri pada akhirnya akan melahirkan lingkaran kekerasan. Mereka yang terluka fisik dan psikisnya di usia belia berpotensi mengalami gangguan kesehatan yang akan menghantar korban menjadi pelaku di kelak kemudian hari serta membawa pengaruh buruk pada lingkungan pergaulan terdekat dan keluarga.

Sayangnya meski telah menjadi fenomena global kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak belia ini selalu didekati lewat kebijakan yang bersifat reaktif dan top down. Gejalanya dihadapi secara kasus per kasus bukan sebagai sebuah gejala sosial yang butuh perhatian secara khusus.

Memberi ruang yang aman, nyaman dan membantu anak-anak belia tumbuh sesuai dengan tugas perkembangannya baru menjadi slogan. Alih-alih benar-benar peduli, pemerintah sudah merasa cukup hanya membuat upacara dan kemudian melabeli sebuah kawasan dengan baliho besar berisi wajah-wajah pembesar dengan tulisan “Kawasan Ramah Anak”.

Ketika mencalonkan diri dan kemudian terpilih sebagai Presiden RI yang ke 7, Joko Widodo identik dengan program revolusi mental. Sebuah pilihan visi dan misi yang mengembirakan karena sesuai dengan berbagai masalah yang menimpa kehidupan bersama.

Namun seiring dengan waktu perjalanan kepemimpinannya, revolusi mental yang didengang-dengungkan di awal masa kepresidenannya menjadi luruh.

Joko Widodo lebih dekat dengan ‘revolusi semen’ pembangunan infrastruktur yang bahkan memicu kekerasan-kekerasan baru.

Dan kini di semua postingan atau feed lembaga-lembaga pemerintahan secara mencolok terbaca slogan BerAHKLAK. Akronim dari Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompenten, Harmonis, Loyal, Adaptif dan Kolaboratif.

Walau memakai core values BerAHKLAK nyata dengan mudah kita menyaksikan para pelayan publik dengan mudah mempertontonkan perilaku tidak ada ahklak.

Para pemimpin dan pembantu-pembantunya serta birokrasi penopangnya seperti lupa bahwa anak-anak belia butuh infrastruktur dan ekosistem yang ramah untuk menumbuhkembangkan tanggungjawab yang sesuai dengan tugas pertumbuhan mereka.

Selain teladan dari lingkungan dan para pemimpin, anak-anak belia ini butuh untuk didengarkan.

Sayangnya pemimpin negeri ini di semua tingkatan bukanlah pendengar yang baik. Daripada meluangkan banyak waktu untuk mendengar mereka lebih suka membuang waktu untuk mengobral nasehat.

Padahal kita tahu hampir tak ada anak belia yang berubah karena nasehat.

note : sumber gambar – PERSMAPOROS.COM