Asam di gunung garam di laut bertemu dalam satu belanga. Peribahasa ini kerap dipakai untuk menghibur mereka-mereka yang galau karena belum berjodoh. Pesannya adalah jodoh bisa saja datang dari tempat yang jauh namun tetap akan dipertemukan.

Entah kesadaran apa yang membuat si pembuat peribahasa itu menciptakan umpama antara asam di gunung dan garam di laut sebagai sebuah hubungan yang jauh namun tetap akan terjadi. Adakah kesadaran ekologis tentang ekosistem yang saling terhubung mendasari peribahasa itu?. Mungkin saja tidak.

Saya menemukan pesan ekologis dalam peribahasa itu ketika berbincang dengan Akhyar Kay, demikian nama facebook dari seseorang yang getol menerangkan ekosistem Kalimantan dalam bentuk tausiah-tausiah pendek disertai gambar di status facebooknya.

Suatu ketika diceritakan olehnya tentang ‘Dinas’ Perhubungan Laut Amerika Serikat yang kemudian mengurus Serigala. Cerita yang aneh, apa hubungan antara instasi atau lembaga yang mengurusi perhubungan di laut dengan Serigala?.

Ternyata ada hubungannya. Muasal ceritanya Dinas Perhubungan Laut ini selalu dipusingkan dengan pengeluaran yang besar untuk mengeruk pelabuhan-pelabuhan yang cepat mendangkal. Biaya yang terus menerus dikeluarkan ini tentu saja akan membebani kesehatan anggaran. Uang yang dikeluarkan bisa lebih besar dari yang diperoleh.

Maka dicarilah akar penyebab dari pendangkalan atau pelumpuran pelabuhan itu. Hingga kemudian ditemukan ternyata kepunahan Serigala di hutan yang terhubung dengan lokasi pendangkalan itu menyebabkan binatang-binatang pemakan rumput dan tumbuhan di hutan berkembang tak terkendali. Hutan menjadi merangas sehingga saat musim hujan permukaan tanahnya tererosi.

Perkembangan binatang pemakan tumbuhan tentu perlu dibatasi dan dibuat seimbang, maka kemudian Dinas Perhubungan Laut menghadirkan kembali Serigala di hutan sebagai predator untuk menjaga pertumbuhan binatang pemakan tumbuhan.

Dan ketika rantai makanan kembali terwujud di ekosistem hutan itu, erosi di lautan yang mendangkalkan pelabuhan dan alur lautnya berkurang.

Dari perbincangan itu kemudian muncul sebuah istilah yang amat menarik, senada dengan asam di gunung dan garam di laut yakni rimba untuk samudera.

Rimba dan samudera terhubung lewat badan air berupa sungai dan perlembahan sebagai jalur untuk pengaliran. Dari rimba samudera akan mendapat pasokan kelimpahan nutrisi yang berasal dari lantai hutan hasil dekomposisi material organik hutan.

Air hujan yang jatuh di permukaan lantai hutan kemudian akan mentransportasi berbagai material baik, ada yang masih berujud dan ada pula yang tersuspensi dalam air, menuju anak sungai lalu ke sungai besar untuk mengalir ke laut.

Kelimpahan nutrisi dari rimba di samudera ini akan menentukan kelimpahan plankton yang merupakan komponen kunci dan dasar dari rantai makanan di laut. Selain menghasilkan oksigen yang berlimpah, kelimpahan plankton juga juga akan menghasilkan kelimpahan ikan-ikan kecil yang merupakan pakan bagi ikan-ikan yang lebih besar dan seterusnya.

Samudera adalah gudang ikan dan darimana datangnya sumber energi untuk menghasilkan limpahan ikan telah terjawab yakni rimba. Maka jika kini lautan ikannya berkurang, itu semata tidak hanya karena penangkapan berlebihan, polusi atau model penangkapan yang buruk melainkan juga karena berkurangnya pasokan makanan karena degradasi hutan.

Jadi pertemuan antara asam dari gunung dengan garam di lautan bukanlah sekedar umpama tentang harapan akan jodoh yang datang dari jauh melainkan adalah sebuah kenyataan dalam ekosistem. Sebuah pertemuan yang berada dalam kerangka hubungan yang erat antar komponen meski berjauhan.

Namun dari rimba bukan hanya asam yang akan dikirimkan, andai kemudian rimba merana maka yang akan berlimpah adalah permukaan tanah yang terkikis di musim hujan. Sedimen yang kemudian justru akan mendatangkan petaka. Selain menyebabkan pendangkalan, lumpur yang tersuspensi kemudian akan menyelimuti karang, menyebabkan air laut menjadi keruh, menutupi pori-pori tumbuhan atau padang lamun di lantai lautan sehingga akan menimbulkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

Pada akhirnya jangan pisahkan antara rimba dan samudera. Karena rimba nan raya akan menghasilkan samudera yang jaya. Mustahil kita membanggakan diri sebagai negeri maritim dengan kelimpahan hasil samudera jika rimba kita berada dalam duka.

sumber gambar : satujam.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here