Hampir 20 tahun tinggal di Kalimantan Timur tentu saja saya berkali-kali melihat hutan lewat perjalanan udara, darat dan air. Ada yang nampak hutan betulan, setengah hutan dan bekas hutan. Hanya saja semua saya saksikan secara sepintas tanpa menjejakkan kaki di lantai hutannya, berada di teduhan kanopi pohonnya dan menikmati suasana mistisnya.

Ini berarti meski kerap membicarakan hutan, saya tidaklah sering memasuki kawasan hutan dan berada di dalamnya dalam waktu yang cukup lama. Sejauh yang saya ingat, petualangan masuk hutan umumnya bertujuan untuk piknik, seperti ke Hutan Bukit Bengkirai. Atau hutan di Lesan, untuk melihat praktek latihan memanen madu hutan secara berkelanjutan.

Ada juga hutan yang saya susuri melalui sungainya, yakni Hutan Desa Setulang dan Merabu untuk keperluan penulisan. Pun juga ketika saya menelusuri jalur trekking di Hutan Kebun Raya Balikpapan yang merupakan bagian dari Hutan Lindung Sungai Wain.

Melihat hutan di berbagai penjuru Kalimantan Timur, seperti memvisualkan kembali cerita tentang hutan yang pernah saya dengar waktu kecil. Lahir di Jawa Tengah, hutan yang sesungguhnya memang tinggal dalam cerita. Tidak ada lagi yang disebut ‘alas gung liwang liwung’, apa yang nyata tentang hutan adalah hamparan lahan dengan tanaman sejenis seperti Jati atau Pinus.

Memang ada juga perbukitan yang masih menghijau. Sering dibilang gunung, sebutannya tergantung dari tumbuhan yang dominan. Karena banyak pohon Jambu makan akan disebut dengan Gunung Jambu. Hijaunya gunung itu adalah hasil dari program penghijauan atau reboisasi.

Di Kalimantan Timur banyak juga hutan hasil reboisasi, umumnya ditanami Pohon Sengon dan Akasia. Tapi lama kelamaan tumbuh juga pohon-pohon lainnya. Pun juga ada hutan dengan tanaman sejenis lainnya, kawasan yang disebut sebagai Hutan Tanaman Industri.

Ada banyak keprihatinan terhadap laju kehilangan hutan di Kalimantan Timur, namun kawasan hutan atau kawasan yang menghutan kembali belumlah sulit untuk ditemukan. Memang benar di beberapa tempat hutan sudah menjadi masa lalu, namun di banyak tempat lainnya hutan masih lekat dengan kehidupan.

Dua pengalaman terbaru menyusuri hutan memberi gambaran yang lebih berwarna. Pengalaman pertama adalah hutan lahan basah di Kutai Kartanegara. Hutan yang berada di rawa-rawa sekitar Danau Semayang.

Selepas Kampung Tubuhan yang bertetangga dengan Kampung Semayang, kanan kiri sungai mulai dihiasi dengan pohon-pohon besar, tidak terlalu rapat namun sudah membawa kesejukan.

Sungai yang berawal dari Danau Semayang kemudian berakhir kembali di danau yang sama. Dan kemudian setelah menyusuri danau sebentar, kemudian ada anak sungai yang konon buntu. Masyarakat setempat menyebutnya dengan sebutan Sungai Behaur.

Anak sungainya tak terlalu lebar dan juga tak terlalu dalam.  Dan kanan kirinya ditumbuhi pepohonan besar yang cukup rapat. Tajuk pohon dari kanan dan kiri membentuk kanopi diatas sungai. Nampaknya dulu kawasan ini adalah hutan yang pernah ditebangi, namun kemudian menghutan kembali. Sesekali nampak ada kelebatan monyet, namun yang terbanyak nampak adalah berbagai jenis burung.

Karena kipas mesin kerap terantuk pada batang kayu yang terendam di dasar sungai nan dangkal, maka long boat berbalik. Kembali masuk ke Danau Semayang dan mencari jalan masuk ke Sungai Kahala. Dengan alur sungai yang lebih lebar, hutan tepian sungai kahala menyajikan pemandangan yang berbeda. Pohon besarnya lebih banyak, jenisnya juga lebih bervariasi. Di batang pohon juga bisa ditemukan banyak tumbuhan menempel, salah satunya adalah anggrek hutan.

Hanya saja hutan dataran rendah di lahan basah Kahala ini terancam. Banyak aktivitas penebangan yang dilakukan oleh masyarakat dari berbagai penjuru kawasan danau. Kayu menjadi kebutuhan masyarakat, salah satunya untuk membangun rumah-rumah walet yang marak bermunculan di seluruh kampung sekitar danau-danau.

Pengalaman kedua memasuki kawasan hutan yang berada di Kota Balikpapan. Kota industri yang melarang pertambangan batubara ini mempunyai kawasan hutan lindung yang cukup terjaga. Konon luasnya sekitar 10.000 hektar.

Dan di kawasan bernama Hutan Lindung Sungai Wain ini sebagian kecil, sekitar 300-an hektar dijadikan Kebun Raya Balikpapan. KRB dimaksudkan sebagai pusat konservasi kayu hutan Kalimantan {Indonesia}.

Menyaksikan sepenggal hutan di lahan basah dan lahan kering terasa betapa besarnya hutan sebagai pustaka alam. Ada banyak pengetahuan tersimpan disana. Sebagai lanskap, hutan bak lembaran besar yang mengambarkan kesatuan antar komponen yang ada di dalamnya.

Membaca pustaka alam ini terasa menyenangkan karena hutan hadir bak sebuah taman. Ada komposisi didalamnya mulai dari tumbuhan bawah, tumbuhan rendah hingga tumbuhan tinggi dengan wujud batang, liuk ranting dan daun yang berbeda. Bukan hanya beda bentuk melainkan juga berbeda-beda warna.

Taman dengan visual yang indah itu juga dihiasi oleh audio dengan suara yang menenangkan, bunyi-bunyian dari suara binatang. Suara dari mulut, dari kepak dan dari geraknya.

Saya yakin jika dalam pembangunan sumber daya manusia di Kalimantan Timur, membaca pustaka dan menikmati taman alam menjadi bagian integral, niscaya kita akan menghasilkan manusia-manusia cerdas yang tak tega untuk merusak alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here