KESAH.ID – Alam khazanah tradisi Nusantara dikenal berbagai jenis makanan yang bernilai metafisik atau supranatural. Makanan tertentu dibuat dan disajikan bukan semata untuk mengenyangkan perut melainkan juga menenangkan mahkluk lain yang tak kasat mata. Seiring dengan waktu makanan sajen kemudian berubah menjadi makanan konsumsi. Dan kini bahkan menjadi makanan komoditi, kuliner ikonik yang banyak dijual oleh usaha kecil dan mikro.
Nasi ada banyak ragamnya. Meski sama-sama dari beras namun beda jenis dan cara masaknya akan punya sebutan masing-masing.
Cara masak nasi yang paling umum adalah direbus dan dikukus.
Direbus berarti beras dimasak dalam wadah bersama air hingga masak. Cara ini kemudian menghasilkan masakan yang disebut nasi liwet.
Sementara nasi kukus dihasilkan dengan cara direbus sampai setengah masak lalu dipindahkan dalam wadah yang berisi kukusan, nasi setengah masak dimatangkan dengan uap air.
Selain nasi liwet dan kukus ada juga nasi tim. Beras dimasukkan dalam wadah dengan air lalu dimasak dalam wadah yang lebih besar, wadah yang berisi beras diapungkan dalam air di wadah yang lebih besar itu.
Diliwet, dikukus dan ditim akan menghasilkan nasi yang rasa dan tekturnya berbeda walau dari beras yang sama.
Cara yang lainnya adalah dibungkus dengan daun lalu direbus sampai matang, namanya nasi lontong. Jika wadahnya terbuat dari anyaman daun kelapa akan disebut dengan ketupat.
Ada juga yang dimasak dengan bilah bambu lalu dibakar atau dipanaskan dari dari luar, namanya nasi lemang.
Nasi yang dibungkus lalu didalamnya diberi isian dan kemudian dikukus lagi akan disebut arem-arem, atau lemper jika beras yang dipakai adalah beras ketan.
Dalam budaya Melayu dikenal istilah Nasi Besar. Disebut Nasi Besar bukan karena berasal dari bulir beras yang besar atau disajikan dalam wadah yang besar melainkan karena dimasak untuk merayakan hari besar.
Nasi Besar dibuat dari beras ketan dan diwarnai dengan kunyit. Lalu lengkapi dengan hiasan dan telur disekelilingnya. Nasi Besar biasanya dihidangkan dalam upacara perkawinan.
Masyarakat Jawa pada hari istimewa biasanya juga memasak nasi yang dibumbui dan diberi warna dengan kunyit. Nasi yang berwarna kuning kemudian disajikan dalam bentuk gunungan (tumpeng). Warna kuning melambangkan kemakmuran, sedangkan bentuk gunung melambangkan kemuliaan.
Nasi tumpeng (kuning) biasanya disajikan untuk acara syukuran entah peringatan ulang tahun kelahiran, ulang tahun perkawinan, lulus sekolah dan lain-lain. Nasi dimakan ramai-ramai (Bancakan) karena dilengkapi dan dihiasi dengan lauk dan sayur juga buah.
Sebagai anak generasi tahun 70-an, saya punya memori tentang nasi-nasi istimewa. Waktu itu belum dunia kuliner belum semarak, orang yang jualan makanan sarapan belum banyak.
Kalaupun ada yang jualan makanan untuk sarapan, yang dijual biasanya bubur, grontol jagung, cenil, gethuk, gadung dan sego megono.
Seingat saya waktu itu tak pernah sarapan pagi nasi kuning atau nasi gurih. Nasi kuning, nasi uduk, ketupat, lontong dan arem-arem menjadi makanan istimewa.
Istimewa karena nasi kuning dan nasi gurih biasanya ada di acara Bancakan atau syukuran, ketupat disajikan di hari raya lebaran atau dibuat saat acara kenaikan kelas (kupatan) dan lontong atau arem-arem biasa dibuat untuk bekal acara piknik.
BACA JUGA : Dasar Binatang
Di Kota Manado ada satu kampung yang identik dengan nasi kuning, namanya Kampung Kodo.
Perkampungan padat dengan jalanan gang yang sempit ini tak pernah tidur. Deretan warung yang sekaligus rumah siap menghidangkan nasi kuning selama 24 jam.
Yang beli untuk dimakan di rumah akan dibungkus dengan daun woka muda.
Nasi kuning disajikan dengan lauk berupa telur rebus, daging sapi dan abon cakalang.
Selain bubur Manado (tinutuan), nasi kuning juga populer sebagai makanan untuk sarapan. Karena di gang-gang perkampungan pada pagi hari ada banyak penjual yang menjajakan nasi kuning dengan berkeliling.
“Nasi kuning… nasi kuning kampung Kodo….,” begitu teriakan mereka untuk membranding jualannya.
Sempat tinggal cukup lama di Kota Manado akhirnya saya terbiasa menyantap nasi kuning sebagai makanan harian.
Nasi kuning yang dulu saya anggap sebagai Nasi Besar, nasi istimewa karena hanya disajikan dalam perayaan syukuran kemudian terdegradasi menjadi makanan biasa.
Industri kuliner yang berkembang pesat membuat nasi kuning terdesakralisasi, dari makanan ritual menjadi komoditas jualan.
Pindah ke Kota Samarinda, saya makin terbiasa dengan nasi kuning. Boleh dibilang nasi kuning adalah menu sarapan kebangsaan warga Kota Samarinda.
Pagi sampai menjelang siang, pinggir jalan mulai dari jalan besar hingga gang berderet kios penjual nasi kuning.
Karena warga Kota Samarinda beragam suku bangsa, maka nasi kuningnya juga bermacam ragam. Ada nasi kuning ala Banjar, nasi kuning ala Madura, nasi kuning ala Jawa, nasi kuning ala Sulawesi dan lain-lain. Masing-masing punya cinta rasa dan condiment yang berbeda.
Meski dikenal sebagai makanan sarapan, namun nasi kuning tersedia hampir di seluruh waktu. Ada beberapa titik di Kota Samarinda yang menu nasi kuningnya tersedia dalam 24 jam.
Sore hari, nasi kuning dengan mudah ditemukan di ruas jalan mulai sebelum Jembatan Lambung Mangkurat hingga sepanjang jalannya. Karena banyak yang berjualan nasi kuning, kemudian daerah itu dibranding sebagai Kampung Nasi Kuning.
Di Samarinda, nasi kuning umumnya disantap dengan lauk telur, daging ayam, daging sapi dan ikan. Telur bumbu Bali yang paling favorit, dan nasi kuning iwak haruan yang paling khas.
Soal harga, pada umumnya masih ramah dengan kantong masyarakat kebanyakan. Namun ada juga yang harganya bisa membuat telinga tegak, mata membelalak dan dompet memberontak.
BACA JUGA : Demokrasi Abal Abal
Dalam kebudayaan tradisional masyarakat Nusantara, makanan bukanlah sesuatu yang hanya sekedar mengenyangkan. Makanan dibuat dan disajikan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik agar tetap berenergi untuk menjalani hidup.
Makanan tradisional tertentu dibuat dan disajikan sebagai bagian tak terpisahkan dari pernak-pernik ritual, baik ritual tradisi maupun agama.
Kuliner mempunyai dimensi metafisik, bukan hanya santapan bagi manusia melainkan juga bagi mahkluk atau roh yang tak kasat mata.
Sebutan untuk kuliner metafisik ini adalah sajen atau sesaji. Sajen biasanya disajikan dengan pelengkap berupa aneka bunga dan dupa.
Nasi kuning, ayam Ingkung, tumpeng dan lain-lain adalah contoh makanan atau kuliner yang bernilai sakral, tidak dibuat setiap saat.
Seiring dengan waktu tradisi memberi sesaji memudar. Upacara atau ritual tradisional berdasarkan daur umur dan musim juga berubah. Masih dirayakan namun dalam bentuk perayaan kegembiraan dan festival profan.
Profan karena perayaannya tidak lagi reflektif melainkan rekreatif. Perayaan yang tidak berkhitmat untuk memperoleh ketenangan melainkan kesenangan.
Namun khasanah kuliner tradisional masih terus dipertahankan dalam bentuk kuliner konsumsi.
Karena unik dan punya cita rasa yang khas, kuliner konsumsi ini kemudian laku ketika dijadikan komoditi.
Kuliner tradisional kemudian mengalami desakralisasi. Bertransformasi dari ikon spritual menjadi dagangan ikonik.
Apa yang dulunya merupakan bagian dari sesaji kini menjadi dagangan unggulan masyarakat yang mengeluti usaha kecil dan mikro.
Meski masih dipopulerkan sebagai makanan tradisional atau makanan khas, kuliner metafisik yang berubah menjadi kuliner komoditas kemudian kehilangan makna spiritualnya.
Nasi kuning tidak lagi melambangkan kemakmuran karena seolah melambangkan warna emas. Atau tidak lagi melambangkan kemuliaan ketika dibuat menjadi nasi tumpeng.
Rasa syukur dan kegembiraan ketika menyantapnya juga berubah. Dari kenyang rohaniah menjadi kenyang batiniah.
Dulu masyarakat bahagia karena menyajikan dan merasa beroleh berkat, kini masyarakat senang dan kenyang jika menyantapnya.
Dan akan lebih menyenangkan lagi jika tampilan kuliner dan kedainya instagramable. Berfoto atau mereview kuliner tradisional yang sedang viral akan mendapat engagement tinggi, banyak like, comment dan share pada postingannya.
Rajin mengkonsumsi, mereview dan memposting kuliner tradisional bakal membuat seseorang dilabeli peduli pada tradisi, kearifan dan warisan lokal, walau sebenarnya yang dikejar adalah adsense.
note : sumber gambar – 1001INDONESIA.NET








