“Pak kapan air pasangnya, jam berapa pasnya?”

Yang ditanya tidak menjawab.

“Kami akan turun dengan kekuatan penuh, ratusan orang sekali turun,”

Yang dikasih tahu juga tak memberi tanggapan.

“Oh, iya kalau untuk diberitakan itu harus bayar berapa?”

Kali ini yang ditanya hanya mengelengkan kepala.

Perbincangan seperti itu kerap kali Mustofa dengar ketika menguping rencana dari suatu kelompok yang ingin datang memungut di pangkalan pungut. Mustofa sendiri heran, banyak dari antara yang datang selalu bertanya kapan air pasang.

“Mereka tanya banyu pasang karena pingin naik perahu,” begitu jawab seseorang yang ditanyai oleh Mustofa.

“Oh, jadi tujuannya mau datang kesini untuk naik perahu,”

“Mungkin begitu, karena naik perahu di Sungai Karang Mumus itu kesempatan langka untuk banyak orang,”

“Jadi naik perahu itu daya tarik untuk orang datang memungut?”

“Sepertinya begitu, maka selalu tanya kapan air pasang. Soalnya kalau air surut pungut sampahnya dari pinggir sungai, jadi pakaian bisa kotor kena lumpur,”

“Berarti kalau pungut sampah pas air surut lebih menantang dong?”

“Iya karena yang tergeletak di lumpur bisa bermacam-macam, baunya juga macam-macam,”

Menurut penjelasan dari Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus, kegiatan memungut sampah di sungai tidak dimaksudkan untuk menghabiskan sampah yang ada di sungai. Pasalnya antara yang dipungut dan dibuang hingga sekarang masih jomplang. Jumlah pemungut masih jauh dari jumlah pembuang.

“Sampah di Sungai Karang Mumus itu sudah bertumpuk puluhan tahun yang lalu, jadi mustahil bisa dihabiskan dengan cara dipungut,”

“Lalu kenapa memungut?” tanya Mustofa

“Ya ini adalah bagian dari edukasi, mendidik warga Kota Samarinda berinteraksi dengan sampah di Sungai Karang Mumus. Dengan memungut orang akan tahu jenis sampah apa saja yang ada di Sungai Karang Mumus,”

“Betul Pak, ada banyak yang sebetulnya tak pantas disebut sampah seperti bangkai, bekas kursi, springbed, sofa, baju bekas dan semua yang bekas-bekas kecuali bekas pacar, bekas suami dan bekas istri,” ujar Mustofa mencoba bergurau.

“Nah itu dia, banyak orang tahunya yang disebut sampah itu sampah dapur atau sampah pasar, padahal sampah di Sungai Karang Mumus melampaui itu,”

“Lalu kalau mereka sudah melihat, menyentuh dan memungut sampah di Sungai Karang Mumus harapannya apa?”

“Harapannya ya mereka menjadi rutin memungut sampah di sungai dan tidak lagi sembarang membuang sampah dimanapun mereka berada,”

“Kenapa harus rutin?”

“Ya karena yang buang sampah juga masih rutin buang ke sungai. Lalu pungut sampah itu bukan sebuah event melainkan upaya untuk membangun habitus baru,”

“Apa itu habitus?”

“Habitus itu kebiasaan, sehingga yang disebut dengan habitus baru adalah kebiasaan lama yang biasa membuang sampah sembarang menjadi habitus baru yaitu kebiasaan untuk memungut sampah yang dibuang bukan pada tempatnya,”

“Wah keren memang bapak ini,” ujar Mustofa dalam hati.

Mustofa akhirnya menyadari bahwa memungut sampah itu tidak sederhana karena ada filosofi dibaliknya. Memungut sampah bukan sekedar mengambil sampah yang ada di sungai lalu diangkat dan dikemas lalu dibuang ke TPS. DI balik memungut sampah ternyata terkandung sebuah semangat dan spiritualitas untuk melakukan perubahan, perubahan perilaku dari perilaku lama yang buruk menjadi perilaku yang baik bukan hanya untuk diri sendiri melainkan lingkungan.

“Lalu apa syaratnya untuk ikut memungut?”

“Gak ada yang penting mau memungut sampah, tahan kotor dan tahan jijik,”

“Syarat lainnya?”

“Jangan memungut untuk pencitraan, nda ada gunanya. Apalagi kalau mungut agar diberitakan, lebih gak berguna lagi. Kita nggak akan terkenal biar diberitakan memungut kalau baru satu kali. Sama seperti hal lain memungut juga butuh konsistensi,”

“Kalau peralatannya?”

“Kami ada alat yang bisa dipakai, tapi lebih baik jika rombongan yang memungut membawa peralatan bantu sendiri seperti kantung plastik, masker dan sarung tangan serta sabun antiseptik,”

“Peraturan lainnya?”

“Tentu saja jaga kebersihan, termasuk alat-alat yang dipakai. Seperti perahu misalnya, sampah bukan diangkat lalu diletakkan di lantai perahu, melainkan diangkat, ditiriskan kalau ada banyak airnya, dimasukkan dalam kantong baru ditaruh di lantai perahu,”

“Oh, ternyata ada standar operasionalnya ya?”

“Iya lah, kita harus jaga semua alat karena ini sumbangan masyarakat. Ini milik bersama sehingga harus dijaga,”

“Jadi tidak ada sumbangan dari pemerintah?”

“Ada sumbangan kata-kata seperti bagus ini, saya dukung,”

“Begitu saja kah?”

“Iya, dan kadang mereka datang berkunjung. Memuji-muji dan seterusnya tapi setelah itu tidak ada juga gerakan apa-apa di pemerintah. Ambil contoh saja soal jamban di atas sungai, Anjungan Tahi Mandiri itu tetap saja dibiarkan,”

“Wah betul kata bapak tadi, soal Sungai Karang Mumus memang bukan sekedar sampah”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here