KESAH.IDAir selalu memanggil, seburuk apapun kualitasnya. Terbukti banyak anak sering kali tergoda untuk terjun dan bermain air di Sungai Karang Mumus yang kualitas air tak layak untuk memandikan hewan sekalipun. Air dengan kualitas berbeda akan ditemukan di kawasan bentang alam karst Sangkulirang – Mangkalihat yang memanjang dari Kutai Timur hingga ke Berau. Disana bukan hanya banyak air terjun, sungai bawah tanah dan danau, melainkan juga mata air yang airnya sungguh jernih, bersih dan menyegarkan. Airnya tak bakal membuat orang malas mandi.

Air dari pegunungan selalu menyegarkan.

Itu kenapa setiap liburan sekolah yang ada dalam pikiran saya adalah berlibur ke rumah Mbah di gunung.

Saya masih ingat persis, kamar mandinya adalah bak besar di belakang rumah, diantara rumah Mbah dan Pak De. AIrnya terus mengalir karena diambil dari mbelik atau mata air yang ada di lereng gunung.

Dari mata air itu air dialirkan melalui bilah bambu yang dibelah dua sambung-menyambung. Bambu disangga dengan tiang kayu yang diujungnya bercabang seperti ketapel.

Jika alirannya mati, itu pertanda ada saluran yang tersumbat oleh dedaunan atau bilah bambunya jatuh karena tersenggol ternak yang lewat  dan faktor lainnya. Jalurpun mesti diperiksa.

Karena airnya mengalir terus menerus, jika sudah penuh air yang meluber akan masuk saluran yang dihubungkan ke blumbang atau kolam. Kolam di sebelah bak mandi itu berisi ikan gurami. Ikan yang suka makan daun-daunan.

Berada di kawasan Pegunungan Menoreh bagian selatan, daerah berbukit-bukit itu mengandung banyak batu. DI beberapa bagian ada batu gamping, tapi di bagian lain merupakan batu keras hasil endapan magma hasil letusan gunung api di masa purba.

Maka yang bening bukan hanya air mata air tetapi juga air sungainya. Kali mulai dari Kaligesing, Kalikotak, Kaligono dan seterusnya alirannya bening gemericik. Sungainya bukan hanya berbatu kerikil tapi berlantai batu. Di beberapa titik menjadi seperti bak mandi walau bentuknya tak beraturan.

Maka di salah satu tempat ada yang dinamakan Sidandang, karena bentuk blumbangan batuan sungainya seperti dandang.

Meski airnya jernih dan segar, bukan berarti saya rajin mandi. Masalahnya di pagi dan sore hari airnya dingin sekali. Jika dipaksakan mandi tanpa air panas, badan langsung menggigil, gigi bergemeretuk tak bisa dikendalikan.

Jadinya saya lebih banyak main air di saat matahari bersinar cerah.

Mbah sudah lama meninggal, tapi disana masih ada saudara-saudari sepupu saya. Dan setrelah berpuluh tahun tak rutin mengunjunginya lagi, ketika saya datang kembali kesana ternyata airnya masih sama. Yang berbeda hanya jalur untuk mengalirkannya, sekarang sudah diganti memakai pipa.

Di rumah saya sebenarnya airnya juga jernih. Dari dulu hingga sekarang tetap memakai sumur. Namun jika musim penghujan airnya cenderung keruh. Dan di saat musim kemarau setelah disedot beberapa lama airnya akan habis, jadi mesti ditunggu beberapa saat untuk bisa diambil lagi.

Ketika saya sekolah di Mertoyudan, Magelang dan tinggal di asrama, airnya juga berlimpah. Saya tak tahu persis dari mana sumbernya, tapi yang jelas tak pernah kekurangan air walau asrama dihuni oleh ratusan orang. Termasuk diantaranya puluhan babi yang pemeliharaannya butuh banyak air.

Mungkin airnya dari Gunung Tidar karena asrama saya memang tak jauh dari komplek Akabri Angkatan Darat, Magelang.

BACA JUGA : Desa Wisata

Setelah dari Mertoyudan, saya merantau dan tinggal kembali dalam asrama di Pineleng, Minahasa tak jauh dari Kota Manado.

Asramanya berada di bawah bukit bantik yang ditumbuhi oleh nyiur melambai.

Daerahnya mempunyai banyak batu-batu.

Tak jauh dari asrama saya ada kebun yang dipenuhi dengan kubur batu atau waruga yang tak terpelihara. Lokasinya disebut sebagai bekas kampung tua.

Sebagian batuan untuk mereklamasi Teluk Manado yang kini lebih dikenal dengan nama Boulevard Manado diambil dari Warembungan, kampung tetangga yang berada di sebelah Bukit Bantik.

Dari kampung itulah air dialirkan oleh PDAM sebagai sumber air bersih. Mata air di Warembungan yang dinamai Koemahoekoer, sejak jaman Belanda telah menjadi cikal bakal dari layanan air bersih untuk Kota Manado.

Namun karena kebutuhannya besar, kemudian dibuat sumur bor. Dan airnya jernih sekali.

Saya lupa persis tahun berapa, tapi ada masa kesulitan air sehingga harus mengambil air dari mata air.

Seingat saya memang ada beberapa mata air tak jauh dari asrama. Airnya cukup besar, bahkan di Bukit Bantik ada air umbul, atau mata air yang alirannya menyembul.

Karena cukup lama tinggal di Sulawesi Utara, sebagian waktu saya tinggal di Kota Manado. Air bersih di Kota Manado seperti kebanyakan kota lainnya bersumber dari air sungai.

Ketika iklim privatisasi air dibuka, dan kemudian DKI Jakarta waktu itu bermita dengan Palyja milik group Suez Environment asal Perancis. PAM Manado direncanakan akan bermitra dengan Waterleideng Maatscaooij Drenthe atau WMD dari Belanda.

Saat kerjasama itu dilakukan saya sudah tidak tinggal lagi di Kota Manado.

Di Samarinda, tempat tinggal saya yang baru agak kesusahan air waktu itu. Buat saya kepanjangan PDAM pada waktu itu adalah Perusahaan Daerah Angin Melulu.

Airnya hanya mengalir di waktu-waktu tertentu dengan kekuatan yang tak cukup untuk mengalirkan ke tandon penyimpanan yang ada di atas.

Kran hampir tak pernah ditutup karena aliran airnya tak cukup untuk memenuhi bak. Lewat tengah malam biasa baru air mengalir cukup deras.

Dan lama kelamaan warga yang jengkel karena begadang menunggu air, kemudian memasang pompa untuk menyedot air PDAM. Tiap malam serasa ada orkestrasi bunyi pompa yang kadang melengking karena hanya menyedot angin.

Jika waktu itu banyak warga Kota Samarinda mengeluh karena hujan yang kemudian menimbulkan genangan. Buat saya hujan adalah kesukaan karena bisa menampung air hujan dari talang air untuk dialirkan ke drum. Jika hujan lebat sekali hujan bisa menampung sekitar 6 drum dan tandonpun juga penuh.

Rasanya lima tahun lebih bergulat dan bergelut dengan aliran air yang bikin jengkel.

Syukurlah kini air yang disedot dari Sungai Mahakam dan kemudian diolah itu sudah tumpah ruah karena sejak dua pemilu lalu sudah dipasang pipa saluran air yang lebih besar. Kalau soal kwalitas airnya kurang lebih masih sama. Bak mandi mesti dikuras beberapa hari sekali karena endapan lumpur di dasarnya.

BACA JUGA : Satrio Piningit 

Saya hampir mengira semua kualitas air di Kalimantan Timur sama saja karena air bakunya bersumber dari sungai yang cenderung butek, kecoklatan seperti kopi mix.

Tapi prasangka itu berubah ketika saya menginjakkan kaki di Desa Merabu, Kecamatan Kelay, di Berau sana. Sungainya berbatu dan jernih. Sebelumnya saya sudah pernah menyaksikan sungai yang jernih, ketika menyusuri Sungai Setulang bagian hulu di Malinau.

Dan ketika diajak pergi ke Danau Nyadeng, ternyata airnya lebih wow lagi. Danaunya tak besar tapi konon amat dalam dan airnya bening sekali dengan debit yang cukup besar.

Desa Merabu berada di bentang alam karst Sangkulirang – Mangkalihat yang membentang dari Kutai Timur hingga Berau.

Dan air dengan kejernihan yang sama kemudian saya temui di Labuan Cermin dan Labuan Kelambu di Kecamatan Biduk-Biduk. Danau Labuan Cermin yang tersambung laut menyajikan sensasi tersendiri yakni air jernih dua rasa.

Setelah cukup lama tidak merasakan kesegaran air alami, beberapa minggu lalu saya kembali merasakannya. Saya kembali jalan-jalan ke kawasan bentang alam karst Sangkulirang – Mangkalihat. Namun kali ini di wilayah Kutai Timur, yakni di Kecamatan Bengalon, Kaubun dan Sangkulirang.

Desa pertama yang saya kunjungi adalah Sekerat. Air di Sekerat berasal dari mata air yang ada di perbukitan yang tak jauh dari pantai. Konon mata airnya besar sehingga juga dimanfaatkan oleh masyarakat desa lain di Kecamatan Kaliorang. Bahkan KEK Maloy kebutuhan air bersihnya juga dipasok dari mata air Sekerat.

Di kaki bukit Mampang, salah satu dusun di Desa Sekerat saya juga menyaksikan anak sungai yang aliran airnya sangat jernih.

Dua desa lain yang saya kunjungi berada di Kecamatan Kaubun. Tapi saya tak sempat mandi-mandi manja disana. Hanya saja di Desa Mata Air saya melihat mata air yang airnya mengalir dari sela-sela akar pohon beringin. Air jernih sekali. Mata air selain dipakai untuk kebutuhan warga desa juga disucikan oleh umat Hindu di Kecamatan Kaubun. Air dari mata air ini diambil untuk keperluan ritual umat Hindu di Mata Air dan Bumi Rapak.

Sementara itu di Desa Cipta Graha saya juga tak sempat melihat dan merasakan airnya. Namun ketika melewati kebun sawit, saya melihat saluran yang jernih airnya.

Menurut warga kebutuhan air di Cipta Graha dipenuhi oleh sumur-sumur warga. Rasanya airnya pasti tak jauh berbeda dengan air dari mata air yang berada di Desa Mata Air dan Sekerat karena telah disaring oleh batuan dalam bentang alam karst.

Desa terakhir yang saya kunjungi adalah Desa Pulau Miang yang terdiri atas daratan dan dua pulau yakni Miang Kecil dan Miang Besar. Yang berpenghuni adalah Pulau Miang Besar.

Menyeberang dengan kapal bermesin Donfeng, kesegaran pertama yang saya rasakan adalah ketika mencuci tangan di rumah seorang warga saat hendak makan siang.

Air yang mengalir dari kran sunguh jernih. Ternyata air itu berasal dari sumur bor yang konon ada sejak jaman Belanda. Air itulah yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan warganya. Agak aneh di pulau sekecil itu ada sumber air tawar besar yang benar-benar tawar.

Desa-desa yang saya kunjungi relatif terpencil, bukan karena jauh dari jalan raya melainkan karena akses jalan kesana yang kebanyakan masih berupa tanah perkerasan. Walau begitu tetap ada yang mesti disyukuri yakni kualitas airnya. Mandi pasti bukan merupakan sesuatu yang menyebalkan.

Bentang alam karst memang merupakan kawasan penangkap dan penyaring air terbaik. Perbukitan karst bisa diibaratkan sumur, tempat memanen air hujan yang disaring secara pelan dan dalam waktu yang lama sehingga menghasilkan air yang bersih, jernih sekaligus menyegarkan.

Menjaga keutuhan karst berarti memanen bonus air terbaik.