KESAH.ID – Salah satu pokok penting dalam sistem nilai dan moral adalah seksualitas. Keyakinan pada nilai dan moralitas membuat manusia menempatkan dirinya sendiri dalam posisi yang mulia dalam hal seks. Seks yang manusiawi adalah yang sah dangdut halal. Dalam arti dilakukan dalam sebuah pernikahan dan bertujuan untuk meneruskan keturunan. Seks diluar itu dianggap tidak beradab dan tak bermoral, yang melakukannya akan dicap sebagai bertindak ala binatang.
Dua puluhan tahun lalu seorang kawan yang kerap kali menjadi lawan diskusi menyatakan sesuatu yang saya anggap sebagai pernyataan kontroversial.
“Manusia itu omnisex,” ujarnya.
Saya yang mempelajari dan dididik dalam sistem hukum serta moralitas religi menerima pandangannya sebagai sangat provokatif.
Meski menerima sex sebagai sebuah anugerah seperti halnya rejeki (makanan) namun menurut saya pola seksual dan makan manusia tidak bisa disamaratakan.
Bagi saya waktu itu, seks adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa agar manusia sebagai ciptaan-NYA bisa meneruskan keturunan sehingga manusia sebagai ciptaan tidak punah.
Keyakinan saya tunggal bahwa seks adalah prokreatif, maka manusia diciptakan berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan.
Seks diluar itu berarti penyimpangan atau dosa.
Beberapa tahun terakhir ini saya mulai menyadari bahwa manusia adalah makhluk fisika, kimia dan biologi. Dengan pemahaman itu, cara pandang terhadap manusia ala dualisme Platonik mulai terkikis.
Apa yang disebut sebagai jiwa, roh atau nyawa sebenarnya merupakan kerjasama antar organ sehingga manusia hidup.
Dinamika internal itu berpusat dan dikendalikan oleh otak.
Pernyataan teman saya puluhan tahun lalu kemudian menjadi masuk akal, bahkan benar adanya.
Bahwa secara umum seks adalah kecenderungan untuk meneruskan keturunan adalah benar. Namun dalam sejarah manusia yang disebut dengan seks tidak bersifat biner, A atau B karena berada dalam spektrum.
Ada variasi seksual yang berkembang sebagai konsekwensi dari evolusi biologis manusia yang tidak selalu teratur.
Salah satu perkembangannya adalah dalam diri manusia seks sebagai kecenderungan bawaan tidak selalu bersifat prokreatif.
Aspek seksual manusia yang kemudian menonjol adalah rekreatif.
Dan tidak bisa disangkal lagi bahwa sebagian besar dari aktivitas seksual manusia saat ini memang tidak bertujuan prokreatif, bahkan kalau bisa potensi prokreasinya dicegah dengan berbagai cara.
Ketika seks tidak lagi bertujuan untuk prokreasi maka konteks hubungan seksual hanya antara laki-laki dan perempuan menjadi iburuntuh.
Manusia kemudian secara seksual ada yang tertarik kepada lawan jenis, sesama jenis, lawan jenis dan sesama jenis sekaligus (hetero, homo dan biseksual).
Bahkan manusia melampaui hal itu karena ada juga yang secara seksual tertarik pada binatang, tumbuhan dan benda mati, bahkan ada yang tertarik pada mayat.
Dengan demikian benar bahwa manusia adalah omniseks.
BACA JUGA : Demokrasi Abal Abal
Sejak jaman nenek moyangnya, manusia menyadari bahwa seks bisa menjadi unsur chaotic yang bisa menganggu pembangunan peradaban.
Seks kemudian menjadi salah satu sektor yang paling diatur oleh sistem sosial dan kebudayaan manusia.
Setiap masyarakat dan sistem kebudayaan mempunyai aturan yang sangat ketat tentang seks.
Sebagai dorongan yang bersifat biologis, ekpresi dan perilaku sosial kemudian diberi nilai dan norma dalam bingkai moralitas, terutama moralitas religius.
Dorongan seksual kemudian direpresi dan dibingkai dalam konteks sah dan halal.
Seks yang dipandang sah dan halal adalah seks yang dilakukan dalam pernikahan, antara suami dan istri karena tujuan seks adalah prokreasi.
Seks yang dilakukan diluar konteks itu dianggap menyimpang dan tidak bermoral.
Hubungan seks diluar nikah, sek berganti-ganti pasangan, tidak setia terhadap pasangan, seks sesama jenis dan lainnya dipandang sebagai perilaku buruk bukan atas dasar resiko fisik biologis dan mental melainkan resiko moral.
Semua perilaku seks yang mengabaikan norma dan moralitas kemudian sering diberi label sebagai perilaku seksual binatang.
Seseorang yang suka mengumbar nafsu seksual, berhubungan seks dengan sesama jenis, melakukan kekerasan atau pemaksaan seksual kemudian dianggap bukan manusia. Karena perilaku atau preferensi seksualnya mereka kemudian digolongkan sebagai binatang, tidak beradab.
Sistem nilai dan moralitas manusia memang kerap punya asumsi bahwa perilaku binatang lebih rendah daripada perilaku manusia, binatang dianggap tidak punya kesadaran, apalagi kesadaran moral.
Dengan perilaku manusia yang tidak bermoral dianggap sama rendah dengan perilaku binatang. Dibanding dengan manusia, binatang kerap digambarkan sebagai berperilaku ikut mau atau nafsunya sendiri.
Pandangan semacam ini menjadi pandangan umum dan diyakini sebagai benar. Padahal dalam kenyataannya tidak lah demikian.
Seksualitas manusia pada umumnya berbeda dengan kebanyakan binatang. Dengan demikian binatang tidak serta merta dijadikan kambing hitam. Binatang tidak mengenal mulia dan tidak mulia dalam urusan seksual, tidak ada kategori sah dan halal soal hubungan seks dalam kehidupan dunia binatang non manusia.
Coba bandingan antara manusia dengan anjing dan kucing. Kedua binatang ini terutama betinanya tidak akan mau berhubungan seksual kalau tidak sedang dalam masa subur. Ada waktu tertentu mereka birahi atau terdorong untuk berhubungan seksual.
Dan setiap kali berada dalam masa subur dan birahi, sang betina akan memberikan tanda, ada hormon tertentu yang dilepaskan sehingga akan tercium oleh pejantannya.
Pejantan yang mencium baunya akan mendekat dan mulai membujuk rayu agar betina mau dibuahi. Anjing pejantan mampu mencium bau yang dilepaskan anjing betina dari jarak hingga 3 kilometer.
Kera Babon betina akan menunjukkan siap untuk dibuahi dengan menunjukkan tanda pantat yang memerah.
Dengan demikian anjing, kucing dan kera babon betina tidak setiap saat mau berhubungan seksual. Ketika mereka tidak berada dalam masa subur atau waktu birahi, pejantan yang mendekat akan cenderung diusir atau dicueki.
Mak dibanding dengan manusia perilaku seksual anjing, kucing dan lainnya jelas lebih teratur, mereka tidak bisa berhubungan seks setiap saat atau sewaktu-waktu. Dan hubungan seksual mereka selalu dalam konteks meneruskan keturunan, karena betinanya hanya mau berhubungan seks saat waktu subur.
Hanya sedikit binatang yang melakukan hubungan seksual untuk kesenangan atau enak-enak.
Simpanse, gorilla, bonobo, orang utan dan lumba-lumba ditenggarai bisa mencari kesenangan dalam hubungan seks.
Kemampuan menikmati hubungan seksual berhubungan dengan kesadaran diri. Hanya sedikit binatang yang punya kesadaran diri seperti halnya manusia.
Tanpa kesadaran diri yang tinggi, maka perilaku seksual binatang pada umumnya hanya berdasar pada hukum alam atau dorongan siklus biologi. Binatang hanya sange atau hornie pada waktu tertentu, tidak setiap saat dan setiap waktu seperti halnya manusia.
BACA JUGA : Larang Melarang Nyanyi Lagu Ciptaan
Jadi menyamakan seks yang tidak bermoral atau tak sesuai dengan standar hukum dan nilai manusia sebagai perilaku seks binatang jelas salah alamat, salah logika karena tidak sesuai dengan fakta.
Sebab pada faktanya manusia hanya bereproduksi lewat aktivitas seksual, sementara ada banyak binatang berkembang biak secara aseksual, seperti membelah diri.
Atau bereproduksi tanpa hubungan seksual, contohnya ikan. Meski reproduksi dilakukan oleh jantan dan betina namun pada prosesnya tidak ada kopulasi. Ikan betina akan mengeluarkan telurnya dan kemudian ikan jantan akan menyemprotkan sperma untuk membuahinya.
Beberapa jenis binatang juga berperilaku monogami, hanya berhubungan dengan pasangan yang tetap seumur hidupnya.
Sementara manusia punya kecenderungan poligami dan poliandri. Berhubungan seksual dengan pasangan tetap, atau satu orang saja lebih dikarenakan aturan, soal sah dan halal. Jika dibebaskan tanpa aturan seperti dalam dunia binatang dipastikan seksualitas manusia lebih kacau, lebih liar dan lebih brutal.
Jadi binatang mana yang menjadi rujukan manusia sehingga menggeneralisasi semua perilaku seks yang buruk dari sesamanya untuk kemudian dikatakan sebagai perilaku kebinatangan.
Pada suatu masa dalam evolusi peradaban manusia, seorang perempuan yang berhubungan dengan banyak laki-laki dan kemudian hamil, masa depan dan keamanan anaknya bahkan lebih terjamin.
Anak yang lahir dari perempuan yang berhubungan dengan banyak laki-laki akan punya keuntungan evolutif. Karena ada banyak orang yang merasa sebagai bapaknya sehingga akan banyak pelindung ketika berhadapan dengan resiko bahaya.
Manusia memang kerap merasa diri atau mengklaim diri lebih tinggi dari binatang. Padahal secara biologis manusia termasuk dalam kerajaan binatang, binatang bertulang belakang, binatang menyusu, binatang melahirkan dan binatang berjalan tegak.
Dalam berperilaku juga demikian, tidak jauh berbeda dengan binatang lainnya, termasuk perilaku seksualnya. Secara biologis perilaku seksual manusia tidak berbeda jauh dengan binatang.
Bahkan karena evolusi yang berbeda perilaku seksual manusia spektrumnya justru lebih luas dari binatang, ada banyak perilaku seksual manusia yang tidak umum atau tak dikenal dan dipraktekkan oleh binatang pada umumnya.
Seperti relasi seksual dengan kekuasaan. Dalam dunia binatang pada umumnya, ‘kuasa’ yang bisa membuat seekor binatang menarik secara seksual adalah fisik, tenaga atau penampilan. Dunia binatang tidak mengenal relasi kuasa karena kedudukan (status sosial) dan kekayaan atau religi.
Pejantan Alfa, yang bisa berhubungan dengan banyak betina, akan digulingkan jika ada pejantan muda yang mengalahkannya.
Namun manusia tidak demikian, karena kedudukan, kekayaan dan kekuasaan laki-laki bisa mempunyai banyak istri. Raja punya banyak selir, suami bisa berpoligami. Sebuah praktek yang tak ditemukan dalam dunia binatang pada umumnya.
Tapi memang demikian kebiasaan manusia, selalu mencari kambing hitam. Menyalahkan yang lain atau mahkluk lain atas kejahatan atau keburukan yang dilakukan olehnya sendiri.
Kalau merasa melakukan kesalahan dan merasa berdosa, manusia akan menyalahkan setan yang dianggap menggoda untuk berbuat maksiat.
Pun demikian dengan kelakuan untuk menutupi keliaran dan kebrutalan perilaku seksualnya. Menganggap mereka yang perilaku seksnya tidak bermoral dan tak beradab sebagai binatang.
Manusia merendahkan sesamanya dengan mengatakan sesamanya sebagai binatang. Padahal perilaku yang dilakukan oleh yang dianggap sebagai binatang itu adalah perilaku khas manusia. Binatang tidak melakukan hal itu..
Sebenarnya yang lebih berhak untuk memaki justru binatang. Karena lebih banyak binatang sengsara hidupnya gara gara manusia. Jadi tak ada salahnya jika bintang kemudian menghardik “Dasar manusia,”.
note : sumber gambar – SAINS.SINDONEWS.COM








