Berada di salah satu pulau terbesar di dunia, Provinsi Kalimantan Timur sebagian besar wilayahnya ditutupi oleh hutan hujan tropis dataran rendah. Hutan yang kerap dipuji sebagai evergreen lowland tropical rainforest.

Maka tidaklah berlebihan jika ada seloroh yang menyatakan bahwa alam Kalimantan Timur hanya tercipta atau cocok untuk dua orang, yakni Orang Utan dan Orang Hutan.

Orang Utan adalah primata yang tinggal dalam hutan, hidup di tajuk-tajuk pohon {aerial} dan sesekali turun ke lantai hutan. Akibatnya menjadi lamban jika berada di daratan dan tidak berdiri tegak karena kekuatan lebih ada di kedua tangan ketimbang kakinya.

Orang Hutan adalah orang yang tinggal di sekitar hutan dan memanfaatkan hasil serta jasa ekosistem hutan untuk menopang kehidupannya.

Orang Utan kemudian menjadi mahkluk ikonik Kalimantan Timur sedangkan Orang Hutan berkembang menjadi pembangun peradaban Kalimantan Timur dengan kemampuan adaptasi pada lingkungan hutan dan mengembangkan ketrampilan budidaya dan karya bernilai budaya berdasarkan jasa ekosistem hutan.

Salah satu pencapaian monumental adalah budidaya tanaman pangan, pada kelompok Orang Hutan di dataran kering menelorkan model perladangan rotasi, sementara yang tinggal di sekitar hutan lahan basah menelorkan model pertanian pasang surut.

Kedua model budidaya tanaman pangan ini sepenuhnya bergantung pada kesuburan alamiah hasil dekomposisi material organik hutan dan tidak melukai tanah. Penanamana hanya dilakukan dengan kayu yang ujungnya diruncingkan {Tugal}. Tanah hanya dilubangi kurang lebih dengan kedalaman 2,5 cm.

Dengan kemampuan memanfaatkan hutan secara lestari, di masa lalu Kalimantan Timur mampu berniaga atau melakukan pertukaran komoditas hasil hutan non kayu dengan masyarakat di negeri seberang, dari daratan China hingga India.

Peradaban yang dibangun oleh Orang Hutan, kemudian berada di simpang jalan dengan hadirnya ‘orang lain’ di Kalimantan Timur. Salah satu yang pertama paling merubah adalah kehadiran Orang Belanda yang kemudian mulai mengebor dan melubangi bumi Kalimantan Timur untuk menyedot minyak bumi dan mengeruk batubara.

Episode ekstraksi terhadap sumberdaya alam tak terbarukan di Kalimantan Timur yang dimulai oleh Orang Belanda ini kemudian berlanjut hingga hari ini. Orang Utan dan Orang Hutan kemudian terpinggirkan. Orang Utan kini bahkan mulai kehilangan tempat tinggalnya sehingga lebih banyak yang tinggal di asrama yang dikelola oleh lembaga penyelamatan Orang Utan. Sedangkan Orang Hutan tak lagi bisa mempertahankan pengetahuan dan praktek hidup yang diwariskan pendahulunya karena dianggap tak lagi berkesesuaian dengan model kehidupan dan ekonomi saat ini.

Perubahan tata kelola terhadap hutan membuat ekosistem hutan di Kalimantan Timur kehilangan sebagian besar kemampuannya untuk menghasilkan jasa ekologi atau layanan ekosistem. Hutan tak lagi mampu menahan air hujan agar tak jadi banjir, hutan tak lagi mampu menahan lereng-lereng agar tak longsor, hutan tak lagi mampu menjadi lumbung keanekargaman hayati, hutan tak lagi mampu memasok nutrisi untuk menyuburkan lahan pertanian dan sumber pakan bagi mahkluk di badan-badan air.

Menurunnya kualitas, kuantitas dan kontinuitas jasa ekologi atau layanan ekosistem hutan akan seiring dengan bertumbuhnya intensitas bencana ekologis. Hanya saja ditengah semakin maraknya bencana ekologis, faktor semakin berkurangnya tutupan vegetasi di lahan-lahan hutan kerap kali lepas dari perbincangan.

Bencana lebih dihadapi atau coba diatasi dengan pendekatan teknis, bukan pendekatan ekologis. Pilihan untuk merawat, menjaga dan memulihkan hutan hanya menjadi keterangan tambahan atau pilihan jangka panjang yang tidak dijangkau dengan segera.

Padahal karena hutan yang semakin berkurang, air hujan yang adalah ibu dari segala air kemudian jadi momok. Karena sebagian besar air hujan kemudian menjadi air permukaan yang pada saat-saat tertentu jika terkumpul dalam volume yang besar kemudian akan menjadi banjir bandang, yang merusak apapun tanpa pilih-pilih.

Dampaknya juga berpengaruh pada sumber air bersih. Dengan semakin banyak air hujan yang menjadi air permukaan sumber atau cadangan air bersih menjadi berkurang sehingga dapat menimbulkan kekurangan air di musim kemarau.

Karena hutan yang semakin berkurang, kualitas udara juga semakin memburuk. Aktivitas manusia yang semakin hari semakin menghasilkan karbon dioksida tidak lagi dengan cepat diserap oleh hutan untuk diubah menjadi oksigen.

Karena hutan yang semakin berkurang, kini angin menjadi semakin kencang. Burung-burung pemangsa hama pertanian juga kehilangan tempat bertengger sehingga hama kemudian meraja lela di tanah-tanah pertanian.

Suhu di lingkungan kita juga menjadi semakin panas, kita kehilangan kesejukan sehingga pemakaian kipas angin dan AC menjadi semakin meningkat. Untuk memperoleh kesejukan kita mesti membutuhkan energi listrik yang ditopang oleh ekstrasi sumberdaya yang berbasis fosil. Ekstraksi yang merusak bumi secara permanen sekaligus menimbulkan polutan yang jahat terhadap iklim.

Melupakan jasa hutan, peran dan manfaatnya untuk kehidupan manusia serta mahkluk lainnya dalam satu kesatuan ekosistem akan membuat kita harus membayar mahal, mengeluarkan biaya terus menerus. Biaya yang jika dikalkulasi akan jauh lebih besar dari yang diperoleh dari hasil kita mengektrasi sumberdaya hutan dan sumberdaya alam lainnya yang ada didalamnya.

sumber gambar : rimbakita.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here