KESAH.IDMedia baru yang mengandalkan jurnalisme ala kreator konten membuat hak informasi publik dibajak oleh viralitas. Publik tidak dibuat menjadi cerdas melainkan justru memuja keterkenalan para kreator konten yang kerap FYP. Selain bercorak jawasentris, informasi para kreator konten kerap mengandung porn poverty. Alih-alih bersimpati pada kemiskinan dan ketimpangan, pengkonsumsi informasi lebih memuja kedermawanan para’sultan’ yang gemar bagi-bagi cuan. Terjadi affective displacement.

Dua puluh atau tiga puluh tahun jadi wartawan itu keren. Masyarakat mempersepsikan wartawan sebagai orang yang paling tahu informasi karena pergaulannya dengan orang-orang penting.

Sempat ada yang bertanya “Nggak pingin jadi wartawan?”

Saya memilih menjawab ingin keliling Indonesia dan menuliskannya.

Sejak tahun 96-an saya memang bergaul dengan wartawan. Dan setahun kemudian mulai iseng-iseng menulis opini lalu saya kirimkan ke koran. Seingat saya yang pertama adalah Manado Post.

Kemudian ketika terjadi konflik Maluku, Maluku Utara dan Poso, saya juga mulai bergaul dengan lembaga-lembaga berita, termasuk organisasi yang punya perhatian kepada informasi dan jurnalistik seperti Internews misalnya.

Sayapun berteman dengan jurnalis koran, televisi dan juga radio.

Karenanya saya punya obsesi pada penerbitan media. Makanya ketika menulis proposal untuk donor saya selalu menyisipkan rencana publikasi, sekurangnya membuat newsletter.

Bersama teman-teman jurnalis sebuah radio, saya  sempat juga membuat tabloid. Kalau tidak salah judulnya Jurnal 5. Tapi hanya mampu terbit dua atau tiga kali. Saya dan teman-teman mampu membuat terbitan tak tak piawai menjualnya dan mencari iklan.

Petualangan saya bermedia di Manado selesai. Saya pindah ke Samarinda Kalimantan Timur.

Gabut tidak punya kegiatan, sayapun mulai menulis. Kebetulan di Tribun Kaltim yang baru terbit ada seorang teman yang dulu pernah bekerja di Harian Posko Manado. Saya kerap bertemu dengannya di Sekretariat Aji, yang waktu itu sekaligus menjadi kantor ALIM, Aliansi Layanan Informasi Masyarakat.

Saya kirimkan tulisan kepada dan dimuat. Sayapun jadi sering nulis opini di Tribun Kaltim.

Karena tulisan-tulisan itu kemudian saya bertemu dengan teman-teman yang bergerak di kajian kebudayaan. Sayapun mulai diajak jalan-jalan berinteraksi dengan masyarakat adat, terutama di Kukar dan sesekali ke Kubar.

Tak lama kemudian saya diberi kartu, kartu pers sebagai kontributor dari Jurnal Srinthil. Jurnal kebudayaan yang diterbitkan oleh Desantara.

Tulisan-tulisan lain dari interaksi dengan masyarakat adat sempat secara serial diterbitkan oleh Kaltim Pos.

Saya makin intens menulis saat ‘dipanggil’ ke Manado untuk membantu sebuah lembaga yang punya publikasi berupa ‘news paper insert’ di Manado Post.

Dalam box redaktur, saya ditulis sebagai senior editor.

Itu hanya label saja, sama seperti ketika saya diberi ruangan yang ada meja kerja dan sofanya. Katanya saya dijadikan Deputy Director. Kenyataannya ruangan itu hanya saya pakai untuk tidur. Karena saya malas tinggal di kos-kosan.

Saya bertanggungjawab menulis dua rubrik, yakni profil sosok-sosok yang punya kontribusi pada pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan dan spirit, dinamika masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam secara berkelanjutan.

Di news paper insert ini kebanyakan rekan kerja saya adalah jurnalis senior dari beberapa koran terkemuka di Manado.

BACA JUGA : Satrio Piningit

Sekitar setahunan saya di Manado. Dan selama itu saya bergaul cukup dekat dengan salah satu penulis paling berbakat di sana. Seorang jurnalis yang kemudian bekerja di maskapai pertambangan internasional.

Sesekali saya bertanya pada soal tulis menulis tapi tak pernah dijawabnya. Satu kali dia hanya bilang “Menulislah setiap hari, selesai nggak selesai,”

Padahal saya bukan cuma ingin belajar menulis belaka, saya ingin bisa menulis dengan cepat.

Sayapun mulai mempraktekkan menulis setiap hari. Tidak selalu bisa.

Kebetulan waktu itu facebook mempunyai fitur catatan atau note. Jadi saya menulis di facebook.

Sebenarnya sudah ada blog, namun menulis di blog akan sulit untuk mendapat pembaca.

Baru setelah muncul community blog, salah satunya kompasiana; sayapun segera memanfaatnya.

Di akun kompasiana yang sudah tertidur bertahun-tahun, ada kurang lebih 300 tulisan yang saya posting. Salah satunya ada yang memenangkan kompetisi, dan ada pula satu tulisan yang kemudian dibukukan ramai-ramai dalam buku Jokowi Bukan Untuk Presiden.

Menulis di community blog menguntungkan karena besar kemungkinannya tulisan akan dibaca. Kalau dirata-rata satu tulisan saya dibaca 600 orang.

Karena suka menulis kemudian ada yang menawari untuk menjadi kontributor sebuah publikasi yang berisi berita dan informasi lingkungan hidup. Sayapun mengiyakan dan beberapa tahun menulis berita, lebih tepatnya berita madya.

Lumayan, karena menjadi kontributor saya sempat jalan-jalan ke beberapa hutan yang ada di Kalimantan Timur, termasuk Kalimantan Utara.

Tapi karena keasyikan main di sungai, lama-lama saya malas menulis berita.

Saya tetap menulis di facebook dan juga blog yang disumbang oleh seorang teman.

Saya makin memaksa diri untuk menulis setiap hari.

Dan bersamaan dengan pandemi Covid saat kegabutan melanda, menulis menjadi sesuatu yang kemudian menyenangkan dan menenangkan. Beberapa teman kemudian berinisiatif membuat web blog untuk menulis ramai-ramai.

Sayapun makin tertib menulis setiap hari, paling tidak di blog 5 hari seminggu. Tulisan lain biasanya saya posting di media sosial untuk selingan.

Hampir 4 tahun, web blog sumbangan teman ini terus terpelihara.

Namun saya menambah satu tugas lagi pada diri saya. Selain menulis satu tulisan setiap hari, saya juga akan membaca satu tulisan bagus setiap hari sebagai referensi. Dari tulisan bagus saya bisa belajar bagaimana mengembangkan tulisan, mencari tema yang menarik dan mengembangkan sudut pandang yang berbeda dengan kebanyakan orang.

Menulis tidak sekedar butuh ide dan niat tetapi juga pemahaman teknis-teknis penulisan agar ide maupun tema yang menarik bisa disampaikan secara menarik pula.

BACA JUGA : Air Karst

Beberapa hari lalu Ketua PWI Kaltim terpilih menelepon saya. Tak pernah dia menelepon saya, walau kerap bertemu.

Tentu saya terkejut ketika diminta untuk bicara dalam acara Bimtek PWI untuk menyambut kepengurusan baru.

Saya tahu, kalau saya bukan pilihan pertama.

Biasanya memang begitu, seseorang akan menghubungi saya setelah orang yang dihubungi sebelumnya berhalangan.

Yang berhalangan itu biasanya akan menyebut nama saya.

Saya tak langsung mengiyakan karena belum tahu harus bicara apa.

Baru setelah saya baca TOR singkatnya, saya mengiyakannya.

Saya tak akan mengajari karena hampir semua anggota PWI pasti sudah lama aktif di organisasi.

Jadi saya hanya berbagi keprihatinan tentang organisasi-organisasi yang dulu mapan namun kini diguncang badai karena perubahan.

Seingat saya pers berjuang begitu lama untuk mendapatkan kemerdekaannya. Di masa orde baru, pers begitu dibatasi, diawasi bahkan bisa dibekukan jika membuat penguasa tak senang.

Jurnalis sering menjadi sasaran sentimen. Banyak yang mengalami kekerasan dan intimidasi, dan tak sedikit yang kehilangan nyawa karena menuliskan berita yang sensitif atau membongkar busuknya penguasa.

Jatuhnya regim Suharto yang diganti oleh Habibie membuat iklim kebebasan pers terbuka. Namun bulan madu pers tak lama. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat pers konvensional kebingungan.

Media online berkembang dengan kecepatan tak terkendali, ditambah lagi dengan makin populernya media sosial. Pers tidak lagi digawangi oleh jurnalis yang berdedikasi untuk menegakkan profesionalitas, keadaban dan martabat.

Jurnalisme dipengaruhi oleh kreator konten, yang memproduksi informasi untuk memburu engagement tanpa mempedulikan dampaknya untuk masyarakat.

Jurnalisme dibunuh oleh kebebasannya sendiri.

Umumnya Konten Kreator tidak terobsesi untuk menghasilkan produk yang lebih baik. Buat mereka sedikit berbeda lebih menguntungkan daripada sedikit lebih baik.

Mengembalikan kewibawaan pers atau jurnalistik menjadi tugas utama organisasi pers. Sebab salah satu fungsi pers adalah menjadi wacthdoc untuk mengkritisi kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan publik.

Tidak mungkin pers atau jurnalistik sebagai pilar keempat demokrasi akan menjadi suluh penerang di dalam masyarakat jika hanya menyalak keras namun  namun kemudian beringsut pelan ke belakang untuk kemudian menadahkan tangan,

Kita mesti menjaga agar Konten Kreator tidak mengambil alih urusan jurnalistik, karena mengharap mereka bertanggungjawab sebagai mana tanggungjawab yang dipikul oleh pers, sungguh berlebihan.