Entahkah ada hubungan dengan kondisi defisit atau tidak, namun dari pinggir jalan bisa dibaca banyak spanduk bertuliskan kegiatan-kegiatan yang bernuansa kerja bakti, peduli lingkungan dan juga kesehatan masyarakat. Kegiatan yang dulu-dulu banyak diproyekkan kini dikerjabaktikan, didorong untuk menjadi aksi partisipatif.

Sekolah Mustofa juga tak lupa ikut-ikutan, memajang spanduk bertuliskan “Juma’at Bersih, Sabtu Hijau dan Minggu Sehat’. Spanduk besar itu dipasang di pagar depan sekolahan sehingga setiap siswa dan orang lewat akan melihatnya.

“Wah sekolah sampai Minggu kita ini Mumus,” komentar Bondan usai membaca tulisan yang terpampang di spanduk.

“Kok bisa?’

“Lha itu kamu nda baca kah?” ujar Bondan sambil menunjuk ke arah spanduk.

“Wah,…. iya, ada Minggu sehat, kira kira apa ya Bondan, dikasih susu atau kacang ijo kah kalau kita ke sekolah,” kata Mustofa berandai-andai.

“Ngarep dot com kamu ini Mumus,”

Bel sekolah berbunyi pertanda jam pelajaran akan segera dimulai. Dari pengeras suara terdengar pengumuman jika murid-murid diminta tidak masuk kelas melainkan berkumpul di halaman sekolah dengan formasi mirip ketika mau upacara bendera. Dan murid murid bergegas membentuk barisan berdasarkan kelasnya masing-masing.

Tanpa pengantar protokoler, Kepala Sekolah mengambil tempat di podium dan langsung berbicara kepada murid-muridnya.

“Kaltim Green, One Man Five Tree” ucap Kepala Sekolah.

“Yes..yes… yes,” sahut murid murid serempak.

Murid murid memang terbiasa menjawab slogan yang diciptakan untuk program Kaltim Green. Program untuk menegaskan keinginan Kalimantan Timur menjadi provinsi hijau, dengan pertumbuhan karbon yang rendah dalam segala program pembangunannya (Low Carbon Growth Framework).

“Anak-anak, kalian pasti sudah membaca spanduk di depan,”

“Sudaahhhhh,” ujar murid murid serempak.

“Hari ini kita akan memulai inisiatif baru untuk mendukung Kalimantan Timur Hijau, yang kemudian ditegaskan lagi oleh Gubernur dan para pihak dalam deklarasi Green Growth Compact,”

Ketika mendengar GGC, Mustofa ingat, saat itu Sungai Karang Mumus dipenuhi oleh perahu dan kapal yang berisi para pejabat daerah mulai dari pusat hingga kota yang menyusuri sungai untuk memungut sampah. Mustofa bahkan mempunyai foto di HP-nya, yang menunjukkan Gubernur didampingi Sekretaris Daerah Provinsi, melambai-lambaikan tangan kepada warga di sepanjang tepian.

“Dalam 3 hari di akhir pekan kita akan melakukan kerja bakti, menanam pohon dan berolah raga bersama,” lanjut Kapala Sekolah.

Dan Kepala Sekolah juga menerangkan bahwa kegiatan ini bersifat wajib untuk diikuti oleh semua murid-murid tanpa terkecuali.

“Absensi kegiatan ini akan menjadi ukuran, apakah kalian semua pantas naik kelas atau tidak,”

Mendengar hal itu Mustofa seperti kena serangan sakit kepala. Bagi Mustofa soal hari Jum’at dan Sabtu mau jadi hari apa saja tidaklah masalah. Tapi hari Minggu, jika harus ke sekolah maka akan jadi masalah, sebab hari Minggu adalah hari petualangan Mustofa di Sungai Karang Mumus.

Mustofa ingin protes, tapi urung karena apapun alasannya pasti sulit merubah apa yang sudah diputuskan sepihak oleh sekolahnya itu. Sebuah keputusan yang tentu saja didasari oleh edaran yang barangkali dikeluarkan oleh pejabat yang gemar mendeklarasikan segala sesuatu seolah-olah segala sesuatu itu setelah dideklarasikan akan berjalan dengan sendirinya.

“Mau provinsi hijau kah, pembangunan rendah karbon kah, energi hijau kah, revolusi mental sekalipun kalau begini cara ya sama saja,” ujar Mustofa menggerutu.

“Mulai sudah Mumus bemamai,”

“Lha aneh, siapa juga yang bikin Kalimantan Timur nda hijau, kok giliran hijau-hijau kita disuruhnya ikut sibuk, sampai hari Minggu,”

“Namanya juga GGC Mumus, itu artinya rangkaian inisiatif dari para pihak, termasuk partisipasi masyarakat,” ujar Bondan.

“Giliran nda ada uangnya masyarakat dilibatkan, atas nama partisipasi,”

“Nah, kalau itu ulun no comment saja,”

Karena Bondan malas menanggapi Mustofa pun akhirnya berhenti menumpahkan isi hatinya.

Hari Jum’at pertama setelah Kepala Sekolah menyampaikan penjelasan tentang Jum’at Bersih, Sabtu Hijau dan Minggu Sehat, murid-murid diarahkan untuk kerja bakti di Sungai Karang Mumus. Saat itu sungai sedang terkena pengaruh pasang Sungai Mahakam.

Di sepanjang pinggiran sungai murid-murid berdirian. Setelah selesai memungut sampah yang ada di areal Ruang Terbuka Hijau mereka tak lagi tahu mau berbuat apa. Mereka hanya memandangi sampah yang lewat mengambang, tak bisa mengambilnya karena tak membawa peralatan apapun.

“Percuma kan kita akhirnya kita cuma berdiri-berdiri disini.  Mungut sampah kalau air sedang pasang perlu kait dan perahu,”

“Iya, guru guru kita dan kepala sekolah nda tahu itu,”

“Itu dia, makanya kita jadi seperti anak ayam kehilangan induk. Kita bosan, guru-guru kebingungan mau bikin apa,”

“Lalu kira kira kita besok mau tanam apa ya,” Bondan bertanya entah ke siapa.

“Tanam lombok saja di pinggir sungai,” sahut Mustofa sekenanya.

Dan ketika guru-guru lengah mengawasi murid muridnya, Mustofa dan Bondan diam-diam menyelinap pulang ke rumah.  Ketika berada di tempat yang aman, jauh dari pandangan guru dan teman temannya, Mustofa dan Bondan kembali membincang Jum’at Bersih, Sabtu Hijau dan Minggu Sehat.

“Gampang memang bikin spanduk, cepat dan murah,”

Bondan hanya tertawa mendengar gerutuan Mustofa yang belum tuntas dari tadi.

“Begitu kalau niatnya cuma biar ramai dilihat,”

“Sabar Mustofa, memang baru sampai deklarasi bangsa kita ini. Lha kemerdekaan saja sudah dideklarasikan sejak tahun 1945 sampai sekarang kita juga belum merdeka-merdeka, apalagi Kaltim Hijau,” ujar Bondan mencoba menenangkan Mustofa.

“Lah, bagaimana kita mau merdeka, mungut sampah di sungai saja kita nda tahu caranya,”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here