Selain tombol navigasi, bagian yang paling sering saya sentuh dari layar hp adalah huruf G dikolom pencarian google. Menekan tombol G akan memunculkan berita-berita yang direkomandasikan oleh google.

Deretan berita yang disajikan oleh google sesuai dengan algoritmanya pasti akan terpesonalisasi. Ranking berita akan didasarkan dari berita jenis apa yang kita sukai. Dan begitu huruf G saya sentuh tak lama kemudian akan tersaji deret berita. Yang teratas atau yang utama adalah berita tentang sepakbola dan moto gp.

Deretan judul berita olahraga itu yang akan direkomandasikan oleh google untuk saya. Karena memang itulah berita yang masih sering saya baca. Berita lain meski judulnya menarik, umumnya saya lewatkan. Toh, apa yang sedang jadi bahan pemberitaan yang panas umumnya bisa juga ditemukan pada perbincangan di media sosial.

Saya tak hendak mengkritik kerja jurnalis yang seolah tetap mempertahankan adagium bad news is good news. Sebab dalam konteks sekarang memang berita itulah yang disukai, yang laku dan yang cepat diindex oleh mesin pencari.

Berita-berita tentang kematian, penderitaan, kesialan, pertengkaran, perceraian, lapor melapor, perkosaan, perbuatan mesum dan lain-lain memang cenderung menempati peringkat tinggi dalam mesin pencarian.

Apakah itu salah jurnalis atau adakah jurnalis sudah kehilangan idealismenya juga?. Tidak juga sebab yang disebut media adalah industri. Dan lazimnya sebuah industri pasti mencari untung atau cuan. Kalaupun tidak untung besar yang penting bisa menopang pembiayaan untuk bertahan.

Andai sebuah media hanya menulis berita yang menginspirasi, mendidik, meningkatkan pengetahuan dan tabiat ilmiah, bisa jadi pembacanya tak banyak. Jumlah pembaca yang sedikit sama artinya dengan tak dapat uang. Kalau tak dapat uang darimana media akan menjalankan operasinya?.

Jadi yang diekploitasi dalam pemberitaan media adalah watak manusia yang selalu ingin tahu kehidupan orang lain dan juga rasa empatinya. Ingin tahu kehidupan orang lain membuat berita-berita gossip, selebritas, skandal, konflik pribadi, perceraian dan lainnya menjadi disukai.

Sementara watak empati akan mendorong orang untuk menyukai pemberitaan tentang bencana, kesedihan, perang, penderitaan dan lain sebagainya.

Memberitakan hal-hal semacam itu membuat engagement media menjadi lebih luas. Banyak orang kemudian secara sukarela menyebarkan link beritanya. Dan karena kesukaan berbagi link oleh para pembaca, sebuah berita menjadi viral. Diklik oleh banyak orang membuat angka adsense berita menjadi bagus, berita mendatangkan uang.

Jurnalis memang tetap menjadi roh dalam media pemberitaan, namun kerap kali harus menekan idealismenya karena tulisan harus disesuaikan dengan hasil dari para analis Search Engine Optimizer. Jadi apa yang harus dituliskan oleh para jurnalis harus ramah algoritma mesin pencari berita agar apa yang ditulisnya menjadi penghasil uang.

Realitas ini sebenarnya paradoksal. Sebab meski suka berita-berita yang buruk pada dasarnya banjir berita buruk akan membuat seseorang atau masyarakat menjadi tidak nyaman juga tidak aman. Banyaknya berita perkosaan, perampokan dan pencurian membuat orang menjadi paranoid, khawatir meninggalkan rumah, khawatir akan keselamatan anak-anaknya di rumah.

Maka ada yang menganjurkan “Jika ingin bahagia, hindarilah membaca berita,”

Banjir berita seperti saat ini dianggap sebagai racun. Racun yang bisa memicu ketakutan tetapi juga agresi. Berita tentang konflik antara Hamas dan Israel misalnya selain menimbulkan empati, mendorong orang untuk mengumpulkan bantuan tapi juga melahirkan banyak perseteruan di media sosial. Ada banyak kekerasan verbal yang menunjukkan nafsu agresi saling membunuh.

Tentu saja berita tetaplah penting, namun sungguh tidak penting jika kemudian setelah membaca berita kemudian kita meneruskan dengan debat berlarat-larat di media sosial. Kelakuan semacam ini jelas racun di masa pandemi ini sebab selain dengan stress yang meningkat kemungkinan imun tubuh akan menurun. Dan kalau imun tubuh kita rendah, bukan tidak mungkin kita akan mudah tertular Covid 19.

Pasti tidak ada orang yang suka dirinya menjadi bahan berita karena terinfeksi oleh Covid 19.

-000-

Atta Halilintar dan Ria Ricis adalah dua youtuber yang selalu menempati rangking dalam deretan youtuber top Indonesia beberapa tahun terakhir. Atas cara yang berbeda mereka berdua sama-sama berduka. Atta kehilangan bayi yang tengah dikandung istrinya sementara Ricis berduka karena ayahnya wafat.

Berangkat dari model vlog, Atta dan Ricis kontennya sama-sama berisi keseharian mereka. Mereka berdua sama-sama produktif, karena paham dengan algoritma youtube yang ingin para kreator mengupload sebanyak mungkin video yang cukup panjang.

Jadi untuk mengejar konten, apapun yang berkaitan dengan kehidupan mereka akan diupload. Banyak yang tidak suka tapi ternyata lebih banyak lagi yang lebih suka. Terbukti Atta mempunyai jumlah subscriber terbesar dibanding siapapun di Indonesia.

Namun karena urusan konten kematian, Atta dan Ricis menimbulkan kontroversi. Pasalnya kepergian seseorang yang dekat yang pasti meninggalkan kesedihan yang dalam kemudian dijadikan konten. Menjadikan konten kematian tentu tidak masalah sebab membagi kesedihan akan membuat beban menjadi lebih ringan.

Yang menjadi masalah konten itu kemudian disematkan adsense. Kesedihan itu dimonetisasi. Aurel istri dari Atta sendiri merasa jengah dengan yang dilakukan suaminya. Dia mengingatkan bahwa tidak semua yang berkaitan dengan kehidupan mereka harus dijadikan konten.

Sementara Ricis konon mengupload 6 konten tentang kematian ayahnya dan kesemuanya disematkan adsense. Di tengah kesedihannya karena kehilangan ayahnya, Ricis begitu produktif dan kru serta editornya kerja lembur.

Mendulang traffic dari kesedihan inilah yang kemudian menimbulkan banyak sorotan. Apa yang dilakukan oleh Atta dan Ricis dianggap tidak pantas atau kurang elok. Tidak elok karena kesedihan, kematian dan kehilangan yang dicintai kemudian secara terang-terangan dipakai untuk mendulang pendapatan.

Oki Setiana Dewi, kakak Ricis juga melakukan hal yang sama. Mengupload video duka kehilangan ayah mereka, namun Oki tidak menyematkan adsense dalam videonya. Dan youtube memang membebaskan para kreator untuk menyematkan adsense atau tidak, juga seberapa banyak.

Bukan hanya Atta dan Ricis yang dipandang kerap mengupload konten yang tidak elok. Banyak youtuber lain juga melakukan hal yang sama. Beberapa pengamat juga memperingatkan tentang bahaya atau resiko sosial yang timbul dari konten-konten para youtuber yang tergolong sultan ketika suka pamer harta kekayaan.

Youtube sendiri punya aturan soal konten mana yang layak dan konten yang tidak. Dan biasa ini yang menjadi patokan para kreator. Diluar yang dilarang atau tidak disarankan oleh youtube maka para kreator tidak merasa salah, kurang tepat atau tak elok dalam mengupload konten tertentu.

Publik pasti terbelah. Para pengikut loyal dari para youtuber ternama pasti meradang jika ‘pujaan’ mereka dihujat atau dikritisi. Bagi mereka para youtuber adalah guru kehidupan, mengajarkan tentang kerja keras, tahan menderita, kreatif dan seterusnya.

Urusan etis atau kelayakan publik tidaklah penting. Sebab hidup tidak harus berdasar kata orang, atau hidup tak mungkin akan menyenangkan semua orang.

Dan buat para youtuber yang disebut kontroversi justru akan menguntungkan. Yang disebut kontroversi akan menarik perhatian orang untuk datang ke channelnya dan itu akan meningkatkan view. Lalu publik juga pasti menunggu apa reaksi dari youtuber atas kontroversi itu, sehingga akan muncul video baru yang berisi klarifikasi, konfirmasi atau konfrontasi lebih lanjut. Hasilnya traffic di gas terus.

-000-

Sadar atau tidak kita memang tengah berada dalam pusaran masyarakat visual. Masyarakat yang lebih gemar omong-omong berdasarkan gambar. Gambar lebih menarik ketimbang penjelasan yang lain.

Ruang publik kita sekarang adalah media sosial. Ruang yang selalu dikunjungi dan mengisi hampir keseluruhan relung komunikasi. Komunikasi di ruang publik sejatinya adalah pendidikan. Dan melihat jumlah subscriber dan viewer maka guru-guru kehidupan utama kita adalah para youtuber dan selebgram. Youtube dan Instagram adalah dua media sosial berbasis visual yang sangat berpengaruh di masyarakat.

Yang menjadi masalah apakah para youtuber dan selebgram sadar bahwa mereka adalah pendidik. Mereka adalah panutan, yang segala macam kelakukan akan diteladani oleh para pengikutnya. Karena Baim Wong maka masyarakat menilai orang yang baik adalah orang yang rajin memberikan give away. Tanpa peduli bahwa mereka yang diberi bingkisan itu dikerjai lebih duluan.

Visual selalu mempunyai makna dan menghasilkan makna. Apa yang ingin disampaikan oleh yang memproduksi tidak selalu sama dengan yang diterima oleh yang melihat. Visual selalu mempunyai bias karena meski disebut lebih dari seribu bahasa, visual sesungguhnya hanya menangkap Sebagian realitas, realitas yang terpilih.

Sayangnya kita adalah masyarakat yang hanya gemar visual tetapi rendah literasi visualnya. Ketika ditanya gambar apa yang bagus maka jawabnya adalah yang banyak like-nya.

Padahal apa yang dianggap bagus itu bisa jadi adalah sampah visual. Racun dan virus yang tidak kita sadari akan merusak sendi-sendi kehidupan kita baik pribadi maupun komunal.

sumber gambar : jatim.tribunnews.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here